My Husband Badboy

My Husband Badboy
BAB 27



Gita masuk kedalam mobil,tapi kali ini ia tidak duduk didepan bersama pak Harto dan memilih untuk di kursi belakang. Bukan karena tak mau hanya saja Gita ingin menangis dibelakang tanpa pak Harto tau. Pak Harto yang melihat gelagat Gita hanya diam. ia tau pasti terjadi sesuatu dirumah majikannya tadi, tetapi ia tidak mau ikut campur.


pak Harto langsung melajukan mobilnya menuju rumah keluarga Dimas. Gita menangis dibelakang. meskipun menangis dalam diam. Gita merasa sakit. Mengapa semua ini harus terjadi pada dirinya yang masih sangat muda. Mengapa dunia seakan tidak adil. Mengapa selalu dirinya yang jadi korban disini.


Ditengah perjalanan Gita memanggil pak Harto dengan suara lirih.


"pak" panggil Gita dengan suara bergetar.


"iya non?"


"turunin Gita disini aja boleh gak? Gita ada urusan sebentar" tawar Gita.


Pak Harto diam bingung harus menjawab apa.


"hm gimana ya non,bukannya gak boleh tapi saya takut nanti den Dimas marahin saya non" tolak pak Harto.


ohiya ya mengapa Gita tidak berfikir kesana. ia tidak boleh egois, hanya karena dirinya bisa-bisa pak Harto kena marah Dimas.


"hm yaudah deh kita pulang ya pak" putus Gita lalu di jawab anggukan oleh pak Harto.


Mereka telah sampai dirumah,Gita melangkah masuk lalu memanggil bi asih yang sedang berada didapur.


"bi..." panggil Gita.


bi asih segera menghampiri Gita sambil menundukkan kepalanya.


"iya non ada apa?" jawab bi Asih.


"ini aku abis beli martabak tadi sama pak Harto,enak lohhh" ucap Gita riang, meskipun dari matanya terlihat ia sedang sedih.


bi asih melihat wajah Gita yang memerah,bahkan hidung mancungnya juga. bi asih bisa menyimpulkan Gita habis menangis.


"ohyaa makasih non jadi gak enak saya.." ucap bi asih sambil terkekeh. Jujur bi asih bangga dengan Gita. Gita itu orang yang sangat ikhlas menurutnya.


"bi tapi aku minta tolong boleh gak?" tanya Gita.


"apatuh non?"


"ambilin piring sama air minum hehe,maaf loh bi" ujar Gita sambil terkekeh. Baru kali ini ia meminta tolong pembantu suaminya itu. Bukan karena sudah merasa tinggi, tapi karena memang mood Gita yang lagi tak baik. Jadi ia mager alias males gerak.


"ah si non kira apa,bentar yaaa bibi ambilin dulu" ucap bi asih lalu meninggalkan Gita.


Gita melangkah menuju sofa diruang keluarga sambil menyalakan televisi didepannya. Tak lama Bi asih datang membawakan pesanan Gita. Gita menerima dengan senyum lalu mengucapkan terimakasih.


Baru bi asih akan beranjak suara deringan telepon rumah berbunyi. Dengan langkah cepat bi asih menghampiri telepon itu dan mengangkatnya.


"halo selamat malam,dengan keluarga Arron" ucap Bi asih.


Memang dikeluarga Arron membiasakan diri saat mengangkat telepon berkata seperti itu.


"...."


"eh nyonya... ada nya lagi makan martabak"


"...."


"iya nya bibi panggilin dulu"


Bi asih segera menghampiri Gita yang sedang asik makan.


"siapa bi?" tanya Gita di sela-sela makannya.


"nyonya non,nyari non Gita" jawab Bi Asih memberitahu.


"mamah?"


bi asih mengangguk,lalu Gita bangkit menuju letak telepon rumah itu. Ternyata masih tersambung dengan ibu mertuanya.


"halo mah"


"...."


"hm itu mah ponsel aku hilang"


"...."


"...."


"enggak mah,maaf yaa nanti Gita ganti ya ponsel yang dari mamah itu"


"...."


"Kak Dimas lagi keluar mah"


"...."


"jangan mah,aku gapapa kok"


"...."


