My Love Defense

My Love Defense
MLD Bab 50



Tring!


Ditengah frustasinya, Lunara mendapatkan sebuah pesan masuk kembali ke dalam ponselnya. Lagi-lagi ia terkejut setelah membaca isi pesan tersebut.


"Ayo kembali ke mobil!" Ajak Lunara yang langsung menarik pergelangan tangan Ghifari begitu saja. Ghifari menurut begitu saja mengikuti langkah Lunara yang mengajaknya kembali ke parkiran.


Pintu bagian kemudi dan sampingnya telah ditutup. Ghifari menjalankan kembali mobil milik Lunara.


Lunara menyalakan bluetooth ponselnya dengan bluetooth mobil miliknya. Ia menghubungkan maps yang berada di ponselnya ke mobil. Kemudian gambar layar mobil berubah menunjukkan gambar maps di ponsel Lunara. "Ikuti jalur itu" suruh Lunara menunjuk ke arah maps. Ghifari menoleh sebentar lalu mengangguk.


Tak lama mereka telah sampai di tempat yang orang itu tunjukkan kepada Lunara. Ghifari berdiri menatap tempat yang berada di depannya. "Apa benar Alma ada disini?" Tanya Ghifari ragu. Di depannya adalah salah satu cabang cafe Malayeka, untuk apa mereka datang kesana? Tujuan mereka adalah mencari Alma.


Lunara menunjukkan foto yang menunjukkan Alma sedang berada di tempat itu. Ia pun heran mengapa orang itu membawa Alma ke dalam cafe miliknya. Itu sama saja dengan masuk ke dalam kandang harimau. "Aku tidak tau. Kita coba cari dulu" balas Lunara langsung masuk ke dalam tempat tersebut.


Saat mereka masuk suasana sepi dan gelap. Lunara meraih ke arah sakelar untuk menyalakannya namun tak bisa, sepertinya sedang mati lampu. Ghifari berinisiatif menyalakan senter ponselnya untuk menerangi cafe yang sangat gelap.


"Cari di atas!" Suruh Lunara. Ia beralih ke arah pintu yang menghubungkan dengan lantai atas. Handle pintu ia putar dan dorong, namun pintu itu terkunci.


"Biar aku yang buka." Ucap Ghifari. Lunara mengangguk dan menggeserkan tubuhnya. Ghifari mundur beberapa langkah, mengambil ancang-ancang untuk mendobrak pintunya.


Brak!


Satu kali percobaan pintu tersebut langsung terbuka. Dengan langkah cepat keduanya menaiki tangga dan berjalan ke arah lantai dua.


Langkah keduanya terhenti melihat pemandangan yang terjadi di depan mata keduanya. Mulut dan gerakan terkunci begitu saja. Perlahan mereka berjalan menyelesaikan anak tangga terakhir. Menatap ke arah lantai yang membuat mereka terdiam tak mengeluarkan sepatah katapun.


"Ada apa ini?" Tanya Ghifari tak mengerti. Ia menoleh ke belakang menatap Lunara yang tak mengerti sama seperti dirinya.


Lantai penuh dengan hiasan bunga serta lilin yang tersusun rapih membentuk suatu jalan ke arah kelopak bunga mawar merah yang berbentuk hati. Cafe di lantai dua berubah menjadi tempat yang sangat romantis untuk sepasang kekasih. Tak ada bangku ataupun kursi yang tersusun di tempat itu.


"Ane, Aba!!" Atensi keduanya teralihkan. Menatap anak kecil yang dari tadi mereka cari. Dia, Almasya memanggil keduanya dari arah pintu yang menuju lantai tiga.


Keduanya tersenyum menatap Alma yang berada di hadapan mereka. Lunara menaikkan sedikit gamisnya supaya tak terkena lilin yang sedang menyala. Ghifari pun menyusul keduanya.


Lunara langsung membawa Alma dalam gendongannya. "Kamu kenapa bisa ada disini, Alma? Ane sangat khawatir." Lunara mengecup wajah Alma yang sedang tertawa lepas.


