
Laki-laki berbadan atletis keluar dari mobil lalu melangkahkan kakinya menuju halte yang saat ini sedang ada perempuan yang sepertinya sedang kacau terlihat dari wajahnya. Wajah itu sangat lelaki ini kenali. Sudah hampir 1tahun ia tak melihat perempuan itu.
"Gita" panggilnya sambil mengelus kepala perempuan itu.
Gita mendongkak dan betapa kagetnya melihat orang yang dulu selalu ada untuknya. Tetapi setahun belakangan ini menghilang tanpa jejak.
"kak Ando?" cicit Gita.
Ando tersenyum lalu membawa Gita kedalam dekapannya. Gita kembali menangis. Ia sangat rindu dengan sosok Ando. Karena hanya Ando yang menjadi teman Gita satu-satunya. Ando meregangkan pelukannya lalu mengangkat wajah Gita agar bisa lebih jelas melihat wajah adik cantiknya yang pernah sempat ia cintai.
"Lo kenapa?" tanya Ando saat melihat wajah Gita.
Gita menggeleng. Ia tak mungkin memberitahu Ando yang sebenarnya. Gita tak ingin menyakiti Ando lagi untuk kedua kalinya. Kasus Ando yang pergi tanpa jejak itu karena Ando di tolak oleh Gita. Bukan. Bukan karena Gita tidak suka dengan Ando hanya saja banyak orang yang tidak suka melihat mereka bersama. Contohnya kedua orangtua Ando sendiri. Jadi Gita memutuskan untuk tidak menerima Ando saat waktu itu Ando mengungkapkan perasaannya. Dan Ando pergi begitu saja meninggalkan Gita.
"terus ngapain Lo ada disini? pake nangis segala lagi" tanya Ando penasaran. Ini bukan Gita yang dia kenal. Gita yang dia kenal itu perempuan yang kuat tidak seperti sekarang.
"gue gapapa kak,kok lo bisa ada disini?" tanya balik Gita.
Ando terdiam.
"gue kangen lo" kata Ando setelah lumayan lama hening.
Gita kembali memeluk Ando.
"gue juga kangen banget sama lo kak,maafin gue kak"
"husstt gue yang minta maaf sama lo karena pergi tanpa pamit,tapi gue janji sekarang gue gak akan pernah pergi lagi dari lo,dan kita mulai semuanya lagi dari awal" ucap Ando.
"sebagai kakak dan adik" lanjutnya membuat Gita bernafas lega.
Saat sedang nyaman berada dengan posisi ini perut Gita kembali tidak enak. Gita segera berlari ke arah selokan dan mengeluarkan isi perutnya yang isinya hanya air karena ia belum sempat makan apapun.
Hoek
Hoek
Ando yang bingung hanya menunggu Gita kembali ke tempat duduknya. Setelah menghabiskan waktu hampir 3menit akhirnya Gita kembali duduk.
Ando meneliti wajah Gita dengan seksama. Wajah Gita terlihat sangat pucat. Lama mengenal Gita yang notabene nya adalah adik kelasnya dulu. Sedikit tau tentang Gita dan keluarganya. Dan itulah yang membuat orangtuanya tidak setuju jika mereka bersama karena memang mereka beda. Ando ini 2tahun diatas Gita,jadi saat Gita kelas 1 SMP Ando sudah kelas 3 SMP.
"Lo sakit?" tanya Ando.
Gita diam.
"kita kerumah sakit sekarang" ajak Ando.
Gita menggeleng "gausah kak gue gak gapapa,cuma kecapean aja"
"trus ini sekarang lo mau kemana? bukannya hari ini harusnya lo sekolah?"
"kak gue boleh gak ikut lo.."
Ando menaikkan alisnya menunggu lanjutan kata-kata dari Gita.
"nanti gue ceritain" ucap Gita pada akhirnya.
orang satu-satunya yang Gita punya sekarang hanya Ando. Gita harus menceritakan semuanya pada Ando. toh kalau tidak diceritakan Ando juga akan mencarinya kerumah dan bertemu dengan ibunya lalu ibunya cerita yang sebenarnya ke Ando. kan sama saja. pada akhirnya juga terbongkar.
"yaudah kita ke apartemen gue" ajak Ando.
"gak ada mereka masih di luar negeri,selama ini gue tinggal disana" jelas Ando membuat Gita diam. Ternyata Ando pergi darinya jauh hingga keluar negeri.
Ando menggandeng Gita menuju mobilnya lalu melesatkan mobilnya menuju apartemen miliknya.
Disisi lain.
