
Malam semakin larut dan acara malam itu di mansion Muzakki baru saja usai. Satu persatu pamit undur diri dan kembali ke tempat tinggal mereka masing-masing. Hanya Enver, Harika dan keluarganya yang tetap tinggal di mansion Muzakki.
Lunara yang meminta Enver untuk tetap tinggal di mansion mereka. Karena khawatir dan takut terjadi apa-apa pada salah satu keponakannya, maka dari itu Lunara meminta Enver untuk tetap tinggal dan tidak kembali ke apartemennya. Lagipula dua minggu ini Harika akan tinggal di Indonesia.
Kamar tamu telah disiapkan untuk Harika dan keluarganya. Lima kamar tamu malam ini digunakan oleh adik juga keponakan-keponakan nya. Satu untuk Harika dan Suaminya lalu empat kamar lainnya untuk ke empat anak Harika.
Enver? Dia memiliki kamar sendiri di mansion tersebut. Karena memang dia sering menginap disana. Barang-barangnya pun banyak yang ia tinggalkan di kamar tersebut.
Seluruh keluarga telah pamit kembali ke dalam kamar mereka masing-masing, termasuk dengan Alma. Matanya sudah tak sanggup dipaksa untuk melihat, ia butuh istirahat.
Saat masuk ke dalam kamarnya, langsung saja ia berjalan ke arah lemari pakaian untuk mengganti gamis yang ia gunakan menjadi sebuah piyama. Sepasang piayama berlengan panjang Alma ambil dari dalam lemari pakaiannya. Membawa pakaian tersebut ke dalam kamar mandi untuk mengganti di dalam sana.
Masih di dalam kamar mandi, terdengar beberapa suara ketukan pintu di telinganya. Buru-buru Alma memakai piyama nya dan memakai kembali hijabnya.
Ceklek
Pintu kamar Alma buka. Disana terdapat seorang remaja tengah tersenyum kepadanya dengan boneka tedy bear di tangannya. Lesung pipi yang terdapat di bagian kanan pipi remaja itu membuat dirinya terlihat lebih manis.
Tanpa disuruh ia langsung masuk begitu saja ke dalam kamar Alma. "Ne yapmak istiyorsun Elif? (Apa yang ingin kau lakukan, Elif?)" Tanya Alma kepada sepupu perempuannya. Cukup membuat Alma bingung karena malam-malam seperti ini Elif datang ke kamarnya.
"Bu gece Kardeş Alma ile yatmak istiyorum. (Aku ingin tidur dengan Kakak Alma malam ini)." Dengan senyum manisnya ia menjawab pertanyaan Kakak sepupunya. Tanpa persetujuan dari Alma, Elif berjalan ke arah ranjang Alma dan tidur di atas sana.
Elif Canan Alv-seorang wanita remaja berumur 17 tahun dengan sifat kekanak-kanakan yang masih melekat padanya. Anak pertama dari sepasang suami-istri, yaitu Harika Nefertari Malayeka dan Savas Alv.
Sama seperti Alma, Elif adalah satu-satunya anak perempuan yang Harika dan Savas miliki. Ketiga adik-adiknya lelaki, jadi saat sedang kumpul bersama keluarga besar ia akan menempel pada Alma dan Jihan-Adik Enver terus-menerus.
"Oke." Balas Alma dengan senang hati. Alma melepas hijabnya dan menaruhnya di dalam keranjang pakaian kotor yang ada di sudut kamarnya.
Alma kira Elif telah berubah karena sejak acara mulai tak sedikitpun Elif mendekatinya. Ia sendiri tak melihat keberadaan Elif. Mungkin karena Alma terlalu fokus pada Shasha yang bercerita tiada henti.
Lampu kamar Alma matikan lalu menyalakan kedua lampu tidur yang ada di sisi kanan dan kiri ranjangnya yang terletak di atas nakas. Tangan kiri Elif gunakan untuk memeluk lengan kanan Lunara sedangkan yang satu lagi ia gunakan untuk memeluk boneka tedy bear miliknya.
