My Husband Badboy

My Husband Badboy
BAB 26



Dimas baru sampai dirumah pukul 5sore. Berarti 2jam lebih setelah pulang sekolah. Kemana saja suaminya itu? Gita ingin sekali bertanya,ingin sekali marah tetapi Gita tidak memiliki keberanian untuk itu. Ia hanya takut bagaimana anaknya jika nanti Dimas marah lalu meninggalkan Gita.


Gita yang sedang diruang keluarga hanya menoleh sebentar melihat punggung Dimas yang berjalan menuju kamar. Gita menghela nafas berat.


"kok jadi pengen makan martabak ya" gumam Gita.


mungkin hormon BM atau ngidamnya sedang berlangsung. Gita tidak tau dimana tempat yang jual martabak yang enak selain dekat rumahnya dulu. Apa Gita harus kesana sendiri untuk membeli martabak? ah sepertinya itu akan sulit,Dimas tidak akan mengizinkan. Apakah Gita harus minta tlong pada Dimas? yah Gita akan coba nanti,hilangin dulu rasa takutnya daripada anaknya nanti ileran. ih amit-amit.


Gita bangkit dan berniat ingin melangkah ke atas menuju kamarnya,tetapi Gita melihat Dimas sudah rapi dengan rambut masih basah. Mau kemana lagi?batin Gita.


"mau kemana?" bukan. bukan Gita yang bertanya tetapi Dimas. oh ayolah beri tahu dimas kalau yang seharusnya nanya itu Gita.


"emm..mau ke kamar tadinya mau ngomong sama kak Dimas" ujar Gita.


Dimas mengangkat alisnya seolah bertanya 'kenapa'


"itu.. aku lagi pengen makan martabak tapi yang didekat rumah aku dulu. kak Dimas bisa beliin?" tanya Gita gugup.


Dimas berfikir sebentar lalu melihat jamnya. Sepertinya tidak akan keburu karena ia akan menjemputnya Kiara jam 7 nanti. Sedangkan sekarang sudah pukul 6.


"hm gimana ya.. gue gak bisa karena gue mau keluar kecuali lo mau nungguin gue pulang" ucap Dimas.


"kak Dimas pulang jam berapa?" tanya Kiara.


Dimas mengangkat bahunya tanda tidak tahu.


"yah tukang martabaknya tutup jam 9 malam kak,tapi kalo kak Dimas gak sempet. aku izin beli sendiri kesana gapapa?" Dengan keberanian Gita meminta izin pada Dimas.


Dimas menimbang sebentar dan berakhir mengangguk "oke..tapi hati-hati. kalau enggak di anter pak Harto"


Gita hanya mengangguk,benar juga mengapa Gita tidak memikirkan hal itu. Disini kan ada pak Harto yang selalu baik dengannya pasti dia maulah mengantarkan Gita kesana.


Baru Gita akan bertanya pada Dimas ingin pergi kemana tadi Dimas sudah melangkah menuju pintu. Gita hanya memandang itu.


kapan gue yang di ajak pergi sama suami gue sendiri Batin Gita.


Gita melangkah ke kamarnya untuk berganti baju. Sekalian ia akan menjenguk ibunya. Sudah hampir 2minggu ia tidak mengunjungi ibunya. Gita sangat rindu.


Sekarang sudah menunjukkan pukul 7malam. Gita sudah berada didalam mobil bersama pak Harto yang akan mengantarkannya menuju tempat martabak. Senyum Gita terbit sambil mengusap perutnya pelan.


sampai.


Gita meminta tolong pada pak Harto untuk memesan martabak untuk dirinya dan orang dirumah Dimas. Karena Gita ingin kerumah ibunya dengan sebuah kue ditangannya yang ia beli tadi ditengah jalan.


"pak aku minta tolong ya,aku kerumah ibu biar kita gak makan waktu" ucap Gita sebenarnya tak enak tetapi mau bagaimana ia takut Dimas pulang lebih dulu.


"iya non gapapa, non hati-hati jalannya ya"


"siap pak" ucap Gita lalu melangkah masuk kedalam gang rumahnya.


Sesampainya didepan pintu rumah yang sudah tertutup rapat Gita mengetuk pintu itu. Beberapa kali hingga menampilkan wajah lelah sang ibu.


"assalamualaikum Bu" sapa Gita.


"waalaikumsalam,Gita??" ucap Ratih tak percaya lalu memeluk anaknya.


"ibu kangen banget sama kamu" lanjut Ratih.


