My Husband Badboy

My Husband Badboy
BAB 63



Memiliki pasangan yang satu frekuensi dengan kita adalah salah satu kebahagiaan yang mudah tercipta. Memiliki pasangan yang bisa mendengar apapun dari mulut kita tanpa menghakimi itu pula salah satu kebahagiaan.


Benar?


Dulu Gita selalu berdoa agar mendapat jodoh seperti itu, dan itu semuanya ada di Ando sebenarnya tetapi balik lagi ke masalah dirinya dengan keluarga Ando. Gita hanya tidak mau Ando bertengkar dengan orang tuanya hanya karena membela dirinya, makanya ia lebih baik mengalah saja.


Kalau di tanya, ia suka atau tidak dengan Ando, jawabannya adalah iya. Siapa yang tidak jatuh hati dengan lelaki baik dan sopan itu plus bonus tampan dan kaya.


Tetapi ternyata Tuhan berhendak lain, ia harus menerima takdir yang sudah terjadi seperti sekarang. Ia harus menikah dengan seseorang yang sama sekali bukan lawan bicara yang baik menurutnya.


Tapi balik lagi, ini adalah takdir yang harus ia jalanin mau mengeluh pun percuma karena ini sudah terjadi. Sekarang Gita hanya bisa berdoa semoga Dimas bisa menjadi suami yang baiknya sekarang maupun nanti. Untuk cerita dia selanjutnya kita hanya bisa mengikuti alur kemana cerita ini pergi.


****


Saat sedang asik mengobrol banyak hal, karena ini belum pernah terjadi sebelumnya. Hal langka ini tidak mau di sia-sia kan oleh Gita, ia ingin mengulik lebih jauh bagaimana sebenarnya kehidupan Dimas sebelum mengenalnya.


Tiba-tiba keduanya di kagetkan dengan datangnya seseorang yang membuat keduanya kaget.


"Ternyata lo di sini sama dia?" ujar Gilang sambil menunjuk Gita.


Tatapan Gilang terlihat sangat tak suka pada Gita, dengan begitu Gita hanya bisa menunduk takut.


Dimas menepis tangan Gilang yang di gunakan untuk menunjuk Gita, "Yang sopan bisa gak?" ujar Dimas sarkas.


Gilang tertawa hambar, "Gue masih gak nyangka sama lo Dim, sumpah! Lo beneran bajingan ternyata!"


Sekarang Dimas yang tertawa, "Sesama bajingan gak usah saling ngatain Lang." ujarnya santai.


Mereka sudah menjadi bahan tontonan di sana, semua mata tertuju ke arah mereka. Gita semakin panik dan takut berada di sana, ingin sekali rasanya ia pergi dari sini dengan cara menghilang.


Belum sempat Gilang bersuara lagi, ada suara seseorang di belakangnya mengintruksi agar tidak buat keributan di sini.


"Lo berdua gak malu di lihatin semua pengunjung?" ujar Farhan tenang.


Entah kebetulan atau bagaimana Dimas dan keduanya sahabatnya malah bertemu di sini, memang sih ini restoran yang sering mereka kunjungi kalau ada perayaan apapun. Tetapi mengapa waktunya sangat tepat.


Gita yang mendengar suara tak asing itu langsung mengangkat wajahnya, semakin tak nyaman berada di sana.


"Diem!" ujar Dimas dan Gilang kompak.


"Lo berdua kalau mau ribut jangan di sini, ke ring aja sana." ujar Farhan lagi.


Farhan menatap Gita, "Git, mending kita pergi yuk dari sini biarin mereka mau bertengkar. Nanti lo kena pukul sama mereka." ajak Farhan.


Gita hanya bisa menggeleng tanpa menjawab apapun ajakan Farhan.


"Lo apaan sih Han, lo berdua ribut cuma karena perebutin dia?" Gilang menunjuk Gita yang sedang menatap Dimas.


"Gue bilang yang sopan Gilang!" bentak Dimas sambil menepis lagi tangan Gilang.


