
"Lunara" merasa namanya dipanggil, lantas si pemilik nama langsung menoleh.
Senyumnya mengembang seketika. Orang yang ia tunggu-tunggu akhirnya datang. Dengan langkah setengah berlari, Lunara menghampiri orang yang memanggilnya. Memeluk dengan erat, mencoba melepaskan kerinduan kepada orang yang sedang ia peluk saat ini. Orang yang dipeluk itu juga membalas pelukan dari Lunara. Keduanya berpelukan di tempat umum saat ini.
Sebelumnya Lunara sudah meminta izin kepada Ghifari kalau ia ingin keluar. Dan seperti biasanya, tanpa bertanya lagi ingin kemana tujuannya, Ghifari langsung mengizinkan Lunara begitu saja. Ghifari juga memberitau dimana letak kunci mobil miliknya yang lain agar Lunara tidak menaiki kendaraan umum.
Setelah mendapatkan izin dari Ghifari, disinilah Lunara berada. Sebuah cafe dengan ukuran cukup besar yang letaknya tak jauh dari bandara tempat itu. Hampir 20 menit Lunara menunggu orang itu di dalam cafe. Penantiannya tak sia-sia, orang itu datang menghampirinya di cafe. Setelah merasa namanya dipanggil, Lunara langsung menghampiri orang itu dan memeluknya dengan erat, melepaskan kerinduannya kepada orang itu.
"Seni yürüyüşe çıkaracağım. Hadi beni takip et" (Aku akan mengajakmu jalan-jalan. Ayo ikuti aku) Lunara menarik tangan orang itu setelah memberikan salam dan mencium punggung tangannya. Orang itu hanya menurut saja saat Lunara menariknya keluar cafe tersebut.
Lunara menarik orang itu untuk masuk dan duduk di bagian kemudi, sedangkan Lunara duduk di sampingnya lalu menyerahkan kunci mobil tersebut kepada orang yang berada di sampingnya. "Aku akan menunjukkan arah jalannya. Kalau kau lelah bilang, oke?" Orang itu mengangguk mengiyakan ucapan Lunara, setelahnya ia melajukan mobil itu sesuai arahan dari Lunara.
__________
Sampailah mereka berdua disebuah gedung yang menjulang tinggi ke langit. Tempat yang biasanya ramai akan pengunjung saat hari libur. Namun karena hari ini adalah hari dimana orang-orang bekerja ataupun sekolah melaksanakan kegiatannya, sebab itulah tempat ini tak terlalu ramai pengunjung hari ini.
Tempat itu adalah pusat perbelanjaan. Lunara yang memintanya untuk datang ke tempat itu. Bukan untuk berbelanja, tapi untuk makan siang karena memang sudah saatnya mereka makan siang. Bukan tanpa alasan Lunara datang ke tempat tersebut. Ia mengajaknya ke tempat pusat perbelanjaan itu karena ada restoran yang sangat ia sukai menu makanannya sewaktu kuliah dulu.
Mereka berdua masuk dan duduk di dalam restoran yang Lunara tuju. "Kamu bisa makan dengan menggunakan itu?" Tanya orang itu menggunakan bahasa Turki. Ia menunjuk ke arah niqab yang Lunara gunakan.
Lunara menatapnya dengan sinis. "Apa kamu meremehkan aku, Abi? Aku sudah terbiasa mengenakan ini" balas Lunara tak suka.
Orang yang disebut oleh Lunara 'Abi' yaitu, Derya-Kakaknya yang sangat ia tunggu kedatangannya. Ada alasan tersendiri untuk Derya karena tak bisa menghadiri acara penting Adik pertamanya itu. Istrinya baru saja melahirkan, dan ia takut untuk meninggalkannya sendirian. Barulah setelah anaknya berusia tujuh minggu, ia terbang kembali ke Ankara-Turki setelah mengantongi surat izin dari dokter.
