My Husband Badboy

My Husband Badboy
BAB 64



Memiliki kehidupan yang rumit membuat siapapun akan mengeluh, sekalipun ia termasuk orang yang sangat sabar. Karena kesabaran seseorang itu ada batasnya.


Seperti Gita saat ini, selama ini hidupnya selalu di penuhi dengan masalah, umurnya yang masih belia harus menanggung semuanya. Seberat ini cobaan hidupnya, pasti siapapun tidak akan sanggup. Baru bahagia sebentar sudah ada lagi masalah yang muncul. Apa memang Gita di takdirkan untuk tidak bahagia?


Gita masih terus menangis di dalam taksi, membuat sang supir tergerak untuk bertanya. Karena terdengar dari tangisannya sangat pilu membuat sang supir ikut merasakan kesedihan itu.


"Maaf kalau saya lancang, neng kenapa?" tanya sang supir menyebut Gita dengan 'neng' karena di lihat dari wajahnya yang masih muda.


"Hiks..hiks.. cuma ada masalah kecil kok pak." jawab Gita sambil terisak. Gita memang tipe orang tidak suka bercerita, ia akan pendam sendiri.


Bukankah orang yang seperti itu yang lebih berbahaya? Bener gak sih..


"Ini mau bapak anter kemana neng?" tanya pak supir yang tidak mau bertanya lebih dalam lagi, takut di sangka tidak sopan.


Tetapi dalam hati pak supir sebenernya khawatir dengan keadaan Gita, karena melihat Gita seperti ia melihat sang anak yang menunggunya di rumah. Sepertinya umurnya sama dengan Gita.


"Ke perumahan The River pak," ujar Gita pelan sambil berusaha memberhentikan tangisannya.


Gita tidak mau ibu atau mamahnya khawatir kalau melihat Gita pulang tanpa Dimas dan menangis pula. Kasihan Dimas nanti di salahin.


"Baik neng, semoga masalahnya cepat selesai ya dan neng jangan sedih lagi. Bapak do'ain neng selalu bahagia." ujar pak supir.


Gita tersenyum getir, "Makasih banyak pak atas do'anya semoga semua juga berbalik ke bapak." sang supir menangguk.


Sepanjang perjalanan Gita hanya diam, memikirkan bagaimana jika besok dia bertemu dengan Kiara. Ia harus bilang apa pada gadis itu, gadis baik yang mau berteman dengannya. Ah rasanya sangat sulit.


Gita turun dari taksi setelah sampai di depan gerbang rumah dan membayar ongkos yang tertera tidak lupa juga melebihkan untuk sang supir baik itu.


Pak Harto membukakan gerbang untuk Gita, melihat wajah Gita yang memerah membuat pak Harto bertanya sekaligus khawatir dengan nona mudanya ini.


"Non Gita kenapa? bukannya tadi den Dimas jemput non." tanya pak Harto.


Gita tersenyum, "Gak papa kok pak, iya tapi biasa deh ada masalah kecil, bapak jangan bilang siapa-siapa ya." ujarnya.


Pak Harto mengangguk patuh, "Terus den Dimas nya kemana?"


"Paling sebentar lagi juga sampai pak." setelah mengatakan itu, suara klason mobil terdengar dari luar dan bisa di pastikan itu Dimas.


"Bapak bukain gerbangnya dulu ya non," pamit pak Harto dan di anggukin oleh Gita.


Gita masih tetap berdiri di dekat pos menunggu Dimas agar masuk ke dalam rumah bersama. Gita tidak mau egois, ini bukan kesalahan Dimas, pertemuan dengan Gilang dan Farhan tadi hanya sebuah kebetulan. Oleh karena itu, kejadian tadi pun bukan karena Dimas.


"Kamu kenapa pulang naik taksi, kamu baik-baik aja kan?" tanya Dimas panik.


Gita mengangguk, "Aku gak papa kak, tadi aku emosi aja makanya aku tinggalin kakak. Maaf ya." ujarnya lirih merasa bersalah karena pergi begitu saja.


Dimas mengusap pucuk kepala Gita, "Lain kali jangan kaya gitu ya, aku khawatir." ujarnya penuh perhatian.


Gita mengangguk lalu tersenyum hangat. Melihat kejadian itu, membuat pak Harto ikut tersenyum, Dimas tidak salah memilih Gita untuk menjadi istri. Karena kepribadiannya yang baik dan juga penyabar.


"Yaudah kita masuk, kamu juga harus bersih-bersih." ajak Dimas dan Gita mengangguk.


"Pak, aku sama kak Dimas masuk dulu ya." pamit Gita pada pak Harto.


"Iya non, bahagia selalu ya." entah jawaban macam apa ini, tetapi pak Harto selalu berdoa akan hal ini untuk pasangan di depannya.


Dimas menggandeng tangan Gita untuk masuk ke dalam rumah. Sesampainya di dalam rumah ia melihat Ratih dan Terry sedang menonton televisi.


"Assalamu'alaikum." ucap Gita dan Dimas bersamaan.