"Eh lo, gak usah besar kepala! Lo tau, karena lo temen gue bertengkar, seharusnya lo sadar diri, lo gak pantes ada di tengah-tengah kita!" bentak Gilang sambil terus menunjuk ke arah Gita.


Kali ini Farhan yang menepis tangan milik Gilang, "Lang, jaga omongan lo! Gak pantes lo ngomong kaya gitu!" ujarnya.


"Gue juga gak habis pikir sama lo berdua, kenapa bisa lo berdua sampe berantem kaya gini cuma merebutin cewek macem dia!" keluhnya lagi.


"Lo kalau gak tau masalahnya gak usah sok tau!" ujar Farhan yang geram melihat tingkah Gilang yang terus menyalahkan Gita.


"Nah!" sahut Dimas menyetujui omongan Farhan.


Gita mencoba untuk mengumpulkan keberaniannya agar bisa membantah semua omongan Gilang, karena pembaca setia di sini ingin Gita menjadi tegas, dan ini Gita ingin mencobanya.


"Gue tanya sekarang sama lo, lo pernah gak mikir gimana perasaan Kiara kalau tau lo jalan sama Dimas di belakang dia? Lo berdua kan temenan, seharusnya lo pikirin itu!" tanya Gilang pada Gita.


Sebelum menjawab pertanyaan Gilang, Gita mengambil napasnya untuk menghilangkan nyawa eh maksudnya menghilangkan kegugupannya.


"Kak, sorry kalau gue kurang ajar sebelum sama lo. Tapi apa yang kak Farhan bilang itu bener, lo gak tau masalahnya apa, dan lo gak bisa nuduh gue begitu." ujar Gita masih dengan suara pelan tanpa ada emosi padahal sebenarnya dia sudah sangat emosi saat ini.


"Oh ternyata lo berani juga ngejawab pertanyaan gue, ternyata juga lo gak secupu yang gue kira karena cuma bisa diem aja kalau di bully sama orang! Cukup berani." sahut Gilang.


Gilang sebenernya cewek apa cowok sih!


"Sekarang gue yang tanya balik sama lo kak, apa Kiara punya hubungan sama kak Dimas sampai-sampai kak Dimas gak boleh pergi sama aku? atau kakak yang punya perasaan sama Kiara makanya kakak gak suka lihat dia sakit hati?" tanya Gita dan membuat Gilang terdiam sebentar.


Masih menjadi bahan tontonan dan perbincangan di sana, mereka semua tidak peduli akan hal itu. Kemana satpam di restoran mahal seperti ini kenapa tidak membubarkan mereka.


"Gue sama Kiara itu sepupuan, jelas gue gak terima ngelihat di sakit hati dan kecewa cuma karena hal kaya gini!" akui Gilang dan membuat ketiganya melongo tak percaya dengan fakta itu.


"Lo seriusan sepupuan sama Kiara? Kenapa lo gak pernah cerita sama kita?" tanya Dimas.


Gilang tertawa, "Kenapa, lo kaget? gue sengaja gak cerita karena emang menurut gue gak penting. Sekarang lo udah tau, dan lo juga tau alesan gue kenapa sampe semarah ini sama lo!"


"Kak tapi di sini kak Dimas sama Kiara belum punya hubungan apapun, dan aku gak di salahin atas bertengkar nya kak Dimas dengan kak Farhan." ujar Gita tidak terima.


"Tapi emang di sini lo yang salah, semua salah lo! Lo udah ngerusak pertemanan gue dan lo juga udah ngerusak hati sepupu gue!" bentak Gilang.


Farhan menggeleng, "Bukan, ini bukan salah Gita. Malah dia sebenernya cuma sebagai korban di sini, ini semua salah Dimas!" suara Farhan terdengar.


Dimas menatap Farhan tajam, sedangkan Gita dan Gilang menatap Farhan bingung, maksud dari kata korban itu apa.


"Dimas yang gak bisa tegas harus memilih siapa, Kiara dan Gita yang menjadi korban ke brengsekannya!" ujar Farhan dan membuat Dimas bernapas lega karena Farhan tidak membongkar semuanya di sini.


