My Love Defense

My Love Defense
MLD Bab 56



"Perkenalkan ini Istri saya dan kedua anak saya." Aaresh menunjuk ke arah Resya. Sengaja tak memberitau siapa namanya seperti yang ia telah rencanakan sebelumnya.


Resya sedikit mendengak menatap keduanya. Setelah manik matanya tak sengaja bertemu dengan manik mata Lunara buru-buru ia menunduk dalam-dalam. Tak sanggup menatap wajah wanita yang rumah tangganya telah ia obrak-abrik.


Lunara tersenyum ketika Resya menatap manik matanya. Manik matanya pun teralihkan ketika Resya memutuskan untuk menunduk. Ia menatap batita kembar yang sedang tertidur dengan pulas dalam kereta dorong mereka.


"Ane, siapa dia?" Alma bertanya kepada Lunara. Ia menatap anak seumuran dengan dirinya yang sedang terlelap.


"Dia teman kamu" balas Lunara membuat Alma mengangguk paham.


Ghifari nampaknya tak terlalu peduli dengan kehadiran Resya. Lagipula wanita itu memakai niqab sama seperti Lunara. Ia berkenalan serta bertukar cerita bersama teman barunya. Keduanya larut dalam obralan hangat malam itu.


Lain halnya Lunara dan Resya yang nampaknya sedikit canggung. Mereka tak tau harus berbicara seperti apa karena tak ada topik yang akan mereka bicarakan.


"Namaku Lunara Rehema Malayeka dan ini anak kami namanya Almasya Shahinaz Muzakki. Emm, nama kamu?" Lunara memperkenalkan dirinya serta Alma yang berada dalam pangkuannya dan duduk dengan tenang disana. Tak seperti kebanyakan anak seumurannya yang tak bisa diam.


Resya memberanikan diri untuk menatap Lunara yang bertanya kepadanya. Tak mungkin ia mengabaikan Lunara begitu saja. Niatnya untuk meminta maaf atas segala kelakuannya, bukan untuk lari dari kesalahannya. "Ini anakku, namanya Ziyyad Shahmeer Rayi dan Zayyid Shahmeer Rayi. Sepertinya mereka seumuran dengan Almasya" lebih dulu Resya memperkenalkan kedua anak kembarnya kepada Lunara.


Cerita yang Ghifari lontarkan terhenti sejenak ketika mendengar suara yang tak asing di telinganya. Ia menggeleng pelan dan kembali melanjutkan ceritanya yang terhenti.


Lunara mengangguk membenarkan ucapan Resya yang mengatakan bahwa anaknya seumuran dengan Alma. "Bulan depan Alma berumur empat tahun." Ucap Lunara memberitau.


Pikiran Resya kembali berputar ke masa lalu. Jika anaknya akan berumur empat tahun, berarti saat ia dikepung oleh Derya saat itu Lunara tengah mengandung. Rasa bersalahnya kepada Lunara kian menjadi ketika perkiraannya mengenai Alma yang menunjukkan bahwa saat itu Lunara tengah mengandung.


Sebisa mungkin ia tahan air mata yang akan mengalir begitu saja. "Sebelumnya tolong maafkan aku" Resya meraih tangan Lunara. Suaranya sudah mulai parau karena tangis yang coba ia tahan.


Lunara terdiam tak mengerti. Ghifari serta Aaresh menoleh menatap keduanya. Resya yang sedang menunduk dengan tangan Lunara yang dalam genggamannya dan Lunara yang terdiam tak mengerti. Alma menatap sang Ibu yang tak mengerti apa-apa sama sepertinya.


Deheman keluar dari mulut Aaresh. Ia akan memberitau yang sebenarnya kepada tamu undangannya. "Dia istri saya, namanya Resya Alitta Firash." Aaresh memperkenalkan Resya kepada keduanya.


Ghifari mematung mendengar nama yang baru saja ia dengar. Buru-buru ia menatap Lunara yang masih tak mengerti. Ia takut Lunara akan marah kepadanya.


