My Husband Badboy

My Husband Badboy
Bag 19



Dimas sudah memberhentikan mobilnya diperempatan sekolah lebih tepatnya disamping sekolahnya. Dimas memberi syarat agar Gita turun disini. ia tak mungkin menurunkan Gita disekolah,Dimas belum siap. Mengapa Gita menyetujuinya karena ia tak mempermasalahkan itu, menurutnya jalan menuju sekolahnya hanya dekat jadi ia gak takut kecapean. lalu Terry? ia tak mendengar syarat itu karena Dimas memberitahukan ketika mereka sudah jalan menuju sekolah. Padahal dulu Dimas tak masalah menurunkan Gita di sekolah,mengapa sekarang begini? itulah yang dari tadi ada diotak Gita.


"kalo ada apa-apa langsung kabarin gue" ucap Dimas sebelum Gita keluar dari mobilnya sambil mindik-mindik agar tak ada yang melihatnya.


Gita mengangguk lalu tersenyum,sebelum itu ia mengambil tangan kanan Dimas dan mencium punggung tangannya.


"kak Dimas belajar yang bener jangan bolos pelajaran,aku keluar dulu" ucap Gita lalu keluar dari mobil Dimas.


Dimas hanya tersenyum kecut. Dimas merasakan hal aneh jika bersama Gita namun Dimas belum bisa terima Gita sepenuhnya. Gita bukanlah gadis impian Dimas. Tetapi Tuhan berkehendak lain. Gitalah yang sekarang menjadi istrinya.


Dimas melajukan mobilnya kembali menuju gerbang sekolah, sebenernya ia khawatir dengan Gita. lebih tepatnya dengan calon anaknya. Tetapi ego Dimas lebih besar. Saat Dimas turun dari mobilnya seperti biasa banyak suara-suara aneh yang menggodanya. Dimas tak ambil pusing, ia terus melangkah menuju kelasnya.


****


Didalam kelas.


Saat ini *** ( Kegiatan Belajar Mengajar) sedang berlangsung,tetapi entah mengapa perut Gita mendadak tidak enak. Ia tau ini pasti efek kehamilannya. Maka dari itu ia berusaha mungkin menutupinya. Ia juga belum siap jika mereka semua tau kebenarannya.


Gita mengangguk tangannya "pak saya izin ketoilet" Guru yang sedangkan mengajar hanya mengangguk.


Gita melangkah keluar kelar dan menuju toilet. Gita memuntahkan isi perutnya. Setelah dirasa cukup ia mencuci mulutnya dan melangkah kembali ke kelas,tapi sayang jalannya terganggu. Ia sudah di dorong kembali kedalam oleh seseorang. Dan pintu toilet dikunci dari dalam.


ah kenapa sih ob tidak mencabut aja kuncinya batin Gita yang panik.


"udah dapet apa aja lo pacaran sama kak Dimas" bentak teman satu angkatannya yang Gita tidak tau namanya,ia hanya melihat bordiran kelas yang ada diseragam perempuan itu sama dengan dirinya.


"jawab!" bentak Tiara. yang Gita ketahui juga dari seragam gadis itu.


"maksud lo?" jawab Gita menepis rasa takutnya. sekali-sekali ia harus melawan.


"gue tau lo pacaran sama kak Dimas cuma mau morotin dia doang kan! jadi gue tanya sama lo udah dapet apa dari dia" tanya Tiara lagi.


"hah? morotin? gue bukan cewek modelan kaya lo kali" sahut Gita yang sebenarnya takut.


Tiara geram akan jawaban dari Gita yang biasanya tidak seperti ini.


"kurang ajar ya lo! udah berani ya lo sekarang mentang-mentang pacaran sama kak Dimas" bentak Tiara.


"sorry bukan cuma sekedar pacar,tapi istri" pancing Gita. pasti Tiara akan menganggapnya hanya sebuah lelucon.


"hahahaha mana mungkin kak Dimas nikahin Lo,pacaran sama lo aja dia kaya terpaksa gitu,mungkin lo cuma bakal jadi mainan dia kalo malem,jadi gausah terlalu mimpi" Tiara tertawa meremehkan. Benar kan kata Gita,dia tidak akan percaya. Yaiyalah Gita aja masih gak percaya apalagi orang lain.


