
Di perjalanan pulang keduanya hanya diam, tidak bercanda seperti perjalanan menuju tukang bubur tadi. Dimas yang masih emosi dengan tingkah Farhan sedangkan Gita yang tidak berani bertanya pada Dimas lebih dulu.
Ketika mereka sudah sampai di rumah, keduanya langsung masuk ke dalam dan segera menuju kamar mereka untuk bersih-bersih. Tapi sayang jalannya tak mulus, karena Terry menghadang mereka di tepi tangga.
"Kok pulang-pulang mukanya kusut gitu?" tanya Terry sambil menatap kedua anaknya bergantian.
Dimas menatap Terry sekilas tanpa menjawab pertanyaan Terry tadi, Dimas langsung melangkah meninggalkan Gita dan Terry. Mood-nya sedang tidak baik, malas untuk meladeni mamahnya, biarkan saja Gita yang meladeni.
Terry menatap Gita sambil menaikan alisnya, "Kenapa tuh anak?" tanya Terry.
Gita bingung harus jawab apa, masa iya dia harus jujur. Nanti malah jadi masalah baru untuknya. Emang dasar ya tuh kutu enak banget ninggalin bininya begini batin Gita.
"Biasa deh ada salah paham sedikit." jelas Gita berusaha tenang.
Gita berharap mamah mertuanya tidak menanyakan lebih lanjut lagi, Gita tidak mau berbohong banyak soalnya.
Terry mengangguk, "Yaudah sana selesaiin, biar cepet jadi." ucap Terry sambil terkekeh.
Gita bingung dengan ucapan Terry, entah maksudnya apa tetapi Gita malas bertanya takut jadi panjang juga, mendingan sekarang Gita menyusul Dimas ke kamar.
"Iya mah, yaudah Gita ke atas dulu ya." pamit Gita.
Terry mengangguk, sebelum Gita melangkah Terry menyempatkan dulu mengusap perut rata Gita dengan pelan. "Semoga kamu cepat ada di perut mami kamu ya sayang, grandma udah gak sabar gendong kamu." ucapnya sambil tersenyum.
Gita yang mendengar itu terharu, Terry benar-benar menginginkan seorang cucu. Terdengar dari ucapannya yang sangat tulus. Gita jadi merasa bersalah, pernah berpikir untuk meninggalkan pernikahannya. Ah sebaiknya Gita berdoa, agar Dimas tetap menjadi Dimas yang sekarang dan tidak berubah lagi pada pendiriannya untuk bertanggung jawab pada pernikahannya.
Setelah di persilahkan Terry untuk ke kamar, Gita langsung melangkah cepat dan memasuki kamar. Terlihat Dimas sedang menerima telepon entah dari siapa Gita tidak tau.
Sambil tangannya mengambil baju di lemari, telinga Gita terbuka lebar untuk mendengar apa saja yang Dimas bicarakan di telepon itu. Gita takut itu Kiara dan membuat Dimas goyah lagi pada janjinya.
"Sorry Kia, gue lagi ada acara jadi gak bisa nemenin lo." ujar Dimas dan membuat Gita tau siapa yang ada di telepon itu.
Setelah mengatakan itu Dimas mematikan sambungan teleponnya dan menaruhnya di meja samping tempat tidur. Dimas melihat Gita yang sedang berpura-pura sibuk dengan pakaiannya, padahal Dimas tau Gita sedang menguping pembicaraannya tadi.
"Denger apa aja tadi?" tanya Dimas ketus sambil membuka kaosnya.
Pertanyaan yang sama saat dulu Gita ketahuan oleh Dimas di taman belakang sekolah bersama Yura. Ah ya bicara soal Yura, kemana itu cewek tidak pernah muncul lagi. Semoga saja tidak pernah muncul lagi, takut Gita celaka lagi.
"Ga.. Gak denger apa pun kok." jawab Gita terbata.
Dimas segera menarik tangan Gita cukup keras, dan membuat Gita tergelonjak kaget dengan perlakuan itu. Pikiran Gita apakah Dimas berubah lagi.
"Kita mandi bareng ya." bisik Dimas dengan nada lembut.
Gita hanya mengangguk pelan dan mengikuti Dimas menuju kamar mandi. Ah sepertinya perang itu akan terjadi lagi pagi ini. Biarin deh, biar cepet jadi kalau kata mamah Terry.
