
Banyak orang berlalu-lalang, tampak sibuk dengan urusannya masing-masing. Masing-masing dari mereka memegang tas ataupun koper di tangan mereka. Beramai-ramai keluar dan masuk di tempat tersebut. Ada pula orang yang sedang menunggu kedatangan sanak keluarganya. Titik pertemuan dengan orang yang jauh sekalipun, itu adalah bandara.
Berbeda dengan Derya, ia baru saja keluar dari pesawat yang ia tumpangi Ia pun sebenarnya tidak ingin datang ke negara ini, namun ia harus menyelesaikan rencana yang telah ia susun bersama sang Ayah-Jabare. Tentu saja Derya tidak sendiri, Jabare-pun datang bersamanya di negara tersebut. Kali ini tidak ada satupun bodyguard yang mereka bawa, supaya awak media tidak mengenalinya. Sebuah masker dan kacamata hitam melekat sempurnya di wajah mereka agar tak ada yang mengenalinya. Penyamaran sederhana yang hampir seluruh orang tidak mengenalinya jika tak dibuka.
Indonesia-Bandara Soetta, kedua pria dewasa itu baru saja keluar dari bandara tersebut. Perlahan tapi pasti, mereka mendekati sebuah mobil yang sudah menunggu kedatangannya. Keduanya masuk ke dalam mobil tersebut dan mengucapkan salam. Bertukar kabar karena sudah lumayan lama tidak menemui orang tersebut. Ia adalah Eren Sevilen Gona-Kakak lelaki Emira yang sudah lama tinggal di Indonesia bersama istri dan buah hati mereka. Namun hal itu tidak menyebabkan hubungan antara keluarga terputus. Mereka masih sering menghubungi satu sama lain untuk sekedar menanyakan kabar.
Tentang kabar yang terjadi pada Lunara, Eren pun tau tentang itu. Emira yang bercerita kepadanya disertai dengan isak tangis yang terdengar. Tentu saja hal itu membuat pria bermarga Gona itu marah. Ghifari-lelaki itu telah membuat wanita di keluarganya menangis akan kekecewaan yang telah dilakukan oleh Ghifari. Maka dari itu ia ikut serta dalam rencana yang telah dibuat oleh Jabare-Adik ipar dan Derya-Keponakannya.
"Keluargaku akan ikut dengan kalian untuk kembali ke Turki." Baik Jabare maupun Derya tersentak. Mengapa tiba-tiba Eren memutuskan rencana itu.
"Apa alasannya?"
"Aku hanya rindu dengan suasana kampung halamanku. Lagipula keluarga istriku sudah tidak ada." Balas Eren yang masih fokus ke jalanan dan sesekali menoleh ke arah lawan bicaranya. Jabare mengangguk paham, ia tak memberikan komentar kembali. Lagipula apa yang telah dikatakan oleh Eren benar apa adanya. Kedua orang tua istrinya telah lama tiada dan istrinya hanyalah anak semata wayang, jadi ia tak memiliki siapapun selain Eren dan anak mereka.
Tak lama kendaraan yang dibawa oleh Eren berbelok ke arah sebuah perumahan elit yang ia tinggali bersama dengan keluarganya. Berjalan dengan kecepatan sedang sampai akhirnya berhenti di depan rumahnya. Setelah memarkirkan kendaraan yang dibawa olehnya mereka bertiga pun keluar dari dalam mobil dan masuk ke dalam rumah Eren.
Disana, Jilan-Istri Eren telah menunggu kedatangan mereka di depan pintu. Dengan senyum yang menghiasi wajahnya, Jilan mendekat ke arah sang Suami dan mencium punggung tangan Eren.
"Sudah hampir jam 12, masuklah dan beristirahatlah, kalian pasti lelah. Aku telah menyiapkan kamar kalian." Suruh Jilan kepada ketiganya. Eren, Jabare dan Derya pun mengangguk mengikuti perintah sang tuan rumah.
Esok pagi, mereka akan melaksanakan rencara yang telah mereka buat. Menghentikan proyek besar yang tengah dikerjakan oleh cabang perusahaan Malayeka Company. Tentu saja itu akan sangat mudah karena memang belum seutuhnya perusahaan milik mereka di berikan kepada Ghifari. Dan jika seluruh proyek yang sedang dalam proses itu dihentikan tentu saja akan berpengaruh untuk MZK Company, perusahaan itu adalah salah satu klien mereka. Dan bukan hanya perusahaan MZK Company, tapi seluruh pekerja yang bekerja di kedua perusahaan itu juga akan kehilangan pekerjaan mereka. Maka dari itu baik Jabare maupun Derya telah bersekongkol dengan seluruh pekerja yang bekerja di perusahaan mereka.
