
Hari sudah mulai gelap karena waktu sudah menujukan pukul 18.00 dan ternyata Dimas lah yang lebih dulu sampai di rumah. Dimas emosi saat mengetahui kalau ternyata Gita belum pulang sampai jam segini.
"Kemana dulu itu anak, bisa-bisanya suami duluan yang sampe rumah. Mau jadi istri macam apa kalau kaya gini?" gerutu Dimas di dalam kamar sambil jalan bolak-balik tidak jelas.
Dimas mengambil ponselnya lalu menghubungi nomer Gita, tetapi tidak ada jawaban apapun dari istrinya itu. Lalu Dimas kembali menghubungi tetapi bukan Gita melainkan Farhan. Jawaban yang sama dari sang operator yaitu..
Nomer yang ada tuju sedang berada di luar jangkauan, cobalah beberapa saat lagi.
Emosi Dimas semakin bertambah, kemana tuh manusia dua kenapa gak bisa di hubungi sih gerutu Dimas.
"Apa Farhan bener ngelakuin hal yang kaya di bilang tadi, brengsek tuh anak!" ujar Dimas saat mengingat apa yang Farhan bilang waktu di parkiran sekolah tadi siang.
"Gue harus cari ke hotel biasa, siapa tau mereka ada di sana!" Dimas menyambar hoodie yang tergeletak di atas tempat tidurnya dan juga mengambil kunci mobilnya di atas meja belajar.
Belum sempat keluar kamar tiba-tiba pintu kamar sudah terbuka dan menampakkan seorang gadis yang masih berpakaian seragam sekolah dengan muka yang lemas. Melihat itu Dimas semakin emosi dan yakin bahwa Farhan tengah macam-macam pada istrinya.
"Mau pergi lagi kak?" tanya Gita dengan suara pelan dan berlalu begitu saja dari hadapan Dimas. Badannya sangat lemas, ia ingin segera mandi lalu tidur.
Dimas membalikan badannya memerhatikan apa saja yang akan Gita lakukan, "Jam segini lo baru pulang? dari mana aja sama si brengsek?" tanya Dimas marah karena tak dapat penjelasan apapun dari Gita.
Gita menatap Dimas jengah, "Kakak juga pasti belum lama sampe rumah kan? dan sekarang kakak mau pergi lagi pun aku gak larang!" ujar Gita.
"Gue tanya sama lo, lo abis ngapain aja sama si Farhan?" sarkas Dimas sambil melangkah maju mendekati Gita.
Selangkah Dimas maju selangkah pula Gita mundur.
"Aku gak ngapain-ngapain sama kak Farhan."
Dimas terus mengikis jarak hingga Gita tidak lagi dapat bergerak karena tubuhnya sudah menabrak tembok di belakang. Jujur, Gita takut melihat wajah Dimas.
Dimas menyentuh dagu Gita lalu mendongakkan wajahnya agar Gita bisa menatap mata Dimas. "Lo abis ke hotel sama dia? Sampe lo kelihatan kecapean kaya gini?hah!" bentak Dimas membuat Gita kaget dengan bentakan dan tuduhan itu.
Gita menggeleng, air matanya tiba-tiba turun begitu saja. Mendengar perkataan Dimas yang benar-benar tidak masuk akal pikirnya.
Gita menarik napasnya, "Gue sama sekali gak berpikir kalo lo bisa ngomong kaya tadi kak, gue emang cewek murahan karena hamil di luar nikah sama lo cuma karena gue butuh duit! Tapi gue bukan kaya lo yang gak tau status lo sekarang itu apa!" teriak Gita.
Sudah habis kesabaran Gita sekarang, tega sekali Dimas menuduhnya seperti itu. Karena saking kesalnya Gita mengubah nada bicaranya menggunakan lo-gue pada Dimas, dan itu pun membuat Dimas kaget bukan main karena Gita berani membentaknya dengan keras.
"Gue udah capek kak sebenarnya sama semua drama ini, kalau bisa dengan mudah gue udahin pasti gue udah pergi kak. Tapi gue gak mau jadi cewek egois, gue bertahan sampe sekarang itu bukan karena lo, tapi karena nyokap lo!" jelas Gita sambil terus menangis.
Dimas tertegun dengan perkataan Gita. Berarti selama ini Gita pun sama sepertinya tidak memiliki perasaan apapun di pernikahan ini. Ah Dimas kecewa dengan kenyataan ini, ia pikir Gita menyayanginya.
"Gue udah coba buat cinta atau sayang sama lo kak, tapi gak bisa karena gak alasan yang kuat buat gue ciptain rasa itu untuk lo."
