My Love Defense

My Love Defense
MLD Bab 34



"Tunggu!" Ketiganya menoleh ke asal sumber suara. "Biar kami saja" lanjutnya lagi.


"Cepatlah. Tuan muda Malayeka akan menuju kemari!!" Suruh wanita itu. Dengan serempak seluruh pria berbadan kekar itu mengangguk menurut.


Salah satu pria itu melangkah maju dan berhasil mendobrak pintu itu dengan sekali dorongan. "Ayo masuk!" Suruh wanita yang mungkin adalah pemimpin mereka.


Dilla menggeleng cepat, ia langsung mengejar segerombolan orang tadi yang sudah masuk ke dalam rumah Ghifari begitu saja. "Berhenti! Siapa kalian!!!" Dilla berteriak, menghentikan langkah kaki orang-orang itu. Rayhan dan Alisya menyusul Dilla yang sedang menghalangi langkah mereka.


"Kami tak akan melakukan kekerasan, Nona. Pergilah, kami hanya akan membawa Nona kami kembali!" Ucap wanita itu dengan tegas.


"Saya bilang SIAPA KALIAN?!!!"


"Pergilah kalian. Cari Nona muda diseluruh tempat ini. Nona ini akan berbicara dengan saya" suruh wanita itu. Akhirnya semua pria berbadan kekar itu berpencar untuk mencari apa yang mereka cari.


"Tunggu, mau kemana kalian? Berhenti sekarang juga!" Kali ini Alisya angkat suara. Namun tak ada yang memperdulikan teriakan Alisya.


Rayhan mengejar salah satu pria yang berjalan ke arah kamar Ghifari. "Berhenti, brengs*k!!" Rayhan meninju pria itu. Namun tak ada balasan apapun dari orang yang ditinju oleh Rayhan.


"Dengarkan saya. Kedatangan kami hanya ingin membawa Nona muda kami kembali, mengerti? Berhentilah menghalangi kami!" Ucap wanita yang berada di hadapan Dilla.


"Siapa yang kalian maksud? Lunara? Tapi mengapa?!"


"Nona muda sudah ditemukan. Ia berada di dalam kamar bagian belakang!" Ucap seorang wanita yang juga ikut mencari. Wanita yang berada di hadapan Dilla langsung berlari ke arah kamar belakang, diikuti dengan beberapa wanita lainnya. Dilla, Alisya juga Rayhan yang mendengarnya juga langsung mengikuti langkah mereka ke arah kamar belakang yang berada di dapur.


"Ya Allah, Nak… Lunara, kamu kenapa tidur di lantai?" Alisya menutup mulutnya karena terkejut. Perlahan mendekati Lunara yang terbaring di atas lantai kamar itu. Dilla juga Rayhan tak kalah terkejutnya melihat sang Kakak ipar terbaring di kamar belakang tak beralaskan apapun.


"Mundur, Nyonya. Kami yang akan mengurus Nona muda" salah seorang wanita itu menahan ketiganya untuk mendekati Lunara.


"Mari bawa Nona muda untuk kembali" para wanita itu mengangkat Lunara. Karena Lunara tak ingin ada satupun seorang pria yang bukan mahromnya menyentuhnya.


Semua mengekor para bodyguard wanita yang sedang membawa Lunara, termasuk Dilla, Alisya dan Rayhan. Dilla menangis melihat keadaan Lunara. Betul dugaannya bahwa terjadi sesuatu diantara Ghifari dan Lunara.


Tepat saat para bodyguard yang membawa Lunara sampai di ruang tamu, saat itu juga Derya dan Harika masuk ke dalam rumah Ghifari.


"Ada apa dengan Kak Luna?" Tanya Harika khawatir.


"Nona Luna sepertinya pingsan, Nona" balas salah satunya.


"Tolong letakkan di sofa terlebih dahulu" pinta Harika langsung menghampiri Lunara. Derya menatap ke arah Lunara yang terbaring lemah saat ini. Lalu beralih kembali menatap ke arah keluarga Ghifari.


"Bawakan pasangan itu kemari!!" Pinta Derya penuh penekanan. Tak lama dua orang bodyguard datang dengan seseorang yang diikat di tangan mereka masing-masing. "Abang!!" Ucap Dilla dan Rayhan bersamaan.


Derya tersenyum sinis. "Rupanya kalian mengenali bajing*n ini" Dua bodyguard tadi menaruh Ghifari dan Resya di hadapan Derya.


Derya menendang kaki Ghifari dengan keras hingga membuatnya menjadi berlutut dengan erangan kesakitan yang Ghifari ucapkan. "Bahkan saya tak ingin menyentuh anak keluarga kalian" Derya berdecih tak suka. Baru kali ini Derya membenci seseorang. Tapi karena salah satu keluarganya telah dipermainkan, ia tak akan tinggal diam.


