
"Apa mas Fari sering seperti ini?" Tanya Lunara.
"Iya. Sebelumnya aku minta maaf Luna, biasanya tuan selalu mampir ke rumah kedua orang tuanya dan ru-rumah kekasihnya kalau ia tidak pulang ke rumah" balasnya.
"Apa selalu seperti ini, Ira?" Tanya Lunara sedikit kecewa.
"Maafkan aku. Biasanya memang seperti ini. Tapi kalau sekarang aku tak tau" balas Ira menunduk.
"Tidak apa. Makasih udah diberi tau." Ucap Lunara tersenyum dibalik niqabnya.
"Aku akan coba menghubunginya sekali lagi." Ucap Lunara seraya duduk di sofa ruang tamu dan mengeluarkan ponselnya.
Lunara membuka layar kunci ponselnya dan mencari nomor milik Ghifari untuk ia hubungi. Lunara menaruh ponselnya di samping telinga kanannya.
Tut... Tut... Tut...
Maaf, nomor yang anda tuju sedang berada diluar jangkauan. Cobalah beberapa saat lagi.
Hanya suara operator yang terdengar setelah beberapa kali Lunara coba hubungi nomor Ghifari.
"Mas Ghifari kemana, ya?" Gumam Lunara cemas.
"Lunara, kamu harus positive thinking." Gumam Lunara kembali.
__________
Malam hari, Lunara senantiasa menunggu kepulangan Ghifari ke rumah mereka. Ia ingin menghubungi keluarga Ghifari namun, ia lupa meminta nomor ponsel mereka. Hanya nomor ponsel Dilla yang Lunara punya. Sedangkan Dilla sedang berada diluar kota bersama adiknya.
Braak...
Pintu masuk di buka secara kasar dari arah luar. Lunara terkejut dan langsung melihat siapa yang datang.
"Mas Ghifari" lirih Lunara bahagia ketika orang yang sangat ia tunggu kehadirannya sudah pulang.
Lunara menghampiri Ghifari yang berjalan sempoyongan bahkan hampir terjatuh.
"Astagfirullah." Ucap Lunara terkejut setelah mencium bau alkohol yang melekat pada tubuh Ghifari.
"Apa yang kamu lakukan, mas?" Tanya Lunara khawatir.
"Minggir!!!" Balas Ghifari mendorong Lunara hingga mundur beberapa langkah.
"Ya Allah, mas, kamu minum minuman haram? Istighfar, mas" ucap Lunara menghampiri Ghifari kembali.
Ghifari mengangkat kepalanya menatap Lunara. "Kamu ngapain disini?!" Bentak Ghifari tak sadar.
"Dimana Resya?!" Teriak Ghifari menarik niqab yang Lunara pakai hingga terlepas ikatannya dan terlempar jauh karena ulah Ghifari. Lunara menutup sebagian wajahnya menggunakan bagian depan kerudung yang ia gunakan.
"Astagfirullah. Istighfar, mas." Lunara terus menerus menyuruh Ghifari untuk beristighfar.
"Diam kamu! Jangan sok suci!!" Bentak Ghifari mendorong Lunara lalu berjalan menuju anak tangga.
Lunara membuntuti Ghifari dari belakang. "Mas, kamu ada masalah apa? Cerita ke aku, mungkin aku bisa kasih solusi" ucap Lunara setelah berada dilantai atas.
Ghifari membalikkan tubuhnya. "Kenapa kamu masih disini? Pergi!" Usir Ghifari.
Ghifari melangkahkan kakinya memasuki kamarnya daan menutup secara kasar. Lunara terus berjalan menghampirinya.
"Mas-"
Braak...
Dengan kasar Ghifari membanting pintu kamarnya.
"Astagfirullah..."
"Mas-"
"Pergi!!!" Potong Ghifari mengusir Lunara.
Lunara menatap pintu kamar milik Ghifari yang seharusnya juga ia tempati.
"Kamu ada masalah apa, mas? Apa aku buat kesalahan sama kamu, mas?" Lirih Lunara kecewa setelah melihat kondisi Ghifari.
__________
Pagi hari Ghifari terbangun dari tidurnya. Ia merasakan kepalanya yang berdenyut hebat akibat meminum alkohol.
Ghifari duduk diujung ranjangnya, mencoba mengingat apa yang terjadi semalam sehingga ia memilih pergi ke tempat haram, yaitu klub malam dan meminum alkohol.
"Resya..." gumam Ghifari penuh kemarahan.
Ghifari bangkit dan berjalan menuju kamar mandi untuk membersihkan dirinya.
Selesai membersihkan diri, Ghifari memakai pakaian formalnya dan berjalan menuju pintu keluar kamar. Di saat yang bersamaan Lunara berada di hadapan Ghifari.
