My Love Defense

My Love Defense
MLD Bab 37



Hari telah berlalu, namun sampai saat ini belum juga ada kemajuan tentang kesehatannya. Bau obat-obatan tercium dimana-mana. ruangan yang lebih mendominasikan warna putih itu terlihat sangat hampa. Hanya ada satu orang dalam ruangan itu, dan sedang terbaring tak berdaya di atas ranjang rumah sakit. Sudah tiga minggu berlalu setelah kejadian hari itu. Namun nampaknya ia belum juga terbangun dari tidur panjangnya.


Dia-Ghifari masih enggan membuka matanya untuk melihat dunia kembali. Masih nyaman dalam mimpinya yang entah kapan akan selesai.


Ceklek


Seseorang masuk ke dalam ruangan tersebut. Alisya-wanita yang sangat berjasa dalam hidup Ghifari itu sedang berdiri di ambang pintu. Melihat salah satu anaknya yang sedang dalam kondisi tak baik-baik saja. Selang infus terpasang di seluruh tubuhnya. Alat itulah yang membuatnya masih bertahan sampai saat ini.


Tiga minggu yang lalu, tepat dimana saat itu Ghifari sedang mencoba meraih Lunara kembali. Ia mendapatkan kembali bogeman mentah dari sang Adik. "Berhentilah mengharapkan seseorang yang telah pergi karena ulahmu sendiri." Setelah Rayhan mengatakan hal itu tubuh Ghifari ambruk ke tanah, ia pingsan.


Sebagai orang tua, tentu Alisya dan Farhan tak tinggal diam. Mereka berlari mendekati anak tertuanya yang pingsan. Mereka bukanlah orang tua yang kejam dan membiarkan anaknya dalam keadaan seperti itu. Membawa tubuh Ghifari ke dalam mobil untuk dilarikan ke rumah sakit.


"Kau jangan takut. Aku mendukung penuh perlakuan kamu." Rayhan menoleh, mendapati Dilla yang berdiri di sampingnya.


Alisya menggeleng samar. Kembali ke keadaan saat ini. Berjalan mendekati Ghifari dan menatap lekat anak tertuanya yang sedang tak berdaya. "Karena ulah kamu sendiri ini semua terjadi, Ghifari." Ucap Alisya disertai isak tangisnya.


__________


Di waktu yang berbeda juga belahan Benua lainnya, seorang wanita berpakaian longgar sedang berjalan di koridor rumah sakit. Senyumnya tak luntur sedikitpun, memberikan salam kepada siapa saja yang berjalan melewatinya. Suasana seperti inilah yang sangat ia rindukan. Selama tiga bulan terakhir, ia tak pernah merasa se-senang ini. Sudah dua minggu lamanya ia kembali berkutat pada pekerjaan dulu.


Mencoba menghilangkan beban pikirannya dengan pekerjaan adalah jalan terbaik baginya. Lunara-wanita itu nampak seperti tak ada masalah sedikitpun. Sifat ramah dan cerianya telah kembali. Ia pun sudah berjanji pada dirinya sendiri untuk tidak lagi mengeluarkan air matanya untuk hal yang sia-sia baginya.


Lunara berbelok, memasuki ruang kerjanya. Tak ada yang berubah sedikitpun. Semua barangnya tersimpan rapih di tempatnya, sama seperti tiga bulan yang lalu. Tentu saja tak ada yang berani mengutak-atik barang miliknya. Jabare akan marah besar jika hal itu terjadi. Padahal Lunara sendiri tak mempermasalahkan jika hal itu terjadi.


Tok… Tok… Tok…


Pintu ruangan Lunara diketuk. Lunara menatap ke arah pintu, bukankah jam kerja baru akan dimulai setengah jam lagi? Batin Lunara mengingat jadwal kerjanya. "İçeri gel (Masuklah)" balas Lunara.


Ceklek


Pintu dibuka. Seketika senyum Lunara kembali mengembang. Membuka kedua tangannya selebar mungkin, meminta orang itu untuk memeluknya.


Dengan segera orang itu berjalan mendekati Lunara. Memeluk Lunara dengan sangat erat. Melepaskan kerinduan yang terjadi antara keduanya.


Setelah pelukannya terlepas, pandangan Lunara teralihkan. Lalu menatap orang itu kembali dengan tatapan tak percaya. "Bana bir yeğen verir misin, Selyn? (Kau akan memberikan aku keponakan, Selyn?)" Tanya Lunara. Selyn-wanita yang tengah berbadan dua itu mengangguk membenarkan.


"Tebrikler ... bunu duyduğuma çok sevindim (Selamat ... Aku turut bahagia mendengarnya)" Lunara memeluk Selyn sekali lagi. Lunara menarik pelan lengan Selyn, membawanya menuju sofa yang berada di dalam ruangannya itu. Ruang kerja Lunara memanglah berbeda dari ruang kerja dokter yang lainnya. Terdapat ruang rahasia di dalam sana, Lunara gunakan untuk beristirahat ketika ia sedang benar-benar lelah.


"Apa aku tidak mengganggu waktu kerja kamu, Lunara?" Tanya Selyn khawatir.


Setelah mendengar kabar bahwa Lunara telah kembali ke Turki, dengan secepat mungkin Selyn pergi ke kediaman Malayeka setelah mendapatkan izin dari Rizal-sang suami. Namun saat ia telah sampai, Lunara baru saja berangkat menuju tempat kerjanya. Selyn tak menyerah, ia meminta kepada Rizal untuk mengantarkannya ke rumah sakit tempat Lunara bekerja. Rizal mengangguk patuh, mengikuti keinginan sang Istri.


