
Di sebuah apartement di America. Dengan desain yang terkesan mewah, tapi siapa sangka di dalamnya sangat pengap. Tak ada udara sama sekali di dalam tempat itu. Hanya ada jendela berukuran sedang namun terkunci dengan rapat. Alat pendingin ruangan-pun tak menyala.
Dua orang wanita muda disekap di dalam apartement mewah itu. Masih dalam keadaan tak sadarkan diri, keduanya diikat dengan kuat di bangku yang mereka duduki sendiri.
"Eemph…" perlahan kesadaran salah satunya mulai terkumpul. Mencoba memfokuskan pandangannya.
Dimana ini? Pikir wanita itu. Ia menoleh ke arah sampingnya, terdapat managernya yang kondisinya masih tak sadarkan diri. Ingin rasanya ia berteriak sekencang mungkin, namun mulutnya tertutup rapat dengan lakban yang menempel tepat di mulutnya.
"Eemph… Eemph!!" Ia mencoba berteriak dalam posisi mulutnya yang terkunci dengan rapat. Tak lama terdengar suara langkah kaki yang berjalan semakin mendekat ke arah pintu apartemen itu.
Ceklek!
Pintu dibuka perlahan. Dari arah pintu terlihat seorang pria jangkung yang berjalan mendekat ke arahnya dengan beberapa orang berpakaian serba hitam mengikutinya.
"Rupanya anda sudah terbangun, nona" pria jangkung itu tersenyum sinis kepada wanita yang sudah tersadar.
"Tolong lepaskan ikatan pada temannya" suruh pria jangkung itu kepada orang yang berdiri di belakangnya.
Salah satu dari mereka pun maju untuk melepaskan ikatan pada manager wanita itu. "Bangun, kau tidak perlu berpura-pura lagi" suruh orang yang melepaskan ikatannya. Manager itupun terbangun dan mulai berdiri dengan memegangi salah satu tangannya yang memerah akibat ikatan yang sangat kencang pada tangannya.
"Terima kasih. Tapi tolong lepaskan lakban pada mulut Resya, kasihan dia" pinta manager itu mengiba.
Resya-wanita yang disekap itu menatap managernya. Tak percaya dengan apa yang terjadi. Mengapa managernya itu bersama dengan para pria yang menculiknya.
Orang yang disuruh oleh manager itupun menurutinya, melepaskan lakban yang tertempel tepat di mulut Resya. "Hahh… Hahh…" Resya menarik nafasnya dalam-dalam.
Pandangan Resya langsung tertuju pada managernya yang sedang berdiri dan menatapnya dengan tatapan iba. "Apa-apaan ini, Kak? Kenapa aku diikat seperti ini, Kak Ani?" Tanya Resya tak percaya. Orang yang selama ini ia percaya-managernya ternyata berkhianat darinya.
"Maafkan Kakak, Resya. Kakak terpaksa bekerjasama dengan mereka," ucap Ani-Managernya Resya menatap ke arah lelaki jangkung itu.
"Tapi kenapa, Kak? Apa alasannya?"
"Kakak pernah bilang ke kamu untuk pergi jauh-jauh dari kehidupan Ghifari dan istrinya. Tapi apa? Kamu marah sama Kakak. Dan Kakak tidak akan membiarkan kamu hidup bahagia bersama Ghifari, sedangkan istrinya menderita disana!" Balas managernya menggebu-gebu. Baginya, Resya adalah adik kecilnya yang harus tetap ditegur apabila berbuat salah.
Air mata Resya perlahan turun dari pelupuk matanya. "Kalau aku menyerahkan Ghifari untuk istrinya, apa aku akan bahagia, Kak?! Apa aku akan menemukan pria seperti dirinya?" Balas Resya hampir berteriak.
"Ada banyak pria yang jauh lebih baik dari Ghifari, Resya. Banyak sekali pria yang mengantri untuk jadi pasangan kamu saat ini Resya"
"Sudah, cukup!!" Teriak pria jangkung itu seketika membuat keheningan dalam ruangan itu.
Pria itu maju beberapa langkah mendekati Resya dan Ani. "Kau tidak perlu drama, nona" ucapnya. Mata elang pria itu menatap tajam ke arah Resya.
"Apakah anda tau, nona? Keluarga saya selalu memiliki orang terpercaya disetiap kami pergi. Sudah cukup anda bersenang-senang di atas penderitaan anggota keluarga saya selama hampir tiga bulan. Sekarang anda juga harus membayar apa yang adik saya rasakan selama ini" senyum mengerikan terbit dari pria jangkung itu.