Dimas terus terdiam tidak di beri kesempatan untuk berbicara oleh Gita.
"Jujur gue kecewa banget sama lo, kalo emang lo gak bisa bikin gue bahagia setidaknya lo gak usah bikin luka di hati gue kak. Gue udah pernah bilang sama lo, kalo gue rela kalo pada akhirnya milih Kiara." ujar Gita lagi.
Bukankah Gita seharusnya bisa tegas demi kebahagiaannya sendiri? Mau sampai kapan kalau ia hanya berjalan terus mengikuti Dimas yang tidak punya pendirian seperti sekarang.
Dimas memeluk Gita dengan erat, hatinya hancur mendengar semua perkataan Gita tadi. Ia benar-benar tidak rela kalau Gita pergi meninggalkannya, ia yakin rasa sayang dan cinta itu akan tumbuh nantinya. Dan mungkin mulai sekarang ia ingin memutuskan kalau ia memilih Gita bukan Kiara. Tetapi bagaimana caranya menjauhi Kiara pikir Dimas.
"Lepas kak!" teriak Gita sambil memberontak, tetapi sayang itu tidak berpengaruh sama sekali untuk membuat pelukan Dimas terlepas.
Dimas memanggut bibir Gita dengan cepat, dan itu membuat Gita kaget. Sambil kepalanya menoleh kesana kemari mencoba melepaskan ciuman itu tetapi tetap hasilnya nihil.
Dimas mengangkat tubuh Gita menuju kamar mandi tanpa melepaskan ciuman itu. Ciuman yang awalnya kasar sekarang berangsur lembut dan itu membuat Gita terbuai hingga tidak lagi mencoba untuk melepaskan diri.
Dimas menurunkan Gita tepat di bawah shower kamar mandinya, lalu melepaskan ciuman itu dan keduanya tampak sedang mengatur napas karena lamanya ciuman mereka.
"Mandi ya, soalnya kamu bau." goda Dimas sambil menutup hidungnya.
Gita yang melihat tingkah Dimas akhirnya terkekeh. Dulu Gita sempat berpikir kalau Dimas itu memiliki keprihatinan ganda, karena ya seperti ini tadi marah-marah gak jelas eh sekarang jadi baik.
"Mandi bareng sama aku ya, kita kan belum pernah mandi bareng." ujar Dimas membuat wajah Gita memerah karena malu.
Gita mengangguk.
Ini kewajiban lo sebagai seorang istri, kalo lo tolak sama aja lo nambahin dosa batin Gita meyakinkan dirinya sendiri kalau hal ini memang harus di lakukannya.
Tanpa aba-aba, Dimas langsung menyambar pakaian sekolah Gita dan membuka kancingnya satu persatu, Gita hanya bisa diam melihat kegiatan yang sedang Dimas lakukan, hingga keduanya polos tanpa sehelai benang pun yang melekat di tubuh.
Gita malu dengan kondisi seperti itu hingga tangannya terus menutupi bagian sensitifnya dan kegiatan itu membuat Dimas terkekeh karena wajah Gita sangat lucu.
"Gak perlu di tutupin gitu kali, aku juga udah pernah ngelihat semuanya kok." goda Dimas semakin membuat wajah Gita memerah.
Sebelum mandi, Dimas meminta izin untuk berhubungan suami istri lebih dulu pada Gita. Sampai Gita mengizinkan barulah Dimas melancarkan aksinya hingga kamar mandi di penuhi teriakan dari Gita ataupun Dimas karena sedang terbuai oleh kenikmatan.
Skip.
Setelah selesai melakukan ibadah suami istri itu, keduanya kembali berkutat dengan air untuk membersihkan diri mereka masing-masing. Tidak ada kemarahan di sana, dan hanya ada kemesraan.
"Makan malam di luar mau gak?" ajak Dimas saat keduanya sudah berada di luar kamar mandi dan sedang mencari pakaian di lemari.
"Makan di rumah aja ya, aku lelah banget kak." ujar Gita membuat Dimas sedikit kecewa tetapi akhirnya mengangguk.
Gita sudah menceritakan apa yang terjadi padanya saat pulang sekolah tadi, dan membuat Dimas merasa bersalah pada istrinya itu. Lagian kenapa Gita tidak langsung beritahu sejak masuk kamar. Ah memang ya Dimas tidak mau di salahkan.
Saat keduanya sudah rapi dan ingin turun ke bawah untuk makan malam tetapi terhenti karena pintu sudah di ketuk lebih dulu oleh seseorang. Dengan cepat Gita membuka pintu tersebut dan ternyata sang bibi.
"Ada apa bi? Ini Gita sama kak Dimas mau turun kok." ujar Gita.
Bersambung.....