Banyak dari mereka yang akan di bawa ke setiap negara yang juga terdapat cabang perusahaan tersebut. Bagi yang menolak tawaran tersebut, perusahaan milik keluarga Gona sudah siap membuka lebar lowongan untuk mereka dengan posisi jabatan dan gaji yang sama, tak kurang sedikitpun. Dan untuk para petugas kebersihan mereka telah diberi dua pilihan antara modal untuk memulai bisnis dan melanjutkan pendidikan mereka setelah itu akan dinaikkan jabatan mereka. Tentu hal itu membuat Eren, Jabare dan Derya mengeluarkan lebih banyak uang untuk melakukan hal tersebut. Tapi tak apa, selagi hal itu tidak membuat banyak orang mengalami kerugian, maka mereka akan lakukan.
____________
Hari ini cuaca sekitar sangat cerah, memulai pagi hari dengan semangat yang masih menyala. Jalanan pagi penuh dengan lalu lalang sebuah kendaraan yang mengantarkan mereka ke tujuannya masing-masing. Ada pula yang berjalan kaki menuju sekolahnya karena jarak tempuh yang sangat pendek.
"Ya, baiklah. Terima kasih" Ghifari baru saja mendapatkan telepon dari orang yang ia percayakan untuk mengurus cabang perusahaan Malayeka. Lagi-lagi mereka mengatakan hal yang sama, yaitu tentang permasalahan yang terjadi.
"AAKKHH!!!" Ghifari berteriak kencang, memukul meja kerjanya. Kenapa semua itu bisa terjadi secara beruntun?! Benar-benar tak masuk akal.
Ghifari frustasi, kepalanya seakan hampir meledak ketika melihat kembali masalah kantornya yang menumpuk. Tak pernah ia sepusing ini jika menyangkut sebuah pekerjaan. Selalu saja ia bawa santai, tapi berbeda dengan minggu terakhir ini. Ia harus mempertahankan semua itu secara bersamaan.
Sekarang ia tak dapat berfikir dengan jernih, ia harus menjernihkan kembali pikirannya sebelum kembali berkutat pada pekerjaannya. Ia memutuskan untuk keluar untuk mendinginkan pikirannya dan berjalan menuju keluar. Akhirnya Ghifari memutuskan untuk bersantai di sebuah cafe dekat perusahaannya.
Sampai disana ia langsung di sambut oleh seorang waiter yang menanyakan apa yang akan dipesan olehnya. Tak lama pesanannya telah sampai, Ghifari yang masih terfokuskan oleh ponsel belum menyadari datangnya seseorang.
"Bahkan disaat seperti ini kau malah melarikan diri." Pandangan Ghifari teralihkan, menatap orang yang duduk di depannya dengan bersedekap dada.
"A-abi Derya" nafas Ghifari tercekat. Seolah sesuatu yang besar mengganjal tenggorokannya. Ia tak bisa mengatakan sepatah katapun.
Derya bangkit dari duduknya, tersenyum sinis lalu menatap ke arah luar cafe. Disana ada Jabare yang sedang menunggunya. Ghifari mengikuti arah pandang Derya. Lagi, ia semakin tidak bisa berkata-kata. Perasaannya campur aduk saat ini, antara takut, sedih dan bahagia menjadi satu saat melihat salah satu anggota keluarga Lunara.
Derya melangkah maju, mendekati Ghifari lalu berbisik. "Ya, saya yang melakukan semua itu. Saya yang membuat keadaan perusahaan anda seperti ini." Setelah berbisik Derya menjauh lalu tersenyum ke arah Ghifari. Seolah saat ini ia sedang tertawa dan meremehkan Ghifari.
"Semangat. Semoga harta yang selalu anda banggakan selamat." Sebelum benar-benar meninggalkan Ghifari sendiri, ia kembali berkata demikian.
Ghifari melamun, mencoba mencerna ucapan dari Derya yang masih terngiang-ngiang di kepalanya. Sampai ia tersadar kembali dari lamunannya, disanalah ia baru tersadar bahwa Derya telah menghilang dari pandangannya.
__________
Aku udh bilangkan, klo mau crazy up kalian tinggal jejak. Like, komen dan vote oke? :,)