Alma tak menjawab, ia malah menatap ke arah pintu membuat Lunara dan Ghifari ikut melihat ke arah pintu yang menuju lantai paling atas. Keduanya menatap tak percaya. Mulut mereka terbuka karena terkejut.


"Kami hanya mengetes kekompakkan kalian, Lunara" balas Derya terkekeh ketika mengingat kekompakkan keduanya dari mata-mata suruhan mereka.


"Jadi tentang Alma?" Tanya Ghifari. Ia sedikit paham apa yang mereka katakan, namun tidak semua.


"Itu hanya akting, Ghifari" balas Derya kembali. Semua keluarga Lunara berada disana. Tertawa melihat ekspresi keduanya yang sama-sama kompak satu sama lain. Hanya untuk bersenag-senang dan menguji kekompakan mereka sebagai kedua orang tuanya.


Flashback


Disaat adzan ashar berkumandang dan semua lelaki keluar untuk menunaikan ibadah sholat ashar, seluruh wanita telah bekerja sama untuk melakukan hal tersebut.


Lunara menitipkan Alma pada Harika yang sedang datang bulan. Saat itu ada Elnara-Kakak Ipar yang juga sedang datang bulan hingga mereka dengan kompak melakukan hal tersebut. Elnara membawa Alma dan Enver pergi dari mansion Malayeka. Elnara juga menggunakan nomor barunya untuk mengerjai Lunara dan Ghifari.


Saat Harika mendapatkan kabar bahwa ia telah sampai di laut, Harika langsung berteriak karena kehilangan Alma. Aktingnya berhasil sampai-sampai membuat seluruh penghuni mansion Malayeka terkejut mengetahui hal tersebut.


Emira keluar setelah mendengar suara bising dari arah luar kamarnya. Ia pun langsung terkejut mengetahui Alma hilang. Namun Harika langsung memberitau tentang rencananya kepada Emira. Wajah yang tadinya terlihat cemas berupah menjadi menahan tawanya karena rencana konyol yang Harika buat.


Sebelum para lelaki kembali mereka juga telah tau mengenai rencana yang dibuat oleh Harika. Saat mereka kembali nantinya mereka juga akan berakting seperti kehilangan Alma. Hanya para maid dan pengawal ataupun bodyguard yang tidak diberitau agar terlihat lebih normal.


Orang-orang yang telah Ghifari bantu sebelumnya juga itu adalah bagian dari rencana Harika. Mereka telah diminta untuk berpura-pura sperti orang yang kesusahan dan butuh bantuan. Dengan kompak orang asing yang telah dimintai pertolongan dengan berupa imbalan uang itu melaksanakan apa yang telah mereka minta.


Flashback off


Baik Lunara dan Ghifari menatap tak percaya mendengar penjelasan yang telah Harika berikan kepada keduanya. Mereka kira itu benar terjadi, namun untunglah itu semua adalah rencana Harika yang telah disusun dengan baik dalam waktu yang sangat singkat.


Ghifari menghembuskan nafas beratnya. Ia menatap Harika yang tertawa kecil dalam gendongan Lunara. Mata Alma menyipit karena ia tertawa. Dengan gemas Ghifari mengambil alih Alma dari Lunara dan menciumi anak berumur tiga tahun. Umurnya masih sangat kecil namun otaknya dangatlah pandai untuk mengikuti alur rencana para orang dewasa.


"Kamu menertawakan Aba, hmm?" Tanya Ghifari dengan senyumnya.


"Aba tau? Aku kan memakai niqab seperti Ane." Tanya Alma yang langsung terdiam dalam tawanya.


Senyum Ghifari kembali mengembang melihat tingkah laku anak itu yang sangat lucu baginya. "Tentu saja Aba tau." Balas Ghifari dengan gemas mencubit pelan kedua pipi Alma.


__________


Bukannya aku gak mau crazy up, tapi komentar kalian semakin hari kyknya semakin dikit. Jadi aku up nya satu-satu. Dan bab ini aku kasih khusus buat hari ini (^ , ^)