My Husband Badboy

My Husband Badboy
BAB 62



Hari sudah mulai gelap. Gita masih berdiri di depan gang untuk menunggu Dimas menjemputnya. Sambil menyapa orang yang ia kenal yang kebetulan sedang lewat di sana.


"Eh Gita, gimana kabarnya? Ibu denger-denger Gita lagi hamil ya makanya pindah dari rumah?" tanya seorang ibu-ibu yang sedang melintas.


Gita yang di tanya seperti itu langsung teringat dengan ibunya, betapa malu ibunya saat mengetahui dirinya sedang hamil tanpa pernikahan sebelumnya.


Belum sempat menjawab suara ibu itu kembali terdengar, "Tapi perutnya kok udah rata padahal baru beberapa bulan pindah. Udah lahiran ya?"


Gita menggeleng, "Engga kok bu." jawab Gita entah untuk jawaban dari pertanyaan yang mana.


Tak lama ada lagi seorang ibu sedang menggendong seorang anak kecil, "Eh Gita, udah lama gak ketemu. Ayah kamu punya hutang sama ibu belum di bayar-bayar loh!" ucapnya.


Gita kaget, "Berapa banyak bu?" tanya Gita pada ibu kedua.


"5 juta, katanya suruh minta sama kamu. Soalnya kamu udah nikah sama orang kaya kata ayah kamu. Emang benar ya?"


Gita menggeleng tak percaya, ayahnya selalu saja menyusahkan ibu dan sekarang berulah menyusahkan Gita.


"Tuh kan bener kalau kamu udah nikah, karena hamil duluan ya?" tanya ibu pertama tadi.


Belum sempat menjawab mobil Dimas tiba di depannya, ingin rasanya Gita menghilang dari sana. Niatnya mengelak omongan itu, tetapi bukti nyatanya hadir di sana.


"Ada apa?" tanya Dimas saat melihat Gita di kerubungi ibu-ibu.


"Mas, suaminya Gita?" tanya ibu pertama.


Dimas melihat ke arah Gita yang sedang menggeleng, seakan menyuruh Dimas untuk menjawab bukan.


"Memangnya kenapa bu? Ada masalah apa sama istri saya?" tanya Dimas menggunakan kata istri yang otomatis ia mengaku kalau mereka sudah menikah.


"Tuh kan bener apa yang ayah kamu bilang, kamu nikah sama orang kaya. Tuh lihat aja mobilnya aja mewah banget!" ujar ibu kedua.


Gita hanya bisa menggeleng-geleng. Bingung harus menjawab apa, toh semuanya sudah ketahuan.


"Ada masalah apa ya bu?" tanya Dimas sedikit kesal karena tidak mendapat jawaban.


"Ini mas, ayahnya Gita punya hutang sama saya 5 juta belum termasuk bunga. Dan katanya suruh tagih saja ke Gita." jelas ibu kedua.


Dimas menatap Gita yang masih terus menggelengkan kepalanya, tanpa berlama-lama Dimas meminta rekening ibu tersebut untuk membayar hutang Gio.


"Sudah saya transfer ya bu, ibu bisa cek saja. Kalau begitu saya sama Gita permisi dulu." ucapnya langsung menarik tangan Gita agar segera masuk ke dalam mobil.


Dimas langsung melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang, tadinya Dimas mau marah pada Gita karena pulangnya terlalu lama.


"Kak, gak seharusnya kakak ngaku kalau kita udah nikah!" ujar Gita kesal.


Gita maunya apa sih, gak di akuin sakit hati tapi saat di akuin malah marah-marah kaya gini. Dasar perempuan.


"Loh, emang itu faktanya kan?"


Gita semakin kesal pada Dimas, "Kakak gak tau kan awalnya ibu-ibu tadi gimana ke aku, dengan mudahnya kakak bilang begitu sama mereka. Sia-sia aku ngadepin mereka tadi!"


"Kamu di apain sama mereka? Mereka ngelakuin kekerasan? Kalau iya, ayo balik lagi kita laporin mereka ke polisi."


Gita menggeleng, "Bukan kak, udah ah gausah di bahas aku sebel banget sama kakak!"


Dimas hanya menggeleng tidak mengerti, mengapa jadi Gita yang kesal dengannya kan seharusnya dia yang kesal karena Gita lupa dengan janjinya mau pulang cepat.


