
Hari yang kurang baik sepertinya untuk Dimas, karena sejak pagi ia dan Farhan tidak tegur sapa. Padahal Dimas sering mengajaknya berbicara tetapi tidak di tanggapi sama sekali dengan Farhan. Gilang hari ini tidak masuk sekolah, katanya sih ada acara keluarga entah dia berbohong atau tidak.
"Han, jangan kaya anak kecil atau perempuan kenapa sih? Ngambeknya diemin orang begini!" ujar Dimas yang sudah kesal melihat tingkah Farhan.
Farhan menoleh sekilas ke arah Dimas dengan tatapan datar, "Gue bakal ngomong lagi sama lo, kalau lo udah bisa milih salah satu dari mereka!" ujar nya.
Dimas diam tidak bisa menjawab omongan Farhan. Dengan kesal Dimas melangkah keluar kelas untuk pergi ke kantin seorang diri. Wajahnya tampak kusut dan tidak bersemangat. Dimas pusing dengan semua masalah ini.
Di perjalanan menuju kantin Dimas di hadang oleh Kiara. Entah atau kebetulan atau tidak mereka bertiga bertemu di tangga, yah bertiga Kiara, Dimas dan ada Gita di sana. Dimas melirik ke arah Gita yang sedang menunduk.
"Kak Dimas mau ke kantin ya?" tanya Kiara dengan suara lembut.
Dimas mengangguk.
"Kok tumben sendirian, kak Farhan sama kak Gilang mana?" tanya Kiara lagi sambil mencari sahabat dari Dimas itu.
"Gilang gak masuk, Farhan di kelas lagi ngerjain tugas." kilah Dimas sambil matanya sekali-kali melirik ke arah Gita.
"Gimana kalau bareng aja sama kita ke kantinnya? Gapapa kan Git?" tanya Kiara pada Gita yang masih terus menunduk.
Terlalu sakit melihat Dimas dan Kiara saat ini.
Gita mengangguk sambil tersenyum tipis. Belum sempat mereka melangkahkan kaki, suara seseorang terdengar membuat ketiganya menoleh ke sumber suara.
"Gita ada urusan sama gue, lo berdua aja ke kantin duluan." ujar Farhan sambil menatap Dimas tajam.
Kiara sebenarnya tampak bingung ada urusan apa Farhan dan Gita, tetapi Kiara menganggap ini hanya akal-akalan Farhan biar Kiara dan Dimas bisa berduaan saja di kantin. Oh ayolah guys beritahu Kiara yang sesungguhnya..
"Ada urusan apa ya kak?" ujar Gita yang juga bingung mengapa tiba-tiba Farhan datang dan bilang ada urusan dengannya. Bukan kah selama ini, ia juga tak di sukai keberadaannya oleh cowok itu.
Farhan melirik ke arah Dimas tetapi kali ini dengan senyuman miring yang tercetak di sana, "Gue mau ngomong sesuatu sama lo, jadi lo bisa ikut gue?"
Gita melirik ke arah Kiara dan di anggukin oleh perempuan cantik yang memiliki rambut sebahu itu.
"Lo berdua duluan aja di kantin, kalau masih ada waktu ntr gue sama Gita nyusui." ujar Farhan sambil menarik tangan Gita.
Gerakan itu membuat dada Dimas kembang kempis, ternyata omongan Farhan kemarin bukan cuma ancaman saja. Farhan seperti mengibarkan bendera perang padanya.
Belum sempat mencegah Gita, tangannya sudah di tarik oleh Kiara, "Ayo kak ke kantin, biarin aja mereka pergi siapa tau mereka mau pdkt." ujar Kiara sambil terkekeh pelan.
Mendengar ucapan Kiara membuat Dimas semakin emosi. Tetapi ia tidak bisa memarahin Kiara, nanti bisa terbongkar semuanya.
*****
Di perpustakaan, Farhan dan Gita duduk di bangku paling pojok. Keduanya sudah menjadi sorotan sejak Farhan menarik tangan Gita sampai ke dalam perpustakaan saat ini. Gita yang melihat itu hanya bisa menarik napas dalam agar tidak gugup.
Kenapa sih gue selalu jadi bahan perbincangan sama mereka batin Gita.
Farhan berbeda dengan Gita yang merasa risih karena komentar dari murid yang ada di sana. Farhan hanya menganggap itu hal yang biasa.
"Ada urusan apa ya kak bawa aku ke sini?" tanya Gita pada akhirnya setelah menghabiskan waktu beberapa menit untuk terdiam.
