My Husband Badboy

My Husband Badboy
BAB 43



"Tapi kakak suka kan sama Kiara?" tanya Gita dan membuat Dimas terdiam. Dimas sendiri pun tidak tau perasaannya terhadap Kiara. Dimas hanya merasa nyaman dekat dengan gadis ceria itu, begitu pula dekat dengan Gita. Jadi sebenarnya bagaimana perasaan Dimas kalau seperti itu?


"Kan kakak diam aja, berarti iya kalau gak bisa jawab." ucap Gita dengan lirih.


Situ yang nyari penyakit, situ sendiri yang sedih....


Dimas yang di tuduh seperti itu tidak terima, "Pertanyaan lo aneh dan gue gak perlu jawab kayanya."


Gita hanya diam saat Dimas menjawab seperti itu. Maksud jawaban dari Dimas itu apa, Gita gak ngerti.


"Udah mending lo tidur sekarang, gue jagain lo di sini." ucap Dimas membuat Gita melirik ke arah suaminya itu.


Gita mengambil nafas dalam-dalam, sepertinya ini waktu yang pas buat bicara serius pada Dimas. Ibu nya sedang tertidur jadi tidak mungkin dengar apa yang akan Gita dan Dimas bicarakan.


"Kak."


"Hm." jawab Dimas lalu melihat ke arah Gita. Entah mengapa jantung Dimas menjadi berdebar saat melihat wajah tegang Gita. Seperti ada sesuatu yang serius yang akan Gita sampaikan padanya.


"Kalau kakak suka sama Kiara gapapa kok, aku ikhlas." ucap Gita dengan berat.


Dimas mengerutkan keningnya. Belum sempat bicara, suara Gita kembali terdengar.


"Tapi kakak jangan buat Kiara sama seperti aku atau kak Yura. Kiara itu perempuan baik dan ceria, aku gak mau kalau hal itu terjadi pada dia membuat kepribadian dia jadi berubah."


Dimas ternohok mendengar penuturan itu dari Gita. Rasa bersalah di diri Dimas mengalir begitu saja di darahnya. Terlihat guratan sedih di mata Gita saat ini. Dimas mengaku salah pada Gita ataupun Yura, tetapi mau bagaimana semua sudah terjadi kan? Gak bisa di putar ulang lagi. Kalau ke Yura, Dimas tidak terlalu merasa bersalah karena Dimas tau kehidupan Yura bagaimana.


"Kalau aku boleh tanya, kak Dimas sedih gak karena anak kita udah gak ada?" pertanyaan lagi dari Gita yang membuat tenggorokan Dimas tercekat. Jujur Dimas sedih mendengar kabar kalau darah daging yang di kandung Gita itu tidak bisa selamat, tapi balik lagi ini sudah terjadi tidak bisa di putar ulang.


"Lo bisa tanya siapapun yang ada di sini, gimana hancurnya gue denger kabar itu." jawaban Dimas membuat Gita terdiam sebentar. Ibunya bercerita tentang bagaimana Dimas menangis saat mendengar kabar itu dan itu sudah menjadi bukti kalau Dimas juga sedih di tinggal buah hati mereka.


"Maaf banget karena aku gak bisa jaga anak kita." kesedihan Gita kembali lagi mengingat tragedi itu.


Dimas dengan sigap langsung menggenggam tangan Gita dan mengelus punggung tangannya pelan, "Gak usah di bahas kalau buat lo sedih, mungkin emang ini takdir Tuhan buat kita. Gue yakin anak kita di atas sana lagi ngelihatin kita di sini sambil tersenyum. Lo jangan sedih terus nanti dianya juga sedih." hibur Dimas, membuat Gita menganggukan lalu tersenyum kecil ke arah atas dinding. Seakan benar apa yang di bilang Dimas tadi, kalau malaikat kecilnya ada di atas sana melihat orang tuanya di sini.


"Tapi balik lagi ke Kiara, kalau kakak benaran suka sama Kiara, aku gapapa." ulang Gita dengan ucapannya yang tadi.


