My Husband Badboy

My Husband Badboy
Bag 21



Sekarang hari Minggu. Gita hari ini ada jadwal check up kerumah sakit. usia kandungan Gita sudah memasuki 2bulan kurang,perutnya belum kelihatan jadilah Gita masih sekolah. Sebenarnya Gita takut sih,takut ketahuan oleh yang lain. Tetapi Gita masih ingin melanjutkan sekolah,bahkan kalo bisa ia ingin home schooling aja. itupun kalau dibolehin oleh orangtua Dimas.


Gita sudah rapi,sedangkan Dimas masih tenggelam dalam selimut putihnya. Gita tak berniat membangunin Dimas,karena Gita tau semalam Dimas tidur menjelang pagi. Makanya Gita membiarkan Dimas,toh dia pergi kerumah sakit sendiri. mana mau Dimas menemaninya pikir Gita.


saat akan melangkah keluar kamar,langkah Gita terhenti karena suara Dimas terdengar.


"Lo mau kemana?" panggil Dimas dengan suara serak khas bangun tidur.


Gita menoleh ke arah Dimas. Dimas masih terbaring disana dengan muka bantalnya. Yaallah ganteng banget suami hamba batin Gita.


"Gitaaa"panggil Dimas membuat lamunan Gita ambyar.


"mau ke rumah sakit, Minggu ini jadwal check up kak"


"tunggu"


"hah?"


"tunggu gue yang anter kerumah sakit! gue mandi dulu,lo bikinin gue sarapan roti bakar. harus lo yang bikin" pinta Dimas lalu bangkit dari ranjang dan bergerak menuju kamar mandi.


Gita hanya tersenyum. Setidaknya Dimas menganggapnya sebagai seorang istri yang harus melayaninya. meskipun yaa gitu dahh...


Gita melangkah kebawah menuju ruang makan. Rumah terasa sepi karena Terry dan Damian sedang keluar kota urusan bisnis. Jadilah tinggal Dimas dan Gita,serta beberapa pekerja dirumah besar milik keluarga Dimas.


Didapur,terlihat Bi asih sedang beberes. Gita menghampiri Bi asih. Bi asih tersenyum melihat istri majikan mudanya. Jujur bi asih sangat kagum dengan sosok Gita. Gita yang selalu sabar menghadapi semua ini. Gita selalu rendah hati pada siapapun yang ada dirumah ini. Gita tidak seperti kebanyakan gadis yang suka dibawa oleh Dimas kerumah. kebanyakan dari mereka seakan dirinya diatas, padahal namanya bekerja seperti itu mau bagaimanapun tetap dibilang murah.


"pagi bi" sapa Gita.


"pagi juga non. Non mau sarapan apa biar bibi buatin"


Gita menggeleng "gak usah bi,Kak Dimas tadi minta aku yang bikinin roti bakar untuk dia"


"biar bibi aja non,non jangan kecapean"


"gapapa bi,cuma roti bakar aja kok gak akan capek,bibi mau juga?" tanya Gita saat tangannya mulai mengambil beberapa helai roti lalu dioleskan selai coklat.


"gausah non,gimana sama kandungannya non?"


"Alhamdulillah baik bi,hari ini aku ada jadwal check up. makanya aku udah rapi hehe"


"Alhamdulillah. sehat-sehat ya nak di perut ibu" usap Bi asih pada perut Gita. Gita tersenyum "iya nenek, tunggu aku ya" sahut Gita meniru suara anak kecil membuat bi Asih tertawa.


"asik bibi dipanggil nenek" senang bi asih.


Gita hanya tertawa. Gita bersyukur karena kejadian ini Gita mendapatkan banyak kasih sayang dari orang baru disekitarnya. Meskipun Gita merasa ini adalah masalah besar tetapi bukannya kita memang harus selalu bersyukur.


Roti bakar sudah jadi dan dibarengi dengan datangnya Dimas keruang makan. Gita tersenyum manis melihat wajah ganteng milik suaminya. Rasanya bahagia namun aneh. Entahlah Gita tidak ingin pusing.


Gita menaruh roti bakar buatannya dihadapan Dimas,tanpa ba-bi-bu lagi Dimas langsung melahapnya. mungkin ini adalah menu favorite Dimas sekarang. Karena ini bikinan Gita.


"kenapa gak sarapan juga?" tanya Dimas.


