
Suara adzan subuh berkumandang, membuat siapapun yang mendengar akan terbangun dan melaksanakan ibadah subuh mereka bagi yang beragama Islam. Seperti salah satu pria ini, ia telah bersiap melaksanakan ibadah sholat subuh nya di mesjid sekitar rumahnya. Ghifari menatap bayangannya dipantulan cermin kamarnya.
Ghifari terkekeh setelah tak sengaja kembali membayangkan Lunara. "Apa kamu akan menerimaku kembali jika aku seperti ini?" Tanyanya menatap cermin yang berada di depannya. Setelah sadar dari koma-nya, Ghifari sering sekali sholat di masjid secara berjama'ah.
Tak ingin lama-lama, Ghifari keluar dari dalam kamarnya dan berjalan menuruni anak tangga. "Wow. Mau kemana lo?" Tanya Rayhan yang semalaman menginap di rumah Ghifari.
Semalam Ghifari terus menangis meminta dibuatkan opor ayam. Karena tak kunjung berhenti menangis, Dilla akhirnya mengalah dan memasakkan opor ayam untuk Ghifari. Seperti tidak makan selama berhari-hari, Ghifari memakan dengan sangat lahap sampai ia menambah porsi makannya. Dilla dan Rayhan sampai menggeleng melihat sikap Ghifari yang menurut mereka sedikit aneh.
Setelah memasak Dilla dan Rayhan hendak pamit kembali, namun Ghifari meminta mereka untuk bermalam di rumahnya karena hari sudah semakin malam. Akhirnya Dilla dan Rayhan setuju untuk bermalam di rumah Ghifari setelah mendapatkan banyak ceramah dari pemilik rumah.
Ghifari tersenyum menanggapi ucapan sang Adik. "Mau ke masjid." Balasnya sebelum berlalu meninggalkan Rayhan seorang diri.
"Tumben" Ghifari menoleh, mendapati Rayhan yang mengikuti langkahnya menuju masjid. Biasanya Ghifari akan selalu memarahinya jika mengganggu waktu tidurnya. Sebelum Ghifari memutuskan untuk tinggal memisah dari keluarganya, Farhan dan Rayhan sering sekali mengajak Ghifari untuk sholat subuh berjama'ah di masjid, namun seringkali ia menolaknya.
"Alhamdulillah Abang dapat hidayah. Do'a kan Abang semoga bisa istiqomah di jalan-Nya" Ghifari berucap sebelum memasuki pekarangan area masjid.
"Aamiin"
____________
Wangi aroma masakan kini tercium kembali di rumah luas nan megah itu. Ghifari berjalan mendekati meja makan dan duduk disana. Memperhatikan cara Dilla memasak makanan untuk sarapan mereka.
Tak lama Rayhan ikut menghampiri meja makan, mendekati Dilla yang masih berkutat dengan masakannya. "Rayhan bantu ya, Kak?" Izin Rayhan. Dilla menoleh lalu mengangguk tanda setuju.
"Kak Dilla mau buat apa?" Tanya Rayhan sembari memotong kecil daging yang ia pegang.
"Pancake coklat sama sandwich." Balas Dilla yang sedang menuang kembali adonan pancake ke atas teflon masaknya. Rayhan hanya mengangguk-angguk paham.
"Abang mau makan nasi" rengek Ghifari membuat aktivitas keduanya terhenti.
"Ntar Dilla bikinin nasi goreng aja, ya? Atau mau makan rendang yang kemaren Dilla bawa?" Tawar Dilla kembali melanjutkan aktivitasnya.
Ghifari menggeleng kencang, menolak saran dari Dilla. "Abang kepengen baklava sama teh Turki yang dulu pernah dibuat sama Lunara." Pinta Ghifari. Matanya kembali berkaca-kaca dan sebentar lagi ingin menangis.