Farhan menatap Gita dengan dalam, jujur Farhan kagum dengan wajah Gita. Tanpa polesan make up yang berlebihan tetapi tetap memancarkan kecantikan di sana. Farhan jadi berpikir, kenapa murid di sekolah ini senang sekali membully-nya padahal gadis ini tidak memiliki salah apapun pada mereka dan merugikan siapapun.
Cuma hanya karena Gita tergolong orang yang tidak mampu, dan mereka menganggap Gita tidak pantas bersekolah di sini. Ah Farhan menyesal karena dulu pernah ikut membully-nya.
"Halo, kak." panggil Gita sambil menggerakan telapak tangannya di depan wajah Farhan.
Farhan berdehem, "Gak ada urusan apa-apa sih. Gue cuma mau bilang, nanti pulang bareng gue ya." ujar Farhan.
Gita mengerutkan dahinya terlihat sangat bingung, ke sambet apaan nih orang tiba-tiba ngajakin pulang bareng batin Gita.
"Kakak kenapa? Lagi sakit kah?" tanya Gita karena bingung dengan ujaran Farhan tadi.
Farhan menggeleng, "Engga, gue cuma pengen kenal deket aja sama lo. Jadi nanti kita pulang bareng ya."
"Eh anu kak.. gak usah soalnya aku udah janjian sama Kiara." ujar Gita gugup.
"Ntr gue yang bilang sama Kiara, kalau lo pulang sama gue. Lagian pasti Kiara pulangnya sama Dimas." ujar Farhan tenang.
Mendengar ucapan Farhan tadi, Gita jadi berpikir hal yang sama.
"Lo gak boleh nolak, anggap aja ini sebagai tanda permintaan maaf gue karena dulu suka ikut jahilin lo." ujar Farhan serius membuat nyali Gita menciut dan akhirnya mengangguk.
****
Bel pulang sekolah sudah berbunyi, seluruh siswa berhamburan keluar kelas lalu menuju parkiran sekolah untuk mengambil kendaraan mereka tetapi ada juga yang langsung keluar gerbang sekolah untuk menunggu jemputan atau ojek online yang mereka pesan.
Begitu juga Farhan yang segera berjalan menuju kelas Gita. Dimas yang melihat Farhan berjalan ke arah sana menatap penuh emosi.
Gita baru saja keluar dari kelas bersama dengan Kiara di sampingnya. Melihat Farhan yang sudah berdiri di koridor membuat jantung Gita berhenti sejenak, ternyata ajakan Farhan tadi di perpustakaan benar.
"Git, kayaknya kak Farhan nungguin lo deh." bisik Kiara.
Gita mengangkat bahunya.
"Lo sama dia ada urusan apa sih?" tanya Kiara lagi.
"Gak ada urusan apa-apa kok, yaudah ayo pulang. Gue mau pesen ojek online dulu deh." ujar Gita.
Benar apa yang di bilang Farhan tadi, Kiara dan Dimas akan pulang bersama karena Kiara tidak membawa kendaraan. Tadi pagi Gita di antar pak Harto karena menolak pergi bersama dengan Dimas.
Farhan melihat Gita yang akan melewati dirinya, dengan sengaja Farhan menarik ujung rambut milik Gita membuat sang empu meringis.
"Ayo lo mau kabur ya, kan tadi kita udah janjian." ujar Farhan sambil mengelus kepala Gita pelan.
Di perlakuan seperti itu membuat Gita ngeri sekaligus hangat. Keduanya kembali menjadi sorotan begitu juga dengan Kiara yang ada dekat dengan mereka membuatnya terdiam.
"Kalian berdua lagi pdkt?" tanya Kiara.
"Iya." jawab Farhan santai.
"Enggak." jawab Gita kesal.
"Jadi yang bener yang mana?" tanya Kiara lagi.
"Hust udah jangan banyak tanya, do'ain aja. Lagian bukan pulang lo, udah di tungguin Dimas noh di ujung." ujar Farhan sambil menunjuk Dimas menggunakan dagunya yang sedang berdiri di ujung lorong.
Gita dan Kiara sama-sama menoleh ke arah Dimas. Kiara tersenyum sedangkan Gita hanya menampilkan wajah datar. Tidak mau berlama-lama Farhan segera menarik tangan Gita dan menggenggamnya. Gita tidak menolak perlakuan itu, ia rasa biarkan saja Dimas melihat ini semua, biar dia juga merasakan apa yang di rasakan Gita selama ini.
"Gue cabut duluan bro, jangan lupa tuh anter Kiara dengan selamat!" ujar Farhan saat melewati Dimas sambil menepuk bahu sahabatnya itu.
Bersambung.....
Jangan lupa mampir di cerita aku yang lainnya yaa...
Senior Cold
jangan lupa juga komen di sana yaa...
Follow instagram : maulidyapu
Terimakasih banyakk