My Husband Badboy

My Husband Badboy
Bag 18



"papah,mamah sama bi Asih kok disitu pada ngapain?" sapa Dimas.


ketiganya tersenyum kikuk karena ketangkap basah. Terry dan Damian maju mendekat kearah keduanya sedangkan bi Asih masih tetap disana. ia tidak ingin ikut campur masalah majikannya.


"kamu masak?" tanya Terry.


"woo yaiyalah siapa lagi" ucap Dimas dengan sombongnya.


"kalo gak dikasih tau juga gak bakal bisa" cibir Gita lalu membekap mulutnya. Ia tidak sadar mengatakan itu apalagi didepan mertuanya.


"udah deh yang penting kan gue yang masak,udah makan cepet abis itu istirahat" perhatian Dimas lagi yang membuat pipi Gita memerah.


"pah anak kita berubah udah gak bandel" bisik Terry pada Damian padahal masih terdengar oleh Gita dan Dimas.


"huss mamah ngebisikin apa gimana sih mereka denger tuh" balas Damian kesal.


Dimas menatap kedua orangtuanya tajam. Tetapi Dimas juga bingung kenapa sikapnya terhadap Gita berbeda ya, walaupun ketus tapi ia khawatir akan perempuan itu.


Gita memakan nasi goreng buatan Dimas,tidak terlalu buruk bagi pemula menurut Gita. Hingga ia lupa menawarkan itu pada ketiganya. Entah kenapa Gita tersedak sendiri sampai terbatuk. Dengan cepat Dimas mengambil air minum lalu diberikan kepada Gita dan diterima langsung oleh Gita.


"pelan-pelan Git,mamah sama papah gak akan minta kok,iyakan pah?" goda Terry.


"maaf mah" Gita tersenyum kikuk sepertinya ia salah karena tidak menawarkan lebih dulu pada mertuanya.


"enak gak?" kali ini Damian yang bertanya.


Gita melirik Dimas sebentar lalu tersenyum dan mengangguk "lumayan pah" ucap Gita.


Dimas melotot ke arah Gita,enak saja dibilang cuma lumayan. padahal dia lihat sendiri bagaimana perjuangannya untuk bisa membuat sepiring nasi goreng.


"coba mana sini gue cobain" ucap Dimas lalu membuka mulutnya seakan meminta Gita menyuapinya.


Untung Gita peka. Jadilah ia menyuapinya suaminya itu. Meskipun awalnya ragu karena kedua orangtua Dimas sedang menahan tawa. Setelah nasi itu masuk kedalam mulut Dimas, dimas seakan sedang menjadi juri diacara masak.


"enak banget gini dibilang lumayan" gerutu Dimas.


"ah bilang aja kamu mau disuapin sama Gita,Dim" goda Damian.


"kaya anak kecil aja kamu disuapin segala" kali ini Terry.


Dimas mendengus kesal,mengapa mereka ikut campur sih padahalkan itu hanya spontan bahkan tak berfikir minta disuapin Gita,gak tau kalau nanti hahahah.


Gita menyelesaikan acara makannya. Dan ikut bergabung bersama Dimas, Terry dan Damian diruang keluarga. Gita akan meminta izin pada papah mamahnya untuk bersekolah lagi sebelum perutnya terlihat besar. Gita duduk disebelah Dimas yang sedang menonton acara bola di televisi bersama dengan Damian sedangkan Terry sedang bermain game diponselnya. ah sepertinya mereka memang pecandu game.


"mah Gita mau bicara boleh gak?" tanya Gita tak enak karena menggangu Terry yang terlihat sedang asik.


Terry menatap Gita sambil tersenyum.


"apa sayang? kamu lagi mau apa bilang sama mamah biar Dimas yang wujudin" ucap Terry membuat Dimas menoleh ke arah Terry, sedangkan Terry hanya menyengir.


"kok jadi aku sih mom" ucap Dimas sambil kembali fokus pada televisi didepannya.


"yah kan kamu yang suaminya" sahut Damian.


Dimas kesal pada pasangan disebelahnya ini. selalu ada saja jawabannya. mungkin karena itu juga mereka ditakdirkan bersama dan berjodoh. amin.


