My Husband Badboy

My Husband Badboy
BAB 53



Menikah tanpa di dasari dengan cinta itu rasanya sakit ya. Bukankah cinta bisa datang karena terbiasa? Lalu sampai kapan cinta itu akan datang kalau si pelaku tidak pernah terbiasa dengan datangnya seseorang itu. Menunggu yang tidak pasti itu melelahkan.


Sama seperti Gita sekarang, bagaimana pun akan terasa serba salah. Mau maju agar rumah tangganya tetap bertahan, tetapi yang di pertahananin seakan menolak. Mau mundur biar Dimas bahagia tetapi cowok itu tidak mengizinkan. Lalu harus apa Gita ini?


****


Gilang masih terlihat bingung dengan tingkah kedua sahabatnya yang seakan menjauh satu sama lain. Ada apa sebenarnya dengan dua makhluk aneh di depannya ini. Biasanya mereka sedang bersenda gurau meskipun guru sedang mengajar di depan.


"Lo berdua lagi ada masalah?" tanya Gilang sambil menoleh ke arah Dimas yang duduk di belakangnya.


Farhan melirik ke arah Dimas begitu juga sebaliknya. Gilang yang melihat itu semakin yakin kalau keduanya tengah ada masalah. Tapi masalah apa? Apa masalah Gita?


"Gue tanya tuh di jawab!" kesal Gilang pada kedua sahabatnya sambil menggebrak meja. Untung saja sekarang tengah jam kosong, tetapi itu semua tak luput dari pandangan teman sekelasnya.


"Lo tanya aja sama dia yang kaya anak kecil, ngambek bisanya cuma ngediemin orang!" sahut Dimas menunjuk Farhan dengan dagu.


Gilang menoleh ke arah Farhan, "Gak usah nanya gue, lo yang harusnya tanya ke temen lo kenapa dia brengsek banget!" ujar Farhan sambil melirik ke arah Dimas dengan tatapan yang tajam. Setajam golok.


Gilang semakin pusing melihat tingkah keduanya, benar-benar seperti anak kecil. "Lo berdua kenapa jadi kaya gini? Apa ini semua karena Gita?" tebak Gilang.


Keduanya terdiam tidak menjawab.


"Bener semua karena Gita? lo berdua berantem karena itu cewek?" ujar Gilang kencang membuat semua mata melotot ke arah mereka bertiga.


Desas-desis terdengar mengisi kelas yang sedang kosong tanpa guru.


"Hah, gue gak salah denger?"


"Dimas sama Farhan berantem cuma karena seorang Gita si debu sekolah?"


"Sebenernya Gita pake pelet apaan sih? Kok cogan kaya mereka bisa mau sama tuh cewek."


"Beruntung banget ya jadi Gita, di rebutin sama cowok tampan dan kaya."


"Maksud lo tadi pagi yang mau nganter Gita pulang lagi apa Han?" Gilang memulai intrograsinya pada Farhan.


Farhan tersenyum miring sambil menatap Dimas, "Iya emang kenapa? Ada yang salah dengan gue nganter Gita? Lo mending bantuin buat deketin Gita!" ujar Farhan dengan serius dan ada penekanan saat menyebut nama Gita.


Gilang menggeleng tak percaya dengan ucapan Farhan tadi, "Sejak kapan lo mulai tertarik deketin Gita, cewek kampung di sekolah ini?" tanya Gilang.


"Jangan pernah sebut Gita cewek kampung atau hal lain yang menjelekan dia!" marah Dimas.


Gilang menatap Dimas dengan bingung, dan semakin yakin kalau kedua sahabatnya bertengkar karena Gita. "Gue semakin yakin kalau lo berdua ribut cuma gara-gara tuh cewek!"


"Lo bisa diem gak?" desak Farhan.


"Gue gak habis pikir, kenapa lo berdua bisa jadi begini karena dia. Lo juga Dim, bukannya lo lagi deketin si Kiara, trus kenapa juga lo marah kalau Farhan deketin Gita?"


"Nah, patut di pertanyakan tuh Lang, lagi ngejar satu cewek tapi mau juga sama cewek yang lain. Bukannya itu namanya brengsek?" tandas Farhan membuat emosi Dimas naik.


Diam saja bukan berarti takut, cuma Dimas tidak mau ada ribut-ribut seperti ini. Masalah ini bisa di bicarakan baik-baik lagipula seharusnya Farhan tidak bisa ikut campur sedalam ini. Ini urusan rumah tangganya dengan Gita.


"Gue bukan brengsek!" teriak Dimas lalu berlalu meninggalkan kelas.