Di sepanjang perjalanan Gita hanya diam sampai ia tidak tahu kalau ini bukan ke arah rumah melainkan ke arah restoran karena Dimas sudah memarkirkan mobilnya di sana.


Dimas menatap Gita sebentar, "Kita makan malam di sini dulu." ujarnya lalu keluar dari mobil.


Mau tak mau Gita mengikuti langkah Dimas yang sudah masuk ke dalam restoran, dan ternyata Dimas sudah memesan meja untuk mereka berdua.


Keduanya sudah memesan makanan, sambil menunggu makanan datang keduanya mengobrol membicarakan ibu-ibu tadi, ya Gita menceritakan awal mula kejadian tadi pada Dimas. Hal itu membuat Dimas merasa bersalah, tetapi percuma semuanya udah tahu hal itu dan tidak mungkin omongannya di tarik kembali.


"Kak, aku tanya boleh?" ujar Gita sedikit tegang. Karena ia takut mendengar jawaban dari Dimas.


Dimas mengangguk sambil menggenggam tangan Gita erat.


"Kalau kakak bisa dengan mudah ngakuin hubungan kita sama ibu-ibu tadi, kenapa kakak gak bisa ngakuin hubungan kita depan Kiara atau yang lainnya?" tanya Gita.


Dimas terdiam sejenak mencari jawaban yang pas agar tidak menyakiti hati Gita lagi, "Kalau kita ngaku di depan mereka udah nikah, bukannya malah bikin masa depan kita terutama kamu jadi terancam?"


Gita mengangguk, setuju dengan ucapan Dimas tadi, "Tapi kan kita bisa sembunyiin pernikahan kita, kamu cuma ngakuin aku sebagai pacar aja gak perlu istri." usul Gita.


Dimas terdiam lagi, benar juga apa yang Gita bilang, mereka bisa selalu bersama kalau keduanya terlihat punya hubungan special tanpa perlu mereka tau kalau sebenernya mereka sudah ke jenjang pernikahan.


"Yaudah, sekarang kita jalanin dulu aja ya Git. Kalau tiba-tiba kita pacaran, tanpa ada pendekatan kaya dulu pasti mereka gak akan percaya." ujar Dimas.


Gita hanya mengangguk lemah, ternyata Dimas belum bisa mengakuinya di depan Kiara.


"Oh iya kak, tadinya kakak mau pergi dinner sama Kiara ya?" tanya Gita yang penasaran karena melihat Kiara sangat kecewa. Siapa lagi yang bisa menyebabkan hal itu kalau bukan Dimas pikirnya.


Dimas menggeleng, "Engga, aku emang udah niat mau ajak kamu kesini. Tapi emang sih tadi Kiara chat aku ngajakin makan malam."


"Terus?" tanya Gita penasaran.


"Aku tolaklah, aku udah pesen ini untuk kita." ujarnya tenang.


Gita mengangguk, "Kakak tau gak, kalau tadi Kiara itu kecewa banget tau, akh lihatnya kasian banget pas aku tanya dia gak jawab jujur. Apa Kiara tau tentang kita ya?"


Dimas semakin menggenggam tangan Gita memberikan ketenangan pada istrinya itu, "Seperti yang aku bilang di chat tadi, kalau memang ini sudah waktunya ketahuan yaudah biarin aja."


Belum sempat menjawab perkataan Dimas, makanan mereka sudah datang dan akhirnya keduanya makan sambil mengobrol santai. Padahalkan kalau lagi makan gak boleh ngobrol ya, pamali kalau kata orang tua dulu.


"Kak, boleh gak besok aku sekolah naik motor yang ada di garasi?" tanya Gita.


Dimas mengerutkan keningnya, "Emang kamu bisa?"


Gita mengangguk antusias, "Bisa dong kak, boleh gak?"


"Gak mau bareng aku aja?" tawar Dimas.


Gita menggeleng, "Mau nyobain naik motor sendiri dulu, boleh ya?" bujuk Gita.


Mau tak mau Dimas mengangguk mengikuti apa mau Gita sekali-kali tidak masalah kan? Siapa tau itu yang membuat Gita bahagia.


Lagi asik bercanda tiba-tiba mereka di kagetkan dengan kedatangan seseorang. Keduanya langsung memasang muka panik.


Siapa kah orang tersebut?


Bersambung.....


Jangan lupa follow ig aku maulidyapu