
"Mas, tolong buka pintunya. Maafin aku, Mas…" Sudah ketukan kesekian kalinya, Ghifari tetap saja tak keluar dari dalam kamarnya.
Dari dalam kamar, Ghifari mengacuhkan Lunara. Masih mencoba merangkai kalimat yang akan ia ucapkan. Tak mungkin ia akan memberitau Lunara tentang yang sebenarnya. Ghifari merasa bodoh sendiri, ia ingin menuduh Lunara sedang berselingkuh, namun perkataannya salah. Nyatanya, disini Ghifari-lah yang bersalah, ia yang bermain di belakang Lunara, bukanlah Lunara.
Sekian detik berikutnya, Ghifari menyunggingkan senyumnya. Ia berhasil mengelabui Lunara, berarti Lunara tak menaruh curiga kepadanya. Bahkan saat ini Lunara sedang mencoba mendapatkan maaf darinya. Ghifari benar-benar menjadi pria br**gsek saat ini.
"Mas, Luna mohon. Abi akan datang pagi ini. Tolong jangan buat Abi khawatir, Mas" Lunara memohon kembali.
Tubuh Ghifari menegang. Benarkah apa yang diucapkan oleh Lunara? Apa yang harus ia lakukan sekarang? Kakak iparnya itu pasti akan mencurigainya. Ghifari belum siap, dia belum bisa menguasai seluruh kekayaan keluarga Malayeka. Cih! Bahkan saat ini harta-lah yang ada dalam fikiran Ghifari.
Ceklek…
Ghifari membuka pintu kamarnya. Menatap Lunara dengan air mata yang membasahi seluruh niqab yang digunakannya. Sekian detik berikutnya Lunara berhambur memeluk Ghifari, mengucapkan kata 'maaf' terus menerus.
"Sudahlah, tak apa. Abi akan datang kesini lagi?" Lunara mengangguk dalam pelukan Ghifari, membenarkan pertanyaan dari Ghifari.
"Kalau begitu kamu harus bersiap lagi. Saya juga akan bersiap" suruh Ghifari. Kali ini nada bicara Ghifari sangat lembut kepada Lunara. Mendengar suara Ghifari, hati Lunara merasa lebih tenang dari sebelumnya.
Lunara melepas pelukannya yang tak kunjung dibalas oleh Ghifari. "Kalau gitu aku ke kamar dulu" pamit Lunara membuat Ghifari mengangguk mengiyakan.
__________
Ting… Tong…
Bel rumah Ghifari berbunyi. Asisten rumah tangga yang Ghifari sewa berlari kecil menuju pintu masuk rumah itu. Dibuka olehnya pintu masuk rumah besar itu.
"Cari siapa, tuan?" Tanya seorang maid itu. Tak biasanya rumah itu kedatangan seorang tamu.
Derya-orang yang menjadi tamu rumah itu mengernyit. Mencoba memahami ucapan seseorang yang berada di hadapannya saat ini. Ah, Derya paham apa yang diucapkan orang itu setelah beberapa detik. "Lunara dan Ghifari" balas Derya.
"Ada keperluan apa, tuan?" Tanyanya lagi.
"Bibi!" Seorang maid itu menoleh menatap majikannya saat ini.
"Biarkan orang itu masuk, dia Kakakku, Bik" orang itu adalah Lunara. Ia baru saja datang dari arah dapur.
Maid itu mengangguk. "Mari tuan, sikahkan masuk" ucapnya mempersilahkan Derya memasuki rumah itu.
Lunara berjalan mendekati pintu masuk dengan senyum yang mengembang. Tepat di hadapan Derya, Lunara langsung memeluk Derya dengan erat. "Assalamualaikum, Lunara" ucap Derya memberi salam, lalu mengecup singkat kening Lunara.
"Waalaikumsalam Abi Derya" balas Lunara dengan senyum ceria yang ia tunjukkan kepada Derya. Walaupun Lunara menggunakan penutup wajah, Derya tau saat ini Lunara sedang tersenyum ke arahnya.
Derya melepaskan pelukannya. Menatap ke arah sekeliling rumah itu. "Dimana suami kamu?" Tanya Derya menggunakan bahasa Turki.
"Dia sedang bersiap, Bi" balas Lunara yang juga menggunakan bahasa Turki.
Beberapa detik setelah mengatakan itu, Ghifari keluar dari dalam kamarnya. Menuruni anak tangga satu persatu dengan senyum yang menghiasi wajahnya. Lunara mematung setelah melihat senyum Ghifari, senyum yang sangat jarang sekali ia lihat.