Hanya Derya yang datang ke Indonesia, tidak dengan sang Istri dan anaknya yang ia tinggalkan di kediaman Malayeka. Sebenarnya Derya sangat ingin mengajak keluarga kecilnya, namun sang dokter melarangnya karena perjalanan yang ditempuh sangat jauh dan membutuhkan waktu yang lumayan lama untuk bisa sampai di Indonesia. Tubuh bayi masih sangat rentan untuk dibawa pergi jauh-jauh, maka dari itu Derya hanya datang seorang diri.
Derya tertawa kecil. "Abi tau itu, Luna" ucap Derya terkekeh. Walaupun Lunara mengenakan niqab, Derya sangat tau betul kalau Adiknya saat ini sedang cemberut, makanya ia tertawa.
"Sudahlah, kita langsung pesan saja makanannya. Kau jangan khawatir, Abi, aku jamin Abi juga akan menyukai makanannya" ucap Lunara. Derya mengangguk patuh. Ia sangat paham apa yang Lunara bicarakan jika menggunakan bahasa Indonesia, karena Derya sendiri pernah beberapa tahun tinggal di Indonesia untuk mengurus cabang perusahaan Malayeka yang akan dibangun.
Lunara memanggil seorang waiter untuk memesan makanannya. Beberapa makanan yang menurutnya enak juga Lunara rekomendasikan untuk Derya. Tanpa banyak tanya Derya langsung memesan makanan yang Lunara rekomendasikan kepadanya.
Tanpa Lunara sadari, seorang yang tempat duduknya tepat berada di belakang Lunara sedang mengupingnya. Merasa tak asing di telinganya, ia memutar tubuhnya sebentar. Walaupun Lunara memakai niqab dan memunggunginya, ia tau betul suara Lunara.
Tangannya terkepal menahan marah. "Ayo kita pergi dari sini!" Ajaknya kepada orang yang berada di depannya.
Tanpa bertanya lagi, ia langsung mengekori teman makannya itu dan keluar dari restoran tersebut setelah membayar semua total makanan yang ia pesan.
__________
"Abi, menginaplah disini. Ada banyak sekali kamar kosong disini" pinta Lunara membujuk.
Derya tersenyum lalu menggeleng. "Tidak Luna, Abi akan tinggal di hotel keluarga kita. Abi juga ada keperluan disana. Besok Abi kesini lagi untuk bertemu dengan suami kamu, oke?" Tawar Derya.
Senyum Lunara mengembang mendengar balasan dari Derya. "Iya, Bi. Janji, ya?"
"Iya, janji." Balas Derya tersenyum melihat Lunara yang juga ikut senang. "Kalau gitu Abi ke hotel, ya? Supirnya sudah mau sampai" pamit Derya. Lunara mengangguk membalasnya.
Derya mengusap lembut kepala Lunara lalu mencium keningnya. "Assalamualaikum"
"Waalaikumsalam" Derya berjalan menjauh, mendekati mobil yang sudah menjemputnya. Setelah Derya masuk ke dalam mobil, mobil itu-pun mulai berjalan jauh, meninggalkan pekarangan rumah Ghifari. Setelah itu barulah Lunara berbalik badan dan masuk ke dalam rumah.
"Bagus ...." Lunara menoleh, mencari sumber suara.
"Mas kapan pulang?" Tanya Lunara menghampiri Ghifari.
Ghifari berdecih. "Puas kamu jalan-jalannya?!" Tanya Ghifari sedikit lebih kencang.
Lunara tersenyum. "Iya, Mas. Makasih karena tel-"
"Oh, bagus .... Kamu jalan dengan laki-laki lain tanpa rasa bersalah, ya?!"
"Maksu-"
"Kamu harus diberi hukuman, Lunara. Sini kamu!" Ghifari menarik paksa Lunara menuju kamarnya.
Sesampainya di kamar miliknya, Ghifari langsung melempar Lunara ke atas ranjang dan mengunci pintu kamarnya.
Ghifari berjalan ke arah Lunara. "M-mas, kamu mau apa?" Tanya Lunara takut. Ia memundurkan tubuhnya dari Ghifari.
"Layani aku"
__________
Besok, In syaa Allah aku up lagi. Jgn lupa tinggal jejak, ya😉