
"Makasih Luna ku, udah mau ngajak aku keliling Ankara." Ucap Dilla seraya memeluk erat tubuh Lunara.
"Makasih kembali untuk mu. Aku jadi ada teman lagi untuk jalan-jalan" balas Lunara yang juga membalas pelukan dari Dilla.
Dilla melepaskan pelukannya dan menatap Lunara "Emang Luna gak ada teman?" Tanya Dilla heran.
"Punya. Tapi sudah menikah dengan temannya Abang kamu" balas Lunara.
"Temannya Abang? Yang mana?"
"Waktu orang tua kamu kecelakaan"
"Oh, bang Rizal"
"Iya. Dia menikah dengan sahabat kecil aku, namanya Selyn"
"Oh, jadi itu sahabat kamu? Aku belum sempat ketemu Bang Rizal, sih. Ntar kamu temenin aku ke rumah dia, ya?" Ajak Dilla.
"In Syaa Allah, kalau aku ada waktu," balas Lunara.
"Aku pulang ya. Jaga diri baik baik"
"Ada Bang Fari, kok sama Rayhan disini"
"Ya sudah, assalamualaikum" pamit Lunara.
"Iya, waalaikumsalam."
Lunara berbalik badan, berjalan menuju pintu keluar. Disaat yang bersamaan, pintu dibuka dari luar dan menampakkan seorang pria di depannya. Dia Ghifari.
Lunara sedikit terkejut dan dengan segera ia menundukkan kepalanya berniat menghindari kontak mata sesama lawan jenis agar terhindar dari perbuatan zina. Zina ada banyak macamnya, salah satunya yaitu saling menatap kontak mata seseorang yang bukan mahramnya.
"Maaf, permisi" ucap Lunara dengan suara yang pelan.
"Bang, awas, Luna mau keluar" suruh Dilla.
"Oh, maaf" Ghifari menggeserkan tubuhnya dari depan pintu agar Lunara bisa keluar terlebih dahulu.
Setelah Lunara keluar, Ghifari segera masuk ke dalam apartemen yang ia sewa untuk tinggal di Turki beberapa minggu agar kesehatan kedua orang tuanya segera membaik.
"Dia itu siapa kamu sih?" Tanya Ghifari.
"Salam dulu, bang!" Suruh Dilla.
"Assalamualaikum"
"Waalaikumsalam. Gitu dong. Tadi Abang tanya apa?"
"Dia itu siapa kamu?" Ulang Ghifari.
"Udah Dilla bilang, dia itu Luna. Sahabat pena yang pernah Dilla cerita-in"
"Kayak anak kecil, kamu" balas Ghifari.
"Biarin. Dilla ini, bukan abang"
"Eh bang, tau gak? ...." lanjut Dilla.
"Nggak" potong Ghifari seraya menjatuhkan dirinya diatas sofa.
"Ih, Dilla kan belum selesai cerita, Abang" rengek Dilla.
"Iya-iya, apa?"
"Luna itu keren loh ...." Dilla melanjutkan ucapannya.
"Oh ...."
"Tau gak Luna itu siapa?" Tanya Dilla.
"Tau. Sahabat kamu. Rayhan mana?"
"Ish, Abang!" Kesal Dilla.
"Apa? Abang tanya Rayhan ada dimana?" Ulang Ghifari.
"Ada di dalam kamarnya. Aku kan yang lagi ngomong sama Abang, kenapa Abang malah nyari-in Rayhan, sih?" Kesal Dilla.
"Iya-iya, apa?"
"Abang punya rekan bisnis dari Turki, gak?" Tanya Dilla.
"Punya. Banyak. Kenapa?"
"Ada perusahaan yang namanya Malayeka company, gak?" Dilla bertanya kembali.
"Tau gak, bang, Luna punya cafe terbesar di kota ini. Dia juga punya banyak cabang di negara ini"
"Terus?" Ghifari menaikkan satu alis matanya.
"Itu punya keluarga Malayeka" lanjut Dilla.
"Tadi katanya punya Luna"
"Iya, punya Luna, Lunara Rehema Malayeka nama lengkapnya"
"Maksud kamu, Luna itu anak dari keluarga Malayeka?" Ghifari mulai tertarik dengan topik pembahasan antara dirinya dan adiknya.
"Iya, keren, kan? Luna juga seorang dokter yang baik, sholehah, pasti ajaran dari keluarganya. Luna juga cantik, kalau kata aku lebih cantik Luna dari pada kak Resya. Kak Resya cantik karena make up, kalau Luna emang udah cantik alami" tutur Dilla.
