My Husband Badboy

My Husband Badboy
BAB 35



Di perjalanan menuju rumah Kiara. Dimas tidak lepas dari senyumnya entah apa yang buatnya bahagia saat ini. Ah ya pasti Kiara lah yang buat nya senyum-senyum pagi ini. Siapa lagi kalau bukan perempuan itu. Saat sudah sampai depan gerbang rumah Kiara, Dimas segera mengambil ponselnya untuk menghubungi Kiara memberi tahu kalau ia sudah di depan.


Tak lama pemilik nama lengkap Kiara Hanum Wijaya itu keluar dengan senyum merekah. Rasanya ada kebahagiaan di hatinya. Atau memang Kiara sudah mulai jatuh ke pesona Dimas?


"Pagi cantik." sapa Dimas.


"Pagi juga kakak ganteng."  sahut Kiara.


Dimas melirik jam yang melingkar di tangannya, waktu bel sebentar lagi ia harus buru-buru menuju sekolah, sebelum pintu gerbang di tutup.


"Ayo naik, sebentar lagi mau bel cantik. Nanti kita telat." ajak Dimas.


Kiara mengangguk lalu berjalan ke arah motor Dimas dengan senyum yang tak pudar sedikit pun. Dimas membantu Kiara untuk naik ke atas motornya.


Di perjalanan tidak ada percakapan sama sekali, hanya ada saling pandang beberapa detik lewat spion lalu senyum-senyum. Entahlah apa yang mereka rasakan di atas penderitaan seorang Gita yang sedang di rumah sakit.


Sampai di sekolah mereka langsung menuju kelas, dengan Dimas yang mengantarkan Kiara lebih dulu ke kelasnya. Hal itu tak luput dari pengelihatan warga sekolah. Ada yang memuji ada juga yang nyinyir.


Dimas menaruh tasnya di meja membuat Gilang dan Farhan menyerengit kaget. Karena tadi Gilang menghubunginya dan katanya tidak masuk sekolah hari ini.


"Lah lo ngapain?" pertanyaan bodoh dari Gilang.


"Lah sekolah lah bloon, emang ngapain lagi di sini?" sahut Dimas.


"Tadi kata lo ada urusan anjirr. Trus ngapa lo ada di sini sekarang?"


"Udah sih biarin, namanya juga sekolah punya dia ya bebas lah mau sekolah apa engga." nimbrung Farhan.


"Urusan gue lebih penting di sini kayanya dari pada tadi." jawab Dimas dengan senyuman membuat Farhan dan Gilang bergidik ngeri.


Tak lama guru pengajar datang dan mereka mulai pembelajaran hari ini.


****


Di rumah sakit.


Saat ini Gita tengah di landa ke bosanan karena hanya menonton televisi. Gita meraih ponselnya yang sejak kejadian tidak ia sentuh sama sekali. Ponselnya memang di kembalian Yura saat itu lalu perempuan itu kabur entah kemana. Gita jadi memikirkan lagi nasib anaknya Yura sekarang. Bayi yang tidak berdosa.


Gita membuka ponselnya ternyata banyak chat dari Kiara di sana. Dan ada yang paling terbaru sekitar 20 menit lalu. Gita langsung membuka chat tersebut.


"Lo dimana Git? Kok tumben belum datang" isi pesan Kiara.


"Lo gak masuk ya hari ini? Kenapa? Lo sakit? Atau lagi ada urusan?" lanjutnya.


Gita segera mengetik balasan dari pesan itu.


"Iya gue lagi gak enak badan Ra, titip absen ya ke Wita." balas Gita.


Tak lama ponselnya berdering, ada panggilan video call. Gita melihat jam seharusnya jam segini pelajaran pertama sudah di mulai lalu mengapa Kiara bisa menghubungi nya di jam segini.


Ah mungkin jam kosong pikir Gita.


Gita segera menjawab panggilan itu.


"Ha-" Ucapan Gita terpotong.


"Lo masuk rumah sakit? Katanya cuma gak enak badan. Lo di rumah sakit mana? Biar gue ke sana nanti pulang sekolah Git."


Gita merutuki dirinya karena lupa sekarang berada di tempat tidur rumah sakit dan otomasi Kiara menyadari itu. Lalu Gita harus jawab apa dong kalau kaya gini.