Gilang semakin pusing melihatnya, "Gue bakal kasih pelajaran tuh cewek karena udah bikin pertemanan gue hancur kaya gini!" batin Gilang.


*****


Bel pulang sekolah sudah berbunyi. Gita dan Kiara sudah berada di parkiran sekolah. Tadinya Gita sudah ingin kabur dari Farhan agar tidak pulang bersama lagi, tetapi Kiara yang memaksanya. Kiara seakan membantu Farhan agar dekat dengan Gita, dan itu membuat Gita risih.


Desas desus di parkiran terdengar sangat bising di telingan Gita.


"Cewek modelan kaya gitu aja di jadiin rebutan."


"Cantik sih tapi sayang gak tau malu, sana sini mau."


"Gayanya aja sok polos."


"kak Dimas sama kak Farhan buta kali ya."


Begitulau kira-kira cuitan netizen yang sedang berada di dekat Gita. Ingin rasanya Gita menghilang dan menangis sepuasnya. Seburuk itukah dirinya di hadapan mereka?


"Lo gak usah dengerin omongan mereka, mereka itu sebenernya iri sama lo." ujar Kiara yang juga mendengar itu semua.


"Iri?" beo Gita.


Kiara mengangguk, "Iya, karena lo bisa deket sama most wanted di sekolah ini bahkan kalau gak salah lo itu mantan pacarnya kak Dimas kan?" ada nada sedih saat menyebut mantan pacar.


Gita menggeleng, "itu cuma gosip aja Ra, gue sama kak Dimas gak pernah ada hubungan apapun kok. Lo tenang aja." bohong Gita.


"Iya iya gue percaya, apalagi sekarang lo lagi mau pdktan sama kak Farhan. Jadi mereka makin iri sama lo, makanya mereka cuma bisa berkomentar ngejatohin lo kaya gitu." ujar Kiara.


Gita hanya mengangguk tak tau mau menjawab apa omongan Kiara. Di bilang tidak ada yang pdkt pasti Kiara tidak akan percaya.


Tak lama Farhan dan Gilang datang dan di belakangnya ada Dimas dengan wajah datarnya. Membuat semua pasang mata kembali fokus dengan apa yang akan terjadi setelah ini.


"Lo pulang bareng gue!" ujar Dimas tiba-tiba sambil menunjuk Gita.


Gita menggeleng, "kan kakak tadi udah janji mau nganterin Kiara ke mall?" Gita mengingatkan hal yang sudah di sepakatin tadi pagi.


Kiara hanya mengangguk.


"Tau masa lo lupa sih, padahal baru tadi pagi. Kan kesepakatannya Gita pulang sama gue hari ini." ujar Farhan sambil menepuk bahu Dimas sedikit keras.


Dimas melirik ke arah Kiara dan Gita bergantian sedangakan Gilang hanya menatap Gita dengan tatapan yang tidak bisa di artikan. Gilang kesal dengan perempuan itu yang membuat Dimas dan Farhan perang Dingin seperti ini.


"Yaudah kalau gitu kita pulang sekarang Git." ajak Farhan sambil mengulurkan tangannya.


Belum sempat di sambut oleh Gita, tangan Farhan di tepis oleh Dimas. "Jangan pernah sentuh istri gue!" bisik Dimas pelan sehingga yang lain tidak dapat mendengarnya.


Kiara semakin bingung dengan sikap Dimas, bukannya mendukung temannya untuk pdkt tapi seperti tidak terima hal itu terjadi. Apa Dimas suka dengan Gita?


Farhan terkekeh pelan mendengar bisikan dari Dimas tadi dan menganggapnya hanya angin lalu. Toh, Dimas juga dengan bebas menggenggam tangan Kiara tanpa Gita marah atau ketahui.


"Gue balik duluan ya Ra, lo hati-hati. Kak Dimas jagain Kiara ya." ujar Gita dan mendekat ke arah Farhan.


Sebelum pergi dari sana Farhan membisikan sesuatu ke telinga Dimas, "Baru pegang tangan aja udah gak boleh, gimana gue ajak tidur istri lo!" ujar Farhan bercanda lalu menepuk bahu Dimas.


Dimas yang mendengar itu membuat emosinya naik, ia tidak terima kalau istrinya di tidurin oleh lelaki lagi apalagi ini sahabatnya. "Brengsek!" teriak Dimas ke arah Farhan yang sudah berlalu.


Sedangkan Farhan yang mendengar itu hanya terkekeh pelan, niatnya cuma bercanda berkata seperti itu eh Dimas malah termakan emosi. Biarin lah biar tau rasa tuh orang batin Farhan.


Bersambung.....


Jangan lupa follow instagram aku yaa : maulidyapu