
Hari libur seperti ini sebenarnya membosankan untuk Dimas, karena biasanya dia akan pergi bersama dengan Gilang dan Farhan. Entah hanya sekedar nongkrong atau sparing futsal.
Setelah mengantarkan Gita tadi, Dimas langsung pulang ke rumah tanpa mampir kemanapun lagi. Tidak ada yang bisa di ajaknya pergi kali ini.
Dimas hanya bermain playstation sendirian di kamarnya, sambil menunggu Gita pulang. Mendengar suara ponselnya berdering dua kali, Dimas mem-pause game-nya.
Dimas membuka dua pesan yang masuk di dalam ponselnya, dengan dua pengirim yang berbeda.
Pertama Dimas membalas pesan milik Kiara lebih dulu, karena pesan itu berada di paling atas.
Maaf Kia, acara gue sampai malam. Jadi kayanya gak bisa deh.
Send.
Lalu Dimas beralih ke pesan yang di kirim oleh Gita.
Jangan panik ya, kalau memang udah waktunya ketahuan biar aku yang jelasin semuanya ke Kiara.
Send.
Setelah membalas kedua pesan itu Dimas melanjutkan permainannya lagi. Dimas berharap Gita tidak lama pergi bersama Kiara, biar keduanya ada waktu berduaan di weekend ini.
Lagi asik sendiri di kamarnya, tiba-tiba pintunya di ketuk oleh seseorang. Dengan malas Dimas bangkit untuk membukakan pintu itu karena tadi ia kunci dari dalam.
"Ada apa bi?" tanya Dimas saat melihat bi Asih yang berada di depan kamarnya.
"Itu ada den Gilang di bawah." beritahu bi Asih.
Dimas mengangguk, "Iya bilang sebentar lagi aku turun." ujar Dimas lalu kembali masuk ke kamar setelah melihat anggukan kepala dari sang bibi.
Setelah membereskan kamarnya, Dimas segera keluar dari kamar untuk menemui Gilang. Kali ini Dimas tidak terlalu gugup, karena Gita sedang tidak ada di rumah.
"Ngapain?" tanya Dimas tanpa basa basi.
Gilang yang melihat kehadiran Dimas, langsung menyengir tak berdosa.
"Gabut anjing di rumah terus, keluar yuk." keluh Gilang sambil merapikan rambutnya menggunakan tangan.
Dimas melirik jam di pergelangan tangannya, sekarang masih mukul 2 siang dan Gita baru pergi sekitar 2 jam. Dimas tau seberapa lama kalau wanita sudah shopping apalagi bersama teman akrabnya, mungkin bisa sampai 3 atau 4 jam.
"Kemana?" Dimas mulai tertarik dengan ajakan Gilang.
Gilang nampak berpikir sejenak, "Cafe biasa aja gimana? Biar gue telepon Farhan buat nyusul ke sana." usul Gilang.
Dimas yang masih kesal dengan tingkah laku Farhan tadi pagi langsung menggeleng cepat.
"Gausah ajak tuh anak deh, gue lagi males sama dia." keluh Dimas membuat Gilang mengerutkan dahinya.
"Lo berdua beneran berantem?" tanya Gilang mengulang pertanyaan yang sama kaya waktu itu.
Dimas mengangkat bahunya.
"Beneran karena Gita, lo berdua diem-dieman kaya gini?" tanya Gilang lagi.
Dimas diam tidak menjawab dan berjalan menuju rak sepatunya.
"Kalau beneran karena tuh cewek, gue harus buat tuh cewek bikin lo berdua baikan." ujar Gilang lagi. Tetapi Dimas masih tetap diam tidak menanggapi omongan Gilang.
"Lo berdua suka sama tuh cewek kampung?"
Dimas mendelik ke arah Gilang, tak suka mendengar omongan Gilang yang mengatakan kalau Gita cewek kampung.
"Emang kenapa kalau dia cewek kampung? Cewek kampung gak boleh pacaran emangnya?" tegas Dimas.
"Gue gak ngerti maksud omongan lo Dim, tapi yang jelas gue bisa simpulin kalau lo berdua lagi berusaha ngerebutin tuh cewek."
"Bukan urusan lo kan?"
"Jelas urusan gue, lo deketin Kiara maksudnya apa kalau ternyata lo sukanya sama Gita? Hah?" marah Gilang.
"Gue gak ngerasa kalau lagi deketin Kiara, tuh cewek aja yang selalu mau deket sama gue!" bantah Dimas.
Gilang tertawa meremehkan omongan Dimas,
"Kemarin gue di bilang brengsek sama Farhan, sekarang di bilang bajingan sama Gilang." gumam Dimas.
"Kalau sampe lo nyakitin Kiara, lihat apa yang bakal gue lakuin ke Gita!" ancam Gilang lalu bangkit dari duduknya melangkah menuju pintu keluar.
"Gue gak nyangka kita bakal berantem kaya gini cuma karena cewek miskin itu, gue rasa tuh cewek pasang pelet buat bikin lo sama Farhan suka sama dia, padahal dulu lo berdua juga suka ikut ngebully tuh anak!" ujar Gilang sebelum benar-benar keluar dari rumah Dimas.
