My Husband Badboy

My Husband Badboy
Bag 9



Pagi hari. Sekarang pukul 8 pagi. Gita lebih dulu membuka mata dan menoleh kesamping saat ada laki-laki yang tidur disamping dirinya sambil memeluk perut ratanya. Gita kembali menangis sambil menggeleng tak percaya.


kenapa bisa semua ini terjadi batin Gita


tangisan Gita membangunkan laki-laki disampingnya. Dimas segera bangun dan mendudukan diri sebelum akhirnya bangkit untuk mengenakan celananya.


"gausah nangis,tunggu disini sebentar" perintah Dimas lalu keluar kamar itu.


Tak lama Dimas kembali membawa selembar cek yang sudah dituliskan nominalnya. 3x lipat sesuai dengan perjanjian awal. paling orangtuanya akan bertanya untuk apa uang sebanyak itu. Orangtuanya tidak ada yang tau tentang hobi Dimas seperti ini jika diluar sekolah.


"nih sesuai perjanjian awal,jadi sekarang lo bisa pulang" usir Dimas sambil menaruh ceknya disisi ranjang.


astaga.


Dimas tidak melihat pergerakan dari gadisnya itu segera buka suara kembali.


"kenapa diem aja,tenang gue udah minta tolong supir buat nganterin Lo. gue capek mau tidur jadi gak bisa nganterin Lo" jelas Dimas.


Masih menangis Gita bangun dari tidurnya,rasa sakit diarea nya terasa kembali. Gita tidak kuat sungguh. Tetapi dia harus pulang dari sini. Gita mengenakan pakaiannya yang berantakan. Dimas hanya memandang Gita tanpa iba atau kasian sedikitpun.


Gita mengambil cek itu membuat Dimas tersenyum miring. Bukan. Bukan karena Gita ****** namun karena Gita tidak mau menyia-nyiakan ini. Biarlah masa depannya hancur yang penting hutang ayahnya segera lunas. ini demi keluarganya. Yaampun apakah itu sama saja dengan ******?


*ternyata Lo sama aja kaya yang lain batin Dimas.


engga gue bukan ******,gue bukan ****** batin Gita*.


Gita keluar dari kamar tanpa mengucapkan apapun. Begitu juga Dimas keluar dari kamar lalu kembali ke kamarnya untuk tidur. Untung saja ini hari Libur. Gita telah sampai didepan pintu utama rumah besar milik orangtua Dimas ini. Tiba-tiba ada seseorang menghampiri nya berpakaian safari bisa dipastikan itu supirnya yang dimaksud Dimas.


"ayo non saya antar,tadi den Dimas sudah pesan sama saya untuk mengantarkan non" sopan pak Harto yang namanya tertera dibajunya.


"gausah diantar pak,saya bisa sendiri kok" sahut Gita juga sopan.


"tapi non nanti saya dimarahin sama aden" lirih pak Harto.


akhirnya Gita mengangguk lalu mengikuti pak Harto menuju salah satu mobil. Gita membuka pintu mobil didepan tidak dibelakang membuat pak Harto membuka suara kembali.


"non duduk dibelakang saja" pinta pak Harto.


"gapapa kok pak disini aja temenin bapak ngobrol sekalian hehe" Gita terkekeh pelan. membuat pak Harto diam lalu mengangguk.


"bapak kerja dikeluarga kak Dimas udh lama ya?" tanya Gita membuka percakapan.


Harto mengangguk "sudah non dari den Dimas kecil"


"oh gitu pantes,jadi bapak tau kebiasaan kak Dimas?"


Harto mengangguk lagi "tau non,tapi ya non ini non perempuan pertama yang pulang dari rumah dianterin"


"oh ya??"


"iya non biasanya yang lain disuruh pergi gitu aja"


Gita tersenyum miris, meskipun ia diperlakukan beda tetapi semalam ia diperlakukan sama. sama seperti ******. oh astaga mengingatnya saja membuatnya sedih.


"non kok jadi bengong bapak salah ngomong ya?" tanya pak Harto tak enak hati.