"Lo ngomong apa sih? Ngaco. Gue udah punya istri dan istri gue itu lo!"


"Terus?"


"Maka dari itu udah gak ada lagi beban yang harus kakak tanggung. Makanya aku ikhlas kalau kakak sama Kiara."


"Maksud lo, kita berpisah gitu?" Dimas masih gak paham dengan ucapan-ucapan Gita sejak tadi. Terlalu rumit atau bebelit menurutnya.


Gita menggeleng, "Buat sekarang enggak kak, tapi mungkin nanti kalau aku sudah capek aku yang bakal minta izin sama papah dan mamah untuk pergi."


"Jadi gimana intinya?!" Dimas semakin pusing dengan teka-teki Gita.


Gita menarik napasnya, "Kakak pernah berpikir gak kalau aku sakit hati ngelihat kakak jalan berdua sama Kiara? Bahkan di depan mata ku sendiri?"


"Status kita bukan cuma pacaran loh kak, kakak ingat itu gak kalau kakak lagi jalan sama Kiara?"


Dimas mengangguk.


"Jadi, aku izinin kakak buat dekat sama Kiara mau pacaran pun gapapa. Tapi kalau nanti aku udah gak tahan lagi, kakak harus izinin aku pergi." ucapan Gita yang terakhir membuat hatinya sesak.


Dimas diam seribu bahasa, ada sesuatu yang membuatnya juga sesak mendengar perkataan Gita tadi. Dimas, enggan untuk melepaskan Gita, mau dalam waktu dekat ataupun panjang. Ini artinya apa? Apa Dimas sudah mulai ada rasa dengan Gita atau hanya kasihan dan peduli pada Gita?


"Gimana kak? Kakak tenang aja, aku gak bakal ngadu macam-macam sama mamah atau papah tentang ini. Nanti kalau sudah waktunya, aku yang bilang ke mereka kalau ini kemauan aku."


Dimas menggeleng mendengar hal menyakitkan itu, bukan hanya untuk Dimas tapi untuk Gita pun itu menyakitkan.


"Aku anggap kakak setuju." putus Gita, meskipun Gita melihat kalau Dimas menggeleng mungkin masuk Dimas tidak setuju. Tetapi tidak ada satu kata pun yang keluar dari mulut Dimas. Dan membuat Gita menarik kesimpulan kalau Dimas setuju saja. Toh Dimas tidak cinta dengannya apa yang mau di pertahanin nantinya. Urusan Terry dan Damian, biarlah nanti menjadi urusan Gita saat waktu datang. Entah apa yang akan Gita lakukan atau katakan pada mertuanya itu, Gita pun belum memikirkan sampai ke sana.


Gita melirik jam yang ada di dinding, ternyata sekarang sudah pukul 11.00 malam. Pembicaraan kali ini membuatnya menguras banyak tenaga, padahal tidak ada keributan di sini tetapi Gita mendadak merasa sangat lelah sekarang.


"Aku mau istirahat, kakak pulang aja. Udah ada ibu juga yang jagain aku, besok kan kakak harus sekolah." ujar Gita sambil melihat Dimas dengan mata yang sudah berkaca-kaca. Bisa di pastikan kalau Dimas sudah pergi dari sini, Gita akan menangis. Mungkin dengan menangis membuatnya lebih lega.


Dimas menggeleng, sama sekali tidak mengeluarkan suara apapun. Entah apa yang ada di dalam otak laki-laki itu. Mungkin sama seperti Gita yang memiliki banyak pertanyaan di kepalanya, tetapi entah harus bertanya pada siapa.


"Yaudah terserah kakak, tapi kalau kakak mau tidur cuma bisa di kursi karena di sofa sudah ada ibu." akhirnya Gita mengalah, membiarkan Dimas tetap di rumah sakit. Gita pun tidak tega membiarkan Dimas pulang jam segini, meskipun Gita tau hal itu tidak masalah untuk Dimas. Pulang pukul 04.00 pagi saja Dimas pernah.


"Kita tidur di ranjang berdua." ucap Dimas pada akhirnya dan malah membuat Gita terpaku.