Mulai nge-banding bandingin, dia. Walau bagaimana pun, Resya-lah yang sudah mencuri hatiku. Batin Ghifari tak terima.
"Kan Abang sudah disuruh oleh Ayah dan Bunda untuk nikah, gimana kalau Luna aja? Luna kan kriteria yang dicari sama Ayah. Pas banget tuh, pakaiannya tertutup banget, sholehah, baik, lembut orang nya. Iya kan?" Lanjut Dilla. Ghifari terdiam, ia tak menjawab perkataan adik nya.
Kalau aku nikah dengan salah satu keturunan keluarga Malayeka, pasti bakal dapet banyak keuntungan. Misalnya hartanya yang berlimpah, dan juga Ayah bakal memberi jabatan CEO-nya ke aku. Harta ku makin berlimpah pastinya. Batin Ghifari
"Bang, jawab atuh ...." suruh Dilla.
Ghifari tersadar dari lamunan nya. Ia mengerjap ngerjap kan matanya. "Apa lagi, Dilla?" Tanya Ghifari.
"Luna itu kriteria calon menantu yang dicari sama Ayah, kan?" Tanya Dilla. Ghifari hanya mengangguk.
"Udah, tinggalin aja kak Resya, terus nikah sama Lunara. Kalau Abang nikah sama Luna, nanti aku jadi ada temen mainnya terus, deh. Bisa ketemu sama Luna terus, gak perlu jauh jauh ke Turki" ucap Dilla berandai andai.
Dan abang bisa mendapatkan kekayaannya. Batin Ghifari kembali.
"Gimana, bang? Plis dong, Dilla mau punya temen main setiap hari, Abang" rengek Dilla.
"Akan Abang fikirkan." Putus Ghifari.
"Yes, yes, yes ...." Dilla meloncat kegirangan.
Kalau kamu tau niat asli Abang, kamu pasti menyesal dek karena sudah memberi tau itu semua ke Abang. Karena Abang hanya menginginkan hartanya, bukan orangnya. Hati Abang akan selalu setia pada kekasih Abang, yaitu Resya. Ghifari membatin kembali.
Ghifari tersenyum licik. "Ya udah, Abang ke kamar dulu. Kamu jangan loncat-loncat kayak kodok!"
Dilla berhenti meloncat, dan langsung memasang wajah marahnya "Enak aja aku kodok! Aku ini princess tau!" Kesal Dilla.
"Iya, princess kodok" balas Ghifari seraya lari menuju kamarnya.
"ABAAANGG!!!" Dilla berteriak sekencang mungkin karena kesal dengan Ghifari lalu ia berlari menuju kamar Ghifari untuk membalasnya.
"Abang buka gak?! Aku dobrak nih?!" Ancam Dilla.
"Emang kamu bisa nge-dobrak pintu?" Tanya Ghifari dari dalam kamar.
Rayhan keluar dari dalam kamarnya "Apa-an 'sih kak? Berisik tau!" Rayhan yang awalnya tertidur jadi terbangun karena suara teriakkan Dilla.
"Nih, masa abang bilang kakak itu princess kodok, padahal kakak kan lebih cantik dari pada kodok!" Adu Dilla kepada adiknya.
"Abang yang bilang gitu?" Selidik Rayhan.
"Iya, jahat banget kan?" Dilla meminta pembelaan.
"Abang apa apa-an 'sih? Kok ngomongnya kayak gitu?" Rayhan teriak dari luar kamar Ghifari.
"Emang yang bener gimana?" Tanya Ghifari dari dalam kamar.
"Yang bener tuh, princess snow white ...."
"Tuh kan ...." ucap Dilla penuh kemenangan.
"Kenapa snow white?"
"Bukan cakepnya, tapi tidurnya. Kak Dilla kan tukang molor, gak inget waktu kalau bobo" ledek Rayhan yang langsung masuk kembali ke dalam kamarnya dan mengunci pintu kamarnya.
"IHH .... ABANG, ADEK SAMA AJA! SAMA SAMA NYEBELIN!!! " Teriak Dilla tak terima.
"Hahaha .... Iya dong" balas Ghifari dan Rayhan serempak dari dalam kamar.
"Ish, nyebelin." Gerutu Dilla seraya menghentak hentakkan kakinya lalu masuk menuju kamarnya.
__________
GIMANA? SERU? LANJUTIN YA, JANGAN LUPA TINGGAL JEJAK, LIKE, KOMEN SAMA VOTE NYA DI TUNGGU😆😂
Tangerang, 5 Juli 2020.