
Setelah dua minggu lamanya Lunara dan Ghifari tinggal di kediaman Muzakki, akhirnya pagi ini mereka bisa pindah ke rumah Ghifari karena jumlah wartawan yang sudah berkurang berdatangan.
Keluarga Malayeka 'pun sudah kembali ke Turki seminggu yang lalu. Hanya Harika yang masih di Indonesia. Harika berkeliling mencoba kuliner Indonesia bersama dengan Dilla dan akan pulang dua minggu lagi.
"Nak, kenapa kalian tidak tinggal disini saja?" Tanya Alisya setelah selesai memakan sarapannya.
"Aku ikut mas Ghifari aja, Bun." Balas Lunara sopan.
"Tinggalah disini sampai kalian memiliki anak. Jika kalian tinggal memisah dari kami, Lunara pasti akan kesepian karena bingung akan melakukan apa." Ucap Alisya setelah mendengar jawaban dari Lunara.
Semenjak memutuskan untuk tinggal di Indonesia, Lunara disuruh oleh Ghifari untuk tidak bekerja kembali dan Lunara pun menurutinya.
"Aku tidak mengurungnya Bunda." Balas Ghifari membela dirinya.
"Terserah mereka akan melakukan apa, Bunda. Biarlah mereka merasakan tinggal berdua, agar bisa lebih dekat satu sama lain." Ucap Farhan menengahi.
"Terima kasih Ayah." Balas Ghifari tersenyum.
"Benar juga..." gumam Alisya.
"Yah, Bun, Ray berangkat ya. Assalamualaikum." Pamit Rayhan karena tak tertarik dengan topik pembicaraan pagi ini. Setelah menyalami kedua orang tuanya, Rayhan berjalan menuju Ghifari yang juga ia salami kecuali Lunara yang hanya mengangguk ramah.
Dilla dan Harika sedang menginap di apartemen Dilla yang dekat dengan kampusnya dahulu yang berada di Bandung. Sudah tiga hari mereka di Bandung untuk mencicipi kuliner disana.
"Waalaikumsalam." balas mereka kompak.
__________
Siang hari Ghifari sudah menyuruh orang untuk memindahkan barang barang milik Lunara ke rumahnya. Ghifari dan Lunara pun pindah setelah barang barang Lunara telah tersusun rapih atas perintahnya.
"Ini rumah kamu, mas?" Tanya Lunara setelah sampai di rumah milik Ghifari. Rumah yang ia desain untuk keluarganya kelak bersama dengan kekasihnya-Resya.
"Hmm" balas Ghifari dingin.
Lunara menoleh kearah Ghifari yang tiba-tiba saja bersikap dingin kepadanya tak seperti pagi tadi. Lunara menepis pikiran negatifnya dan mengambil kesimpulan bahwa Ghifari sedang lelah saat ini sehingga ia bersikap demikian.
"Kamu langsung masuk aja, saya mau ke kantor dulu." Pamitnya tanpa menoleh kearah Lunara. Lunara mengangkat tangannya untuk menyalami Ghifari, namun diabaikan dan ditinggalkan begitu saja oleh Ghifari.
Mas Fari kenapa, ya? Apa dia lagi marah sama aku? Batin Lunara menerka-nerka.
Lunara melangkahkan kakinya memasuki rumah Ghifari yang nampak luas dan megah. Saat ia ingin membuka pintu masuk, lebih dulu di buka dari dalam.
"Selamat datang nyonya muda Muzakki." Sapa para asisten rumah tangga kepada Lunara.
Lunara mengangguk. "Terima kasih." Balas Lunara sopan yang mana membuat seluruh asisten rumah tangga terkagum melihat Lunara.
"Mari saya antarkan anda ke kamar anda, nyonya" usul salah satunya kepada Lunara.
"Tolong ya" pinta Lunara tersenyum dibalik niqabnya.
"Baik nyonya."
"Terima kasih."
Salah satu dari mereka menunjukkan dan memberi tau letak denah rumah itu. Langkah mereka terhenti di depan sebuah pintu kamar yang berada di paling pojok rumah Ghifari.
"Maafkan saya nyonya. Ini adalah kamar anda, nyonya." ucapnya menunduk takut.
