
Setelah sholat subuh, Lunara dan Ghifari beserta keluarganya terbang ke Indonesia, sesuai dengan jadwal mereka.
Mereka menaiki pesawat pribadi milik keluarga ber-marga Malayeka menuju Indonesia dengan pilot pribadi mereka.
Karena perjalanan masih lama, banyak dari mereka lebih memilih tidur. Tapi tidak dengan Lunara yang lebih memilih membaca Al-Qur'an kecil yang sering ia bawa untuk berpergian.
Ghifari yang berada disebelah Lunara 'pun terbangun dari tidurnya karena mendengar lantunan ayat suci yang keluar dari dalam mulut Lunara. Sejuk perasaannya ketika Ghifari mendengar suara Lunara yang lembut tersebut.
"Shodaqollahuladzim " ucap Lunara menutup mushafnya dan dicium sebelum ia taruh kembali didalam tas salempang mini-nya yang hanya berisi Al-Qur'an kecilnya dan juga ponselnya.
Setelah Lunara menaruh mushafnya ke dalam tas salempang mini-nya, ia berbalik dan tak sengaja menatap manik mata Ghifari yang juga sedang menatap Lunara.
"Maaf," karena belum terbiasa, Lunara memutuskan kontak mata mereka terlebih dahulu.
"Aku belum terbiasa." Lanjutnya lagi.
"Tak apa."
"Emm... Apa suara aku terlalu keras, sampai membangunkan tidur kamu, mas?" Tanya Lunara mengusir kecanggungan diantara mereka.
"Ah? Oh... Gak. Aku suka suara kamu, bagus" balas Ghifari yang memang kenyataannya begitu.
"Alhamdulillah... Makasih, mas"
"Kamu gak tidur?" Tanya Ghifari.
"Aku belum mau tidur. Kalau sudah mengantuk, aku akan tidur, nanti." Balas Lunara.
Mending gue tidur, daripada canggung begini. Batin Ghifari memutuskan.
"Emm... Kalau gitu, aku tidur lagi, ya?" Lunara mengangguk membalas ucapan Ghifari.
Dasar kaku! Batin Ghifari kembali sebelum ia benar benar tertidur kembali.
__________
Akhirnya setelah dua belas jam lebih mereka menaiki pesawat menuju Indonesia, mereka sampai ditujuan dengan selamat.
"Alhamdulillah..." gumam Lunara kecil.
Saat keluarga mereka turun 'pun sudah ada banyak pengawal menunggu kehadiran mereka. Pengawal pengawal itu telah ditugaskan oleh Jabare-kepala keluarga ber-marga Malayeka untuk menjaga keberlangsungan acara putri sulungnya.
Farhan 'pun telah menyiapkan segala keperluan di pesta resepsi putra sulungnya yang akan diadakan esok harinya.
"Welcome to Indonesia Mr. and Mrs. Malayeka, Muzakki " ucap mereka serempak saat semua anggota keluarga telah turun dari dalam pesawat.
"Thanks " balas Jabare mewakili lainnya dengan senyum yang memang tak pernah luntur, atau lebih tepatnya ramah. Yang lain hanya menganggukkan kepala, bersikap sopan terhadap sesama. Hanya Ghifari yang terlihat enggan melakukan hal demikian. Sifatnya sangat dingin dan angkuh membuat bawahannya takut kepadanya.
Cih! Buat apa mereka melakukan demikian? Ayah, Bunda, Dilla dan Rayhan pun sama. Benar benar memalukan. Batin Ghifari tak suka.
Beberapa pengawal menahan para wartawan yang datang dengan berbondong-bondong untuk mencari info terbaru tentang hubungan antara kedua pemilik perusahaan terbesar di Asia.
Tentang pernikahan putri sulung mereka dengan putra sulung keluarga Muzakki diketahui oleh semua orang pengguna media sosial dari unggahan salah satu tamu undangan mereka waktu itu. Padahal, rencananya mereka sendiri yang akan mengumumkan secara langsung tentang pernikahan anak mereka di resepsi kedua pernikahan anak mereka yang diadakan di Indonesia, namun rencana yang mereka susun telah gagal karena salah satu unggahan di media sosial.
