
Hari sudah berlalu. Dan hari ini adalah hari pertama Gita mulai masuk sekolah kembali setelah hampir satu Minggu tidak pergi ke sekolah. Sebelum akhirnya di bolehkan sekolah lagi, Gita harus memohon dulu pada mamah mertuanya itu. Awalnya Terry tidak setuju kalau Gita harus kembali ke sekolah, karena takut hal mengerikan kemarin terulang lagi. Terry sudah berniat agar Gita home schooling saja. Tetapi Gita tidak mau karena akan membosankan, tidak bisa bertemu teman meskipun ia tidak punya teman. Setidaknya sekarang sudah ada Kiara yang menjadi temannya.
Gita berangkat di antar oleh pak Harto, karena Dimas sudah lebih dulu berangkat. Bilangnya sih ada urusan dulu bersama dengan Farhan dan Gilang. Entahlah Dimas bohong atau tidak, Gita tidak mau terlalu memikirkan hal itu. Toh semuanya sudah mereka bicarakan waktu itu, dan kalau Gita sudah menyerah dengan berat hati Gita akan pergi dari hidup Dimas. Tetapi satu hal yang harus kalian tau, sejak percakapan malam itu Dimas selalu menemaninya dan selalu menuruti apa permintaannya. Dimas hanya pergi ke sekolah dan setelah pulang sekolah selalu tepat waktu.
"Terima kasih banyak pak. Hati-hati di jalan ya." ujar Gita pada pak Harto dan tidak lupa mencium tangan supir nya itu.
Pak Harto tersenyum pada Gita, "Sama-sama, non juga hati-hati ya. Kalau ada apa-apa langsung telepon pak Harto." ucap pak Harto sedikit khawatir juga pada nona muda nya itu.
Gita mengangguk lalu mengacungkan jempolnya dan turun dari mobil. Berjalan sendiri memasuki sekolah tanpa melihat ke arah manapun hanya fokus pada jalan di depannya. Seperti biasa, banyak cibiran pedas yang terdengar dari sana. Gita hanya diam saja, selalu pasrah jika di perbincangkan dan di bully oleh mereka.
Saat sedang menaiki tangga tiba-tiba ada beberapa siswi mendorong tubuh Gita dan membuat Gita tersungkur ke depan. Perutnya menyentuh anak tangga begitu juga dengan keningnya. Meringis pelan sambil mengusap perutnya. Gita kembali berdiri sambil memegangi perutnya karena terasa nyeri.
"Sakit? Mau ngadu ke Dimas?" tembak salah satu siswi.
Gita melihat mereka satu persatu, sepertinya kakak kelasnya alias satu angkatan dengan Dimas. Gita hanya menghelas napas, lalu kembali berjalan menuju kelasnya.
"Eh lo mau kemana? Gue belum selesai ngebully lo!" tegur siswi yang tadi.
Gita tidak peduli dengan ucapan itu dan terus melangkah tanpa menoleh sedikitpun ke arah mereka. Muak, Gita muak dengan semua ini. Apa sebenarnya yang salah pada dirinya, sampai semua benci padanya!
Saat sampai di kelas ia segera duduk di bangkunya yang sudah seminggu kosong. Tas Kiara belum ada, tandanya cewek itu belum datang. Sama seperti tadi saat baru datang, Gita menjadi bahan perbincang buat anak kelasnya. Dan yang di lakukan Gita hanya.... silahkan jawab guys.
Tak lama Kiara masuk ke kelas dengan ketiga most wanted sekolah di belakangnya. Kalian pasti sudah tau, siapa yang author maksud kan. Gita hanya tersenyum melihat itu, sedangkan Dimas memasang wajah kaget karena di sana ternyata sudah ada Gita.
Seperti ke pergok sedang selingkuh. Loh, bukannya memang iya?
"Halo Gita, akhirnya lo masuk sekolah lagi. Gue kangen banget sama lo tau!" ujar Kiara sambil memeluk Gita dari samping. Memang setelah Kiara jenguk waktu itu, perempuan itu tidak bertemu lagi dengan Gita hingga sekarang. Meskipun setiap hari Kiara selalu kirim pesan pada Gita, dan pernah sesekali memaksa ingin ke rumah Gita. Untung saja Gita banyak alasan jadi tidak sampai Kiara main ke rumahnya alias rumah Dimas.