"Apa yang kamu lakukan Nak Derya?" Tanya Alisya melirih. Tak terima melihat anaknya diperlakukan seperti itu. "Saya? Tanyakan saja pada anak anda, Nyonya Muzakki"


Alisya beralih menatap Ghifari. "Ada apa ini, Ghifari? Mengapa kamu bersama Resya?" Air mata Alisya menetes begitu saja. Ghifari diam dan menunduk dalam-dalam, tak berani menatap wajah Bundanya.


"Tüm bunları neden saklıyorsun Derya? (Kenapa kamu menyembunyikan semua ini, Derya?)" Derya juga Harika menoleh ke arah pintu masuk, dimana sumber suara itu berasal. Mereka berdua sangat tau betul siapa orang itu.


"Aman neyse. Sayende her şey daha hızlı ortaya çıktı (Tapi tak apa. Berkat kamu, semua terungkap lebih cepat)" Jabare melangkah semakin mendekat ke arah Derya.


Derya memoleh saat Jabare merangkulnya. "Çünkü Harika, adamın gerçek kılığını biliyoruz (Karena Harika kita mengetahui kedok asli pria itu)" bahkan Derya tak ingin menyebutkan nama Ghifari.


Flashback


Sebulan yang lalu, dimana saat itu Derya ingin mengunjungi Ghifari dan Lunara. Tapi sebelum itu Derya membawa keluarga kecilnya terlebih dahulu ke kediaman utama seluruh keluarga Malayeka. Sesampainya disana, keluarga kecil Derya disambut dengan hangat oleh keluarganya.


"Abi…" Derya hampir terhuyung ke belakang karena tak siap. Harika datang dan berlari dengan cepat ke arah Derya lalu memeluknya. Akhirnya Kakak pertamanya datang.


Derya tersenyum melihat adik kecilnya yang begitu erat memeluk dirinya. Tangannya terangkat untuk mengusap puncak kepala Harika. "Rika seni özlüyor Abi (Rika merindukan kamu, Abi)" ucap Harika setelah melepaskan pelukan keduanya.


"Me too"


Rika beralih menatap sang Kakak Ipar yang sedang memeluk bayi kecil dalam gendongannya. "Kak Elnara" Harika mendekat ke arah Kakak iparnya yang berdiri di samping Derya. Memeluknya sama seperti memeluk Derya, pelukan rindu. Namun tak se-erat memeluk Derya karena ada seorang bayi ditengah-tengah mereka.


"Merhaba Enver (Halo Enver)" Harika mencium gemas bayi laki-laki yang berada dalam gendongan Kakak iparnya.


"Kita masuk dulu, kalian pasti lelah" suruh Emira dengan bahasa Turki. Semua memangguk setuju.


Keluarga Malayeka masuk ke dalam rumah megah itu. Bercerita tentang banyak hal. Tawa cerita mereka terdengar di seluruh ruang rumah itu. Hanya saja rumah itu kurang lengkap tanpa adanya Lunara.


Malam harinya Derya berjalan ke arah kamar Harika. Ia tau ada yang tak beres dengan adik kecilnya itu. Ia akan memastikannya sendiri.


Tepat di depan pintu Derya mengetuknya. "Harika…" panggil Derya pelan.


"Masuk saja, Abi" balas Harika dari dalam kamarnya. Derya membuka perlahan kamar Harika. Harika memutar kursi belajarnya ke arah Derya. "Ada apa, Abi?"


"Kamu ingin bercerita?" Tanya Derya to the point.


"Cerita apa?" Harika mengernyit heran.


"Hei, aku tinggal bersama kamu dari kecil, Harika. Aku tau ada yang mengganjal dalam fikiranmu saat ini"


Harika menghembuskan nafasnya. Ternyata Derya yang dapat menebak raut wajahnya. "Ini tentang Kak Lunara…"


"Ada apa dengan Lunara? Ceritakanlah"


"Kurasa ada yang tidak beres diantara Kak Luna dengan suaminya" Harika melanjutkan ceritanya. Hanya mendengar ceritanya saja, Derya nampak kesal.


"Tapi aku tak tau pasti, Abi"


"Kalau begitu biar Abi yang akan memastikannya secara langsung"


__________


Aku bakal update lagi hari ini kalau tebus 300 vote dan 10 komentar. Kalo nggak ya gapapa, sih… Tapi kita ketemu lagi minggu depan setelah aku selesai PAS (Penilaian Akhir Semester) atau UAS, oke👌