My Husband Badboy

My Husband Badboy
BAB 33



Tak lama Terry, Ratih dan Damian masuk ke dalam ruangan. Mengapa semuanya boleh masuk? Karena tadi Terry memaksa Damian untuk bertanya ke dokter apakah boleh masuk beramai-ramai habis menunggu Dimas keluar sangat lama, Terry udah tidak sabar ingin melihat Gita. Awalnya jawaban dokter tidak boleh, karena ini bukan jam besuk. Tetapi Damian terus mendesak dokter dan akhirnya di perbolehkan. Kurang cinta apa Damian pada Terry.


"Awas mamah mau duduk." ujar Terry mengusir Dimas yang sedang duduk di kursi. Dari pada berdebat mending Dimas mengalah.


Dimas bangkit dan pindah ke sisi kiri Gita.


"Gimana sayang? Udah agak baikkan? Kamu tidurnya lama banget bikin mamah sama ibu kamu khawatir." ujar Terry lirih.


Gita mengambil tangan Terry dan mengelusnya pelan, "maafin ya udah bikin mamah sama ibu khawatir. Gita udah baikan kok. Hmm meskipun.." ucapan Gita tercekat, rasa sesak kembali muncul di hatinya mengingat apa yang terjadi pada anaknya.


Ratih merasakan apa yang Gita rasakan saat ini, dengan kata permisi yang di lontarkan kepada Terry, Ratih segera memeluk putrinya sambil berbaring. Tangis Gita semakin pecah.


"Kenapa semua ini terjadi sama Gita bu? Gita udah jadi ibu yang jahat buat anak Gita. Gita gak bisa ngelindungin anak Gita sendiri bu.!" teriak Gita.


Ratih mengelus pucuk kepala Gita dengan sayang, air mata Ratih pun jatuh begitu juga dengan Terry.


"Bukan salah kamu nak, ini memang takdir. Tuhan lebih sayang dia, Tuhan lagi menguji kesabaran kamu saat ini. Kamu harus kuat nak, harus ikhlas biar anak kamu di sana juga tenang lihat ibunya bahagia." ucap Ratih membuat tangisan Gita sedikit mereda.


"Iya sayang, mamah tau kok rasanya gimana di tinggal sama anak yang sama sekali belum pernah kita lihat wajahnya." ucap Terry. Benar, Terry pernah mengalami keguguran jadilah ia tau apa yang di rasakan Gita saat ini.


"Mamah gak marah sama Gita karena gak bisa jaga cucu mamah?" tanya Gita. Jujur, sejak tadi ia memikirkan ini. Apakah setelah anak yang di kandungnya tidak ada, sikap Terry dan Damian akan berubah padanya?


Terry menggeleng, "kamu udah selamat aja, mamah udah sangat bersyukur sayang." ucap Terry dan membuat Gita bernafas lega.


"Maafin Gita pah." ucap Gita pada Damian yang dari tadi berdiri di sebelah Dimas.


Damian mengulurkan tangannya untuk mengusap pipi Gita lebih tepatnya mengusap air mata Gita tadi, "iya sayang, gapapa. Kan nanti bisa cetak lagi." ujar Damian enteng dan di balas oleh pelototan dari semuanya. Sedangkan yang di pelototin hanya menyengir tak berdosa.


*******


Hari sudah pagi, tetapi Dimas dan Gita masih betah dengan tidurnya. Semalam semuanya sudah pulang dan menyisakan Dimas di rumah sakit untuk menjaga Gita. Dan saat ini lah Dimas yang sedang tidur di sofa sedangkan Gita di brankarnya. Semalam Gita memaksa Dimas untuk tidur di sampingnya karena kasurnya masih cukup untuk tidur berdua. Tetapi Dimas menolak karena ia takut akan mengenai luka di perut Gita. Jadilah sekarang ia tidur di sofa.


"Permisi." ujar seorang suster yang masuk kedalam ruangan untuk memeriksa Gita. Tetapi tidak ada pergerakan dari keduanya. Akhirnya suster meletakkan sarapan untuk Gita di nakas sebelah tempat tidur lalu berjalan keluar.


Masih sekolah aja udah punya status suami istri, lah gue kapan? batin suster. 