"Lebay lo Ra!" seru Gita sambil terkekeh pelan.
Gita harus mencoba tetap biasa aja.
"Gue sama yang lain, cabut dulu ya." ujar Dimas sambil matanya terus menatap Gita.
Kiara mengangguk sambil tersenyum, "Nanti istirahat ke sini ya, jemput." ujar Kiara sedikit manja.
Telinga Gita mendengar jelas bagaimana suara Kiara pada Dimas. Hatinya semakin sakit, pertama ia di tinggal untuk pergi ke sekolah karena Dimas katanya ada urusan dulu. Kedua, ia merasa kalau Kiara sama Dimas itu sebenarnya punya hubungan. Apa benar?
Dimas hanya mengangguk sebagai jawaban dan pergi keluar kelas Gita di ikuti kedua sahabatnya. Farhan yang sejak awal masuk ke kelas itu sudah melihat ekspresi Dimas hingga keluar, bahkan saat Dimas terus menatap Gita pun Farhan melihatnya. Dalam pikiran Farhan, seperti ada sesuatu di antara mereka?
"Git, ayo main ke rumah gue. Nyokap gue pengen banget kenalan sama lo tau." ujar Kiara dengan semangat.
Gita menggaruk kepalanya, "Hm, kapan?" tanya Gita.
Gita menggeleng.
"Oke berarti pulang sekolah kita ke rumah gue ya." seru Kiara dan Gita hanya mengangguk. Kalau terus di tolak nanti Kiara akan curiga terus.
Gita mengeluarkan ponselnya untuk memberi tahu Dimas tentang ini, mau bagaimana pun Gita harus izin pada suaminya itu.
****
Bel istirahat sudah berbunyi sejak 5 menit lalu dan benar Dimas menuruti apa kata Kiara tadi. Ketiga cowok tampan itu menjemput cewek cantik yaitu Kiara untuk ke kantin bersama. Gita hanya bisa mengekor karena di ajak oleh Kiara.
"Lo mau pesen apa?" tanya Kiara kepada Gita.
"Samain aja sama lo Ra." sahut Gita pelan. Semua pasang mata melihat ke arah mereka, dan pasti mereka sedang membicarakan Gita yang berada di tengah-tengah orang populer di sekolah ini.
"Kak Gilang, tolong beliin mie ayam sama es jeruk mau gak? Lo kalau mau beli sekalian aja." pinta Kiara sambil menyerahkan uang kepada Gilang. Dengan cepat Gilang mengambil uang itu dan mengangguk. Selagi di traktir apapu Gilang lakuin.
"Gue juga sekalian Lang." sahut Farhan.
"Ayo temenin gue kambing!" seru Gilang sambil menarik tangan Farhan.
Kiara melirik ke arah Dimas yang hanya diam saja, "Kamu mau makan apa kak?" tanya Kiara lembut.
Dimas masih melamun hingga tidak mendengar pertanyaan dari Kiara. Gita melirik ke arah Dimas sebentar dan pandangan keduanya bertemu dengan cepat Gita memutuskan pandangan itu. Semakin di pandang, semakin sakit.
Kiara menepuk pundak Dimas pelan, hingga Dimas kembali sadar.
"Eh kenapa?" tanya Dimas seperti orang bingung.
"Kamu ngelamun kak? Ada apa?" tanya Kiara dengan lembut lagi.
Dimas menggeleng sambil tersenyum kepada Kiara dan semua itupun di lihat oleh Gita. Pisau yang tadi tertancap semakin dalam saat ini sepertinya.
"Lo mau pesen apaan, biar sekalian gue sama Farhan beliin." tanya Gilang pada akhirnya karena Dimas tidak kembali bersuara.
"Samain aja sama lo pada." putus Dimas membuat Gilang dan Farhan segera melangkah. Meninggalkan Gita, Kiara dan Dimas bertiga di meja tersebut, membuat suasana menjadi canggung untuk Dimas dan Gita.
"Sebenarnya ada hubungan apa mereka?" tanya Farhan dan Gita dalam hati masing-masing.
Kalau yang di maksud Farhan dengan 'mereka' itu Gita dan Dimas. Sedangkan yang di 'maksud' Gita adalah Dimas dan Kiara.
Di sini ada yang tau kah status mereka? Coba kasih tau Farhan dan Gita biar mereka tau dan tidak penasaran.