"Hah engga usah di jenguk Ra, gue gak papa kok."


"Gak papa gimana? Lo sampe masuk rumah sakit berarti sakit lo serius bukan cuma sekedar gak enak badan. Cepet lo di rumah sakit mana?"


Ada kesenangan di hati Gita karena baru kali ini ada temannya yang peduli dengan dirinya.


"Gita lo masih denger gue kan? Sekarang lo kirimin alamatnya biar nanti pulang sekolah gue ke sana sama kak Dimas."


Ucapan akhir Kiara membuat hati Gita sakit. Rasanya ingin sekali bilang kepada Kiara, kalau Dimas udah tau rumah sakit yang saat ini Gita tempat ini tapi apa daya.


"iya iya sabar nanti gue kirim, udah sana lo belajar lagi biar pinter. Gue tutup dulu ya." sebelum Kiara menjawab Gita sudah lebih dulu mematikan sambungan itu.


Gita menghela nafasnya, apa ia harus mengirimi alamat rumah sakitnya ke Kiara. Apa Dimas tidak marah kalau Gita melakukan itu. Apalagi di sini ada ibu nya, biar bagaimanapun Gita tidak ingin Dimas jelek di mata ibunya.


Gita tidak ingin memberikan alamat itu pada Kiara, tetapi ponselnya terus berbunyi. Kiara spam chat agar Gita segera mengirim alamat rumah sakitnya. Dengan terpaksa Gita mengetik sesuatu di ponselnya dan mengirim langsung ke Kiara. Untuk masalah Dimas nanti, biarlah Gita yang menghadapinya.


*****


Jam pulang sekolah sudah sekitar 10 menit lagi. Tetapi Dimas sudah tidak sabar akan waktu itu yang nantinya dimana akan membawanya ke sebuah rumah mewah dan akan di kenalkan oleh orang tua Kiara. Ah membayangkan saja rasanya sudah bikin senang.


Gilang yang melihat Dimas senyum-senyum sendiri akhirnya menepuk pundaknya. "Lo kenapa senyum senyum gak jelas terus dari tadi?" tanyanya sedikit ngeri.


Dimas yang merasa terganggu langsung membuang nafasnya kasar, "kepo amat si lo." jawabnya sengit.


"Nanti pulang jadi kan kita ke rumah Kiara?" tanya Farhan pada Gilang dan Dimas.


Dimas menoleh ke arah Farhan lalu menyerengitkan dahi tanda ia bingung apa maksud pertanyaan Farhan dengan kata "kita"?


"Lo juga di undang kan Dim?" kali ini Gilang yang bertanya.


Dimas semakin bingung, "maksudnya kita? Lo berdua juga ikut ke rumah Kiara? Ngapain?" tanya Dimas heran.


"Iya, Kiara yang ngajak kita." jawab Farhan santai.


"Berarti bukan gue doang dong yang mau di kenalin ke orang tuanya?" tanya Dimas sedikit kecewa mendengar kalau Farhan dan Gilang pun ikut dengannya.


"Lah, mau di kenalin sama siapa? Di rumahnya cuma ada abangnya. Orang tuanya masih belum ke Indonesia. Emangnya lo gak tau?" ujar Gilang.


Semakin bingung Dimas, mengapa Gilang yang lebih tau tentang Kiara dari pada dirinya yang sejak awal Kiara masuk sekolah selalu bersamanya bukan dengan Gilang. Lalu kapan Gilang dan Kiara bertukar cerita? Apa keduanya ada hubungan? Atau mereka saudaraan.


Melihat Dimas yang hanya diam membuat Farhan yang menepuk pundak Dimas kali ini, "lo kenapa jadi diem? Jadi lo ikut gak ke rumahnya adek kelas gemess lo itu?" tanya Farhan.


Dimas hanya mengangguk, padahal beberapa menit lalu ia sudah memikirkan hal yang manis yang akan ia lakukan di depan orang tua Kiara nanti. Memperkenalkan diri sebagai calon pacar Kiara. Ah yass apa Dimas lupa dengan statusnya sebagai suami seorang Gita. Tolong para readers ingatkan Dimas....