
Badai salju yang terjadi kemarin siang telah berhenti pagi tadi. Tapi hal itu membuat hampir banyak rumah yang tertimbun oleh salju yang turun. Dengan cepat pemerintah mengatasi hal tersebut membuat beberapa rumah telah terbebas dari salju yang menumpuk.
Enver dan Alma berlarian di pekarangan belakang mansion utama Malayeka. Bermain dengan salju yang masih tersisa di area tersebut. Tentu saja mereka dalam pengawasan orang tua. Ada Lunara dan Elnara. Mereka mengikuti kemanapun anaknya berlari.
"Kak, sepertinya ini sudah cukup. Anak-anak harus beristirahat." Ucap Lunara memberikan saran kepada Kakak Iparnya.
Elnara menoleh. "Iya, sudah hampir satu jam mereka disini." Balas Elnara membenarkan ucapan Lunara.
Mereka berdua berjalan mendekati anak mereka. Lunara menangkap tubuh kecil Alma dan membawanya dalam gendoangannya. Sedangkan Elnara menggandeng tangan anaknya.
"Waktu main kalian telah habis. Waktunya beristirahat." Ucap Lunara membuat keduanya mengangguk menurut. Tanpa harus dipaksa keduanya pun sudah mengerti.
Mereka masuk kembali ke dalam mansion utama Malayeka. Baik Lunara ataupun Elnara melepaskan mantel yang melekat di tubuh kecil anak mereka. Lunara menurunkan anaknya agar dapat melepaskan mantel yang dikenakan oleh Alma. Setelah ith menggantungnya di dalam lemari dekat rak sepatu berada.
"Aba pasti senang kalau kita bisa bermain bersama. Iyakan Ane?" Tiba-tiba saja Alma mengatakan hal tersebut kepada Lunara.
Gerakan tangan Lunara terhenti. Ucapan dari anak polos itu mampu membuat Lunara kembali terbayang kejadian waktu itu. Elnara mengusap lembut bahu Adik iparnya. Mencoba memberinya kekuatan. Lunara tersenyum menatap sang Kakak Ipar. Ia adalah salah satu keluarganya yang selalu mendukungnya. Lunara merasa seperti memiliki seorang Kakak kandung wanita.
"Aba sedang kerja, sayang." Selalu saja alasan sama yang selalu Lunara berikan kepada sang anak. Tentu saja bocah kecil itu percaya.
"Ane, Alma rindu dengan Aba. Apa Aba tidak menyayangi kita? Kenapa Aba tak pernah pulang Ane?" Lunara terdiam. Baru kali ini anaknya mengatakan hal itu kepadanya. Biasanya anaknya akan mengerti dan mengatakan "Tak apa, Alma akan menunggu." Tapi kali ini berbeda.
"Aba rindu dengan Alma, sangat rindu. Aba kerja untuk Alma agar bisa membelikan Alma mainan. Karena itu Aba belum bisa pulang." Elnara berjongkok, mensejajarkan tingginya dengan tinggi Almasya.
"Berarti kalau Alma gak minta mainan, Aba bisa pulang ya?" Pertanyaan yang Alma berikan makin menjadi-jadi membuat kedua orang dewasa itu tak dapat menjawabnya.
"Alma, Enver. Lihatlah, Nene membuat camilan kesukaan kalian." Emira datang dengan memegang toples penyimpan makanan di tangannya.
Alma dan Enver berlari mendekati Emira setelah melihat apa yang di bawakan oleh sang Nenek. "Makan sama-sama, ya?" Suruh Emira kepada keduanya. Mereka mengangguk lalu berlari menuju ruang keluarga untuk memakan camilan dan menonton acara film kesukaan mereka.
Emira mendekati anak serta menantunya yang masih berdiri di pintu masuk pekarangan belakang. "Dia masih kecil, karena itu ia banyak bertanya"
"Ia akan semakin banyak bertanya saat dewasa nanti, Anne" balas Lunara yang langsung memeluk sang Ibu. Ia menumpahkan segala keluh kesahnya di dalam dekapan Emira.
"Tak apa, kita akan membesarkannya bersama-sama." Ucap Emira dan Elnara menyemangati Lunara.
__________
"Dilla." Siempu namanya menoleh, mencari orang yang baru saja memanggilnya.
