My Husband Badboy

My Husband Badboy
BAB 57



Sepertinya hari ini akan menjadi hari yang tidak terlupakan untuk Gita maupun Dimas. Karena ini kedua kalinya mereka kembali menyatu di dalam sebuah kehangatan dan kenikmatan. Bukankah itu salah satu kunci agar menjadi rumah tangga yang harmonis.


Setelah sudah rapi dengan pakaian rumah keduanya ingin turun untuk makan malam. Tetapi belum sempat membuka pintu, suara ketukan terdengar dari luar. Dengan cepat Gita membuka pintu dan di lihatlah sang bibi yang berdiri di sana. Wajahnya terlihat cemas.


"Ada apa bi? ini Gita sama kak Dimas mau turun kok." ujar Gita pada bi Asih.


bi Asih menggeleng cepat, membuat Gita bingung.


"Kenapa bi? Ada apa?" tanya Gita.


"Eemm.. itu non, di bawah ada temennya den Dimas." ujar bi Asih terbata.


Dimas yang berdiri di belakang Gita langsung menyembulkan kepalanya, "Siapa yang dateng bi?" tanya Dimas.


"Den Gilang, katanya udah janjian sama aden." ujar bi Asih gelisah.


Ucapan bi Asih membuat Gita dan Dimas juga panik. Bagaimana kalau Gilang tau, tentang hubungan mereka, semua bisa gawat. Jujur, Dimas lebih percaya dengan Farhan yang dengan terbukti hingga sekarang rahasianya masih aman dari pada Gilang yang terkadang mulutnya sangat tidak tau tempat alias ember.


"Untung tadi bibi yang bukain pintunya, trus dia mau langsung ke atas. Bibi bilang aja jangan soalnya den Dimas lagi buang air terus takut kamarnya bau, untung aja dia percaya dan nyuruh bibi yang panggilin ke sini." jelas bi Asih membuat Dimas dan Gita terkekeh pelan.


Ada-ada saja memang bi Asih ini.


Gita menoleh ke arah Dimas, "Trus gimana kak? Aku takut kita ketahuan." ujarnya panik.


Dimas mengusap pucuk kepala Gita pelan, "Tenang ya, kamu di kamar aja. Biar aku temuin Gilang dulu ke bawah nyuruh dia buat pulang."


"Kalau dia gak mau dan tetep mau masuk ke kamar kamu gimana kak?" khawatir Gita.


Kali ini Dimas menggenggam tangan Gita seakan meyakinkan itu tidak akan terjadi dan tetap tenang walaupun hati Dimas sebenarnya ikut panik.


"Yaudah aku turun dulu, kalau kelamaan takutnya Gilang malah curiga dan tiba-tiba dia nongol di sini. Kamu tunggu di kamar ya, nanti aku jemput lagi ke sini buat makan malam." Akhirnya Gita mengangguk dan membiarkan Dimas turun menemui Gilang.


Dimas sudah berlalu dari sana, sedangkan bi Asih masih berdiri di depan pintu kamar Dimas sambil tersenyum menggoda nona mudanya. Hati bi Asih ikut bahagia melihat interaksi keduanya tadi. Mungkin karena bi Asih sudah menganggap Dimas sebagai anaknya juga, jadi bi Asih ikut bahagia kalau Dimas bahagia seperti tadi.


"Cie, kayanya abis ehem nih." goda bi Asih.


Gita nampak bingung kemana arah omongan bi Asih tadi.


"Maksudnya bi?" tanya Gita polos.


"Itu rambutnya sama-sama masih basah, abis ehem ya tadi?" goda bi Asih lagi sambil menunjuk rambut Gita.


Gita mulai sadar dengan godaan bi Asih, dan tersenyum malu.


"Ih bibi apa sih, malu tau aku." ujar Gita malu.


Bi Asih terkekeh melihat wajah Gita yang mulai memerah karena menahan malu, "Gapapa kali non, namanya juga pengantin baru plus masih muda lagi. Setiap hari pun gak jadi masalah, kaya bibi dulu sama almarhum suami."


Wajah Gita semakin merah dan membuat bi Asih semakin terkekeh melihat nona mudanya tersipu malu.


"Bi jangan berisik nanti ketahuan kak Gilang." ujar Gita pelan sambil menaruh jari telunjuknya di depan bibir.


Bi Asih langsung berhenti tertawa dan membekap mulutnya menggunakan telapak tangan sambil mengangguk.


