My Husband Badboy

My Husband Badboy
BAB 65



Pagi hari yang cerah, tetapi entah kenapa Gita tidak bisa menikmati cerahnya hari ini. Mungkin terlalu banyak yang tengah ia pikirkan saat ini.


Kakinya sudah membaik karena semalam langsung di urut oleh bu Narti, tukang pijit andalan di kawasan rumah lamanya dulu. Niatnya ingin membawa motor sendiri tetapi tidak jadi karena Terry terus saja melarangnya.


Akhirnya ia harus berangkat bersama dengan pak Harto, loh kok dengan pak Harto? Lalu kemana Dimas?


Yah, Dimas tengah pergi keluar kota bersama dengan Damian mengurus urusan kantor. Mengapa Dimas yang ikut, kan biasanya Terry yang pergi bersama dengan Damian.


Karena Terry lah yang menyuruh Dimas untuk ikut sang papa agar Dimas bisa belajar mengenai bisnisnya. Sebentar lagi Dimas akan lulus sekolah, dan anak mereka cuma satu yaitu Dimas. Jadi, Terry menyuruh Dimas agar belajar bisnis sejak sekarang.


Awalnya Dimas menolak, karena ia takut dengan ancaman Gilang kemarin, tetapi Terry tetaplah Terry yang tidak bisa di bantah. Lagian salah sendiri, mengapa tidak bilang saja yang sejujurnya pada Terry agar ia mengerti posisi Gita dan Dimas sekarang.


Benar, seharusnya ini mudah tapi di buat rumit oleh mereka berdua. Karena kalau mulai dengan kebohongan pasti ada kebohongan selanjutnya entah sampai kapan kebohongan itu berakhir.


Gita berjalan masuk ke dalam sekolah dengan menunduk, ia tidak mau bertatapan dengan siapapun yang nantinya ia akan merasa terintimidasi dengan tatapan itu.


"Gita." panggil seseorang di belakangnya dan ia langsung membalikan badannya karena ia mengenalin suara itu.


Gita menunggu Kiara yang sedang berjalan menghampirinya. Kiara datang dengan senyum secerah hari ini, sepertinya mood nya sedang baik.


"Senyum lo itu buat gue ngerasa bersalah tau gak sih Ra." batin Gita.


Gita menggeleng, seharusnya ia tidak berpikir seperti itu karena yang lebih berhak atas Dimas kan memang dirinya yang memiliki status istri sedangkan Kiara bukan siapa-siapa. Tapi balik lagi, Kiara wanita baik seharusnya ia tidak masuk ke dalam lingkaran masalah ini. Itu yang membuat Gita merasa bersalah pada Kiara.


"Git, ke kantin dulu yuk. Gue belum sarapan soalnya." Gita hanya mengangguk menuruti kemauan Kiara.


"Gimana kalau Kiara udah tau yang sebenarnya, apa dia masih bisa tersenyum kaya tadi?" batin Gita lagi.


"Gita, sorry yah soal kemarin yang gue gak mau cerita sama lo, bukan gue gak percaya sama lo tapi gue malu kalau harus cerita." jelas Kiara yang sudah duduk di bangku kosong setelah memesan makanan.


Gita mengangguk, "Gak apa-apa kok, itu hak lo mau cerita atau engga. Gue cuma menawarkan diri buat jadi pendengar."


Kiara kembali tersenyum, "Makasih banget ya lo selalu ngertiin gue di setiap kondisi apapun, gue gak pernah punya temen setulus lo."


"Gue juga gak pernah punya temen selain lo." ujar Gita dan memang itu faktanya.


Makanan Kiara tiba yaitu sepiring nasi goreng dan air mineral. Sedangkan Gita hanya memakan roti, karena ia sudah sarapan di rumah.


"Git, lo punya mantan pacar gak?" tanya Kiara tiba-tiba.


"Eh iya lupa, lo kan mantannya kak Dimas ya?" goda Kiara dan membuat Gita reflek memukul bahu temannya itu.


"Ngaco, itu cuma gosip." sahut Gita cepat.


Kiara cekikikan melihat ekspresi wajah kaget Gita tadi, "Jadi lo punya mantan gak?" tanya Kiara lagi.


Gita menggeleng, "Gak punya, kalau lo?" tanya balik Gita.


Kiara diam sebentar lalu tersenyum getir, "Punya." jawabnya singkat.


"Lo mau tau gak kenapa gue putus?" ujar Kiara lagi.


Gita mengangguk antusias, kayanya seru mendengar cerita ini karena ia belum pernah pacaran dan tidak tau bagaimana rasanya putus cinta apa lebih sakit seperti yang ia rasakan saat ini.


"Karena mantan gue ternyata selingkuh." jelas Kiara membuat Gita melolot kaget.