Skip.
Setelah acara mandi bersama lagi, keduanya kembali terlihat mesra. Lihat saja sekarang Gita sedang menaruh kepalanya di dada bidang suaminya sambil tiduran bersama Dimas. Sedangkan tangan Dimas masih saja berada di atas payudara milik Gita, sekali-kali meremas.
Keduanya sedang bercerita tentang kehidupannya. Tak lama ponsel Gita berdering kencang, dengan malas Gita bangkit dari tidurnya dan mengambil ponselnya di atas meja belajar. Saat melihat siapa yang menghubunginya Gita memberitahu lebih dulu pada Dimas.
"Angkat aja." ujar Dimas.
Gita mengangkat panggilan itu lalu menyalakan loudspeaker agar Dimas juga bisa mendengar apa yang akan Kiara bicarakan pada Gita. Yah itu Kiara yang menghubungi Gita.
"Halo Gita." sapa Kiara di ujung sambungan.
"Iya Halo Kiara, ada apa?"
"Em, lo sibuk gak hari ini?"
Pikiran Dimas langsung bisa menebak, pasti Kiara akan mengajak Gita pergi karena tadi dia menolak di ajak oleh Kiara.
"Enggak sih, kenapa?"
"Jalan yuk Git, gue bosen banget di rumah. Tadi gue telepon kak Dimas buat ngajakin dia, tapi dia bilang lagi ada acara kan nyebelin."
Gita menatap Dimas seakan bertanya 'gimana'
Dimas menekan tombol tahan pada panggilan itu agar Kiara tidak mendengar suaranya, "Gak usah pergi ya, kita berduaan aja di rumah." pinta Dimas.
Gita nampak berpikir sebentar, "Kalau aku nolak juga, takut Kiara curiga kak. Aku temenin dia dulu ya, sebentar aja." Dimas menghela napas kecewa, tapi apa yang di bilang Gita ada benarnya juga.
Gita mematikan tombol tahan itu dan terdengar suara Kiara yang sedang menggerutu di sana.
"Sorry Ra, kepencet tadi." bohong Gita.
"Lo mah, gue lagi curhat juga. Yaudah mau kan jalan sama gue?"
Gita mengangguk padahal Kiara tidak melihat, "Iya, gue siap-siap dulu ya."
"Oke deh, nanti gue jemput lo ya, kirimin alamat rumah lo sekarang."
Gita lupa Kiara tidak tau alamat rumahnya, lalu bagaimana. Dimas mengucapkan kata 'iya' tanpa bersuara.
"Oke, see u." ujar Kiara lalu mematikan sambungan telepon itu.
Gita menatap Dimas seakan bertanya bagaimana ini, kenapa di jawab iya. Kalau Gita memberikan alamat rumah ini, semua akan terbongkar.
"Aku anterin kamu ke rumah lama ya." ucap Dimas tiba-tiba yang seakan tau apa yang sedang di pikirkan Gita.
Gita mengangguk, lalu bergegas untuk bersiap-siap.
"Jangan cantik-cantik, aku takut ada yang deketin kamu nanti." teriak Dimas yang sedang memperhatikan Gita dari atas kasur.
Gita menoleh ke arah Dimas lalu tersenyum, "Emang dasarnya udah cantik." ujar Gita sambil terkekeh dan di ikuti juga oleh Dimas.
Setelah di rasa rapi, Gita mengirimkan alamat rumah lamanya pada Kiara. Dimas bangkit dari tempat tidur lalu mengeluarkan sebuah kartu debit dari dompetnya.
"Pake ini buat kamu belanja, terserah mau belanja apa. Kalau bisa beli baju tidur yang..." ucap Dimas sambil menggoda sang istri.
Gita memukul bahu Dimas, "Ngaco banget sih, gak inget aku pergi sama siapa sekarang? Kalau aku beli begituan, nanti Kiara nanya buat apaan. Kamu tau sendiri dia itu kepo maksimal." ujar Gita sambil mengambil kartu tersebut dan memasukannya di dalam dompet.
Dimas terkekeh, "Iya juga sih, yaudah belinya nanti sama aku aja. Gimana?" tawar Dimas.
Gita menggeleng, "Gak mau ah malu sama mba-mba tokonya."
Dimas semakin terbahak mendengar ucapan Gita yang menurutnya lucu, dengan gemas Dimas mencubit pipi sang istri. Termasuk KDRT bukan nih, hehe.