"aku gak kepengen makan roti kak"


"trus mau makan apa?"


"bubur ayam"


"oke kita beli sebelum kerumah sakit,bentar gue abisin sarapan dulu"


Gita mengangguk. Setelah Dimas selesai Gita membereskan semuanya dulu lalu menyusul Dimas yang sudah berada dimobil.


"hm" dehem Dimas sebagai jawaban lalu mulai melajukan mobilnya menuju tukang bubur langganannya bersama Gilang dan Reno. Hampir 15menit menghabiskan waktu dijalan akhirnya mereka sampai ditukang bubur pinggir jalan yang terlihat sangat ramai.


"Lo tunggu sini biar gue yang beliin"


"aku aja gapapa kak,Kaka yang tunggu sini kan aku yang mau makan"


"disitu rame,jangan bikin anak gue sesak nafas deh,udah tunggu sini gue yang beliin"


"masa sih janin dalam kandungan bisa sesek nafas? bukannya gue yang bakal sesek nafas" gumam Gita.


"hah apa? Lo ngomong apa?"


"eh enggak,itu kak jangan kasih kacang sama sambel yaa"


Dimas mengangguk lalu keluar dari mobil menuju stand bubur yang rame. Gita melihat Dimas mengantri untuk dirinya. Senyum Gita kembali terbit. Tetapi bedanya kali ini Gita sambil mengelus perutnya.


lihat nak papah kamu rela antri cuma untuk kamu batin Gita.


Taklama Dimas kembali sambil membawa bungkusan berisi bubur pesanan Gita. Dimas memberi itu pada Gita. untung saja Gita sudah membawa air minum dari rumah. Sepanjang perjalanan hanya sunyi. Gita yang menikmati buburnya sedangkan Dimas yang fokus pada jalanan meski sekali-kali Dimas melihat ke arah Gita.


Mereka sampai didepan rumah sakit dimana dokter Cintia bertugas. Dengan langkah pelan tapi pasti mereka sampai didepan ruangan dokter Cintia. Dan sepertiga dokter cantik itu sudah menunggu mereka.


"Mas Dimas ya? silahkan mas sudah ditunggu dokter didalam" ucap perawat.


Dimas mengangguk lalu membuka pintu ruangan itu dan mempersilahkan Gita masuk lebih dulu. Gita tersenyum dan mengucap terimakasih pada Dimas.


"hai haloo Gita" sapa dokter Cintia riang.


Jujur dokter Cintia juga termasuk salah satu orang yang menganggap Gita itu hebat. makanya ia senang saat Gita melalukan check up bersamanya.


"halo dok.. gimana sehat?"


"Alhamdulillah,kamu sendiri gimana? masih muntah-muntah kah?"


"Alhamdulillah sehat juga dokter,udah agak jarang sih dok,cuma bawaannya sekarang males ngapa-ngapain deh dok"


"iyalah Git,itu salah satunya. kamu masih sekolah?"


Gita mengangguk.


"aku saranin ya nanti kalo usia kandungan kamu udah menginjak 3bulan,mending kamu bener-bener istirahat aja ya dirumah. aku takut kamu kecapekan dan nanti berdampak pada janinnya"


"kalo bisa mulai besok aja gausah sekolah lagi" sahut Dimas yang dari tadi hanya diam


Menurut Dimas,Gita itu berbeda saat bersama dirinya. Kalau bersama dirinya Gita tak akan secerewet ini,palingan hanya menyuruh Dimas makan atau apa tetapi hanya menyuruh sekali, seperti Gita segan gitu terhadap Dimas.


"eh enggak kak,kan ini belum 3bulan" sahut Gita tak terima.


"daripada anak gue kenapa-napa"


"anak kalian dim,bukan anak kamu doang" sahut dokter Cintia.


Gita mulai melangkah menuju brangkar dan menaikinya. proses pemeriksaan akan segera dilakukan oleh dokter Cintia. Gita sangat antusias melihat calon anaknya. Mungkin keibuannya sudah hinggap didirinya.


Pemeriksaan berjalan lancar,Dimas lebih banyak diam hanya sesekali menimpali omongan kedua perempuan itu. Tetapi hari ini sepertinya Dimas lebih banyak tersenyum melihat tingkah Gita saat diperiksa.


Ah Dimas tidak mengerti ini artinya apa,Dimas merasa bahagia ketika melihat Gita tertawa atau tersenyum.