"Emm... Aku mau ajak mas untuk sarapan" ucap Lunara memberikan alasan mengapa ia berada di depan kamar Ghifari.
"Kenap-"
"Saya bilang minggir! Lepas kerudung kamu biar gak tuli!!" Ulang Ghifari membentak Lunara.
"Astagfirullahaladzim. Mas kamu kenapa?" Tanya Lunara tak mengerti.
Ghifari memberi tatapan tajam ke arah Lunara, memberi isyarat agar menyingkir dari hadapannya. Lunara menunduk dan memberikan jalan kepada Ghifari.
Ghifari berjalan meninggalkan Lunara tanpa sepatah katapun. Lunara mengikuti langkah Ghifari dari belakang.
"Mas, kamu mau kemana pagi pagi sekali? Gak makan dulu?" Tawar Lunara lembut saat Ghifari berjalan ke arah pintu keluar rumah.
Ghifari berbalik menatap Lunara sengit. "Berhenti mengikuti dan mencampuri urusan saya!" Kesal Ghifari menekankan setiap kalimat yang ia ucapkan.
"Tapi mas gak makan dulu?"
"Bukan urusan kamu!" Balas Ghifari acuh dan langsung meninggalkan Lunara yang masih terdiam karena perilaku Ghifari kepadanya.
"Kenapa kamu tiba tiba berubah, mas?" Lirih Lunara.
__________
"Resya!"
"Keluar kamu, Resya!!" Panggilnya sekali lagi.
Ceklek...
Pintu dibuka dari dalam oleh si pemilik apartemen.
"Sayang..." ucap Resya hendak merangkul lengan kekar milik kekasihnya. Dengan cepat lengan milik Resya ditepis secara kasar.
"Kamu kenapa Ghifari?" Tanyanya lembut kepada kekasihnya.
"Jangan kamu berakting di depan ku, Resya!" Ucap Ghifari tak suka.
"Apa yang kamu maksud, sayang? Ayo masuk, dan cerita kepadaku." Ajak Resya. Ghifari menurut saat Resya menarik lembut lengannya.
"Tunggu sebentar," ucap Resya berjalan menuju lemari makanan dan mengambil beberapa cemilan juga minuman di lemari pendingin.
"Ini pelengkap obrolan kita pagi ini, sayang" ucap Resya menaruh nampan yang berisi cemilan serta minuman dingin.
"Nah, ayo ceritakan apa masalah kamu?" Tanya Resya lembut.
"Apa yang kamu lakukan semalam?" Tanya Ghifari to the point.
"Kenapa kamu pergi bersama pria lain?" Tanya Ghifari dingin.
Resya mengernyit heran, tak mengerti apa yang dimaksud oleh Ghifari.
"Sudah aku katakan bukan? Aku pergi bersama sepupuku semalam." Balas Resya setelah mengingat apa yang ia lakukan semalam.
"Aku tidak percaya. Kamu berbohong" bantah Ghifari.
"Nggak sayang"
"Lalu ini siapa?" tanya Ghifari menunjukkan foto yang ia ambil dari dalam mobilnya semalam.
Resya melihat layar ponsel milik Ghifari lalu tersenyum. "Dia sepupuku, sayang. Apa kamu gak percaya sama aku?" Balas Resya meyakinkan.
"Kamu terlihat sangat dekat kepadanya."
"Itu karena kami udah lama tidak bertemu. Dia tinggal di Amerika sekarang, jarang sekali kami bertemu," ucap Resya menjelaskan. Ghifari lega setelah mendengar penjelasan dari Resya.
"Apa kamu cemburu?" Tebak Resya tersenyum.
"Apa yang kamu katakan? Tentu saja aku cemburu" balas Ghifari mengakui.
"Ah So sweet. Makin sayang deh" ucap Resya mencubit gemas kedua pipi Ghifari.
"Apa kamu mencintai istrimu?" Tanya Resya tiba tiba.
"Kenapa kamu bertanya seperti itu? Tentu jawabanku tetap sama, sayang. Aku hanya mencintai hartanya" ucap Ghifari tersenyum licik.
Resya tersenyum puas mendengar jawaban dari Ghifari. "Terima kasih, sayangku" ucap Resya memeluk Ghifari dan dibalas pula oleh Ghifari.
"Kamu gak perlu khawatir, aku akan segera menceraikannya setelah urusanku telah selesai" ucap Ghifari meyakinkan.
"Tentu. Aku pegang ucapan kamu."
"Silahkan. Aku hanya mencintai kamu, sayang" ucap Ghifari mengecup hangat kening Resya.
__________