"sama Gita juga kangen banget sama ibu,maafin Gita ya karena 2minggu kemarin Gita gak kesini"


"iya sayang gapapa,ayo nak masuk dulu" ucap Ratih lalu menggiring Gita masuk kedalam rumahnya dulu.


"ibu ini Gita bawain ibu kue" Gita menyodorkan kue nya.


"yaampun Git,kamu mah kaya ketemu siapa aja bawa beginian" jawab Ratih.


"eh kebetulan ada anak ayah disini? ayah denger kamu udah nikah ya? sama orang kaya lagi?" tanya Gio to the point.


"gimana enak hidup kaya? masa udah kaya lupa sih sama orangtua. bagi uang dong ayah" lanjut Gio.


Gita diam. Darimana ayahnya tau. ah ya pasti dari tetangga mereka disini yang masih terus saja menggosipin dirinya.


"kamu ngapain masih balik disini? perceraian kita lagi saya urus!" ucap Ratih emosi.


"aku gak lagi ngomong sama kamu! aku lagi ngomong sama Gita dan kamu gausah ikut campur" bentak Gio.


"mending kamu pergi dari sini sebelum saya teriak" bentak Ratih tak kalah kencang.


"gak akan pergi sebelum Gita kasih saya uang" ucap Gio santai sambil melirik ke arah Gita.


Gita diam.


"Gita jangan pernah kasih orang ini uang sepeserpun!" peringat ibunya.


"yaudah kalo gitu saya gak akan pergi dari sini" putus Gio.


Ponsel Gita berdering ada panggilan masuk dari pak Harto. Gio menganga tak percaya melihat ponsel mahal yang Gita pegang. Yah ponsel Gita sudah ganti sejak kejadian dimana dirinya dibawa paksa oleh Dimas waktu itu. Kalian ingatkan?? Jadi hingga sekarang ia tidak bisa mengabarin Ando walau ia hafal nomer ando. dan sepertinya laki-laki itu tidak akan pernah mengganti nomer ponselnya.


"iya halo pak,kenapa?"


"...."


"oh oke pak,tunggu sebentar ya"


"...."


Gita menoleh keibunya berniat pamit karena pak Harto sudah selesai membeli martabaknya. Gita bangkit sebelum suara Gio terdengar kembali.


"gila hape kamu mahal banget itu pasti,sini buat ayah" ucap Gio enteng.


"mas mending kamu pergi dari sini! jangan pernah ganggu kita lagi" ujar Ratih dengan nada emosi.


"aku gak ganggu kamu lagi sekarang,aku akan ganggu Gita sekarang!"


"mas!!!"


Gita diam tak berniat membalas omongan ayahnya itu. Terlalu malas untuk debat. Gita berpamitan pada ibunya tanpa peduli dengan ayahnya. Ayahnya yang membuat dirinya harus seperti ini.


Belum langkahnya benar-benar keluar akhirnya terhenti saat Gio merampas tas yang di pakai Gita. Gita dengan cepat mengambil tas itu kembali namun sayang itu sia-sia tenaga Gio lebih besar dari pada Gita. Ratih yang melihat itu membantu Gita tetapi saja.


"ayah balikin tas Gita!!" teriak Gita.


Gio mencoba membuka tas itu di udara sambil mencari sesuatu yang bisa dia ambil dan di jadikan uang untuk berjudi dan mabuk. Dan yah ponselnya ketemu.


"ini untuk ayah! kamu minta beliin lagi sama suami kamu.. bilang jangan pelit sama mertua sendiri" ucap Gio lalu pergi setelah apa yang didapatkan.


Gita hanya menangis. Bagaimana ia bilang pada Dimas kalau begini. Kenapa ini semua terjadi? ah Gita merutuki dirinya sendiri.


Gita menenangkan dirinya lalu menoleh ke arah ibunya yang juga menangis.


"sayang maafin ayah kamu ya,nanti ibu yang akan ganti ponsel kamu" ucap Ratih.


Gita menggeleng "gak perlu Bu,gapapa. itu masalah gampang,kalau gitu aku pamit pulang dulu yaa. ibu sehat-sehat disini. aku janji bakal sering kesini. oh ya waktu itu mamah Terry pernah bilang suruh ajak ibu aja tinggal sama Gita. tapi nanti Gita bicarain dulu ya sama kak Dimas,assalamualaikum" ucap Gita sambil mencium tangan serta pipi ibunya.


Ratih membalas salam itu lalu kembali menangis setelah Gita keluar dari rumahnya.


kasian kamu nak batin Ratih.