Setelah masing masing anggota keluarga telah menaiki mobil, mereka 'pun langsung bergegas menuju ke kediaman keluarga 'Gona' marga kakak laki laki dari Emira. Keluarga Muzakki 'pun menuju tempat yang sama. Keluarga ber-marga Gona yang telah menyetujuinya.
Agar tidak terlalu mencolok dilihat orang orang, mobil yang tadinya berjalan berjejer rapi, kini memisah tapi dengan tujuan yang sama. Setiap mobil yang memisah dibelakangnya diikuti oleh mobil yang berisikan pengawal pribadi keluarga Malayeka.
Ghifari menghela nafas lega. Ia merasa seperti baru saja dikejar oleh warga karena tertangkap basah mencuri barang. Ia menengok kearah kaca jendela mobil, mengucap syukur setelah ia tak lagi melihat kendaraan para wartawan yang mengejar mereka.
"Rika, apa memang selalu seperti ini?" Tanya Dilla yang berada di kursi paling belakang bersama dengan Harika. Pertanyaan yang sama seperti yang Ghifari pikirkan saat ini.
Harika tersenyum sebelum ia menjawab pertanyaan sahabat sekaligus adik ipar kakaknya. "Kalau kita keluarnya masing-masing, gak bakal kayak gini. Tapi kalau satu keluarga, ya gini deh hasilnya..." balas Harika jujur.
"Aku gak pernah 'tuh. Paling juga Bang Fari sama Ayah yang dikejar kejar wartawan. Iya 'kan Bang? Itu juga kalau ada masalah" Dilla bertanya kepada Ghifari yang duduk di depannya.
"Itu karena kamu belum aktif di dunia kerja." Balas Ghifari sedikit menyindir adiknya.
Dilla mendengus kesal lalu mencubit kecil pinggang Ghifari. Ghifari meringis kesakitan karena cubitan pedas yang ia dapatkan.
"Mau lagi?" Tanya Dilla ketus. Ghifari hanya mengeluh tanpa membalas pertanyaan Dilla. Lunara dan Harika tertawa kecil melihatnya.
"Oh ya, Luna- eh kakak ipar katanya punya kakak laki laki, kok aku tidak melihatnya?" Tanya Dilla mengganti topik pembicaraan.
Belum sempat Lunara buka suara, Harika lebih dulu menjawabnya. "Ada 'kok, tapi dia sibuk. Lebih sibuk daripada Papa. Abi 'kan penerusnya Papa." Balas Harika.
"Kakak laki-laki kamu namanya Abi?" Tanya Dilla lagi.
"Kamu banyak tanya, Dilla" protes Ghifari merasa terganggu.
"Biarin." Balas Dilla kesal. Ia menjulurkan lidahnya keluar, meledek Ghifari.
Harika tertawa melihatnya. Ada ada saja tingkah laku keduanya. Sedangkan Lunara tersenyum dibalik niqab yang ia kenakan.
"Abi bahasa Turki, yang artinya kakak laki laki. Nama Abi itu Derya. Kita manggilnya Abi Derya." Ucap Harika memperjelas ucapannya. Dilla mengangguk paham mendengar penjelasan dari Harika.
Begitu seterusnya. Dilla terus menerus bertanya tanya tentang perihal yang belum ia mengerti dan akan dijawab oleh Lunara ataupun Harika. Sekali kali juga supir yang mengemudi ikut menimpali cerita mereka. Kadang pula tertawa bersama. Tapi tidak dengan Ghifari yang tampak tak tertarik dengan topik pembicaraan yang mereka bahas. Apalagi dengan gabungnya sopir yang juga ikut bercerita.
Basa basi yang sudah basi! Gak seru. Itu sopir juga ngapain? Ikut ikutan cerita. Sok asik banget!. Yang lain juga terlalu welcome jadi orang. Gak keliatan orang berada. Gerutu Ghifari dalam hati. Ia tak suka suasana ini.
__________
Akhirnya aku bisa up lagi disini
Maap ya sebelumnya gak up2 🙏
Gimana untuk bab ini? Komen yaa...
Jangan lupa tinggal jejak😉
Tangerang, 28 Juli 2020.