Tak lama Gita membuka matanya lebih dulu, dan langsung mencari dimana keberadaan suaminya itu. Dan tepat matanya menangkap Dimas yang sedang tertidur di sofa sambil kakinya di angkat di sandaran sofa.


"Pasti badannya pegel semua nanti." ucap Gita entah pada siapa.


Gita berusaha bangkit untuk duduk karena tenggorokannya terasa kering. Saat sudah ingin berhasil, suara Dimas membuatnya terdiam lalu menoleh ke arah suara itu. Ternyata Dimas susah bangun.


"Mau ngapain? Kenapa gak bangunin aku?" tanya Dimas lalu bangkit mendekat ke arah Gita.


"Cuman mau minum kak." jawab Gita pelan.


Dengan cepat Dimas mengambilkan air minum lalu membantu Gita untuk menegakkan tubuhnya agar bisa minum. Setelah di rasa cukup, Dimas menaruh kembali gelasnya.


"Kakak gak sekolah?" tanya Gita.


"Kalo aku sekolah, yang jagain kamu di sini siapa?" tanya balik Dimas.


"Jadi kamu gak mau di jagain aku?" tanya Dimas sinis.


Gita diam, antara sedih dan senang secara bersamaan. Apa Dimas tulus menjaganya atau memang karena merasa bersalah padanya?


"Aku gak sekolah hari ini." putus Dimas dan di jawaban anggukan pelan dari Gita.


Tak lama ponsel Dimas berdering, menandakan ada panggilan masuk di sana. Dan telihatlah nama Gilang di sana, Dimas segera menggeser tombol hijau untuk menjawabnya.


"Apaan?" tanya Dimas to the point.


"....."


"Gue gak masuk."


"....."


"Ada urusan penting."


"....."


"Udah, lo berisik." ucap Dimas sedikit kesal lalu mematikan sambungan itu sepihak. Bisa di pastikan Gilang sedang menggerutu sekarang.


Urusan penting? Jadi gue udah penting di hidup kak Dimas batin Gita. 


"Siapa kak?" tanya Gita yang memang tidak melihat siapa yang menghubungi Dimas tadi.


"Gilang." jawab Dimas lalu tangannya beralih mengambil sarapan untuk Gita di atas meja.


"Sarapan dulu ya, nanti minum obat." ujar Dimas dan di angguki Gita.


Gita tersenyum, hatinya menghangat melihat kelakuan Dimas pagi ini. Sedangkan Dimas salah tingkah melihat Gita tersenyum padanya. Senyum yang cantik batin Dimas.


Belum makanan masuk sempurna ke mulut Gita, ponsel Dimas kembali berdering dan kali ini Gita melihat nama peneleponnya di sana. Gita berharap Dimas mengabaikan panggilan itu saat ini.


Kiara is calling.. 


Dimas melirik ponselnya tanpa menunggu lama Dimas menjawab panggilan itu lalu menjauh dari Gita. Gita yang melihat itu hanya diam memperhatikan suaminya dari atas kasur. Hati Gita sedikit eh bukan sedikit tapi banyak merasakan sakit. Baru sebentar ia merasakan hangat di hatinya sekarang malah jadi panas.


Tak lama Dimas kembali dengan senyum yang merekah. Gita hanya bisa diam melihat tingkah Dimas sekarang, tidak seperti tadi yang menampilkan senyum. Kalau tadi kepada Gilang, Dimas bilang ada urusan penting lalu pada Kiara, Dimas mengatakan apa ya? Jujur Gita penasaran.


"Kiara?" pertanyaan Gita lolos begitu saja dari mulutnya dan membuat Gita langsung menutup mulutnya. Dimas yang mendengar itu langsung menoleh ke arah Gita dengan wajah biasa saja.


"Makan lagi ya, abis itu gue mau balik dulu ya, mau sekolah kata Gilang ada ulangan mendadak hari ini." jelas Dimas lalu mengambil kembali makanan yang tadi.


Gita menolak suapan itu rasanya sangat sakit. Pertama Dimas menggunakan kata lo-gue lagi padanya. Kedua ia memutuskan untuk sekolah setelah mendapatkan telepon dari Kiara.


"Karena Kiara telepon kakak?" tanya Gita tenang.