Lunara membuka pintu kamarnya karena penasaran dengan isinya. "Apa ini kamar mas Fari juga?" Tanya Lunara kepadanya.
"Bukan nyonya. Kamar utama Tuan Ghifari berada di lantai atas, nyonya." Balasnya makin takut jika Lunara marah kepadanya.
"Lalu kenapa aku disini?" Tanya Lunara kembali karena tak paham.
"Ini atas perintah dari Tuan Ghifari, nyonya. Tolong maafkan saya." Balasnya.
Lunara menatap wanita setengah baya yang terus menerus meminta maaf kepadanya. "Apa ini perintah dari mas Fari?" Tanya Lunara ulang.
"Iya nyonya" balasnya takut.
"Baik nyonya." Balasnya.
"Luna, panggil saja aku Luna, Bik" pinta Lunara.
"Baik Lunara"
Lunara tersenyum, lalu memandangi kamar yang menjadi tempatnya sekarang. "Jika ini amanah dari mas Ghifari kepada kalian, aku gak akan marah. Yang Bibi lakukan sudah benar dengan menjalankan amanah yang diberikan oleh mas Ghifari." Tutur Lunara lapang dada.
"Benarkah nyonya?" Tanyanya antusias.
"Maksudku Lu-Luna" ralatnya.
"Benar Bik..."
"Bik Idah, nama saya Idah." Ucap asisten rumah tangga itu memperkenalkan dirinya.
"Oh... Ya, aku tak berbohong Bik Idah. Terima kasih atas keliling rumahnya." Balas Lunara tersenyum.
"Iya Luna" balas Bik Idah canggung.
"Kalau gitu saya ingin ke belakang dulu ya, Luna." Pamit Bik Idah yang diangguki oleh Lunara.
Bik Idah langsung berjalan menuju dapur dan mulai memasak makanan untuk makan malam.
Senyum Bik Idah tak luntur sama sekali semenjak keluar dari dalam kamar Lunara.
"Ibu kenapa senyum terus dari tadi? Aku aneh liatnya" Tanya anak Bik Idah yang melihat Ibunya tersenyum terus.
"Nyonya muda baik sekali" balasnya tanpa teralihkan pandangannya. Anaknya hanya ber-oh setelah mendengar jawaban dari Ibunya.
Tak lama Lunara datang menghampiri keduanya di dapur. "Apa kalian butuh bantuan?" tanya Lunara ramah.
Pandangan keduanya teralihkan kearah Lunara. "Nyonya." reflek keduanya.
"Luna" ralat Lunara.
"Eh iya, nak Luna, ada apa?" Tanya Bik Idah.
"Aku mau bantu, ya?" Tawar Lunara.
"Gak perlu, kak" tolak anaknya Bik Idah cepat. Lunara menoleh kearah anaknya Bik Idah.
"A-aku panggil kak karena menurutku kakak diatas umurku. Umurku baru delapan belas tahun." Lanjutnya gugup saat Lunara menoleh ke arahnya.
"Gak apa apa. Nama kamu siapa?" Tanya Lunara.
"Disa, nama aku Disa." Balas anaknya Bik Idah.
"Hai Disa, aku kak Luna." Ucap Lunara menyodorkan tangannya untuk bersalaman dengan Lunara.
Disa dengan takut takut menerima uluran tangannya Lunara. "Senyum." Suruh Lunara yang membuat Disa menurutinya.
"Pintar" puji Lunara.
"Ayo kita masak." Ajak Lunara setelah jabatan tangannya terlepas.
"Gak perlu canggung, ya" suruh Lunara.
Lunara ikut memasak bersama Bik Idah dan Disa. Dengan candaan yang dibuat oleh Lunara keduanya pun tak merasa canggung lagi. Membuat Disa menganggap Lunara adalah kakaknya. Lunara memang mudah sekali membuat orang merasa nyaman dengannya.
"Makasih kak Luna." ucap Disa memeluk Lunara.
"Kenapa makasih?" Tanya Lunara.
"Gak apa apa, makasih aja" balas Disa.
"Sama sama, sayang" ucap Lunara membalas pelukan dari Disa. Bik Idah tersenyum melihat keduanya seperti kakak beradik sungguhan.