My Husband Badboy

My Husband Badboy
BAB 40



Gilang dan Farhan sudah berada di rumah Dimas saat ini. Tidak seperti biasanya, karena di meja depan mereka hanya ada minuman kaleng saja. Biasanya kalau mereka kesini selalu banyak makanan di depannya tetapi hari ini tidak ada karena tidak ada bi Asih yang menyiapkan. Minuman kaleng itupun mereka ambil sendiri ke kulkas Dimas.


"Emangnya bi Asih kemana sih Dim? Kok gak balik-balik." tanya Farhan.


Dimas dan Gilang sedang bermain PlayStation sedangkan Farhan hanya duduk menonton mereka berdua.


"Lagi ada perlu sebentar katanya." jawab Dimas di sela permainannya.


Terdengar helaan nafas kecewa dari Farhan, "kalau tau gak ada bi Asih mah tadi gue gak usah ke sini." keluhnya.


"Jadi lo ke sini buat ngapelin bi Asih?" tanya Dimas sambil menatap Farhan dengan mata yang memicing.


Gilang sudah tertawa mendengar pertanyaan dari Dimas.


Farhan menggeleng, "bukan gitu bego, maksud gue kalau gak ada bi Asih gini kan kita main jadi kelaparan. Gak ada yang buatin kita makanan."


"Jadi lo ke sini cuma mau numpang makan doang? Emangnya di rumah lo gak ada makanan sampe numpang makan di sini?" kali ini Gilang yang bertanya dan membuat Dimas tertawa.


Memang Farhan itu orangnya gampang lapar,  padahal sebelum mereka ke sini Farhan sudah makan lebih dulu di rumahnya. Yang di tanyakan oleh Gilang itu hanya candaan mana mungkin di rumah Farhan tidak ada makanan. Ibu nya Farhan itu hobinya memasak dan masakannya selalu enak dan lezat makanya keluarganya memutuskan membuka restoran.


"Gue laper Gilang!" seru Farhan pada sahabatnya itu.


"Tinggal pesen online apa susahnya sih Farhan, yaAllah." sahut Gilang gregetan.


Farhan mengambil ponselnya di atas meja, menerima saran dari Gilang.


"Tumben lo pinter Lang." sahut Farhan.


Baru ingin mencari makanan apa yang enak untuk di makan saat ini, ada sebuah notifikasi masuk ke dalam ponselnya. Pesan dari Kiara, dengan cepat ia buka pesan itu. Ternyata Kiara mengajaknya makan malam nanti di rumahnya dan perempuan itu menyuruhnya agar mengajak Gilang juga.


"Gak jadi pesen makan deh." ujar Farhan pada keduanya.


Keduanya menoleh ke arah Farhan yang sedang tersenyum ke arah ponselnya membuat keduanya mendelik ngeri.


"Kenapa lo senyum-senyum gitu? Barusan aja kaya cewek galau karena laper." ujar Gilang.


"Lang, cabut yuk kita pulang dulu ganti baju." ajak Farhan dan membuat keduanya kembali melihat ke arah Farhan.


Dimas melirik keduanya bergantian lalu bergidik sendiri. Membayangkan ucapan Farhan barusan, apakah kedua sahabatnya ini memiliki hubungan lebih, pikirnya.


"Mau ngapain lo?" tanya Gilang.


Farhan memberikan ponselnya pada Gilang agar Gilang membaca sendiri pesan dari Kiara. Kedua mata Gilang langsung berbinar, pasti makanan di sana enak-enak semua pikirnya. Padahal sama seperti Farhan, Gilang memiliki ibu yang hobi memasak tapi tidak sampai membuka restoran sih hanya di konsumsi oleh anggota keluarga saja.


Gilang bangkit dan Farhan pun ikut bangkit, hal itu makin membuat Dimas takut dan penasaran.


Farhan dan Gilang yang sedang merapikan baju dan barangnya pun menoleh ke arah Dimas dengan tatapan aneh. Maksudnya apa coba bertanya seperti itu.


"Tuh kan lo berdua diem aja, berarti bener ya, kalian punya hubungan?" tanya Dimas sekali lagi.


Farhan dan Gilang bukannya menjawab malah tertawa terbahak.


"Dia itu ngiri Lang, karena kita gak ajak makanya nanyanya gak jelas." ujar Farhan pada Gilang.


Gilang mengangguk, "bener banget tuh Han, biarlah sekali-kali kita gak ajak. Dia aja kalau jalan sama Kiara berdua doang gak ngajak kita!" sahut Gilang.