Resya menatap tajam ke arah pria itu. Ia tak takut sedikitpun dengan ancaman yang diberikan oleh pria itu kepadanya. "Memangnya siapa anda, sampai saya harus mengikuti perkataan anda?!" Tanya Resya menantang.
Pria itu diam, tak berniat membalas pertanyaan yang diberikan oleh Resya kepadanya. Dengan malas ia menoleh kepada beberapa orang yang berada di belakangnya dengan menggunakan pakaian serba hitam "beritau dia dan buat wanita itu menuruti perkataan saya. Jika tidak, asingkan dia di sebuah pulau kecil di negara ini." Ucapnya sebelum meninggalkan apartement tersebut.
Setelah pria jangkung itu pergi, beberapa orang yang diperintahkan itu-pun maju beberapa langkah mendekati Resya, ingin melaksanakan tugas yang diberikan oleh pria jangkung tadi. "Anda mendengarnya, nona?" Tanya salah satu pria tersebut.
"Memangnya siapa dia?! Apa peduliku?!" Resya tak gencar sedikitpun. Ia akan mempertahankan apa yang ia rasa baik untuk dirinya. Tak mungkin untuknya melepaskan orang kesayangannya begitu saja.
"Langsung asingkan saja wanita itu" usul salah satu pria berseragam hitam tersebut. Dengan serempak mereka mengangguk setuju dan mulai berjalan semakin dekat ke arah Resya.
Dengan sigap Ani melangkah maju, menghalangi pria berseragam serba hitam itu untuk membawa Resya pergi. "Tunggu!! Biar saya jelaskan secara baik-baik dulu kepadanya, oke?" Pinta Ani memelas. Bagaimanapun sikap Resya, ia tak akan tega melihat Resya dibawa pergi dan diasingkan begitu saja. Setelah Ani mengatakan hal itu mereka pun langsung setuju begitu saja.
Ani berbalik menatap Resya dengan keringat yang membanjiri seluruh tubuhnya. "Resya, Kakak mohon turuti ucapan mereka. Kakak tidak mau kamu kenapa-napa, Resya!" Pinta Ani memelas ke arah Resya.
"Mudah sekali untuk Kakak mengatakan itu kepadaku. Kakak gak mikirin perasaan aku juga? Aku yang selalu berada di sisi Fari selama dua tahun, Kak! Bagaimana aku bisa melupakannya, Kak?!"
"Ghifari yang memutuskan untuk menikahi wanita itu, berarti dia juga yang sudah memutuskan hubungan kalian berdua, Resya!"
"Nggak, Kak! Aku gak bisa!! Ghifari melakukan hal itu juga untuk kebahagiaan kami" elak Resya.
"Dengan cara mengorbankan seseorang? Sadar Resya!" Ani mengguncang bahu Resya dengan kuat, menyuruhnya untuk segera sadar dan mengikhlaskannya.
"Dia, tuan Derya-Kakak kandung Lunara tak akan tinggal diam, Resya! Dia akan membalas perbuatan kamu selama ini, Resya!" Dengan berteriak Ani mengatakan bahwa pria jangkung tadi adalah Kakak Lunara yang juga bagian dari keluarga bermarga Malayeka.
"Nggak. Bagaimana dia bisa tau, Kak?! Apa Kakak yang memberitau mereka?!" Tanya Resya menatap sinis ke arah Ani.
Ani melepaskan kedua tangannya dari bahu Resya. Ia tak tau harus mengatakan apalagi agar Resya mau untuk pergi dari kehidupan Ghifari. "Tak ada yang tak mungkin untuk mereka mengorek informasi tentang kita, Resya. Menyerahlah" pinta Ani sekali lagi.
Resya menggeleng kuat, tanda tak setuju dengan ucapan sang manager. "Nggak, aku nggak bakal menyerahkan Ghifari!!!"
__________
Maafkan aku karna baru update lagi😓
aku lagi fokus belajar untuk PAS yg akan mendatang. Juga di tahun 2021 in syaa Allah sekolah udh mulai dibuka, jadi aku lagi bebenah untuk perlengkapan sekolah dan nyalin ulang tugas aku biar lebih rapi😅
Sekali lagi maafin aku yg lalai update ya😓🙏