
Siang hari di Turki, cuaca hari itu sangat sejuk. Tak ada gumpalan awan yang membuat cuaca mendung. Memang biasanya seperti itu, matahari bersinar terik namun tak terasa panas sedikitpun.
Sebuah keluarga besar tengah terduduk di dalam mobil, menunggu gerbang yang berada di depan mereka untuk dibuka. Tak lama gerbang yang menjulang sangat tinggi itu terbuka dari dalam, menampilkan suasana dari dalam mansion besar itu. Dua mobil yang mereka bawa mulai memasuki pintu masuk utama mansion tersebut. Menampilkan sederet pengawal yang berdiri dengan tegap seakan menyambut kedatangan mereka.
Mobil yang mereka bawa terparkir rapih di bagian timur mansion tersebut. Harus berjalan lumayan jauh untuk masuk melalui pintu utama. Tempat yang sangat luas seperti istana kerajaan. Mereka berjalan mendekati pintu masuk utama. Tepat di belakang dan depan mereka banyak pengawal yang menuntun jalan mereka. Tepat di depan pintu masuk terpasang tulisan yang sangat besar di atasnya "Malayeka's".
Senyum Alvan mengembang ketika yang ia pikirkan adalah kenyataan. Ia berada di mansion utama Malayeka. Kejutan berada di depan matanya sebentar lagi. Ia menoleh ke arah Dilla yang sama senangnya seperti dirinya saat ini. Bukan hanya dirinya saja, melainkan seluruh keluarganya pun sama.
Pintu masuk yang sangat besar itu terbuka dari luar. Beberapa pengawal membuka bagian kanan dan kiri pintu tersebut. Memang sangat berat jika membukanya hanya seorang diri karena itu adalah pintu utama.
"Tunggu sebentar, kami akan panggilkan Tuan dan Nyonya Malayeka beserta keluarganya." Ucap salah satu pengawal yang langsung berlari kecil memasuki mansion tersebut.
Tak lama Jabare beserta Emira yang keluar terlebih dahulu. Mereka berdua menyambut kedatangan keluarga tersebut. Membawa keluarga tersebut untuk masuk ke dalam ruang tamu. Sebelumnya mereka saling bersalaman satu sama lain dan menanyakan kabar mereka.
Tak lama Derya beserta Elnara keluar dari dalam kamarnya beserta Enver yang berada dalam gendongan Derya. Derya menatap percaya siapa yang datang. Dengan senyum yang mengembang Derya menurunkan Enver lalu mendekati Alvan. "Hei, Alvan!" Sapa Derya merangkul tubuh Alvan.
Alvan tersenyum senang. Sudah dipastikan oleh Alvan bahwa Derya juga berada disini. "Apa kabar?" Tanya Alvan. Derya membalas ucapan pertanyaan dari Alvan.
"Kalian saling mengenal?" Hampir seluruh orang bertanya seperti demikian. Jabare dan Emira pun begitu, rupanya mereka juga tak mengingatnya.
"Dia Alvan, teman yang pertama kali mengenalkanku pada budaya Indonesia." Ucap Derya mengenalkan Alvan kepada keluarganya.
Sekitar delapan tahun yang lalu, saat pertama kali ia menginjakkan kaki di Indonesia. Saat itu Malayeka Company membuka cabangnya di Indonesia. Tak ada bodyguard yang mengawal dirinya. Itu karena permintaan dirinya sendiri. Tapi karena itu ia menjadi bingung ingin kemana.
Akhirnya Derya memutuskan untuk mengisi perutnya yang telah berbunyi. Ia mampir di sebuah restoran yang bertema Arab klasik. Siapa sangka anak pemilik restoran tersebut datang di hari yang sama dengan Derya. Dia Alvan-seorang mahasiswa yang datang ke tempat tersebut karena perintah sang Ayah.
Entah dorongan darimana Alvan mendekati Derya yang sedang duduk seorang diri. Dia menanyakan kepada Derya tentang pelayanan yang telah diberikan. Tentu saja Derya tak paham apa yang dibicarakan oleh Alvan. Dengan sopan Derya mengatakan bahwa ia tak paham apa yang dibicarakan oleh Alvan. Dan dugaan Alvan benar, Derya bukanlah warga negara Indonesia.