Mood-nya hancur, dan ia memutuskan untuk tidak jadi pergi keluar bersama Dimas yang sekarang ia cap sebagai bajingan. Gilang tak suka kalau Kiara di sakitin, karena Kiara itu ada sepupunya. Ia Gilang dan Kiara adalah sepupuan. Selama ini keduanya hanya berpura-pura tidak saling kenal saja.
Siapa yang kaget dengan fakta ini hayo?
****
Di lain tempat, ketiga manusia sedang tertawa riang. Padahal sudah hampir 4 jam mereka berada di sana, entah sudah berapa banyak uang yang mereka habiskan untuk bermain di sana. Ah biarlah, orang kaya ini.
Gita mulai melirik jam yang berada di ponselnya, ternyata sekarang sudah pukul 6 malam. Sejak tadi Dimas sudah menghubunginya hingga puluhan kali, tetapi Gita tidak mendengarnya karena ponselnya berada di dalam tas.
"Mampus gue!" gumam Gita yang sedang melihat chat dari Dimas yang sudah mendumel.
Gita menghampiri Kiara dan Ando yang masih asik bermain, "Ra, pulang yuk, udah jam 6 tau." seru Gita pada keduanya.
Langsung keduanya kaget mendengar hal itu, dengan cepat mereka melihat jam yang berada di pergelangannya masing-masing.
"Astaga, gak berasa ya. Ayo Git, soalnya gue ada janjian dinner." ujar Kiara langsung mengambil ponselnya di dalam tas untuk melihat balasan dari Dimas.
"Dinner? Sama pacar lo?" tanya Ando.
Wajah Kiara berubah menjadi sedih setelah melihat balasan chat dari Dimas, dan hal itu di lihat pula oleh Gita dan Ando yang berada di sana.
"Kenapa Ra?" tanya Gita.
Kiara menggeleng, lalu tersenyum getir. Ia tidak mau memberitahu Gita kalau dirinya di tolak lagi oleh Dimas, malu pikirnya.
"Yaudah kak, aku sama Kiara pulang dulu ya. Kakak juga langsung pulang, ingat pesan aku tadi, trus kabarin aku juga ya kalau udah di apartemen." ujar Gita sambil mengelus lengan Ando lembut.
Seperti kucing yang patuh, Ando hanya mengangguk sambil tersenyum kepada Gita, dan jangan lupakan juga usapan kecil di kepala Gita. Kiara yang melihat hal itu terenyuh, ia berandai-andai kalau Dimas akan melakukan hal itu juga nanti padanya.
"Kak, gue sama Gita balik dulu ya. Inget minggu depan jangan lupa dateng ke pesta gue, nanti biar Gita yang kasih alamatnya ke lo." ujar Kiara sambil memberi tangannya untuk tos.
Ando menerima tos itu dan tersenyum mengangguk, "Oke siap." ujarnya.
Akhirnya mereka berpisah di sana. Sepanjang perjalanan Kiara hanya diam walaupun beberapa kali Gita bertanya tetapi selalu di jawab dengan kata "gapapa". Bukankah gapapa nya cewek itu artinya ada sesuatu?
Bener apa bener guys?
Kiara menurunkan Gita di tempat tadi ia menjemputnya, sebelum keluar dari mobil Kiara, Gita kembali bertanya pada Kiara untuk memastikan apa yang sebenarnya terjadi. Lalu sebenarnya dia akan dinner dengan siapa?
"Ra, lo gapapa?" tanya Gita pelan.
Kiara mengangguk sambil menyengir kuda ke arah Gita, berusaha meyakinkan Gita kalau dirinya memang baik-baik saja.
"Tapi kayanya lo lagi ada masalah deh, kenapa? Gak mau cerita sama gue biar lo lega?" tawar Gita.
Kali ini Kiara menggeleng, "Gue gapapa Git, yaudah ya gue balik dulu." ujar Kiara tenang.
Gita mengangguk-anggukan kepala, tidak mau bertanya lebih jauh dan lama takut Kiara malah risih dan gak nyaman.
"Oke deh kalau emang lo gapapa, makasih banyak ya buat hari ini. Kalau lo mau cerita, lo bisa telepon gue nanti, gue siap kok dengerin cerita lo." ujar Gita sambil mengelus lengan Kiara dan di angguki oleh pemilik senyum cantik itu.
"Makasih juga udah mau nemenin gue hari ini, salam ya buat ibu lo. Oh ya semoga lo sama kak Ando langgeng terus ya, gue seneng liat kalian berdua, cocok." ujar Kiara sambil membalas usapan lengan kepada Gita.
Gita bingung dengan kata-kata Kiara, apa Kiara menganggap Ando adalah pacarnya? Ah ya dia ingat, waktu itu ada yang menghubunginya, pasti Kiara kira itulah orang yang menghubunginya dengan sebutan "mas". Apa Kiara gak sadar, kalau Gita memanggil Ando dengan sebutan "kak" Bukan "mas". Ah biarin saja lah, ia sudah lelah dan malas membahas ini, lagi pula mood Kiara juga kayanya sedang hancur.
Bersambung....
Jangan lupa baca ceritaku yang lainnya ya...
SENIOR COLD
Di jamin gak kalah seru...