Dimas yang bingung dengan omongan keduanya hanya bisa menatap keduanya bergantian.


"Udah ayo buruan Lang, waktu kita semakin menipis nih." ujar Farhan.


Gilang mengangguk, "Dim, gue balik dulu ya. Ada acara yang gak bisa gue tinggal malem ini." katanya.


"Sama gue juga Dim, nyokap bokap lo gak ada kan? Nanti malem kalo acaranya udah selesai gue ke sini lagi sama Gilang, nginep di rumah lo." sahut Farhan.


Belum sempat menjawab kedua temannya sudah hilang di balik pintu, sudah malas juga dirinya mengejar keduanya jadi biarinlah terserah mereka mau bagaimana. Dimas melirik jam di dinding ternyata sudah pukul 6. Segera Dimas melangkah naik ke kamarnya untuk bersiap-siap juga.


Dimas segera memilih baju terbaik, ia akan mengajak Kiara ke restoran mewah dan romantis. Tetapi ada perasaan mengganjal di hati Dimas, entah apa itu. Apa karena Gita? Ah yaampun.


"Sebenernya perasaan ini buat siapa sih? Gue yang punya perasaan aja bingung!" keluhnya pada dirinya sendiri.


"Ah ya, gue kan nikahin Gita cuma karena Gita tau rahasia besar gue. Bukan atas dasar cinta, jadi mungkin perasaan ini memang buat Kiara. Soalnya kalau gue deket Kiara, jantung gue suka berdebar. Tapi hubungan gue sama Gita itu bukan suatu yang main-main. Gue udah diikat dengan janji pernikahan."


"Gue bingung harus bagaimana kalau begini terus, pertama gue dosa karena nyakitin Gita dengan cara seperti ini. Kedua gue gak mungkin cerai Gita karena mamah sama papah sayang banget sama tuh anak. Terus mau di bawa kemana hubungan gue sama Kiara kalau gini."


Dimas terus saja bermonolog sendiri di depan kaca di kamarnya. Jujur saat ini hatinya sedang bingung, apakah ia harus berlanjut menyakiti Gita seperti ini atau menyakiti Kiara dengan memberitahu status dirinya yang asli. Ah rasanya Dimas belum siap dengan semua itu, tapi bagaimana kalau Kiara nantinya tau? Tapi seperti selama tidak ada yang keceplosan kaya kemarin rahasianya dengan Gita tetap aman. Semoga saja masih lama rahasia ini aman, biar Dimas mikirin dulu caranya bagaimana agar Kiara ataupun kedua sahabatnya tidak kecewa saat mereka tau hal ini.


Dimas sudah rapi dengan pakaian pilihannya, yaitu kaos polos berwarna hitam di padukan dengan flanel berwarna merah dan celana jeans hitam. Katanya sih kalau cowok pakai baju warna hitam itu akan menambah ke tampannya entah berapa ratus lipat... Katanya yaaaa


"Pak, Dimas mau pergi dulu sebentar. Bapak tolong jagain rumah ya." ujar Dimas pada pak Harto yang saat ini sedang duduk di teras rumah.


Pak Harto yang kaget dengan suara Dimas langsung berdiri, "aden mau ke rumah sakit? Biar bapak antar." ujarnya.


Dimas menggeleng, "engga pak, Dimas ada perlu sebentar sama temen."


"Oh gitu, barusan nyonya telepon den. Nanyain aden kemana soalnya nyonya telepon aden gak di angkat-angkat." pak Harto memberi tahu.


Dimas segera mengecek ponselnya dan ternyata benar mamahnya menghubunginya, "aduh iya ya, yaudah biarin nanti Dimas yang telepon balik mamah. Kalau gitu Dimas berangkat dulu ya, titip rumah ya kalau ada apa-apa telepon Dimas aja." ucapnya. Yakin diangkat memang kalau telepon Dimas? Bukannya kejadian Gita karena Dimas tidak mengangkat panggilan itu karena sedang bersama dengan Kiara. Dan sekarang Dimas ingin bertemu Kiara, apakah hal itu akan terulang! Seakan kalau sudah bersama Kiara, Dimas akan lupa dengan segalanya.


Setelah mendengar jawaban dari pak Harto, Dimas melangkah menuju mobilnya. Sebelum melajukan mobilnya Dimas memberitahu Kiara kalau dirinya sedang di jalan menuju rumahnya dengan mengirim pesan pada perempuan itu.