"gue peringatin sama lo! cepet deh minta kak Dimas mutusin Lo sebelum gue bakal ngelabrak lo lagi tapi bukan dengan cara seperti ini,cara yang gak akan mungkin bisa lo lupain" peringatan Tiara.


"kenapa harus gue yang minta putus? lagian apa urusannya juga sama lo,kalo lo mau sama kak Dimas mending sabar deh nungguin dia putus sama gue meskipun itu gak akan terjadi" ucap Gita lalu melangkah ingin keluar. Tetapi rambutnya malah ditarik oleh Tiara dan membuar Gita sedikit meringis.


"awsss"ringis Gita keluar padahal dari tadi ia sudah menahannya.


"ini balesan buat lo karena udah berani sama gue,gue bakal bikin lebih dari ini kalo sampe lo gak secepatnya mutusin kak Dimas" ucap Tiara sambil melepaskan tangannya dari rambut Gita dan melangkah keluar.


kak Dimas


dimana? gue didepan kelas lo,tapi kayanya lo gak ada dikelas


Gita mempercepat langkahnya menuju kelas,bisa ngamuk Dimas kalo menunggu lama. Gita bisa melihat benar disana ada Dimas sedang berdiri bersender dikoridor.


"dari mana?" to the point Dimas saat sudah melihat Gita.


"toilet,tadi perutnya gak enak"


"mau pulang?"


Gita menggeleng "gak,setelah istirahat ada ulangan"


Dimas mengangguk lalu meninggalkan Gita begitu saja tanpa sepatah katapun. Gita hanya memajukan bibirnya kedepan tanda kesal lalu masuk kedalam kelas dan mengikuti pelajaran kembali. Sedang mencoba kembali fokus pada apa yang sedang diajarkan ponselnya bergetar lagi segera ia mengambil ponselnya pelan-pelan agar tidak ketahuan guru yang mengajar.


kak Dimas


gausah kesel gitu,ntr istirahat gausah ke kantin. gue anterin makan kekelas. mau makan apa?


Gita segera mengetik balasannya


Gita Putri


soto aja


Dan Gita kembali kesal karena pesannya hanya dibaca oleh Dimas.


dasar suami nyebelin batin Gita.


*****


Bel istirahat sudah berbunyi. Gita masih diam dikelas menunggu Dimas datang membawanya makanan,padahal perutnya sudah sangat lapar. entah mengapa sekarang ia jadi gampang lapar. atau karena sekarang ada manusia lagi yang sedang makan melalui dirinya.


Sambil menunggu Dimas,Gita mengeluarkan bukunya untuk belajar yang nanti setelah istirahat akan diadakan ulangan harian. Sedang asik belajar tiba-tiba ada seseorang yang menaruh kresek berisi makanan yang Gita ketahui itu soto karena aromanya membuat Gita mendongkak.


matanya bertemu dengan mata tajam Dimas. Gita tersenyum kikuk saat ditatap seperti itu oleh sang suami.


"makan,abis itu minum vitaminnya,gue balik ke kantin dulu" ucap Dimas.


"Kakak gak mau temenin aku makan disini?" ujar Gita dengan berani karena di kelas cuma ada dirinya saat ini. Eh berdua dengan Dimas.


"Engga, gue mau balik lagi ke kantin. Lo makan aja sendiri gausah manja." putus Dimas lalu melangkah menuju kantin.


Rasanya ingin sekali ia mengumpati laki-laki itu tetapi ia ingat ia sedang hamil,dan seperti yang ia baca disebuah artikel kalau sedang hamil tidak boleh berucap sembarangan. Dan untuk saat ini ia hanya bisa menahan umpatan itu untuk suami terlaknatnya.


Dari pada kesal dengan Dimas, mending ia makan saja. Lagian perutnya juga udah sangat lapar. mau marah juga orangnya gak ada. Lihat saja nanti dirumah,gak bakal Gita kasih jatah. Jatah makan maksudnya. hahaha