Alvan merupakan tipe cowok yang mudah bergaul. Dengan mudah ia mendekati Derya. Menganggapnya sebagai teman pertama yang ia kenal dari luar negeri. Derya pun tak keberatan akan hal itu. Justru ia beruntung karena Alvan ia dapat menghafal beberapa jalan di sekitar tempatnya menginap.
Ia pun dapat mengunjungi rumah Pamannya yang juga berada di Indonesia. Itupun karena bantuan Alvan ia sampai di tempat sang Paman.
Dua tahun ia tinggal di Indonesia sampai cabang bangunan perusahaan Malayeka berhasil didirikan di Indonesia. Selama dua tahun Derya bertemu dengan banyak orang di Indonesia. Namun hanya Alvan lah yang mengenalkannya pada budaya-budaya negara Indonesia.
"Ini Alvan?" Tanya Emira menunjuk ke arah Alvan. Ia tak mengenalinya mungkin karena kejadian itu telah berlalu lumayan lama dan penampilannya juga sedikit berbeda.
Alvan mengangguk membenarkan ucapan pertanyaan dari Emira. Jabare hanya terdiam tak tau berekspresi seperti apa. Yang jelas ia pun terkejut ternyata mereka datang bersama. "Maaf, Anne tak mengenali wajah kamu." Ucap Emira kepada Alvan. Ia menggeleng tak masalah.
Baik Dilla dan seluruh keluarganya pun mengangguk paham. Mereka juga baru mengetahui hal tersebut. Pantas saja wajah Alvan sangat senang dari kemarin karena ingin mendatangi mansion Malayeka. Ternyata itulah alasan utamanya.
Seketika cerita dari Dilla mengulang kembali di otak Alvan. Ghifari telah membuat sang Kakak Ipar pergi darinya. Karena saat itu yang diincar oleh Ghifari adalah harta dan kekuasaan. Otaknya memutar kembali cerita yang Dilla ceritakan kepadanya. Berarti Lunara yang dimaksud adalah Lunara adiknya Derya. Alvan menggeleng kecil akan sikap Ghifari yang dahulu tapi untungnya itu sudah berlalu.
Kemudian Ghifari, Lunara serta Alma menyusul turun ke lantai satu. Di sisi tangga lainnya Harika juga turun menyusul sang Kakak. Atensi seluruhnya teralihkan ketika Enver berteriak memanggil nama Alma.
"Almasya come here!" Panggil Enver. Ia berjalan kecil mendekati Alma yang berada dalam gendongan Ghifari.
Ketika melihat Enver menghampirinya Alma meminta turun dari gendongan sang Ayah. Ghifari menuruti permintaan sang anak, ia menurunkan Alma dari gendongannya. Alma meraih tangan Enver yang mengajaknya untuk jalan bersama. Hubungan antara Kakak dan Adik yang sangat menggemaskan.
Ghifari dan Lunara kembali melanjutkan langkahnya yang tadi sempat terhenti. Matanya menyipit, senyumnya mengembang mendekati keluarga dari sang Suami yang sudah lama tak bertemu dengannya.
"Assalamualaikum" ucap Lunara dan Ghifari kompak.
"Waalaikumsalam."
Lunara bersalaman kepada seluruh keluarga dari Ghifari. Terakhir ia memeluk Dilla dengan erat. Melepaskan kerinduan mereka berdua. "Apa ini Arkan?" Tanya Lunara mengelus pipi batita yang baru berumur dua tahun. Dilla tersenyum lalu mengangguk membenarkan.
Tatapan Lunara teralihkan ketika melihat seseorang yang ia kenal. "Kak Alvan juga disini?" Tanya Lunara terkejut.
"Dia suamiku." Balas Dilla memperkenalkan. Mulut Lunara terbuka, ia terkejut mendengarnya karena ternyata Alvan lah yang menjadi pasangan Dilla. Alvan tersenyum lalu mengangguk.
Tatapan Lunara kembali pada Arkan. "Halo Arkan" sapa Lunara kepada Arkan. Tangannya terulur ingin menggendong Arkan namun tertahan. Alma menahan pergerakan tangan Lunara yang hendak menggendong Arkan.
Lunara menunduk melihat tatapan sang anak yang sudah berkaca-kaca. "Ane gak boleh gendong siapapun." Dengan kencang Alma menangis. Rupanya anak itu cemburu melihat sang Ibu yang hendak menggendong Arkan.