My Husband Badboy

My Husband Badboy
BAB 34



"Karena Kiara telepon kakak?" tanya Gita tenang.


Dimas hanya diam tidak menjawab sama sekali. Ia tau maksud pertanyaan dari Gita. Tetapi Dimas harus jawab apa, memang benar ini semua karena Kiara. Kiara meminta di jemput pagi ini untuk ke sekolah bersama, dan nanti pulang sekolah Kiara ingin mengajak Dimas mampir ke rumahnya bertemu dengan orang tua Kiara.


Hfftt Dimas bingung. Bingung dengan perasaannya sendiri. Dulu ia pikir memiliki ketertarikan pada Gita karena kepolosan gadis itu tetapi sekarang setelah Kiara datang hati Dimas pun tidak bisa menolak kehadiran Kiara.


"Yaudah sana kaka siap-siap sekolah. Biarin nanti aku sarapan sendiri, kalau nungguin aku sarapan nanti kakak telat." ucap Gita lirih.


"Gue pergi dulu, kalo ada apa-apa kabarin." ucap Dimas lalu mengecup kening Gita sekilas.


Jantung Gita berdebar saat ciuman itu terasa hangat di keningnya. Baru ingin berbicara lagi tapi Dimas udah di ujung pintu dan langsung menghilang di balik pintu. Gita hanya bisa diam sambil mengelus keningnya yang tadi di cium oleh Dimas.


"Kenapa demi Kiara kamu rela ninggalin aku kak" Ucap Gita pelan pada dirinya sendiri.


Tak lama ada seseorang masuk ke dalam ruangan Gita langsung menoleh ke arah orang itu. Senyuman yang menghangatkan hati Gita. Pikiran negatif tadi seakan hilang begitu saja setelah melihat siapa yang datang.


"Ibu.." panggil Gita pada Ratih.


IIya benar, Ratih yang tadi datang. Ratih sengaja datang sepagi ini agar bisa mengurusi anaknya. Sudah terlalu banyak Ratih menyakiti anaknya ini.


"Kamu udah sarapan nak?" tanya Ratih saat sudah dekat dengan Gita sambil mengelus kepala Gita sayang.


Gita menggeleng.


"Sarapan dong nak, biar cepat pulih." ujar Ratih lalu mengambil piring yang ada di atas meja. Piring yang sama yang tadi Dimas pegang juga.


Gita mengangguk, hatinya sesak mengingat kejadian yang belum lama tadi.


Ratih menyuapi Gita sangat telaten. Dan Gita pun memaksakan makan agar ibu nya tidak khawatir padanya. Padahal mulutnya masih pahit saat ini.


"Git, sebenernya apa yang terjadi sama kamu? Kenapa bisa sampai seperti ini?" tanya Ratih. Jujur Ratih masih penasaran tentang ini, ia rasa penjelasan bi Asih kemarin kurang detail. Inti permasalahannya tidak ada di cerita itu. Dengan tekad bulat sejak di rumah tadi, Ratih ingin menanyakan hal ini pada anaknya langsung. Ia perlu tau apa yang di alami Gita sampai mengancam nyawanya seperti ini.


"Sebenernya... " Gita menceritakan semua pada ibu nya tanpa ada yang terlewat. Ia rasa ibunya memang harus tau kejadian ini. Sejak dulu memang Gita tak pernah berbohong pada ibunya. Bohong Gita hanya saat sekali waktu kejadian Dimas waktu itu.


"Dimas tau?" tanya Ratih dan di jawab celengan oleh Gita.


"Kenapa kamu gak ngasih tau yang sebenarnya sama Dimas? Ibu rasa Dimas harus tau masalah ini atau paling tidak orang tuanya Dimas juga harus tau." usul Ratih.


"Aku gak tega bu sama kak Yura. Dia nasibnya gak seberuntung aku. Dia mengandung anaknya kak Dimas tapi kak Dimas gak mau tanggung jawab. Sedangkan nasib aku beruntung, kak Dimas mau tanggung jawab sama aku bahkan mamah Terry dan papah Damian sayang sama aku."


"Meskipun anak aku udah pergi duluan bu." lanjut Gita sedih.


"Tapi ibu takut dia akan ngelukain kamu lagi nak, ibu gak mau kejadian kaya gini terulang lagi sama kamu." khawatir Ratih.


"Bu, percaya sama Gita. Tanpa Gita bicara juga nanti mereka akan tau sendiri. Ibu lupa mereka siapa? Aku cuma gak mau nambah ngerasa bersalah aku pada bayi yang gak tau apa-apa. Cukup anak aku aja bu."


