My Husband Badboy

My Husband Badboy
BAB 44



Pagi yang cerah untuk semua yang berbahagia pagi ini. Apakah pasangan suami istri ini juga menyebutnya pagi yang cerah karena sedang berbahagia? Berbahagia karena apa? Bukankah semalam keduanya menyalurkan emosi satu sama lain? Dan membuat keduanya sakit dalam pembahasan itu.


Mungkin yang bahagia pagi ini adalah Ratih, ibunda Gita. Sungguh hati Ratih menghangat saat pertama kali ia membuka matanya dan melihat Gita dan Dimas tidur satu ranjang di sana. Dengan Dimas yang terus menggenggam tangan Gita dan menaruhnya di dada sang lelaki.


"Apakah hubungan keduanya membaik?" batin Ratih.


Ratih sengaja tidak membangunkan keduanya karena sekarang masih pukul 6 pagi. Saat Ratih ingin keluar kamar, untuk menghirup udara segar sebentar, tiba-tiba pintu sudah di buka lebih dulu oleh dua orang tua yaitu sang besan. Bisa di pastikan kalau Terry dan Damian langsung ke rumah sakit tanpa pulang dulu ke rumahnya.


"Pagi bu Ratih, mau kemana?" sapa Terry sambil melakukan cepaka cepiki ala ibu-ibu.


"Mau keluar sebentar bu, hirup udara segar. Mumpung Gita belum bangun dan ada yang jagain." ujar Ratih.


Damian masuk lebih dulu mendekat ke arah ranjang, dan matanya melotot sempurna melihat pemandangan yang ada di depannya. Hatinya pun sama seperti Ratih, menghangat. Melihat putranya seperti sangat menyayangi Gita.


"Mah sini buruan, lihat dulu. Pasti kamu kaget dan seneng." seru Damian memanggil sang istri.


Ratih yang tau maksud dari Damian langsung tersenyum dan kembali mengekor Terry menuju tempat tidur kedua anaknya.


"Yaampun pah, itu beneran Gita sama Dimas?" tanya Terry tak percaya.


Damian mengangguk.


"Semoga mereka selalu bahagia ya pah, di sini keliatan banget kalau Dimas sayang sama Gita." ujar Terry sedih dan terharu menjadi satu.


"Aamiin!" sahut Damian dan Ratih bersamaan.


Masih dengan posisi yang sama, mereka bertiga terus memperhatikan kedua anak yang sedang tidur di atas kasur rumah sakit. Tak lama salah satu pasang mata terbuka, yaitu Gita. Gita mengusap matanya, lalu melihat ketiga orangtua nya berada di depan ranjang. Gita tersenyum pada ketiga.


"Pagi semua, apa udah siang ya? Kok mamah papah udah di sini?" tanya Gita yang belum sadar kalau ada Dimas di sampingnya. Melihat semua yang ada di sana hanya diam sambil tersenyum, Gita mulai sadar dengan kejadian semalam. Ah ya, semalem Dimas tidur di sampingnya. Menoleh ke arah samping dan benar, di sana masih ada Dimas yang setia menggenggam tangannya.


Semalam dengan sadar, Gita membiarkan Dimas mengambil separuh tempat tidurnya di rumah sakit. Membiarkan Dimas tidur bersamanya, toh kalau Gita tolak bukannya akan menjadi dosa? Sebelum benar-benar tertidur, Gita mendengar ucapan Dimas pelan di telinganya.


"Gue sayang lo Gita." itulah ucapan terakhir mereka sebelum benar-benar memasukin alam bawah sadar. Gita tidak mau besar kepala mendengar ucapan itu, selagi Dimas masih selalu dekat Kiara. Bukankah itu hanya sebuah kata penenang, karena sebelumnya mereka sedikit tersulut emosi? Yah bisa di bilang begitu.


Gita menarik tangannya agar di lepaskan oleh Dimas, ia malu karena terus di perhatiin oleh ketiga orangtua nya. Kalau mereka melihat Dimas dan Gita seakan baik-baik saja begini, bagaimana dengan rencananya semalam. Pasti ketiganya tidak akan ada yang percaya.


Karena tidurnya di usik, Dimas juga ikut membuka matanya. Menunggu beberapa detik akhirnya penglihatannya sudah sempurna dan melihat ke arah sekitar ranjang. Tiga pasang mata orang dewasa sedang memperhatikan dirinya. Ah ya, Dimas juga ingat kalau sekarang ia sedang tidur bersama Gita.


Dengan cepat Dimas mendudukan dirinya, sambil mengusap mukanya. Lalu melihat ke arah Gita yang juga sudah membuka mata dan tersenyum ke arahnya. Di balas senyuman pula oleh Dimas.