"iya mamah tersayang" ucap Gita sambil terkikik.


bip


ibu mertuanya itu selalu saja membuatnya tertawa. Bahkan setiap hari Terry tidak pernah absen menanyakan kabar Gita dan calon cucunya. Makanya Terry menghubungi rumah karena ponsel Gita yang tak bisa dihubungi. Terry khawatir pada Gita.


Gita melangkah kembali ke arah martabaknya dan melanjutkan acara makanannya. Tak disangka waktu berlalu begitu cepat sekarang sudah menunjukkan pukul 9 malam. Mata Gita sudah mulai buram.


Tadi setelah makan martabak ia langsung membuat susu hamilnya dan menghabiskan. Dan sekarang Gita sudah berada dikamarnya. Niatnya menunggu Dimas pulang tetapi sepertinya ia tidak kuat. Mata nya sudah sangat perih karena mengantuk.


kak Dimas aku tidur duluan ya,selamat malam ucap Gita pada dirinya sendiri.


Gita mulai memasuki alam mimpinya.


Pukul 11malam Dimas baru sampai dirumahnya. Itupun karena sang mamah menghubungi dirinya terus menerus dari tadi. Terry memarahi Dimas karena membiarkan istrinya sendiri dirumah sedangkan dia pergi keluyuran.


Dimas mengerutu tak jelas menyalahkan Gita. pasti Gita ngadu yang macam-macam pada mamahnya. Awas aja Gita,Dimas akan buat perhitungan.


Dimas masuk kedalam kamarnya,yang pertama kali dilihat adalah wajah lelah Gita dan ada bekas jejak air mata disana. oh astaga Gita lupa untuk mencuci muka lebih dulu sebelum tidur tadi.


"kenapa lo ngeselin banget sih!!!" gerutu Dimas depan wajah Gita dengan suara pelan agar tidak membangunkan Gita.


Dimas melangkah masuk kedalam kamar mandi untuk membersihkan diri. Urusan Gita besok saja. Dimas ikut merebahkan dirinya disebelah Gita setelah semuanya selesai dan memasuki alam mimpinya.


Pagi hari tiba. Gita sudah bangun lebih dulu dan sudah rapi dengan seragam sekolahnya. Sedangkan Dimas masih bergelung dibawah selimutnya.


"kak Dimas bangun udah siang nanti kita telat" guncang Gita pada tubuh Dimas.


"enghhh"


Dimas langsung mendudukan dirinya diatas kasur. memang setelah menikah Dimas jadi gampang saat dibangunin waktu tidur. Gita yang melihat Dimas sudah bangun berniat ingin kebawah lebih dulu. namun sayang tangannya di cekal oleh Dimas.


"bentar gue pengen ngomong sama lo!" ucap Dimas dengan suara seraknya.


"aa..paa kak?" jawab Gita gugup karena wajah Dimas teelihat tidak bersahabat.


"semalem ngadu apa aja ke mamah sampe dia teleponin gue terus suruh pulang?" tanya Dimas mengintimidasi Gita.


Gita menggeleng cepat.


"kata mamah ponsel lo hilang, dimana?" tanya Dimas lagi.


Gita mengangguk tak berani menjawab.


"jangan-jangan Lo jual ya?" tebak Dimas asal.


Gita menggeleng keras. Astaga kenapa bisa Dimas berpikiran seperti itu. itu bukan Gita banget ayolah.


"karena lo gak ada ponsel jadi ribet tau gak! nyokap nelepon guee terus!!!" ucap Dimas kesal. baru dibilang eh ponselnya berdering dan dilihatlah nama Terry disana.


"tuh kan lihat aja pasti dia nyari lo,angkat nih" ucap Dimas sambil memberikan ponselnya pada Gita.


"kalo mamah perlunya sama kak Dimas gimana?" tanya Gita sambil memberikan ponselnya kembali ke Dimas.


"gak mungkin yang anaknya dia sekarang kan Lo,bukan gue" ucap Dimas lalu melangkah masuk ke kamar mandi dan Gita mulai mengangkat panggilan dari ibu mertuanya itu. dan ternyata benar Terry mencarinya.


Akhirnya mereka mengobrol sebentar sebelum Gita pamit untuk sarapan lebih dulu,dan tadi Terry mengatakan akan membelikan Gita ponsel terbaru setelah pulang sekolah bersama Dimas.


*maaf mah,kak Dimas aku udah bohong*