"Makan aja yang sudah dibuat sama Kak Dilla" Rayhan jengah melihat sikap Ghifari yang kembali menyebalkan. Baru saja pagi tadi ia berkata bijak, sekarang mengapa sikap kemarin malamnya kembali lagi?
Dilla berbalik, menatap Ghifari dengan sangar. "Abaaaang!!!" Teriakan Dilla menggelegar di dalam rumah itu. Ghifari menunduk setelah mendapatkan teriakan dari Dilla, ia menghapus air matanya yang sudah turun dengan disertai segukan kecil. Dilla dan Rayhan kembali dibuat geleng kepala karena sikap Ghifari.
___________
Kabul-Afghanistan.
Setelah sampai di kampung halaman sang Ayah, Resya selalu mengurungkan dirinya. Sudah beberapa kali ia berusaha membujuk kedua orang tuanya untuk membatalkan perjodohannya. Ia juga mengatakan bahwa Ghifari akan datang dan membatalkan perjodohannya.
"Resya, ayo buka pintunya. Kamu harus makan" Mama Resya mengetuk pintu kamar anaknya. Ia selalu mengurung dirinya karena perjodohan tak masuk akal dari kedua orang tuanya.
"Keluarlah Resya! Hari ini Aarash akan datang kembali, jangan mengecewakan Mama untuk yang kesekian kalinya, Resya!" Bahkan sang Ibu sudah sangat jengah menghadapi sikap anaknya.
"Ghifari akan datang. Aku yakin itu"
Bella-Ibunya Resya mendengus tak suka. Mengapa ia yakin sekali kalau Ghifari akan datang setelah ia membuat pecah belah suatu keluarga. "Jika dalam waktu seminggu ia tidak datang, maka kamu harus menuruti keinginan kami. Kamu mengerti, Resya?!" Bella memberikan kelonggaran waktu kepada anaknya.
Dari awal pun Bella tak setuju jika Resya bersama dengan Ghifari. Bella menginginkan seorang yang bisa mengubah anaknya ke jalan yang lebih baik dan menghentikan Resya di dunia model. Tapi Ghifari malah semakin mendukung Resya di dunia model.
Akhirnya sekarang Mama ataupun Papanya telah menemukan seseorang yang tepat untuk Resya. Seorang pengusaha sukses diumurnya yang baru menginjak 27 tahun. Seorang pekerja keras dan terlahir dari keluarga Islam Sunnah yang sangat mengerti peraturan yang ada di dalam Agamanya. Dia adalah Aarash Shahmeer Rayi-seorang pengusaha yang baru baru ini namanya sedang naik daun di dunia berbisnis. Beberapa kali juga terekspos secara tak sengaja ketika Aarash sedang menyumbang di sebuah panti asuhan. Banyak juga dari para wanita yang mengidolakan Aarash.
Lama tak ada jawaban dari Resya. Bella masih menunggu jawaban dari anak semata wayangnya. "Kamu dengar apa yang Mama ucapkan?!" Bella memastikan kembali bahwa Resya menyetujui persyaratan yang ia berikan.
Ceklek
Resya membuka pintu kamarnya, menatap Mamanya dengan keyakinan yang tinggi. "Iya, aku setuju Ma. Aku sangat yakin Ghifari akan datang dan membatalkan perjodohan ini." Ucap Resya percaya diri. Ia sangat yakin sepenuhnya jika Ghifari benar-benar akan datang. Ghifari sangat tergila-gila padanya, tak mungkin membiarkan Resya diambil orang lain begitu saja.
"Sekarang kamu harus makan. Kalau kamu tidak makan apalagi sampai jatuh sakit, Mama tidak akan membiarkan kamu bersama dengan Ghifari!" Ancam Bella yang berhasil membuat Resya menuruti permintaan dari Ibunya.
Dengan segera Resya berlari menuju meja makan dan mengambil makan sesuai dengan porsi makannya. Memakannya dengan cepat dan lahap agar Mamanya tak lagi mengancamnya.
__________