"Yaudah kalau gitu, bibi mau balik lagi ke dapur. Bibi do'ain semoga yang kemarin hilang cepet tumbuh lagi. Biar menambah kebahagiaan keluarga besar ini." doa bi Asih sebelum turun ke bawah.


"YaAllah, kalau memang engkau memberikan kesempatan itu lagi hamba menerimanya dengan ikhlas dan insha Allah hamba akan menjaganya, tetapi satu yang ku minta, jadikanlah suami ku, suami yang tau atas tanggung jawabnya." ujar Gita dalam hati.


****


Di ruang tamu, terlihat Gilang sedang duduk sambil memainkan ponselnya. Tanpa basa-basi Dimas menghampiri Gilang yang belum sadar kalau Dimas sudah berada di sana.


"Ngapain?" tanya Dimas to the point.


Gilang yang tiba-tiba dapat pertanyaan langsung mendongkak melihat wajah sahabatnya di sana.


"Tumben nanya ngapain, biasanya lo santai aja." ujar Gilang.


Memang benar apa yang di bilang Gilang, biasanya Gilang bisa langsung masuk ke kamar Dimas setelah pak Harto bilang Dimas ada di rumah. Tetapi mengapa kali ini tidak boleh, dengan alasan Dimas sedang buang air besar terus menerus.


"Gue capek, jadi gak mau terima tamu." ujar Dimas ketus.


Gilang mengangkat alisnya, "Sebenarnya lo sama Farhan ada masalah apa sih? Tadi tuh anak gue ajak ke sini gak mau dan alasannya sama kaya yang bi Asih bilang tadi. Lagi buang air terus." ujar Gilang membuat Dimas menahan tawanya.


Kenapa alasan aja bisa sama begini batin Dimas.


"Gak ada masalah apapun, dan yang di bilang bi Asih emang bener. Jadi mending lo pulang deh, sebelum ngedenger suara semprotan dari sini." ucap Dimas sambil menunjuk ke arah bokongnya.


Gilang melempar bantal sofa ke arah Dimas, "Jijik anjing." ujar nya.


Dimas terkekeh melihat wajah Gilang, "Yaudah makanya mending lo balik deh."


Gilang bangkit dari duduknya dan segera keluar dari rumah Dimas dengan terus menggerutu tiada henti, mungkin sampai di rumahnya nanti Gilang akan terus menggerutu.


Dimas tertawa kencang sambil melangkah ke arah kamarnya, sesuai janjinya tadi ia akan menjemput Gita lagi ke kamarnya untuk turun bersama ke ruang makan.


Gita kaget saat Dimas membuat pintunya secara kasar, Gita kira itu Gilang yang membukanya karena mengetahui keberadaannya di sini. Ah memang cewek sukanya overthinking yang belum tentu terjadi. Siapa nih yang begini?


"Ayo Git kita turun." ajak Dimas sambil mengulurkan tangannya.


Gita mengambil tangan itu lalu bangkit dari duduknya mengikuti langkah Dimas tetapi sebelum benar-benar keluar dari kamar Gita menahan Dimas, membuat Dimas menoleh ke arah Gita.


"Kenapa?" tanya Dimas.


"Kak Gilang nya udah pulang? Dia gak tau kan kalau aku ada di sini?" tanya Gita sedikit takut.


Dimas tersenyum kecil, "Memang kalau dia tau kenapa?" goda Dimas.


Wajah Gita mendadak panik lagi, kalau Gilang sudah tau apakah ia masih bisa bersekolah dengan damai seperti sekarang? Sejak dirinya berteman dengan Kiara, sudah jarang sekali yang membully-nya.


Dimas tertawa kencang melihat wajah Gita yang panik, "Kok kakak malah ketawa sih? Ini bahaya kak." ujar Gita polos.


Dimas mengacak rambut Gita gemas, "Gausah panik gitu kali, tenang semua masih aman kok. Udah ya gausah di pikirin lagi, mendingan sekarang kita makan, aku udah laper banget." ujar Dimas membuat Gita bernapas lega dan mengangguk.


"Maaf ya kalau selama ini selalu buat kamu kecewa, tapi malam ini aku janji sebisa mungkin aku akan buat kamu bahagia mulai sekarang bagaimanapun caranya." ujar Dimas lembut sambil mengecup kening Gita dengan sayang dan membuat Gita terbuai lalu mengangguk.


Bersambung....


Maaf kalau kemarin gak update karena aku lagi sibuk banget..