Ratih dan Terry otomatis menoleh ke arah suara itu, senyuman terbit dari kedua wanita paruh baya.


"Waalaikumsalam." jawab Terry dan Ratih bersamaan juga.


"Dari mana aja sih kalian, di tungguin buat makan malem tapi gak pulang-pulang." omel Terry.


Gita melirik ke arah Dimas lalu berbisik, "Emang kamu gak bilang ke mamah kalau kita mau di makan di luar?" tanya Gita berbisik.


Dimas menggeleng, dan membuat satu cubitan mendarat di perut Dimas.


"Awss sakit, kenapa di cubit." ringis Dimas sambil mengusap perut yang barusan di cubit oleh Gita.


"Di tanya kok malah bisik-bisik sama cubit-cubitan?" kali ini Ratih yang bersuara.


Gita menunduk, sedangkan Dimas menampilkan watados alias wajah tanpa dosanya.


"Aku sama Gita tadi makan di luar mah, biasa mau romantis-romantisan." sahut Dimas enteng.


Terry melempar bantal sofa ke arah Dimas, selalu saja anaknya membuat darahnya menaik hingga ke ubun-ubun.


"Yah toh bilang kalau mau pergi keluar, jadi kita gak nungguin kalian. Untung aja sekarang udah makan, kalau masih nungguin kalian udah pingsan kali." gerutu Terry.


"Yaudah, udah makan juga kan. Ngapain di perpanjang." sahut Dimas santai membuat Gita geram dengan jawaban Dimas dan kembali mencubit perut Dimas.


Ringisan kembali terdengar dari mulut Dimas, pedas itulah rasanya.


"Mah, ini sama aja KDRT gak sih? tolong laporin Gita kek, masa suami sendiri di cubit-cubit." adu Dimas pada Terry.


Sedangkan Terry malah mengangkat jempolnya ke udara sambil terkekeh, "Bagus Git, cubit aja terus Dimas kalau dia bandel, mamah dukung kamu." ujarnya semangat sedangkan Ratih hanya menggeleng.


"Ih mamah, bukan belain anaknya malah belain Gita! Udah ah aku mau ke atas dulu sama Gita." sahut Dimas kesal.


"Mau ehem ya?" goda Terry.


Dimas menyengir, "Iya lah, kalau mamah mau sono minta sama papah." ujar Dimas enteng membuat Gita malu dengan ucapan frontal itu.


"Gih sana buruan, biar cepet jadi. Mamah mah gausah di suruh udah tiap hari." sahut Terry sambil terkekeh.


Lagi-lagi Ratih hanya bisa menggeleng melihat tingkah ibu dan anak di depannya yang sebentar berantem sebentar lagi bercanda.


"Mamah ih." sahut Gita yang sudah kepalang malu.


Terry dan Dimas hanya tertawa melihat wajah Gita yang sudah memerah seperti kepiting rebus.


"Aku tidur di kamar ibu aja deh malam ini," ujar Gita membuat Dimas panik.


"Eh engga bisa gitu dong, kamu kan istri aku. Aku cuma bercanda kok."


"Tapi kalau di kasih juga gak akan nolak!" ucap Dimas dan Terry bersamaan.


Kembali cubitan mendarat di perut Dimas dan menjauh dari Dimas berhambur memeluk ibunya.


"Bu, kak Dimas rese tuh. Aku tidur sama ibu aja ya." adu Gita pada Ratih.


Ratih mengelus rambut hitam milik Gita dengan sayang, "Gak bisa sayang, apa yang Dimas bilang itu benar. Jadi kamu tidur sama Dimas aja ya, biar ibu juga cepet dapet cucu." ujar Ratih dan kembali membuat Terry serta Dimas tertawa.


"Ih semuanya nyebelin." ucap Gita kesal lalu berlari ke arah tangga. Tanpa di duga kakinya kesandung membuat ia kehilangan keseimbangan dan akhirnya jatuh.


Ketiga orang yang berada di sana langsung menghampiri dan membantu Gita berdiri. Ringisan terdengar dari Gita, dan membuat semuanya panik.


"Bawa ke dokter aja Dim." ujar Terry.


"Gak usah bu, biar di urut aja ini kayanya keseleo." ujar Ratih.


Terry hanya mengangguk, Gita di rebahan di atas sofa air matanya susah mulai keluar karena rasa sakit di pergelangan kakinya.


"Siapa yang bisa urut bu?" tanya Dimas.


Ratih nampak berpikir, dan mengingat seorang yang bisa ngurut tetapi adanya di daerah rumahnya yang lama.


"Bu Narti tetangga kita yang lama bu." jawab Gita sambil terisak.


Baru saja Ratih mau mengatakan itu ternyata Gita juga mengingatnya, "iya bu Narti, yaudah ibu ke sana dulu ya."


"Minta anter pak Harto bu." ujar Terry dan di anggukin oleh Ratih.


Mungkin ini lah hari sial Gita. Mau menyalahkan siapapun tak mungkin, karena memang ini semua takdir yang sudah di garisi oleh Tuhan untuknya.


Bersambung.....