"eh engga kok pak"


"hm non bapak yakin non itu anak baik buat seperti perempuan yang sering dibawa sama den Dimas. tapi nasi sudah jadi bubur. non harus bisa menerimanya. Bapak doain semoga jodoh non ya den Dimas biar dia bisa berubah"


"hehehe bapak bisa aja,aku sama kak Dimas itu beda pak,jadi mustahil kalo jodoh aku dia"


"gak ada yang tau rencana Tuhan kedepannya non,bapak minta maaf atas perlakuan den Dimas sama non"


Gita mengangguk lalu menyadari jika gang yang seharusnya ia turun sudah terlewat.


"pak stop gang nya kelewatan" cengir Gita walaupun dalam hatinya masih terasa sangat sakit.


Pak Harto memundurkan mobilnya pelan-pelan untung saja disana sepi jadi ia tidak di klasonin orang. Mobilnya berhenti tepat didepan gang.


"pak makasih ya udah nganterin aku,bilangin juga sama kak Dimas,aku pamit ya" pamit Gita sambil meraih tangan Harto lalu menciumnya layaknya anak dengan orangtua.


pak Harto tersenyum hangat "iya sama-sama non, sering-sering main kerumah ya gausah ketemu den Dimas ketemu sama bapak dan mba Sri aja hehe"


"oke siap pak" ucap Gita lalu keluar dari mobil itu.


Setelah punggung Gita menghilang dadi penglihatannya barulah pak Harto melajukan mobilnya kembali ke rumah. Didalam hati pak Harto selaku berdoa agar Dimas berjodoh dengan Gita. Gita berbeda seperti kebanyakan perempuan disana. Harto yakin sebenarnya Gita tak ingin terjadi namun ada satu dari sekian hal akhirnya ia pasrah.


"semoga kalian berjodoh" gumam Harto.





"ibu.." panggil Gita dengan takut.



"dari mana aja kamu? semalam gak pulang?" tanya Ratih dengan nada yang tidak baik-baik saja dalam artian sedang emosi.



"maaf bu.." cicit Gita.



"jawab Gita!" teriak Ratih.



"dia pergi sama om-om kaya dengan mobil mewah" tiba-tiba suara Gio muncul dari pintu membuat Gita menggeleng sedangkan Ratih menatap Gio dan Gita gantian.



"maksud ayah apa ngomong kaya gitu?" tanya Gita.



"saya lihat dengan mata kepala saya sendiri kamu turun dari mobil mewah itu didepan" jawab Gio santai.



"Gita apa bener apa yang ayah kamu katakan?" tanya Ratih.



Gita diam ia bingung harus menjelaskan kepada ibunya seperti apa. Dijelaskan juga siapa yang mengantarkannya tadi mereka tidak akan percaya. Dan bagaimana jika ibunya tahu kalau Gita sudah.....



"Gita jawab!" teriak Ratih.



"itu bukan om-om bu,dia itu supirnya temen aku. semalam gak sengaja Gita ketemu temen Gita terus diajak nginep dirumahnya. Makanya Gita gak ngabarin ibu karena handphone Gita gak ada pulsa untuk menelepon ibu" jelas Gita dengan mantap. Gita tak ingin membuat Ratih sedih karena kejadian itu.



"bohong! mana hasil kerja semalem bagi ayah dong"



"ayah apa-apaan sih! mending ayah pergi gausah balik lagi kesini karena ayah cuma nyusahin kita" berani Gita pada Gio.



"anak kurang ajar! berani kamu usir saya?" Gio berjalan mendekat ke arah Gita dan ingin menamparnya. Namun sayang Ratih melindungi Gita dan berakhir Ratih yang kena tampar oleh Gio.



"ibu..." teriak Gita.



"kamu pergi dari sini mas! gausah pernah kembali lagi. aku akan urus surat cerai kita secepatnya! aku sudah muak berurusan sama kamu" teriak Ratih sambil menangis Gita hanya bisa menangis sambil mengelus punggung Ratih.



"oh kamu mau cerai dari aku? bagus jadi aku gausah lagi nafkahin kamu!"



"selama ini apa pernah kamu nafkahin kita mas? kamu cuma bisa ninggalin hutang dalam jumlah yang besar! jadi sekarang kamu pergi dari rumah saya sebelum saya teriak biar tetangga pada tau"



Gio melenggang pergi begitu saja. Sedangkan Gita dan Ratih kembali menangis sambil berpelukan.



"Gita minta maaf Bu" ucap Gita disela tangisannya.