Lunara menggeleng. "Kesinlikle değil. Çalışma saatlerim yarım saat içinde başlamayacak (Tentu tidak. Jam kerja aku baru akan mulai setengah jam lagi)" balas Lunara.


Semua pertanyaan Selyn lontarkan kepada Lunara. Sesekali Selyn bercerita dan Lunara mendengarkan. "Ayolah Lunara, dimana bahasa Indonesia yang selalu kau gunakan itu? Kau tak menggunakannya kembali?" Tanya Selyn pada akhirnya. Ada beberapa kata dalam bahasa Turki yang ia lupa, mungkin karena ia tinggal dengan seluruh keluarga dari suaminya yang berasal dari Indonesia.


Senyum Lunara mulai luntur, ia sedikit menundukkan kepalanya. Hanya mendengar nama negaranya saja sudah membuat ingatan tentang tiga bulan lalu kembali.


"Onu tekrar kullanmayacağım (Aku tak akan menggunakannya kembali)" balas Lunara. Ia sudah memutuskan. Jika ingin melupakan Ghifari, maka lupakan semua yang bersangkutan dengan pria itu. Dan saat ini, hanya ada tiga bahasa yang akan ia ucapkan. Bahasa Turki, Arab dan Inggris, itu saja yang akan tetap ia gunakan. Saat Dilla menghubungi Lunara, ia pun hanya menggunakan bahasa Inggris.


Selyn hanya mengangguk samar. "Oh ya. Aku bertemu dengan bodyguard kamu di pintu masuk rumah sakit. Apa itu atas perintah dari suami kamu? Ia takut kehilangan kamu, Luna." Ucap Selyn bermaksud ledekan, namun hal itu membuat Lunara semakin menunduk.


Seluruh bodyguard yang berada di area rumah sakit itu adalah suruhan Ayahnya. Saat Lunara memasuki pintu masuk rumah sakit, saat itulah semua bodyguardnya berpencar ke seluruh area rumah sakit untuk memastikan keadaan sekitar baik-baik saja.


"Hei, apa ada yang salah dengan ucapanku? Maafkan aku Lunara" menyadari sikap Lunara yang sedikit berubah, Selyn langsung bertanya kepada Lunara.


Lunara mengangkat kembali kepalanya. "Jika aku terlahir dari keluarga yang sederhana, apakah semua ini tak akan terjadi, Selyn?" Pertahanan Lunara mulai runtuh. Air matanya keluar begitu saja. Niqab yang ia gunakan-pun telah basah akibat tangisnya.


"Apa yang terjadi, Lunara? Ceritalah." Selyn mengusap lengan Lunara, mencoba menenangkan sahabat kecilnya itu.


"Aku telah berpisah dengannya." Balas Lunara. Ia menghapus air matanya. Kenapa ia menangis? Bukankah seharusnya ia bersyukur karena telah berpisah dengannya. Lunara mengatakannya dengan menggunakan bahasa Turki, tak ingin lagi menggunakan bahasa yang sebelumnya selalu ia gunakan.


"Bagaimana itu bisa terjadi? Secepat itukah?" Tanya Selyn tak percaya.


Lunara mengangguk. "Hanya harta dan kekuasaan yang ia incar dari keluarga kami. Setelah mendapatkan semua itu ia akan menikahi wanita yang dicintainya dan menceraikan aku" balas Lunara tak sadar. Lunara menatap lurus ke depan, namun tatapannya kosong. Menunjukkan betapa hancur dirinya saat ini.


"Ghifari yang melakukan semua itu?" Atensi keduanya teralihkan, manatap ke arah pintu masuk ruangannya.


Lunara menutup mulutnya, ia menyadari apa yang baru saja ia ucapkan. Mengapa ia bisa sangat ceroboh dengan mengumbar sebuah aib seseorang. Demi Tuhan Lunara tidak bermaksud demikian. Tatapannya kosong sampai ia sendiri tak menyadari apa yang ia bicarakan.


"Mas Rizal… " Selyn menghampiri suaminya. "Ada apa, Mas? Kamu membutuhkan sesuatu?"


Rizal menatap sang istri. "Ingin ke Jakarta?" Tanya Rizal tiba-tiba. Ia menatap Selyn yang nampak bingung dengan pertanyaan Rizal. Hanya tak sengaja mendengar percakapan antara keduanya saja sudah mampu membuat emosi, apalagi ia menyaksikannya secara langsung, mungkin Ghifari akan habis di tangannya. Sungguh pria tak beradab, bagaimana bisa pikirannya sekeji itu? Rizal tak pernah tau jika Ghifari adalah seorang penjilat.


"Değil! Bizim işimize karışmayın! umuyorum (Tidak! Jangan campuri urusan kami! Aku mohon)" pinta Lunara ketika mendengar kata 'Jakarta'. Lunara tau apa yang Rizal maksud.


__________


Alhamdulillah PAS aku udh berlalu xD


Aku bisa update novel ini lagi... Mulai dari hari senin-sabtu in syaa Allah aku akan rajin update. Kalau vote, like dan komennya banyak aku bakal update sehari 3-4 episode. Kalau nggak, juga gpp sih... berarti updatenya cuma satu, oke?


Terima kasih...