
Pagi hari saat Gita membuka matanya. Gita melihat ibunya tidur dimeja belajar Gita dengan posisi duduk dikursi. Pasti badan ibunya pada sakit karena posisi tidur yang tidak nyaman. Tidak biasanya Ratih tidur seperti ini apakah Ratih sebegitu khawatirnya pada anak gadis satu-satunya. Gita melihat jam di ponselnya yang ternyata baru pukul lima pagi,dan biasanya juga Ratih sudah bangun dan sudah memulai aksi masaknya untuk jualan nanti.
"ibu,Bu bangun Bu udah jam 5 ibu hari ini gak jualan?" ucap Gita sambil mengusap punggung tangan Ratih.
Ratih yang merasa terganggu akhirnya membuka matanya. Gita melihat mata Ratih bengkak. apakah Ratih abis menangis? mengapa?
"Bu, ibu abis nangis? kenapa? masalah ayah?" tanya Gita pelan.
Sedangkan Ratih yang ditanya hanya menatap Gita lalu mengeluarkan air matanya sedikit demi sedikit membuat Gita ikut merasa sedih.
"ayah ngapain ibu lagi? bilang sama Gita Bu" ujar Gita.
"ini bukan masalah ayah! ini masalah kamu!" bentak Ratih.
Gita diam tidak mengerti apa maksud dari omongan Ratih tadi.
*flashback
Ratih pulang dari warung lalu menuju dapur untuk menaruh barang yang tadi ia beli diwarung. Setelah itu ia memutuskan untuk mengecek keadaan anaknya. Ratih khawatir karena memang wajah Gita yang begitu pucat tadi. Apalagi Gita mengeluarkan isi perutnya begitu banyak pasti anaknya lemas.
Ratih mengecek suhu tubuh Gita tetapi tidak demam lalu ia ingin merapikan meja belajar Gita karena lumayan berantakan. Saat sedang membereskan meja Ratih mengangkat tas milik Gita dan jatuhlah surat seperti apa yang tadi Ratih lihat.
Perlahan Ratih membuka surat itu penasaran. Bagaimana tidak ini bukan surat seperti yang biasa Gita kasih. Didepan amplop tersebut tertulis nama Rumah Sakit bersalin yang sangat terkenal.
Ratih membuka surat itu ternyata berisi resep dokter,Ratih tidak mengerti itu resep apa. Maka dari itu Ratih keluar rumah menuju apotik terdekat dan saat mengetahui itu resep apa Ratih kaget setengah mati. Badannya mendadak kaku. Ratih segera pulang kerumah dan menunggu Gita bangun hingga ia tertidur dibangku meja belajar Gita
flashback off*
"ini resep apa?!!!" bentak Ratih lalu melemparkan resep itu pada Gita.
Gita menangis. Ibunya sudah tau yang sebenarnya? Lalu apa yang harus Gita lakukan.
"jelasin Gita!" teriak Ratih emosi.
Gita diam,ia tak sanggup menjelaskan apapun pada ibunya.
"kamu hamil? sama siapa? kenapa bisa Gita! kenapa?? ibu tau ibu gak pernah mencukupi kamu,tapi gak gini caranya Gita!" marah Ratih.
"ibu kecewa sama kamu! ibu gak sudi punya anak kaya kamu! jadi mulai sekarang kamu bukan anak ibu dan kamu pergi sekarang dari rumah ini!" usir Ratih pada Gita.
tangisan Gita makin kencang. Ini yang Gita takutkan. Ibunya akan marah besar,malah Gita tak berfikir jika ibunya tega mengusirnya. Lagi pula mana ada ibu yang tidak marah jika anak gadisnya yang masih berstatus pelajar sekarang tengah mengandung.
"ibuu maafin Gita Bu..." tangis Gita sambil bersujud pada Ratih.
Ratih hanya diam. Sebenarnya Ratih merasa tak tega pada anaknya itu. Tapi mau bagaimana lagi ia kecewa,sungguh sangat kecewa. Ia merasa gagal mendidik Gita sejak dulu.
"sekarang kamu keluar dari rumah saya!" bentak Ratih lalu keluar kamar Gita.