"Dan lebih parahnya lagi di selingkuh sama sahabat gue sendiri Git," ujar Kiara sedih.


Kiara kembali mengingat kejadian beberapa bulan silam, semuanya berawal dari tidak sengajaan Kiara melihat ponsel milik kekasihnya dulu. Lalu muncullah rasa curiga, hingga suatu hari ada temannya juga mengirim foto kekasihnya dengan sahabatnya sedang berpelukan. 


Awalnya Kiara masih berpikir positif, mungkin hanya pelukan sebatas teman. Tetapi semakin hari semakin aneh. Hingga suatu hari, Kiara di minta datang ke sebuah club untuk melihat langsung kekasih dan sahabatnya.


Dan benar saja, kedua orang itu sedang bercumbu mesra tanpa sadar ada Kiara di sana. Dengan keberanian dan air mata yang sudah mengucur Kiara menghampiri keduanya. Belum sempat keduanya mengatakan apapun Kiara langsung menampar kekasihnya. 


"Bajingan, kita putus!" teriak Kiara penuh emosi. 


Satya nama kekasihnya hanya terkekeh sambil memegang pipinya yang baru saja dapat tamparan dari Kiara. 


"Bagus, jadi gue gak usah repot-repot buat mutusin cewek cupu kaya lo." ujar Satya. 


"Cewek sok suci, di ajak ciuman aja gak mau. Gak kaya sahabat lo ini, yang terima gue apain aja karena dia cinta sama gue. Seharusnya kalau lo cinta sama gue, lo juga bisa ngelakuin itu." lanjut Satya dan membuat emosi Kiara memuncak. 


Plak


Tamparan kedua mendarat lagi di pipi milik Satya, "Dasar bajingan, brengsek!" 


Satya hanya tersenyum miring. Kiara melirik ke arah sahabatnya, Nita. 


"Gue gak nyangka sama lo Nit, tapi gue makasih karena lo, gue bisa tau gimana bajingannya cowok baru lo." ujar Kiara. 


Nita hanya diam dan wajahnya tidak menampilkan ekspresi bersalah sama sekali. 


"Kalian sama-sama bajingan dan itu cocok. Semoga kalian cepet ke neraka!" ujar Kiara lalu berlalu dari sana. 


Flashback off


Tanpa sadar Kiara meneteskan air mata setelah menceritakan itu pada Gita. Loh tadi dia yang ingin bercerita, tapi dia juga yang sedih.


"Makanya, setelah kejadian itu gue pindah kesini. Gue mau ngelupain itu semua, karena itu menyakitkan." ujar Kiara.


Gita mengusap punggung Kiara untuk menenangkan. Gita yang mendengar cerita itu semakin merasa bersalah. Apakah kisah Kiara akan terulang lagi kota ini. Tapi ini konteksnya yang berbeda. Seharusnya kalau di masalah ini, Kiara lah yang bersalah tetapi balik lagi Kiara tidak mengetahui fakta yang sebenernya.


"Lo bayangin sakitnya kaya gimana, di hianatin sama orang yang udah percaya banget." keluh Kiara yang sedang berusaha untuk berhenti menangis.


"Udah..udah gak usah di inget lagi Ra, itu cuma masa lalu. Gue yakin mereka pasti gak akan bahagia." ujar Gita membuat Kiara mengangguk.


"Karena si bajingan itu ngejar gue waktu itu, gue jadi ketemu kak Dimas tau." ceritanya lagi.


Gita kaget, tetapi bingung dengan ucapan Kiara. "Maksudnya?" tanya Gita.


"Iya, waktu itu gue gak sengaja ketemu si Satya entah ngapain dia ada di Jakarta. Terus dia ngejar gue, makanya gue lari eh ketemu kak Dimas dan gue minta tolong sama dia." jelas Kiara membuat Gita mengangguk-angguk.


Oh jadi gitu pertemuan awal Dimas dan Kiara, pantas saja mereka kaget saat bertemu pertama kali di sekolah waktu itu.


"Lo gak suka kan sama kak Dimas?" tanya Kiara yang tiba-tiba membuat Gita tersedak dengan liurnya sendiri.


Gita menatap Kiara lalu menggeleng lemah. Oh ayolah Gita, mengapa gak jujur aja yang sebenarnya supaya tidak makin panjang.


"Gue kira, tapi gue yakin sih kalau lo bukan orang kaya Nita. Udah murahan sukanya sama punya sahabatnya sendiri lagi ih geli banget gue." gerutu Kiara dan membuat Gita merasa sangat tersindir dengan ucapan itu.


Kiara tidak tau, Gita pun pernah hamil di luar nikah. Bukankah itu juga bisa di sebut murahan? Tetapi kalau sukanya punya sahabat sendiri, itu tidak. Karena di sini Dimas miliknya dengan status halal.


Bersambung....