My Husband Badboy

My Husband Badboy
BAB 58



Pagi hari yang cerah buat kita semua termasuk sepasang suami istri yang tengah bersiap untuk lari pagi di hari Minggu ini. Sejak malam Dimas memang mengajak Gita untuk lari pagi dan di setujui oleh gadis itu. Hanya keliling komplek rumahnya saja.


"Kakak semangat banget kayanya." ujar Gita saat melihat Dimas yang tengah memakai sepatu olahraganya.


Dimas menoleh dan menatap Gita sekilas lalu kembali dengan kegiatannya, "Iya dong, kan kita selama nikah belum pernah jalan pagi kaya gini." ucap Dimas santai.


Dimas mengucapkannya dengan santai, tetapi tidak bisa di terima dengan santai oleh Gita. Terlalu manis batin Gita.


"Bisa banget bikin gue jantungan kaya gini ih." gerutu Gita pelan.


Dimas selesai dengan sepatunya lalu bangkit dan mengulurkan tangannya kepada Gita, dengan senyum malu Gita meraih tangan itu lalu menggenggamnya.


"Udah siap sayang?" tanya Dimas sambil menoel pucuk hidung milik Gita.


Wajah Gita memerah karena salah tingkah.


"Siap komandan." jawab Gita membuat Dimas terkekeh.


Keduanya turun ke bawah bersama dengan tangan menggenggam satu sama lain. Ternyata Terry dan Ratih sudah bangun dan sedang berada di ruang keluarga sambil berbincang.


"Loh kalian mau ke mana?" tanya Terry saat melihat anak dan menantunya sepagi ini sudah keluar dari kamar.


Dimas menaikkan alisnya, seakan bicara pertanyaan macam apa itu.


"Mau ngelayat mah." ucap Dimas kesal. Gita memukul lengan suaminya pelan sambil menahan tawa.


"Kok mau ngelayat pake baju olahraga gini?" tanya Terry lagi.


Dimas menarik napasnya lalu di hembuskan pelan, "Udah tau pake baju olahraga masih aja di tanya mau kemana. Ngaco emang orang tua satu ini." ujar Dimas sedikit kesal.


Terry melempar bantal yang ada di tangannya tadi ke arah Dimas, "Tinggal jawab aja padahal, lagian ngapain olahraga di luar sih, kan di kamar juga bisa olahraga." kali ini Terry yang berucap dengan santai.


Tidak tahu apa kalau ucapannya tadi membuat sejoli ini malu. Semalem bi Asih yang godain sekarang mamah batin Gita.


Ratih hanya tertawa di tempatnya sambil menatap Gita dan Dimas bergantian. Memang benar kok apa yang di bilang Terry tadi.


"Berisik mah, ini masih pagi jangan cari ribut deh." sahut Dimas ketus.


Tak lama bi Asih datang sambil membawa teh untuk majikannya.


"Semalem udah olahraga kok nyonya." bi Asih ikut menggoda keduanya.


Ratih kaget dengan ucapan bi Asih tadi, sedangkan Terry langsung memicingkan mata kepada keduanya.


"Bener apa ya bibi ngomong? Alhamdulillah kalo kalian lagi buat proyek." ujar Terry senang.


Wajah Gita semakin merah, malu sangat malu. Gita ingin menghilang saja saat ini dari situasi seperti ini. Dimas melihat Gita sudah tidak nyaman berada di sana dengan segera menarik tangan istrinya itu menjauh dari ketiga wanita tua di sana.


"Semoga aja cepet jadinya." teriak Terry saat melihat kedua anaknya sudah pergi dari sana.


"Aamin." ujar Ratih dan bi Asih secara bersamaan.


****


Di taman komplek sepasang suami istri ini sedang berlari pelan mengitari taman. Pemandangan yang sangat indah, karena keduanya tampak bahagia saat ini. Mungkin yang melihat mereka akan merasa iri.


"Capek gak? Kalau capek kita istirahat dulu." tawar Dimas.


Gita mengangguk, "Lumayan kak, istirahat dulu ya."


Dimas menarik tangan Gita menuju tempat duduk di taman itu. Cara Dimas menarik pun sangat lembut dan lagi lagi membuat Gita terbuai dengan perlakuan Dimas.


"Mau sarapan bubur gak?" tanya Dimas kepada Gita.


Gita yang sedang mengelap keringatnya menggunakan handuk kecil yang dia bawa langsung mengangguk antusias. Karena bubur adalah salah satu makanan favorite Gita.


"Yaudah ayo, tapi kita pulang dulu ya ambil motor."


Gita nampak bingung, untuk apa mengambil motor lebih dulu padahal di depan komplek ada juga tukang bubur ayam.


Dimas mengangguk, "Iya tau tapi kita makan di tempat langganan aku aja, di sana lebih enak dari pada di depan komplek."


Gita terkekeh, "ih kakak gak boleh kaya gitu, makanan itu gak boleh di bilang gak enak, dosa."


Dimas mengacak rambut Gita membuat sang istri marah lalu mencubit lengan Dimas. Bukannya marah, Dimas malah terkekeh melihat tingkah polos Gita.


"Kalau kamu capek kamu tunggu di sini aja, biar aku yang pulang ke rumah sendiri nanti aku ke sini lagi jemput kamu. Gimana?" tawar Dimas.