Gita paham betul sifat Ratih,jadi ia hanya pasrah lalu mengambil tas dan beberapa helai baju untuk bekal ia kedepannya. Gita meletakan cek yang waktu itu Dimas berikan ralat bukan diberikan tapi hasil kerjanya yang bisa disebut sebagai ******.
"ibu...Gita pamit ya. ibu yang sehat disini,kalo ayah nyakitin ibu lagi maaf Gita gak bisa ngelindungin ibu. maafin Gita udah buat ibu kecewa,tapi Gita harap suatu saat nanti ibu bisa maafin Gita" lirih Gita lalu memeluk Ratih meskipun Ratih tak membalas pelukan anak kesayangannya itu.
"Gita pergi bu...." ucap Gita mencium pipi Ratih sekilas lalu pergi dengan air mata yang terus mengalir.
Gita berjalan keluar rumah dengan mata yang sembab. Sedangkan Ratih langsung menjatuhkan tubuhnya kelantai. Apakah ia keterlaluan mengusir anaknya sendiri? harusnya ia sebagai orangtua ada dibelakang anaknya disaat-saat seperti ini. Tapi mengapa sifat egois nya muncul disaat yang tidak tepat.
Ratih masuk kedalam kamar putrinya,baru ditinggal sebentar rasanya sudah kangen. Hanya Gita yang selama ini menemani nya. Gita yang penurut dan tak pernah meminta apapun yang dianggap tidak penting seperti kebanyakan anak lainnya.
Ratih melihat sebuah cek dimeja belajar Gita dengan sepucuk surat yang Gita memang tulis untuk ibunya.
*ibu...
maafin Gita karena udah buat ibu kecewa.
maafin Gita yang sampe saat ini belum bisa bikin ibu bahagia tetapi sudah bisa buat ibu kecewa.
Gita nyesel bu sangat nyesel.
tapi Gita gak ada pilihan lain selain ngelakuin itu. ibu bisa panggil Gita ******, panggilan itu emang cocok untuk Gita.
Gita ngelakuin ini untuk ibu,Gita gak mau ibu disakitin lagi sama ayah. cuma ibu yang Gita sayang. Ibu tenang aja cowok yang ngehamilin Gita mau tanggung jawab kok. Gita bakal sering-sering lihat ibu meskipun dari jauh.
Gita berharap suatu hari nanti ibu bakal maafin Gita dan nerima Gita kembali jadi anak ibu. Gita pergi ya buuu. makasih buat kasih sayang ibu selama ini,Gita gak cuma bisa bales dengan rasa kecewa.
Gita sayang ibu*.
Air mata Ratih makin deras,ia melihat cek dengan nilai yang sangat fantastis lalu menaruhnya kembali ketempat semula dan berjalan keluar rumah untuk mencari Gita. Gita tidak boleh pergi. Gita ngelakuin ini pasti ada tujuannya.
Ratih mencari kesana kemari tetapi hasilnya nihil. Gita sudah tidak ada didaerah sana. Ratih telat menarik anaknya kembali padanya. Dan ini adalah hal yang paling ia sesali. Jika nanti ia bertemu dengan Gita,Ratih tidak akan membiarkan Gita pergi kembali. Ratih terlalu cepat mengambil keputusan, seharusnya ia ada di samping Gita dengan kondisi Gita yang lagi terpuruk seperti ini bukan malah mengusirnya membiarkan Gita melewati ini semua sendiri.
"Ibu macam apa aku ini, bukan ada disamping anakku malah menyuruhnya pergi dengan kondisi yang sangat sulit untuknya." ujar Ratih pelan pada dirinya sendiri.
Gita berjalan tanpa arah,matanya masih saja mengeluarkan air. Sudah dihapus ada lagi begitu terus. Dan sekarang Gita sudah berada disebuah halte. Gita duduk sambil menangis untung saja waktu masih terlalu pagi untuk mereka melakukan aktivitas.
Tak lama ada tangan yang mengelus kepala Gita, membuat Gita mau tidak mau mendongkak melihat orang itu. Gita kaget melihat orang itu.
kenapa bisa orang itu ada disini? Dunia sesempit itu kah???