"Uluh... uluh. Kaya penganten baru aja begitu, ini rumah sakit kali." goda Terry membuyarkan bayangan mereka semua yang ada di sini.


Damian terkikik mendengar ucapan sang istri. Bagaimana Damian tidak jatuh cinta terus menerus dengan Terry, kalau tingkah laku Terry saja selalu membuatnya bahagia dan selalu membuatnya tertawa seperti ini.


Dimas turun dari kasur lalu duduk di kursi samping tempat tidur. Pikirnya, sudah pasti di goda terus nih sama sang mamah.


"Gita masih sakit Dim, jangan di ajakin dulu." timpal Damian dan membuat Gita malu sedangkan Dimas melirik ayahnya dengan tatapan tajam.


Terry tekekeh begitu pula dengan Ratih.


"Gak usah malu gitu ah, gapapa kok kalau Gita udah kuat mah. Tapi kan semalem ada ibu Ratih di sini, emang gak ke berisikan bu?" goda lagi Terry.


"Ibu gak dengar apa-apa kok, serius deh." timpal Ratih ikut menggoda Gita dan Dimas.


"Ibu!" seru Dimas dan Gita bersamaan. Ketiga orangtua itu akhirnya tertawa keras, karena melihat wajah anak sudah merah karena malu campur kesal.


Belum sempat menggoda lagi, seorang perawat masuk untuk memberikan Gita sarapan. Setelah menaruh makanan di atas meja, perawat itu kembali keluar kamar.


"Hari ini kamu sudah bisa pulang kan sayang?" tanya Terry pada Gita.


Gita mengangguk.


"Iya bu, tapi nunggu dokter dulu. Periksa terakhir sebelum pulang, kalau udah baik semua baru Gita bisa pulang." jelas Ratih.


"Oh gitu, semoga semua baik ya. Biar kita bisa ngumpulnya di rumah jangan di rumah sakit kaya gini." ujar Terry.


"Aamiin, kalau gitu saya izin keluar dulu ya bu. Mau beli sarapan sekalian, ibu mau nitip sarapan? Pasti kan ibu belum sarapan, karena langsung ke rumah sakit." tawar Ratih.


Hati Terry menghangat, mendengar ucapan Ratih yang sangat perhatian juga pada dirinya. Dari awal melihat Gita, Terry langsung setuju kalau mereka menikah karena terlihat dari wajah Gita yang polos dan tingkah laku yang sopan padanya. Mendengar ucapan Ratih yang seperti itu, Terry bisa menyimpulkan kalau keluarga Gita memanglah orang yang baik. Walau sampai sekarang Terry belum tau bagaimana wajah ayahnya Gita.


"Mamah ikut aja sana sama bu Ratih, papah tunggu di sini. Sekalian beliin buat papah sama Dimas juga." seru Damian.


"Oke juga ide nya, ayo bu." ajak Terry.


"Gak saya aja yang beliin bu? Pasti ibu kan capek, baru sampe juga."


Terry menggeleng, "Kalau suami yang menyuruh, saya gak bisa nolak bu. Lagian saya gak terlalu capek kok setelah melihat ada adegan anak kita tadi."


Ratih akhirnya mengangguk, lalu izin keluar pada Gita dan Dimas. Tanpa ketiga orangtua itu sadar, ternyata Dimas sudah menyuapi sarapan untuk Gita. Awalnya Gita menolak karena malu, tapi dengan paksaan Dimas yang memang orang nya suka memaksa akhirnya Gita mau.


"Lah dia udah main suapin-suapinan aja bu." ujar Terry pada Ratih.


"Kenapa, iri? bilang papah sono minta di suapin juga." ujar Dimas ketus.


"Pah, mamah minta di suapin juga tuh!" teriak Dimas pada Damian.


"Iya nanti papah suapin, biar gak ngiri." balas Damian.


Terry tertawa mendengar ucapan anak dan suaminya.


"Pah, jagain anak-anak ya. Takut berbuat macem-macem lagi kaya semalem, kaya gak tau tempat aja." goda Terry, membuat Dimas mendengus kesal.


"Udah ibu, jangan di godain terus anaknya. Kasian mukanya udah pada merah tuh nanti keluar asap." ujar Ratih.


"Tau mamah, mau ngapain juga biarin sih. Udah halal ini." teriak Damian yang sudah fokus pada laptopnya mengerjakan pekerjaan kantornya.


Sebelum benar-benar keluar Terry kembali bersuara, "Bikin mamah cucu lagi ya, nanti kalo Gita sudah kuat." teriak Terry.


"Mamah.!" teriak ketiga nya bersamaan.


Ada-ada saja memang kelakuan Terry.