
Bel pulang sekolah sudah berbunyi. Gita sudah berada didepan gerbang sekolah menunggu Dimas datang. Dimas sudah memberitahunya untuk menunggunya didepan gerbang saja jangan ketempat yang tadi,karena Dimas tidak mau Gita kecapean.
ah sungguh sweet hari ini Dimas pada Gita.
Gita celangak celinguk mencari keberadaan Dimas,namun laki-laki itu belum juga muncul. padahal bel pulang sudah berbunyi sejak 10menit lalu dan artinya dia sudah menunggu Dimas kurang lebih selama itu. Lalu kemana Dimas?
tak lama ponselnya bergetar menandakan ada chat masuk. dengan segera Gita mengambil ponselnya di saku rok dan melihat siapa yang mengirim pesan untuknya.
kak Dimas
Lo pulang duluan aja,gue udah telpon pak Harto bakal jemput Lo,soalnya gue ada latihan futsal hari ini. gue lupa
Gita menutup chat itu dan tersenyum miris. ia kira Dimas beneran sayang padanya namun rasanya itu hanya khayalan Gita. Tak lama pak Harto datang dan berhenti didepan Gita.
Gita segera masuk kedalam mobil mewah milik keluarga Dimas itu. Banyak murid yang melihat itu dan mengundang banyak tanya. Gita tak ambil pusing. Ia tak mau stress karena masalah ini. Dia sedang hamil dan itu pantangan untuk orang hamil.
Gita duduk dikursi depan samping pak Harto persis waktu pertama kali ketemu pak Harto. Gita juga tak lupa mencium tangan milik pak Harto. pak Harto tersenyum bahagia saat ia tau jika Gitalah yang menikah dengan Dimas. pak Harto yakin Gita bisa merubah Dimas menjadi lebih baik.
"non Gita mau kemana dulu?" tanya pak Harto pada majikan perempuannya.
"langsung pulang aja pak,aku capek banget mau istirahat" jawab Gita.
pak Harto hanya mengangguk lalu melajukan mobilnya menjauh dari area sekolahan. tak disangka ada seseorang yang mengamati mereka dari jauh. Orang itu mengenal mobil yang tadi ditumpangi oleh Gita. membuat orang tersebut geram.
"lihat aja lo debu! gue bakal buat perhitungannya sama lo" ucap orang itu lalu pergi.
****
Sekarang pukul 7malam. Dimas baru sampai rumah 10menit lalu. Setelah selesai membersihkan diri Dimas melangkah menuju meja makan. Disana sudah ada orangtuanya serta Gita. Sepertinya menunggu dirinya.
"lama banget sih,udah laper nih" gerutu Terry.
"lah siapa suruh nungguin aku,bukan makan aja duluan" sahut Dimas tak mau kalah.
"ditungguin bukannya makasih,pah anak kamu tuh" kesal Terry pada anaknya.
"anak kamu juga keles" sahut Damian.
Dimas dan Gita tertawa sedangkan Terry hanya mengerucutkan bibirnya tanda kesal. Setelah itu mereka memulai makan malam bersama dengan hening. Karena kalau lagi makan tidak boleh bicara... Kalau kata orang dulu mah pamali...
Selesai.
makan malam telah selesai. Sekarang mereka sedang berkumpul diruang keluarga. Dengan Dimas dan Damian bermain PS sedangkan Terry bermain game,Gita dengan tugas sekolahnya. Diwaktu seperti ini saja ia masih ingat dengan tugas sekolah. Gimana gak beruntung si Dimas.
"aduh mantu mamah rajin banget sih" puji Terry. Gita hanya tersenyum canggung. Gita memang masih canggung dengan kedua orangtua suaminya itu. Yah jelas canggung, bisa di lihat kasta mereka itu beda banget.
"pah udahan,suruh tuh anak kamu belajar udah kelas 12 juga" perintah Terry.
"Dimas udah belajar tadi mah" sahut Dimas cepat.
"kapan? emang iya Git?" tanya Terry pada Gita. jawaban Gita hanya mengangkat bahunya tidak tahu.
"ah bohong mulu dah ini anak,pusing mamah" ujar Terry sambil berlagak memegang kepalanya.