Seorang cowok yang dari tadi sibuk dengan ponselnya akhirnya menghela nafas kasar. bagaimana tidak, sekarang Dimas sudah berada didepan gang rumah kekasihnya itu sambil menghubunginya, tetapi tak ada satupun panggilan itu dijawab hanya ada suara operator yang bilang kalau nomer yang anda tuju sedang di luar jangkauan.
Dimas memukul setirnya kesal. Kalau begini caranya ia bisa telat masuk kesekolah. oh ya soal orang tuanya. Mereka akan tiba siang ini. Dan rencana Dimas setelah pulang sekolah Dimas langsung membicarakan ini pada orang tuanya.
Dimas melajukan mobilnya menuju sekolah sambil menghubungi seseorang yaitu orang suruhan papahnya untuk mendapatkan dimana rumah gadisnya itu. Karena selama ini ia tidak pernah tau pasti dimana letaknya.
Setelah sampai disekolah Dimas langsung menuju kelas Gita untuk mengecek keberadaan gadis itu. Namun sayang tak ada yang melihatnya. Hingga akhirnya Dimas mendapatkan sebuah pesan berisikan gambar rumah sederhana dengan sebuah warung nasi didepannya. Lalu yang lebih mengejutkan lagi Gita tidak lagi tinggal disana karena orang suruhannya itu mendengar apa yang seorang ibu katakan.
*Lo kemana sih gue khawatir batin Dimas*.
Dimas melangkah menuju kelasnya namun otaknya tidak berada disini,otaknya berkelana kemana Gita pergi. Dimas harus apa kalau seperti ini. ini kali pertama Dimas khawatir dengan orang lain selain orangtuanya.
ah ya akhirnya Dimas mendapatkan ide yaitu menyuruh anak buah papahnya untuk melacak dimana Gita berada sekarang. Pokoknya siang ini Dimas harus mempertemukan Gita dengan orangtuanya. Sepertinya sudah sedikit masuk kedalam pesona gadis lugu yang ia hancurkan masa depannya.
Gita sudah berada di apartemen milik Ando. Sebenarnya Gita masih trauma dengan kejadian bersama Dimas lalu namun ia harus membuang jauh-jauh pikiran itu karena yang didepannya ini adalah Ando. Dia tak mungkin menyakiti Gita.
Gita sudah menceritakan semuanya dengan Ando tanpa ada yang ditutupi. Gita kembali menangis dan Ando kembali mendekap Gita menyalurkan ketenangan serta kenyamanan.
"kenapa pikiran lo begitu buntu Git? Lo bisa hubungi gue!" ucap Ando dengan tenang.
"gimana bisa gue hubungi lo kak! lo aja menghilangkan tanpa pamit!"
"gue selalu mantau lo dari jauh Git,kontak gue masih yang lama. Dari dulu gue berharap lo chat gue lebih dulu namun sayang itu cuma harapan dan gak akan terwujud sampai saat ini. sampai gue kembali lagi"
Gita diam. Apakah ia terlalu egois?
"terus sekarang apa yang bakal lo lakuin?" tanya Ando.
Gita mengangkat bahunya. Ando terdiam cukup lama seperti sedang memikirkan sesuatu hingga akhirnya..
"gue yang bakal tanggung jawab!" ucapnya lantang.
Gita menatap Ando mencari lelucon dimatanya namun tidak ada,hanya ada keseriusan disana. Gita menggeleng tanda tak setuju.
"kenapa?" tanya Ando.
"ini masalah gue,gak seharusnya lo ikut campur sampai sedalam itu kak"
"Lo anggap gue apa sih Git? disini gue cuma bantu Lo! Lo gak punya siapa-siapa lagi selain gue!" bentak Ando tanpa sadar.
Gita kembali menangis "maka dari itu,gue emang gak pantes punya siapa-siapa kak!" ucap Gita lirih.
"bukan gitu maksud gue...arghh" frustasi Ando.
"gue pamit ya kak, makasih udah dengerin cerita gue tadi" ucap Gita ingin keluar dari apartemen Ando namun Ando lebih dulu mendekapnya lagi.
"please Git,jangan pernah pergi lagi. gue ikhlas kok jadi ayah dari anak lo,masalah orangtua gue biar gue yang urus" pinta Ando dengan suara lembut.
Gita hanya diam tanpa merespon apapun. Jujur Gita berharap Dimaslah yang bertanggung jawab selain ini memang anaknya dan Gita mulai menaruh hati pada laki-laki bad itu. Sungguh Gita tidak menyadari kapan perasaan ini muncul,namun saat tadi Ando bilang dia yang akan tanggung jawab Gita merasakan ada sesuatu yang berbeda tidak sebahagia saat Dimas yang mengatakan.