My Husband Badboy

My Husband Badboy
Bag 11



"jadi mba Gita beneran hamil,usia kandungannya baru 1minggu" jelas dokter Cintia.


Bahu Gita merosot begitu saja setelah mendengar penjelasan dokter. Bagaimana mungkin ia hamil saat dirinya masih sekolah seperti. Bukan membahagiakan ibunya Gita malah membuat kecewa ibunya. Gita menangis sedangkan Dimas sama kagetnya. Dimas tidak pernah berfikir bahwa Gita akan hamil. Astaga gimana bisa Dimas mengira bahwa Gita tidak bisa hamil.


Setelah melakukan konsultasi dan diberi resep oleh Cintia keduanya keluar ruangan dan kembali ke mobil. Gita dari tadi hanya diam,ia tidak bisa berfikir jernih harus apa setelah ini. Sebentar lagi masa depannya hancur bukan,bukan sebentar lagi tetapi sudah hancur. Lebih tepatnya sebentar lagi pasti ia akan dikeluarkan oleh sekolah dan ibunya cepat atau lambat akan tau.


Dimas menyandarkan punggungnya dikursi. Ia juga bingung harus melakukan apa kedepannya. Dimas yakin orangtuanya akan marah namun tidak akan marah besar seperti kebanyakan orangtua lain. Lalu gimana nasib Gita sekarang?


"kita harus gimana?" Dimas membuka suara.


what? mengapa Dimas yang menanya pada Gita.


"kok kakak tanya aku? harusnya kakak yang berfikir kita harus gimana! ini semua kan salah kakak" Emosi Gita.


"kok jadi nyalain gue?"


"yaiyalah nyalahin kakak! harus nyalahin siapa lagi? sekarang sudah terbuktikan ini anak kakak?"


"yah salah lo juga lah kenapa berani nyamperin gue waktu itu di Club ?"


Gita diam. Benar juga ia tau itu club mengapa ia berani kesana untuk menghampiri Dimas hanya karena uang.


"karena uang kan? Lo gak ada bedanya sama Yura berarti,eh satu yang beda lo masih perawan!" ucap Dimas santai.


"dan lo tega ambil keperawanan gue!" bentak Gita yang sudah memakai kata lo-gue.


"disitu kan posisinya lo juga mau,karena duit! Lo sama aja kaya ****** Git" teriak Dimas juga.


"stop! kalo kakak emang gak mau tanggung jawab aku yang bakal besarin anak ini sendiri" ucap Gita lalu ingin turun dari mobil Dimas tetapi di cegah oleh Dimas.


"enggak,gue bakal tanggung jawab tapi ada syaratnya" ucap Dimas pada akhirnya.


Dimas tidak bisa membuatkan Gita merasakan ini sendiri,Dimas hanya kasian. Ingat hanya kasian bukan karena ia memiliki perasaan pada gadis itu.


Gita memandang Dimas mencari kebohongan pada matanya,namun nihil yang ada hanya sebuah keseriusan disana. Gita tidak ingin terlalu berharap pada Dimas. Untuk dia tanggung jawab saja Gita sudah bersyukur.


Dimas menghubungi orangtuanya yang sedang berada diluar negeri. Setelah beberapa kali menghubungi tapi tidak ada jawaban dan akhirnya dijawab juga oleh sang mamah.


"halo mom"


"...."


"how are you mom?"


"...."


"syukurlah,mah?"


"...."


"mamah sama papah bisa gak pulang dulu ke indo? ada yang mau aku omongin"


"...."


"yes,ada masalah"


"...."


"mom go home, I'll explain everything later"


"...."


"oke see u mom"


bip


Dimas melajukan mobilnya menuju rumah Gita. Disepanjang perjalanan Dimas sesekali menoleh ke arah Gita. Seperti tidak bosen memandangi wajah perempuan polos didepannya. Setelah sampai didepan gang yang biasa Dimas menurunkan Gita,Dimas membangunkan Gita dengan menepuk pipinya pelan. Beberapa kali hingga akhirnya Gita mengerjapkan matanya. Gita langsung menegakkan posisi duduknya.


