My Husband Badboy

My Husband Badboy
Bag 16



Dimas terus menghubungi Gita. saat ini Dimas sudah berada dikamarnya. jam sudah menunjukkan pukul 7 malam. bahkan orangtuanya sudah datang dari tadi. tetepi ia sudah menjelaskan semuanya pada orang tuanya. reaksi mereka? tentu marah besar.


Terry kira Dimas bergaul secara normal seperti kebanyakan remaja lainnya. ternyata diluar dugaan. ini sangat membuatnya kecewa bercampur dengan rasa menyesal. kenapa? Terry pikir ini juga alasan Dimas bisa seperti itu. pasti karena kedua orang tuanya yang memang jarang sekali memperhatikan anak satu-satunya itu. mereka hanya terus memberikan fasilitas yang memadai tanpa takut kekurangan. tetapi mereka memberikan kasih sayang serta perhatian yang sangat minim.


Bahkan tadi Terry lah yang menampar pipi Dimas. padahal sejak dulu kedua orangtuanya tidak pernah membentak atau memukulnya. Sedangkan Damian hanya diam tak tau harus bagaimana. Damian memang lebih sabar daripada Terry. maka Damian lah yang menenangkan istrinya agar tidak terlalu keras dengan Dimas.


Dimas menceritakan semuanya terutama tentang latar belakang keluarga Gita. Bahkan kedua orangtuanya tidak mempermasalahkan latar belakang keluarga Gita. dan sekarang Damian sudah menggerakkan anak buahnya yang lain untuk mencari Gita.


"Git angkat dong!" gumam Dimas dikamarnya.


Dan kali ini nomer perempuan itu aktif. Dimas tak menyia-nyiakan kesempatan itu. Hingga akhirnya panggilan itu tersambung.


"halo. Lo dimana??"


"...."


"cepet kasih tau gue!"


"...."


"gue bilang kan gue bakal tanggung jawab! jadi sekarang lo kasih tau gue lo dimana biar gue jemput"


"...."


"gak usah bantah! cepet"


bip


panggilan dimatikan sepihak oleh Gita. Dimas geram karena tingkah gadis itu. dia tidak tau apa kalau Dimas mencarinya dari pagi. dan sekarang seenaknya memutuskan panggilan sepihak begitu.


tanpa menunggu lagi Dimas menghubungi anak buah ayahnya untuk melacak keberadaan Gita melalui ponsel gadis itu.


Dimas mondar-mandir menunggu kabarnya. setelah 10 menit akhirnya anak buah ayahnya mengirim lokasi dimana Gita berada.


"**** apartemen?" gerutunya lalu mengambil kunci mobil untuk menyusul Gita.


Sepanjang perjalanan pikiran Dimas bercampur aduk. Kenapa Gita ada di apartemen? dan banyak lagi pertanyaan yang diawali dengan kata 'kenapa'


Dimas sudah berada didepan apartemen. tetapi Dimas tidak tahu dimana letak kamar Gita. Tetapi Tuhan sedang baik dengannya. Dimas menangkap sosok gadis yang sedang ia cari dari pagi hingga sekarang sedang berjalan sendiri. Tanpa menunggu lagi Dimas keluar dari mobilnya untuk menghampiri Gita.


Gita kaget saat melihat Dimas dari kejauhan dan akan mendekat ke arahnya. dengan cepat Gita berbalik arah ingin masuk lagi kedalam apartemen tetapi sayang Dimas lebih cepat menangkapnya.


ah sial kalo tau bakal ketemu kak Dimas tadi aja gue gak usah keluar untuk sekedar cari udara batin Gita.


"ikut gue" perintah Dimas tanpa basa-basi.


Gita memberontak. Tubuhnya tak mau ikut dengan Dimas namun hatinya berbanding terbalik. Ia benci pada Dimas tapi ia juga tidak boleh egois pada calon anaknya.


"kaa..." panggil Gita lirih.


Dimas tak menggubris panggilan itu. ia tetap menarik Gita ke arah mobilnya dan akan membawanya kerumah. Gita sudah berhasil masuk kedalam mobilnya. dengan cepat ia melajukan mobilnya kerumah untuk memberi tahu pada orangtuanya.