Seperti hari-hari biasanya, mereka melakukan kegiatan rutin yang selalu dikerjakan di hari itu. Tapi karena mereka sedang weekend, jadwal yang biasanya padat pun berkurang. Seperti hari weekend sebelumnya, seluruh pria terdekat Alma datang ke mansion tersebut untuk mengajak Alma jalan-jalan.
Alma selalu setuju dengan ajakan mereka karena adik-adiknya pun juga akan ikut. Bagi Alma, ini hari yang sangat spesial karena ada wanita selain dirinya di antara pria-pria dewasa itu. Elif akan ikut bersama mereka untuk weekend kali ini.
Untuk Shasha, wanita itu tak dapat hadir karena ada acara di perusahaan sang Ayah. Sebagai cucu pertama dari sang Ayah, Shasha sangat wajib untuk mendatangi acara tersebut. Disana, Shasha akan diperkenalkan sebagai pewaris setelah sang Ayah. Entah kapan jabatan itu akan turun ke Shasha, karena Ayahnya pun terbilang masih sangat muda untuk jabatannya digantikan.
Tangan Alma ditarik menuju keluar kamar, membawanya menuju lantai satu mansionnya. Elif dengan senang hati akan ikut bersenang-senang bersama Kakak sepupunya itu.
Sampai di lantai satu, seluruh bodyguard sudah berdiri dengan tegap. Dengan memakai seragam berwarna hitam juga lambang perusahaan Malayeka yang berada di pakaian mereka. Alma dan Elif saling berpandangan. Tidak! Lagi-lagi mereka akan menjadi pusat perhatian di suatu tempat nanti.
Alma berjalan mendekati kedua orang tuanya yang tengah berbincang hangat dengan Aunty dan Uncle nya. "Ane, Aba, Aunty Ilza dan yang lainnya boleh disini aja?" Tanya Alma takut-takut. Kepalanya tertunduk menatap lantai dengan kedua tangan yang saling menggenggam. Elif menghampiri Kakak sepupunya itu dan mengangguk setuju dengan ucapan Alma.
"Kalian harus izin dengan Byukba dan Nene jika ingin melakukan hal itu" balas Ghifari mewaliki semuanya.
Baik Alma maupun Elif hanya bisa menghembuskan nafasnya. Mereka sudah tau jawaban yang akan diberikan oleh Kakek dan Nenek nya nanti. Sebelumnya mereka juga sudah meminta izin namun tak diperbolehkan.
Jika tentang orang-orang jahat, mereka benar adanya. Dengan mudah orang-orang itu mengenali keturunan para pengusaha sukses. Dan semua itu selalu terjadi pada mereka. Ada saja orang jahat yang selalu menyamar untuk mengelabui ketururan para pengusaha. Alma juga telah beberapa kali bertemu dengan orang seperti itu.
"Ane dan Aba tenang saja, ada kami yang akan menjaga mereka" Vian yang sudah dari tadi berada di ruangan itu pun memberi saran. Ia tau Alma selalu risih dengan keberadaan para bodyguard, ia selalu bercerita akan hal itu kepada Vian.
Karena sudah sangat dekat, semua teman Alma tanpa sungkan memanggil Lunara dan Ghifari dengan sebutan yang sama seperti Alma memanggil keduanya. Di samping kanan dan kiri Vian ada Ghibran dan si kembar yang ikut mengangguk membenarkan ucapan Vian.
"Sepertinya Aunty dan Uncle harus memakai pakaian santai. Jika kalian memakai pakaian formal seperti ini, tentu saja hal itu akan menarik perhatian banyak orang," atensi seluruhnya teralihkan, menatap Enver yang baru saja turun dari lantai ketiga mansion tersebut.
Para orang tua saling berpandangan. Meminta pendapat dari mereka apakah setuju dengan usul yang diberikan oleh Enver. Semua terdiam, menunggu keputusan dari Ghifari, sebagai orang paling dewasa di antara seluruh keluarganya yang berada di mansion tersebut. "Baiklah, Aba izinkan." Perlahan Ghifari mengangguk setuju dengan usulan yang diberikan oleh Enver.
Dengan senang para keturunan Malayeka bersorak ria. Seolah diberikan kebebasan yang telah mereka tunggu-tunggu.