Gita mengambil tangan Dimas dan menggenggamnya lalu bangkit dari duduknya, "Aku ikut sama kamu aja kak, ayo kita makan bubur." ujar Gita sangat antusias.


Dimas lagi-lagi di buat gemas dengan tingkah Gita. Ah kenapa Dimas baru menyadari sih kalau istrinya itu sangat menyenangkan dan menggemaskan.


Keduanya sampai di depan rumah, Gita hanya menunggu Dimas di depan gerbang. Kalau Gita ikut masuk nanti semakin lama perginya karena pasti ibu dan mamahnya akan menggodanya lagi. Ah Gita pusing pada wanita paruh baya itu.


Dimas sudah mengambil kunci motornya dan mulai mengeluarkan motornya dari halaman rumah. Gita yang melihat Dimas sudah keluar dari rumah segera menghamp sang suami. Dengan bantuan Dimas, Gita naik ke atas motor gede milik suami tampannya itu.


"Pegangan ya, aku mau ngebut soalnya." ujar Dimas membuat Gita terkekeh pelan lalu melingkarkan tangannya di perut Dimas.


Dimas melirik ke arah spion untuk melihat wajah Gita yang sudah memerah karena salah tingkah.


"Jangan salah tingkah gitu kali." ujar Dimas sambil terkekeh.


Gita menepuk bahu Dimas kesal, "Kakak mah ngegodain terus!" kesal Gita sambil memanyunkan bibirnya. Dimas hanya terkekeh melihat itu.


Tanpa Gita sadari ternyata mereka sudah sampai di tukang bubur ayam yang Dimas maksud tadi. Sebelum keduanya duduk, Dimas memesan lebih dulu bubur ayam untuknya dan Gita baru setelah itu mereka duduk di bangku yang telah tersedia di sana.


Karena tidak terlalu ramai, maka pesanan mereka datang lebih cepat. Dengan cepat pula Gita menambahkan sambel ke buburnya dan mulai melahapnya. Kepala Gita bergoyang kesana kemari karena bubur yang ia makan memang enak seperti apa yang Dimas bilang sebelumnya.


"Enak?" tanya Dimas pada Gita yang masih antusias melahap bubur itu.


Gita hanya mengangguk sebagai jawaban dari pertanyaan itu. Saat sedang asik makan, keduanya di kagetkan dengan kedatangan seseorang. Gita yang langsung panik, sedangkan Dimas memasang wajah permusuhannya.


"Ngapain lo ada di sini? Ngikutin gue?" ketus Dimas saat melihat Farhan berada di sana.


Farhan terkekeh melihat respon Dimas yang masih ketus kepadanya. Jangan heran mengapa Farhan berada di sini juga, karena memang tukang bubur ini adalah langganan Dimas cs.


"Harusnya gue yang tanya sama lo, ngapain lo di sini sama Gita lagi? Lo berdua ada hubungan?" tanya Farhan pura-pura kaget melihat keduanya sedang berduaan di kedai bubur.


Gita menggeleng cepat, "Gak kok kak, aku sama kak Dimas gak sengaja ketemu tadi." ujar Gita membuat Dimas melotot mendengar jawabannya.


Gita tidak mau mengakui hubungannya dengan Dimas. Lagian Farhan ngapain sih nanya kaya gitu, orang dia udah tau yang sebenarnya juga, kan membuat Dimas sakit hati mendengar ucapan Gita yang secara tidak langsung tidak mengakuinya.


"Kok bisa kebetulan gitu?" tanya Farhan lagi.


Dimas geram pada sahabatnya itu, membuat suasana kemesraannya bersama Gita rusak karenanya.


"Gausah banyak tanya bisa gak? Mending lo cabut deh, ganggu orang aja." kesal Dimas.


Farhan tersenyum miring melihat itu, itulah tujuan Farhan membuat Dimas cemburu biar Farhan tau apakah Dimas memilih rasa pada Gita. Gadis yang menurut Farhan adalah gadis polos yang sangat menyenangkan jika berada di dekatnya. Kalau memang Dimas benar tidak bisa memilih antara Kiara atau Gita, Farhan rela kok melanjutkan perjuangan Dimas untuk membahagiakan Gita.


"Git, nanti malem kita dinner mau gak?" tawar Farhan membuat Gita melirik ke arah Dimas.


Dimas menggeleng pelan.


"Em, maaf kak aku ada acara nanti malem." tolak Gita secara halus membuat Farhan memasang wajah kecewanya.


"Udah di tolakkan? Mending lo pergi deh sekarang!" geram Dimas mengusir Farhan pergi dari sana.


"Berisik lo!" sahut Farhan sambil menepuk bahu Dimas sedikit kencang.


Farhan menatap Gita, "Yaudah gapapa Git, nanti kalau ada waktu kabarin ya." ucap Farhan sambil mengelus rambut Gita pelan.


Belum sempat Gita protes dan Dimas marah, Farhan sudah berlalu dari sana dengan senyum miring tercetak. Dimas geram dengan tingkah laku Farhan pada istrinya yang menurut itu kurang ajar.


"Gue gak bakal biarin Gita jatuh ke tangan lo brengsek." batin Dimas.


Bersambung....