"Sakit tau ih, kakak mah jahat." rajuk Gita sambil mengusap pipinya.
Dimas menyingkirkan tangan Gita yang sedang mengusap pipi, lalu di ganti dengan kecupan di pipi itu. Semburat merah terlihat dari pipi Gita, entah karena sakit beneran atau karena salah tingkah.
"Maaf ya sayang, abisnya aku gemes banget sih sama kamu." ucap Dimas sambil mencium punggung tangan milik Gita.
****
Di sepanjang perjalanan menuju rumah lama Gita, keduanya terlibat konser dadakan di dalam mobil. Bernyanyi mengikuti lagu yang terputar di radio mobil. Dimas baru tahu kalau Gita memiliki suara yang indah saat bernyanyi.
"Suara kamu bagus juga." puji Dimas membuat Gita berhenti bernyanyi.
Dimas bingung, kenapa Gita malah berhenti bernyanyi setelah di puji.
"Loh kok malah berhenti sih? Nyanyi lagi dong." suruh Dimas.
Bukannya kembali bernyanyi Gita malah menggeleng.
"Jangan di puji kaya gitu, aku jadi malu kakak." ujar Gita salah tingkah.
Lihat saja siapa yang tidak gemas dengan tingkah polos cewek di depan Dimas ini. Ah Dimas rasanya ingin terus memeluk Gita kalau begini.
"Iya maaf, sebentar lagi kita sampai. Kamu mau turun di mana? Di depan gang waktu itu?" tanya Dimas.
"Kakak masih ingat?"
Dimas mengangguk, "Selalu ingat kok," ujarnya sambil mengelus kepala Gita dengan tangan satunya.
Gita mengulum senyumnya. Kalau di tanya, bahagia gak saat ini, pasti Gita jawab sangat bahagia. Semoga aja kebahagiaan ini terus berlanjut sampai seterusnya.
Dimas memberhentikan mobil tepat di depan gang yang waktu itu Dimas menurunkan Gita, masih ada yang ingat kan?
"Kamu hati-hati, kabarin aku kalau udah mau pulang biar aku jemput lagi ke sini, dan kalau bisa jangan lama-lama aku masih kangen sama kamu." ujar Dimas sebelum Gita turun dari mobil.
Gita mengangguk, "Siap komandan." ucapnya semangat.
"Nanti kita main lagi ya." ujar Dimas sambil mengerlingkan matanya. Spontan Gita memukul bahu Dimas.
"Kakak ih mesum banget! Udah ah, aku turun dulu ya takut Kiara lihat kita. Kakak langsung pergi sana." ucap Gita lalu mengambil tangan Dimas untuk di kecupnya.
Tidak lupa juga Dimas mencium kening Gita dengan sayang. Setelah acara perpisahan itu Gita segera turun dari mobil dan berdiri di samping gang. Dimas pun langsung menancapkan gas untuk segera pergi dari sana.
Tak lama Kiara datang, Gita khawatir kalau Kiara melihat mobil Dimas karena selisih waktunya tidak jauh mungkin hanya 2 menit saja.
Kiara turun dari mobil lalu mendekat ke arah Gita sambil matanya terus ke depan seperti sedang memperhatikan sesuatu. Jantung Gita berdebar, bagaimana kalau benar Kiara melihat mobil Dimas.
"Kayanya tadi mobil kak Dimas, dia abis ketemu sama lo?" tanya Kiara sambil matanya menatap Gita dan jalanan lurus bergantian.
Gita menggaruk tengkuknya, "Mana ada kak Dimas lewat jalan sini, apa lagi ketemu gue. Ngaco aja lo." ujar Gita setenang mungkin.
"Tapi kayanya emang benar itu mobilnya kak Dimas deh, gue hafal betul."
Gita menarik napasnya dalam-dalam, "Coba aja besok lo tanya dia, lewatin jalan ini gak. Yaudah yok jalan, soalnya gue gak bisa sampai sore." ujar Gita mengalihkan situasi di sana.
Kiara mengangguk lalu segera masuk ke dalam mobilnya, begitu juga Gita yang duduk di bangku penumpang sebelah Kiara. Maaf Kiara gue bohongin lo batin Gita.
Bersambung....
Jangan lupa follow instagram : maulidyapu