"udah sampe ya kak? kalo gitu aku pamit" pamit Gita gugup karena wajah mereka cukup dekat.


Dimas mengangguk "besok gue bawa orangtua gue kerumah lo,kalo bisa lo gausah bilang apapun sama orangtua lo biar nanti orang tua gue yang bilang ke keluarga lo"


Gita hanya mengangguk lalu keluar mobil Dimas. Perasaannya saat ini campur aduk. ada senang dan sedih.


Gita melangkahkan kakinya masuk kedalam rumah. Didalam Gita melihat ibunya tengah tertidur pulas di kamarnya. Gita melangkah masuk kedalam kamarnya dan berganti pakaian bersiap untuk mandi.


Setelah selesai bersih-bersih Gita kembali kedalam kamarnya dan merebahkan tubuhnya. Rasanya akhir-akhir ini ia jadi gampang lelah. Gita mulai masuk kedalam alam bawah sadarnya.


Sekarang pukul 7 malam,Gita baru bangun dari tidurnya. Ibunya sengaja tidak membangunkan Gita karena pintu kamarnya terkunci dari dalam. Gita membenarkan bajunya lalu melangkah keluar dan melihat ibunya tengah duduk dimeja makan. Dan sudah terlihat beberapa lauk disana.


"malam bu" sapa Gita.


"malam juga sayang,ayo kita makan. Dari tadi ibu nungguin kamu tau" ucap Ratih.


"oh ya? maaf ya bu Gita tidurnya terlalu lama"


"gapapa,yaudah kamu mau makan apa nak?"


"biar Gita ambil sendiri aja Bu"


Ratih mengangguk dan membiarkan Gita mengambil makan malamnya sendiri. Mereka makan sambil sesekali berbicara. Padahal saat sedang makan tidak boleh berbicara.


*Hoek Hoek*


Pada suapan ketiga,Gita merasakan perutnya yang aneh ia tidak tahan menahan *eneg* yang dari tadi ia tahan. Ia yakin ini pasti efek dari kehamilannya. Gita berlari menuju kamar mandi dan memuntahkan isi perutnya. Ratih yang melihat anaknya seperti itu segera menyusul dan memberikan pijitan pada tengkuk Gita. Serasa sudah selesai Gita membersihkan mulutnya dengan air.


"kamu kenapa Git? sakit?" tanya Ratih.


Gita menggeleng tanpa mengeluarkan suara sedikitpun.


"ibu kerik mau gak? kayanya kamu masuk angin"


"gausah bu aku gapapa kok"


*Hoek Hoek*


Gita kembali mengeluarkan isi perutnya membuat Ratih kembali memijat tengkuk anaknya.


"bu aku kekamar duluan ya,aku gak enak badan,maaf ya bu" Gita tak enak hati.


"iya gapapa sayang,yaudah kamu tunggu dikamar ibu buatin teh hangat dulu ya" ucap Ratih dan Gita hanya mengangguk lalu melangkah menuju kamarnya.


Gita mendudukan bokongnya dikursi depan meja belajarnya. Gita membuka amplop berisi resep dokter dan mempotretnya lalu mengirim ke Dimas untuk meminta tolong menebus resepnya.


Belum sempat Gita merapikan kembali kertas itu Ratih sudah masuk kedalam kamar Gita. Gita panik. apakah ibunya melihat?


"itu surat apa nak?" tanya Ratih yang memang melihat.


"hm.. in..ini surat dari sekolah bu" bohong Gita.


"surat tunggakan ya nak? maafin ibu ya karena ibu belum bisa bayar uang sekolah kamu"


"iya gapapa bu,aku udah minta keringanan kok sama wali kelas aku"


"yaudah ini teh angetnya dan ini obatnya kamu minum dulu setelah itu tidur ya,ibu keluar dulu mau ke warung"


Gita mengangguk lalu bernafas lega karena Ratih tidak memperpanjang masalah surat itu. Biasanya Gita akan memberikan surat sekolah kepada ibunya. Tapi kali ini tidak karena itu memang bukan surat dari sekolahnya.


Setelah meminum teh dan obatnya Gita merebahkan tubuhnya dan mulai memejamkan matanya kembali.