"kak turunin aku" ucap Gita dengan suara serak. astaga sejak kapan gadis itu menangis.


kak Ando maafin Gita batin Gita.


sesampainya dirumah besar milik Dimas,Dimas segera mengiring Gita kedalam untuk bertemu dengan kedua orangtuanya. Dimas tidak peduli jika mereka sedang istirahat karena sekarang memang sudah malam yang terpenting Gita bertemu dengan keduanya.


"mah,pah" teriak Dimas memanggil keduanya.


tetapi tidak ada jawaban. pasti mamah dan papah sedang dikamar jadi tidak mendengar panggilan itu. Dimas mengetuk pintu kamar Terry dan Damian. Saat ketukan ketiga barulah pintu terbuka lebar menampilkan wajah cantik milik Terry dengan dia sudah memakai piyama tidur.


"kenapa sih? ini udah malem Dimas mamah sama papah mau istirahat" gerutu Terry.


"papah mana?" tanya Dimas mengabaikan pertanyaan Terry tadi.


"dikamar mandi,kenapa sih?" tanya Terry.


"ayo keluar dulu,aku udah nemuin Gita sekarang dia diruang keluarga" jelas Dimas membuat Terry kaget. dengan cepat Terry memangil suaminya. lalu mereka bertiga keluar menuju ruang keluarga yang dimana katanya ada Gita disana.


sejujurnya Terry penasaran, bagaimana sih wajah Gita hingga anaknya sekeras ini untuk tanggungjawab. tapi Terry bersyukur setidaknya Dimas mengakui kesalahannya.


Terry terpana melihat seorang gadis dengan wajah cantik natural. Sungguh.


"astaga ini yang namanya Gita?" tanya Terry tanpa basa basi.


Gita auto nunduk saat keduanya orangtua Dimas ada disana. Dia takut, mereka tidak menerima kehadirannya. terutama dengan latar belakang keluarganya.


"kamu cantik banget sayang" ucap Terry lagi membuat Gita mendongkak melihat wajah tulus dari Terry. seenggaknya Gita bisa bernafas lega dengan penuturan ibu dari Dimas ini. Ternyata Gita salah. Tak semua orang kaya bisa melakukan hal seenaknya saja. Buktinya orang tua Dimas begitu baik padanya dan dia yakin Dimas sudah menceritakan semua termasuk latar belakang dirinya.


"kamu kemana aja? dari pagi kita semua cari kamu tau. kamu udah makan?" perhatian Terry.


"maaf tante" cicit Gita.


Terry menggeleng lalu tersenyum dan mengelus rambut Gita sayang. Dari dulu Terry memang menginginkan anak perempuan tapi sayang ia hanya bisa memiliki satu anak yaitu Dimas.


"mulai sekarang jangan panggil Tante ya,panggil mamah karena sebentar lagi kamu kan jadi menantu mamah" jelas Terry membuat Gita tersenyum miris.


Andai saja ibunya seperti ini. pasti ia tidak akan terpuruk lebih dalam.


"pah sini lihat calon mantu kita,cantik banget tau" panggil Terry pada Damian.


Damian berjalan mendekat lalu mengelus rambut Gita sayang. Gita mengambil punggung tangan Damian dan Terry karena ketakutannya tadi ia sampai lupa belum salaman dengan calon mertuanya. ET calon mertua oh membayangkan saja sudah membuatnya bahagia.


"kita akan siapin semuanya,lusa kalian akan menikah" putus Damian.


"Kamu siap kan sayang?" tanya Terry pada Gita. Cukup lama Gita tak menjawab pertanyaan itu, pikirannya entah melayang ke ibunya. Bagaimana dengan ibunya?


"Sayang, kamu tenang aja. Mamah udah tau semua tentang kamu. Kamu gak perlu khawatir. Nanti ibu kamu bisa tinggal disini bersama kita." terang Terry membuat hati Gita sedikit lega dan akhirnya mengangguk setuju.


Dimas tersenyum tipis,entah kenapa perasaan jadi bahagia. Tetapi masih banyak yang mengganggu pikirannya.


gue gak bakal sebebas dulu batin Dimas.