Loh gimana sih, waktu bilang sama Gita gak apa-apa kalau kebongkar sekarang malah berubah lagi. Ngaco emang!


"Gue peringatin sama lo Dim, kalau sampe gue lihat Kiara nangis gara-gara lo, lihat apa yang bakal gue lakuin ke Gita karena udah buat semuanya jadi begini!" kekeuh Gilang tetap menyalahkan Gita.


Gita takut dengan ancaman itu, apa ia yang harus melepaskan Dimas untuk Kiara? Tapi statusnya bukan mainan, ini sudah urusan langsung dengan Tuhan.


"Gue gak akan biarin lo nyakitin Gita!" desis Dimas tak suka di ancam.


Gilang tertawa, "lo lihat aja nanti, ancaman gue gak main-main dan buat lo siap-siap gak punya temen lagi di sekolah!" ujar Gilang langsung pergi begitu saja.


Farhan yang masih di sana melihat wajah Gita sedikit pucat karena mendengar ancaman tersebut.


"Lo gak usah takut, gue akan ngejagain lo selama yang gue bisa!" ujar Farhan sambil terus menatap Gita.


Gita mengangguk, "Iya kak, makasih banyak." hanya itu yang bisa Gita katakan.


Dimas yang mendengar itu langsung tidak suka, apa-apaan yang suaminya siapa yang mau jagain siapa.


"Gak perlu, Gita ada gue yang jaga selama 24 jam!" ujar Dimas tanpa sadar.


Gita langsung menatap Dimas seakan memberitahu kalau tadi dia keceplosan bicara, Gita takut Farhan akan curiga.


"Lo yakin bisa jaga dia selama 24 jam, emang lo siapanya Gita?" pancing Farhan.


Lagi-lagi Gita di buat pusing dengan keributan ini.


"Suaminya, dan lo udah tau itu!" geram Dimas pada akhirnya.


Gita yang mendengar penuturan Dimas barusan kaget, jadi selama ini Farhan sudah tau statusnya lalu kenapa Farhan seakan berusah mendekatinya. Maksud dan tujuannya apa, astaga Gita pusing.


"Lo..lo udah tau kak?" tanya Gita terbata.


Farhan mengangguk santai tidak merasa bersalah sama sekali, karena ini memang bukan salahnya kan?


"Terus maksud kak Farhan apa selama ini yang seakan-akan lagi mau dekatin aku, padahal kakak tau kalau status aku itu istri dari sahabat kakak!" marah Gita tidak terima di permainkan seperti itu.


Bukan.. Bukan karena Gita mulai suka dengan Farhan, lebih tepatnya Gita kecewa dengan semua sandiwara ini.


"Gue cuma mau ngelindungin lo dari manusia brengsek kaya dia, gue rela ngelanjutin pernikahan ini Git. Lo cewek baik, gak seharusnya lo tanggung ini semua." jelas Farhan.


Gita menggeleng tanpa di sadari air matanya keluar dari pelupuk mata, "Gue kecewa sama lo kak, lo gak bisa bilang kak Dimas brengsek kalau ternyata lo juga brengsek kak!"


Farhan mencoba meraih tangan Gita tetapi tidak bisa karena Gita menolaknya, "Mending lo pergi dari sini, lo buat Gita nangis. Lo brengsek Han!" marah Dimas dan mengusir Farhan.


"Lo yang brengsek!" sahut Farhan tak terima di bilang seperti itu.


Gita mengangkat tangannya di udara, "Cukup, udah cukup buat pertengkaran malam ini. Gue udah capek, gue muak sama semuanya!" ujarnya langsung pergi keluar dari sana dengan air mata yang terus mengalir.


Dimas dan Farhan segera mengejar Gita, tetapi sayang Gita langsung masuk ke dalam taksi yang sedang berada di sana, untung saja taksi itu kosong.


Bersambung.....


JANGAN LUPA YA FOLLOW INSTAGRAM AKU : maulidyapu