Ratih mengelus kepala Gita, "yasudah ibu percaya sama kamu. Tapi ibu mohon kamu selalu hati-hati. Ibu cuma punya kamu satu-satunya nak."


Gita mengangguk sambil mengusap air mata sang ibu.


Tak lama pintu kembali terbuka, dan di lihatlah siapa yang datang.


"Pagi bu, pagi sayang." sapa Terry yang sedang melangkah mendekat ke arah mereka.


"Pagi juga mah." jawab Gita.


"Udah sarapan sayang? Mamah pusing deh sama si Dimas. Bukannya di sini jagain kamu malah sekolah. Alasannya mau ada ulangan katanya, kan pasti bohong sejak kapan dia peduli sama ulangan." cerocos Terry.


Gita hanya tersenyum kecut. Ia juga inginnya Dimas ada di sini, tapi sayang suaminya itu lebih memilih bertemu Kiara daripada harus menjaganya di rumah sakit.


"emang kamu gak larang dia Git?" tanya Terry pada menantunya itu.


Gita menggeleng, "kapan lagi kak Dimas peduli sama ulangannya mah?"


"Ah emang dasar tuh anak. Masih pagi bikin emaknya ngomel aja." ujar Terry masih terus dengan emosinya.


"Sudah mah gapapa, kan di sini ada ibu, ada mamah yang jagain Gita. Iyakan?"


Terry menggaruk kepalanya yang tidak gatal, tujuan dia ke sini ingin pamit sebentar pada menantunya itu. Ia dan Damian harus pergi ke Surabaya untuk mengurus kerjaannya. Kalau kerjaannya bisa ia tinggalkan pasti ia lakukan, tetapi sayang pekerjaan ini benar-benar tidak bisa ia tinggalkan.


"Maaf sayang, bukannya mamah gak main jagain kamu. Tapi mamah sama papah ada kerjaan yang gak bisa kami tinggal. Gak lama kok cuma 2 hari setelah itu kami pulang lagi ke sini." izin Terry membuat hati Gita sedikit sesak.


Apa karena anak dalam perutnya sudah tidak ada? Makanya Terry sudah tidak perhatian padanya. Gita buru-buru menggeleng menepiskan pikiran itu. Ibu mertuanya tidak mungkin seperti itu, dan mungkin memang benar pekerjaan mereka tidak bisa di tinggal dan lebih penting dari pada harus menjaga Gita.


"Oh gitu. Kapan mamah berangkat? Kalau udah mau berangkat hati-hati ya." ujar Gita.


Terry mengelus kepala Gita, "siang ini sayang, maafin mama ya gak bisa jaga kamu sekarang. Tapi kata dokter mungkin besok atau lusa kamu sudah bisa pulang."


Mata Gita berbinar, "serius mah? Aku boleh sekolah lagi gak?" izin Gita pada Terry.


Terry mengangguk, "boleh dong sayang, sekalian kamu awasin Dimas di sekolah jangan sampai dia dekat sama perempuan lain."


Kak Dimas sekolah hari ini karena perempuan lain mah batin Gita. 


Gita hanya mengangguk lalu tersenyum.


"Ibu, saya minta tolong buat jaga Gita ya. Saya benar-benar gak bisa ninggalin kerjaan ini soalnya." ujar Terry pada bu Ratih.


"Iya bu, saya akan terus jagain Gita di sini kok." jawab Ratih.


"Gimana kalau ibu ikut tinggal aja sama kita di rumah Git? Biar ibu kamu bisa jagain kamu terus di sana kalau mamah sama papah keluar kota?" usul Terry.


Gita menatap ibu nya.


Ratih menggeleng, "gak usah bu, saya tinggal di rumah saya sendiri saja. Saya bisa bolak-balik ke rumah ibu kok untuk menjenguk Gita. Saya tidak mau merepotkan."


Teey menghela nafas, ibu nya Gita masih saja sungkan padanya.


"Ih ibu. Lagian kan, di rumah udah gak ada siapa-siapa lagi. Ibu tinggal sendiri di sana kan? Karena suami ibu kerja, merantau entah pulangnya kapan. Dari pada kesepian juga mending ibu tinggal di rumah kami." Jelas Terry.


Ratih menatap Gita, seakan bertanya bagaimana. Gita mengangguk.


"Baik bu. Saya akan tinggal bersama Gita setelah pulang dari rumah sakit." putus Ratih.


Terry tersenyum senang, rumahnya akan ramai di tambah satu anggota lagi. Coba cucu nya masih ada mungkin nanti akan semakin ramai. Dengan suara ocehan anak kecil di rumah besarnya.