"Lalu kenapa kamu meminta maaf kepadaku? Apa sebelumnya kita pernah bertemu?" Tanya Lunara tak paham. Ia mencoba menarik tangannya dari genggaman Resya.


Resya melepaskan tangan Lunara dan menatapnya dalam-dalam. "Aku Resya, Lunara. Wanita yang pernah menghancurkan rumah tangga kamu!" Ucap Resya yang langsung membuat Lunara ikut mematung seperti Ghifari sebelumnya.


Lunara menatap anaknya yang tak paham sedikitpun. "Alma ikut dengan aunty Ilza dulu ya? Ane dan Aba mau berbicara sebentar?" Pinta Lunara menatap sang anak. Ia tak ingin Alma ikut melihat masalah ini.


Tanpa paksaan Alma mengangguk mematuhi ucapan Lunara. Alma tau pasti ada suatu hal penting yang mau dibicarakan oleh orang-orang dewasa. Ia berjalan mendekati bodyguard wanita yang ikut bersama mereka dan mulai meninggalkan kedua orang tuanya.


"Lunara-"


"Iya, Mas. Aku paham." Ucapan Ghifari langsung Lunara potong. Yang ia tangkap dari wajah Ghifari saat ini adalah ketakutan hingga wajahnya memucat. Padahal Ghifati tak melakukan apapun bersama Resya kembali, tapi ia takut Lunara kembali meninggalkan dirinya.


Lunara menatap Resya yang sibuk menghapus air matanya. Berulangkali ia mengatakan maaf kepada Lunara dan Ghifari karena pernah merusak hubungan keduanya. "Kamu… Benar Resya?" Tanya Lunara sopan. Tak ada nada bentakan sedikitpun yang keluar dari mulut Lunara.


Resya menatap tak percaya ketika Lunara masih mau berbicara dengannya secara baik-baik. Dengan cepat ia mengangguk membenarkan. "Iya, aku Resya yang telah menghancurkan rumah tangga kamu dahulu. Terserah kamu akan melakukan apa kepadaku jika itu membuat kamu bisa memaafkan aku." Ucap Resya memperjelas ucapannya.


Keadaan restoran sepi. Sengaja ia menyewa satu restoran agar masalah ini tak didengar oleh siapapun. Tak ada pengunjung yang datang ke tempat itu selain mereka.


Lunara meraih dagu Resya lalu mengangkatnya untuk menatap dirinya. "Kamu ingin aku memaafkan kamu?"


"Tentu saja aku ingin. Tolong maafkan aku Lunara. Aku selalu merasa tak tenang ketika mengingat semua itu." Balas Resya cepat.


Senyum Lunara mengembang. "Cukup kamu maafkan diri sendiri maka aku akan memaafkan kamu." Ucapan Lunara berhasil membuat siapapun disana mematung tak percaya.


Resya terdiam seketika. "Lunara, aku mohon jangan seperti itu." Ia merasa tak tenang jika tak melakukan apapun.


Lunara memegang bahu Resya, menatapnya dengan lembut. "Dengarkan aku. Aku tau kamu Resya yang sama, tapi sifatmu sudah berbeda, aku yakin itu,"


"Kamu sudah berhijrah, kamu berbeda dari yang terakhir aku lihat, kamu mengakui kesalahan yang pernah kamu buat dan kamu meminta maaf kepadaku. Apa yang harus ku bahas kembali?" Ucap Lunara memberi jeda sejenak.


Ia menarik nafasnya sebelum kembali berbicara. "Yang sudah terjadi biarlah berlalu. In syaa Allah aku ikhlas memaafkan kamu. Tak ada alasan lain untuk aku membenci kamu selamanya karena kamu telah memahami letak kesalahan yang pernah kamu buat." Ucapan Lunara membuat Resya tak berkutik sedikitpun. Ia tertegun melihat ketulusan sikap Lunara kepadanya. Lunara seperti bidadari yang menyamar menjadi seorang manusia, pikir Resya kagum.


__________


Komennya makin hari makin dikit :v