
"Alma?!!" Sipemilik nama itu menoleh karena merasa dirinya dipanggil. Membalikkan tubuhnya dan bertemu dengan anak yang seusia dengan dirinya, hanya terpaut lima bulan saja dari usianya.
"Abi Al?!" Balas Alma. Bertanya pada orang yang baru saja memanggil namanya. Alma menatap bergantian ke arah para orang tua yang berada di samping anak yang memanggilnya.
Mainan yang berada di dalam genggaman tangannya ia hempaskan ke tanah dan segera berlari mendekati orang yang memanggilnya. Alma meninggalkan taman bermain dengan seluruh mainan miliknya.
Alisya yang sedang mengajak bermain kedua cucunya itupun ikut berjalan meninggalkan taman dengan menggandeng tangan Arkan. Ia tersenyum ketika mengetahui siapa yang datang. Karena langkah kaki Arkan pelan, Alisya langsung membawa Arkan dalam gendongannya untuk menghampiri tamu tersebut.
Alma berhenti di depan anak lelaki itu dan memberikan salam kepada semuanya. Tangannya hanya melambai kepada anak itu ketika ucapan Lunara kembali terngiang di kepalanya. Namun sepertinya hal itu tak membuatnya puas. Langsung saja ia membawa Alma dalam pelukannya.
Di saat yang bersamaan pula Lunara serta Dilla keluar dari dalam mansion dengan membawa makanan untuk anak mereka. Tatapannya langsung tertuju pada Alma yang sedang dipeluk anak lelaki seumuran Alma. Lalu ia mengalihkan pandangannya, mencari siapa orang tua yang membawa bocah kecil itu.
"Selyn? Kak Rizal?" Nampaknya Lunara terkejut melihat keberadaan mereka. Berarti anak itu adalah Alvian Zilman Alfaruq-anak Selyn serta Rizal dan dipanggil oleh Alma dengan sebutan 'Abi Al' karena umurnya yang teraut beberapa bulan lebih tua.
Mendengar suara sang Ibu mendekat, Alma mendorong Vian yang memeluknya secara tiba-tiba. "Ane, Abi Al yang peluk Alma. Alma gak ngapa-ngapain, beneran!" Rupanya Alma takut Lunara akan marah kepadanya karena sebelumnya Lunara pernah mengingatkannya akan batasan kepada yang bukan mahram nya. Walaupun Alma masih kecil tapi apa salahnya mengingatkan sejak dini?
Nafas Alma berderu dan hampir menangis. Ia sangat takut jika melakukan kesalahan walaupun Lunara tak pernah memarahinya, hanya meminta untuk tidak mengulanginya lagi.
Langkah kecilnya berlari menuju Lunara. Tangannya terbuka lebar hendak memeluk Lunara.
Bruk!
Tubuh kecil Alma menabrak Lunara. Anak itu memeluk Lunara dengan erat dan berkali-kali mengatakan maaf kepada Lunara. Banyak yang tertawa melihat tingkah Alma, termasuk Lunara. Ia sendiri tak marah, hanya terkejut saja saat melihat anaknya sedang dipeluk orang lain.
"Alma dengar. Alma tidak sengaja, benar?" Anggukan cepat Alma berikan namun posisinya saat ini masih memeluk Lunara dan tidak menatapnya. "Lain kali jangan diulangi, ya?" Suara lembut dari Lunara mampu membuat ketakutan dalam diri Alma memudar perlahan. Lagi-lagi Alma mengangguk cepat menuruti ucapan Lunara.
"Baiklah, ayo kita sambut mereka" Lunara menggendong Alma dan mendekati temannya yang tersenyum ke arahnya.
"Maafin Vian Aunty, Alma" bocah kecil itu nampak sama seperti Alma, ia takut kena marah oleh Lunara. Ia khilaf, sebelumnya ia pun tak pernah memeluk Alma karena Selyn juga telah mengingatkan tentang batasannya. Lunara serta Alma mengangguk memaafkan. Tak ada yang perlu diperpanjang tentang hal itu.
"Assalamualaikum"
"Waalaikumsalam" Lunara dan Selyn saling bersalaman serta berpelukan, melepas kerinduan diantara keduanya. Sudah enam bulan mereka tak bertemu. Bertukar kabar pun jarang karena kesibukan mereka.
"Emm… Ghifari ada disini?" Entah bertanya pada siapa Rizal bertanya.