"Eh Abang. Ada perlu apa Abang kesini?" Tanya Dilla heran. Biasanya kalau seperti ini ada sesuatu yang mau dibicarakan oleh Ghifari.
"Mau jemput kamu."
Dilla mengangguk. "Sebentar, Dilla hubungi Mas Alvan dulu." Ucap Dilla meraih ponsel yang berada di dalam tas selempangnya.
Alvandra Renaldi Bagaskara-pria berumur 27 tahun itu telah meninang seorang Faradilla Chalista Muzakki dua tahun yang lalu disaat umurnya baru menginjak 25 tahun. Alvandra Renaldi Bagaskara, atau lebih dikenal dengan panggilan Alvan adalah Kakak kelas Dilla sewaktu SMA dan seseorang yang mengajarkan Ghifari ke jalan yang lebih baik. Tak ada yang bakal mengira bahwa perkenalan singkat dengan Ghifari membuat Alvan dekat dengan seluruh keluarga bermarga Muzakki tersebut.
Lamarannya langsung di terima oleh pihak keluarga wanita lantaran mereka telah mengenal sifat Alvan yang selama setahun telah mengubah sifat Ghifari. Dan tentu saja Dilla juga menerima hal tersebut. Siapa sangka, Kakak kelas yang dahulu jadi idola para wanita termasuk Dilla datang untuk melamar dirinya. Bahkan setelah mereka menikah-pun Dilla masih sangat mengidolakan Alvan. Seorang Suami yang selalu siap siaga dan selalu ada saat Dilla membutuhkannya. Bagi Dilla ia adalah wanita beruntung yang dapat memiliki Alvan begitupun sebaliknya.
"Yang bener?" Tanya Dilla mengintimidasi Ghifari.
"Apa dia tidak menghubungi kamu?" Ghifari bertanya balik. Langsung saja Dilla mengambil ponselnya kembali. Namun sayangnya baterai ponselnya telah habis.
Tanpa basa-basi Dilla langsung membuka pintu mobil Ghifari dan langsung mengisi baterai ponselnya di dalam mobil Ghifari. Tak lama keluar sebuah logo merek ponsel tersebut yang menandakan ponselnya sedang mengisi baterai.
"Pinjam ponsel Abang?" Pinta Dilla menelungkupkan kedua tangannya. Ghifari berdecak heran lalu memberikan ponselnya kepada Dilla.
Dilla langsung meraihnya dan membuka kontak yang bertuliskan nama sang Suami. Dilla langsung menekan tombol panggilan untuk menghubungi Alvan.
"Assalamualaikum, Mas." Ucap Dilla membuka percakapan mereka dengan salam.
"Iya, Dilla sudah sama Abang." Lanjut Dilla lalu mengisyaratkan Ghifari untuk menjalankan mobilnya meninggalkan pekarangan rumah sakit tempat ia bekerja. Ghifari menuruti perintah dari Dilla dengan menjalankan mobilnya.
"Iya, Mas. Love you too," Ghifari menoleh. Walaupun hanya dari panggilan telepon, Adiknya dan Adik Iparnya sangatlah romantis. Sedikit iri melihatnya, namun ia juga senang melihat Adiknya juga senang.
"Waalaikumsalam." Balas Dilla mengakhiri panggilan mereka.
Dilla memberikan ponsel Ghifari kembali. "Nih, Bang. Makasih, ya" ucap Dilla memberikan kepada Ghifari.
"Pegang aja dulu." Balas Ghifari tanpa menoleh. Ia masih terfokuskan pada jalanan di depannya.
Dilla menurut dan memegang ponselnya Ghifari dalam genggamannya. "Emm … Abang mau bicara sesuatu?" Karena keduanya terdiam, akhirnya Dilla langsung bertanya kepada Ghifari.
Dengan helaan nafas panjang, Ghifari menoleh menatap Dilla. Matanya sudah kembali berkaca-kaca. Ia tak tau harus mulai bercerita dari mana.
"Lunara sudah menikah lagi?" Tanya Ghifari langsung. Terlalu lama memikirkan akan berbeda topik yang akan ia bicarakan nantinya.
"Hah?!" Tentu Dilla terkejut. Ia bahkan tak pernah tau tentang hal itu.
"Abang tau darimana?!"
"Alma. Nama anak Lunara Alma"
__________
Klo mau update lagi di tunggu 200 vote sama 15 komentar yaa. Klo nggak jga gpp, tunggu bsk