"Assalamualaikum" Derya membalas senyum Ghifari dan merangkulnya. Ghifari membalas salam yang diberikan oleh Derya dan mengajaknya untuk duduk bersama di sofa ruang tamu.
"Mas, Bi, ayo kita sarapan dulu. Aku sudah membuat masakan spesial untuk kalian" ucap Lunara menggunakan bahasa Indonesia.
Derya yang paham apa yang Lunara bicarakan langsung mengangguk dan berjalan di belakang Lunara, mengikuti langkah Lunara yang sedang berjalan ke arah meja makan. Dengan terpaksa Ghifari juga ikut melangkahkan kakinya menuju meja makan.
Derya dan Ghifari mulai duduk di bangku meja makan sedangkan Lunara dengan sigap melayani keduanya. Menuangkan lauk pauk ke dalam piring keduanya.
"Apa nama makanan ini, Lunara?" Tanya Derya menatap masakan Lunara, lalu berganti menatap Lunara.
Lunara menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Apa, ya? Luna tidak tau" balas Lunara dengan senyum yang dipaksakan dari balik niqabnya. Ia terlihat bodoh saat ini.
Derya yang melihatnya langsung tertawa kecil, lucu melihat tingkah adik pertamanya. "Maaf kalau tidak enak. Ini masakan Indonesia yang pertama kali aku buat." Lunara sedikit menunduk.
"Tidak apa-apa, Luna. Kamu duduklah, kita makan bersama, oke?" Lunara mengangguk menuruti ucapan Derya. Sedangkan Ghifari hanya diam, tak tau harus membicarakan apa.
Lunara duduk, makan pun dimulai setelah dipimpin doa oleh Ghifari atas perintah dari Derya.
"Masakan kamu enak, Lunara. Abi tidak yakin ini adalah masakan Indonesia yang pertama" ucap Derya disela sela makannya. Ghifari yang mendengarnya pun juga menyetujui ucapan Kakak iparnya itu.
"Tidak, Abi. Ini masakan Indonesia yang pertama kali Luna buat tanpa bantuan siapapun" balas Lunara jujur.
Derya mengangguk pelan. "Iya baiklah. Abi tau masakan kamu selalu enak di mulut Abi" Lunara tersipu mendengar ucapan pujian dari Kakaknya.
"Setelah ini, Abi ingin kalian mengajak Abi berkeliling sekitar Jakarta" pinta Derya yang langsung disetujui oleh keduanya.
__________
Sudah tiga jam lebih mereka keluar dari dalam rumah, dan saat ini mereka sedang beristirahat di tempat kedua yang mereka kunjungi. Baik Lunara, Ghifari maupun Derya sedang berduduk santai disebuah cafe yang letaknya tak jauh dari tempat kedua yang mereka kunjungi.
Ting!
Derya meraih ponselnya yang berbunyi, membaca pesan yang masuk ke dalam ponselnya. Kening Derya berkerut membaca pesan yang terkirim di ponselnya.
"Kenapa, Bi?" Lunara yang menyadari akan perubahan raut wajah Derya pun langsung bertanya kepada orangnya.
Derya mendongak menatap Lunara setelah itu menggeleng, menandakan tidak terjadi apa-apa. Dengan memegang ponselnya, Derya bangkit dari duduknya. "Abi keluar sebentar, ingin menghubungi klien Abi, oke?" Pamit Derya meminta izin.
Lunara dan Ghifari mengangguk. "Iya, Bi. Silahkan." Setelah mendapatkan persetujuan dari keduanya, Derya berjalan keluar cafe, menjauhi keduanya.
Merasa sudah cukup jauh dan sepi, Derya mengangkat kembali ponselnya dan membaca ulang pesan yang dikirimkan kepadanya. Beberapa kali Derya menekan touch screen ponselnya lalu menaruh ponselnya tepat di telinga kanannya. "Cepat datangkan seluruh orang-orang kepercayaanmu ke alamat yang saya kirimkan sebelum kami kembali!" Ucap Derya tegas dengan nafasnya yang memburu setelah membaca pesan yang dikirimkan oleh orang suruhannya.
__________
Seneng deh liat komentarnya, pada kebawa emosi gara-gara cerita ini😂. Apalagi sikapnya Ghifari yg egois dan suka marah2 sama sikap Lunara yg cengeng. Makasih atas apresiasi kalian🥰😉 Jangan lupa tinggal jejak ya…
Makasih.