"enggak mah,Gita mau minta izin sama mamah. boleh gak besok Gita masih sekolah sebelum perut Gita membesar" ucapan Gita membuat ketiganya membelalak tak percaya.


Gita menunduk lesu. Ini sudah ada dipikirannya tadi. pasti mereka tak mengizinkan tetapi dari pada penasaran sama jawabannya mending ia bertanya langsung.


"Gita janji gak akan kecapean,Gita cuma mau ngerasain sebentar lagi masa sekolah sebelum bener-bener tugas Gita beda" ucap Gita yakin.


Terry melirik Damian, Damian melirik Dimas. Dimas hanya memberi jawaban dengan mengangkat bahu tanda tak tahu harus apa. Keluarga aneh.


"kak please izinin yaa" rengek Gita sambil memegang tangan Dimas.


"oke! tapi inget jangan kecapean mamah gak mau ya kamu sakit" jawab Terry.


Terry tau rasanya diposisi Gita. Menurut Terry tak ada salahnya ia memberikan sedikit waktu untuk Gita. Ini semua jugakan karena anaknya. Terry gak boleh egois. Gita tersenyum lalu berjalan ke arah Terry dan memeluk mertua perempuannya itu dengan erat.


"makasih mah,Gita janji akan jadi menantu yang baik setelah ini" ucap Gita lalu dihadiahi kecupan singkat dipipinya dari Terry.


"yaudah sekarang kalian tidur,besok mamah suruh bi Asih beli susu hamil untuk kamu"


"iya mah makasih,kalau gitu Gita ke atas duluan ya. selamat malam" pamit Gita.


*****


Pagi ini kedua sejoli yang baru saja merubah statusnya terlihat sudah rapi dengan menggunakan seragam sekolahnya. Semalam Dimas tidak bisa tidur entah karena apa Dimas tak tahu.


Keduanya melangkah keluar kamar menuju ruang makan untuk sarapan. Disana sudah ada Terry dan Damian sedang sarapan.


"pagi sayang" sapaan Terry pada kedua anaknya.


"pagi mah" sahut Gita.


"hm pagi" sahut Dimas.


"so jutek banget tuh anak kamu pah" gerutu Terry membuat Gita terkekeh.


Terry memberikan piring berisi nasi goreng untuk Gita. tidak untuk Dimas. Dimas menatap ibunya tajam. yang anaknya dia atau Gita sih. kok Gita diambilin dia enggak.


"ambil sendiri jangan manja udah jadi suami" cibir Terry membuat Dimas mendengus kesal lalu menyendok nasi goreng dan ditaruh di piringnya.


Setelah selesai sarapan,Gita dan Dimas berpamitan untuk kesekolah begitu juga Damian untuk ke kantor yang berada disini.


"kamu berangkat sama Dimas kan?" tanya Terry pada Gita membuat Gita melirik Dimas.


Gita tau pasti Dimas tak akan menyentujui itu. Bisa kebongkar semuanya jika warga sekolah tau mereka berangkat bareng dan lebih parahnya Gita akan dibully abis-abisan sama kakak kelas yang mengidolakan Dimas. Eh tunggu kan warga sekolah tau kalau Gita itu pacarnya Dimas? Gak mungkin di bully lagi kan? Entah lah...


"enggak mah,aku naik bus aja" jawab Gita tenang padahal ia sangat berharap jika Dimas menawarkan jasanya untuk berangkat bersama.


"loh??? trus apa gunanya tuh suami. udah kalian berangkat bareng aja gausah dengerin kalah ada gosip disekolah" desak Terry.


Dimas menoleh ke arah Gita. ia bingung harus bagaimana masa ia harus bareng dengan Gita. ia juga khawatir Gita bakal diapa-apain oleh para fans nya.


"woi suami macam apa kamu,masa sama istri sendiri malu" cibir Terry membuat Dimas geram sendiri menghadapi ibu nya yang sangat suka sekali menyindir. Apa pekerjaan Terry selama diluar negeri hanya berghibah?


"oke fine! Gita bareng aku. puas mom?" tajam Dimas bukannya membuat Terry takut tetapi ia malah terkekeh geli.


"tapi dengan satu syarat....."