"siapa juga yang bohong mah,kan tadi Dimas sekolah ya belajarnya disekolah aja ngapain bawa kerumah,kalo Dimas pinter pasti pada gak percaya disangka nyontek" Dimas tetap tidak mau kalah dengan ibu nya.
"emang" sahut Terry.
"tuh kan yah mending biasa aja begini"
Dimas hanya menggeram kesal. sedangkan Terry,Damian dan Gita hanya terkekeh melihat wajah kesal Dimas.
Gita kadang iri melihat keharmonisan keluarga Dimas, meskipun mereka jarang sekali kumpul tetapi Dimas tidak kekurangan kasih sayang sedikitpun. Beruntung sekali menjadi Dimas. Sudah semua kebutuhannya dipenuhi memiliki kedua orang tua yang selalu sayang sama dia. Tidak seperti Gita,orangtuanya lengkap namun sayang tidak pernah akur. Bahkan Gita lupa kapan terkahir mereka makan bersama. Kapan terakhir mereka bersenda gurau bersama. Ah Gita tidak pernah merasakan sepertinya. Bahkan kebutuhannya saja tidak pernah terpenuhi,bukan tidak pernah namun jarang. Dan berakhirlah seperti sekarang.
Jadi sekarang Gita harus bersyukur karena dengan dirinya berada ditengah keluarga Dimas membuatnya merasa bahagia. Bukan karena Gita sudah cinta dengan Dimas namun ia sudah cinta pada kedua orang tua Dimas.
"Git...Git... kok bengong sayang?" panggil Terry saat melihat Gita hanya diam dengan tatapan kosong.
"ehh gapapa kok mah,Gita ke atas duluan ya mau istirahat. malam mah,pah" pamit Gita.
"tunggu dulu sayang,minum susu dulu bentar mamah suruh bi asih buatin" pinta Terry membuat Gita menunggu lagi.
"aku aja mah yang bikin" ucap Dimas lalu bangkit menuju dapur.
"kaya bisa aja" cibir Damian.
Dimas mengabaikan papahnya dan berjalan kearah dapur. Gita meminta izin kepada Terry dan Damian untuk menyusul Dimas kedapur.
"sini aku aja kak yang bikin" ucap Gita mengngagetkan Dimas yang tengah fokus membaca tata caranya.
"udah lo diem aja biar gue yang bikin,atau gak lo tunggu kamar ntr gue anterin ke kamar" sahut Dimas sambil terus fokus membaca.
Gita menggeleng.
"nanti gak enak kalo kak Dimas yang bikin,kak Dimas kan gatau takarannya"
"gue kan bisa baca,udah deh mending lo diem aja. dan gue yakin takarannya bakal pas"
Gita diam memperhatikan Dimas membuat susu hamil untuknya. Beberapa menit berkutat akhirnya susunya jadi,Dimas langsung memberikan kepada Gita.
"makasih kak" ucap Gita lalu menegak susu buatan suaminya itu. Enak. itulah yang dirasa Gita.
"gimana?" tanya Dimas sambil menaikkan turunkan alisnya.
"enak kok,makasih kak"
Dimas mengangguk,entah setan dari mana tangannya bergerak mengelus perut Gita pelan. Senyum Gita berkembang melihat tingkah Dimas seperti itu.
"sehat-sehat ya" ucap Dimas.
"iya" sahut Gita sambil menirukan suara anak kecil.
Dimas mendongkak melihat wajah Gita. Cantik. itulah yang Dimas lihat. sungguh Gita memang sangat cantik bahkan tanpa make-up pun.
"yaudah ayo istirahat,gue juga capek banget abis futsal tadi" ajak Dimas. Gita hanya mengangguk dan jalan lebih dulu ke arah kamarnya.
saat sudah sampai dipijakan terakhir Gita teringat bukunya yang tertinggal diruang keluarga,Gita menoleh kearah Dimas yang berada dibelakangnya.
"kenapa?" tanya Dimas saat Gita menoleh.
"buku aku ketinggalan di bawah,aku ambil dulu sebentar ya. kakak duluan aja"
"Lo aja yang duluan,gue yang ngambil buku lo" ucap Dimas lalu melangkah kebawah untuk mengambil buku Gita.
Belum aja Gita protes Dimas sudah kebawah,mau tidak mau Gita melangkah lebih dulu kamar menunggu Dimas. Hati Gita menghangat melihat perilaku Dimas seperti itu.