"Ghifari ada di kantornya, kalau mau Tante suruh dia pulang" balas Alisya menjawab pertanyaan dari Rizal.
"Oh… Ya sudah, kalian bisa datang ke kantor Ghifari" Alisya mengangguk paham. Mungkin ada hal penting yang ingin mereka bicarakan kepada Ghifari dan Lunara.
Lunara menatap sang Mertua yang baru saja mengizinkannya untuk keluar bersama sahabatnya. Alisya mengangguk menatap Lunara yang masih terdiam. "Kamu siap-siap ya, kasihan mereka lama menunggu." Suruh Alisya tersenyum ke arah Lunara.
Lunara mengangguk. Tangannya terulur memegang Alma, mengajaknya untuk bersiap juga. "Alma sama Al ya?" Alisya menatap Vian yang dari tadi hanya terdiam. Ia tak tau nama panggilan Vian yang sebenarnya, maka dari itu ia memanggil Vian sama seperti Alma memanggil anak itu.
Vian mengangguk ketika namanya disebut. Tak membetulkan nama panggilannya yang biasa karena Alma juga memanggilnya Al. Alisya tersenyum ketika melihat anak itu menjawab pertanyaan darinya. "Kamu sama Alma main disini sebentar, ya? Ada Arkan juga, kalian bisa main bareng" usul Alisya. Ia tau pasti mereka akan kerepotan dan tak fokus dalam tujuan utama mereka, maka dari itu Alisya menawarkan hal tersebut.
Alma menatap Lunara, ia tak ingin ditinggal karena tau mereka ingin mengunjungi kantor Ghifari. Dan menurut anak itu ini waktu yang tepat untuk memberitau kepada Vian kalau Alma sudah menemukan Ayahnya. "Alma mau ikut Ane, Alma mau kasih tau Abi Al kalau Alma sudah ketemu Aba." Ucap Alma merengek pelan kepada Lunara.
Lunara terkekeh mendengar rengekan dari Alma. Ia ingin menunjukkan kepada Vian bahwa Ghifari adalah Ayahnya. Anggukan setuju Lunara berikan untuk Alma. "Alma dan Vian ikut dengan kami, Bunda. Kata Alma, dia ingin menunjukkan Ayahnya kepada Vian." Ucap Lunara yang membuat semua orang tertawa mendengar tingkah lucu Alma.
"Ya sudah kalau itu maunya Alma." Disisa tertawanya Alisya memberikan izin yang membuat Alma kegirangan.
__________
"Abi Al, Alma udah ketemu Aba!" Dengan bangganya Alma memamerkan Ghifari kepada Vian. Dua bocah blasteran itu asik dalam cerita mereka. Alma blasteran dari negara Mesir, Turki dan Indonesia. Sedangkan Vian blasteran dari negara Portugal, Turki dan Indonesia.
Tak lama dua buah mobil yang dibawa oleh mereka berhenti disebuah gedung pencakar langit. Salah satu mobil itu berisikan para bodyguard Lunara yang dikirimkan oleh sang Ayah. Meminta untuk selalu mengawal Lunara dan Alma kemanapun mereka pergi, termasuk hari ini.
Para karyawan yang melihat mereka langsung berbisik karena sebelumnya tak pernah melihat Lunara datang ke perusahaan tersebut. Memang ini adalah kali pertama Lunara datang ke perusahaan keluarga Muzakki sehingga para karyawan tak mengetahui siapa Lunara.
Ditambah kehadiran Lunara yang membawa beberapa bodyguard wanita dan pria membuat seisi kantor itu heran.
Seorang pria memakai pakaian formal mendekat ke arah Rizal. Memberi senyuman ramah kepadanya. Tangannya terulur menjabat Rizal lalu memeluknya. "Pak Rizal apa kabar?" Tanyanya ramah.
Rizal ikut tersenyum. Membalas jabatan dari pria setengah baya tersebut serta membalas pertanyaan yang dilontarkan kepadanya. Bertanya balik tentang kabar pria tersebut yang sudah lama tak berjumpa dengannya.
"Tuan Ghifari ada di ruangannya. Sepertinya ia sedang sangat sibuk hari ini karena beberapa minggu yang lalu baru kembali dari Turki dengan pekerjaan yang menumpuk." Dengan sedikit gurauan.
Rizal terkekeh mendengarnya. "Baiklah. Fari di ruang COO?"
"CEO. Mari saya antar." Mereka mengangguk menyetujui dan mengikuti langkah pria paruh baya itu menuju ruang CEO.
___________