
Mendengar ponsel masing-masing berdering, kedua perempuan cantik itu segera membukan pesan yang di kirimkan oleh orang yang sama. Dengan wajah yang sama-sama tersenyum sambil melihat pesan itu. Dan sekali lagi author ajak kalian bayangkan bagaimana kalau dua perempuan ini tau kalau pengirim pesan itu adalah orang yang sama. Siapa yang akan sakit hati di sini?
Gita melirik ke arah Kiara yang sedang tersenyum sambil mengetik sesuatu di ponselnya. Tanpa kalian kasih tau, Gita sudah tau siapa yang mengirim pesan kepada Kiara. Dengan senyum miris Gita melihat itu.
Haruskah Gita benar-benar merelakan temannya itu bersama dengan suaminya? Perasaan sesakit apa nanti yang akan Gita rasakan kalau itu terjadi. Dan bagaimana pula reaksi Kiara kalau sebenarnya orang yang dia taksir itu adalah suami dari teman dekatnya. Pasti akan sakit hati juga karena merasa di bohongin. Tetapi selama Kiara tidak mengetahui itu seperti sakit Kiara tidak akan separah Gita.
"Cie pasti dari kak Dimas ya." ujar Gita sesak.
Kiara menoleh ke arah Gita dan mengangguk semangat, jangan lupakan senyuman cantik Kiara saat ini.
"Seneng banget kayanya, dia bilang apa emang? Ngajakin lo pergi?" lanjutnya.
"Engga kok, dia cuma nanya gue lagi apa." beritahu Kiara dan membuat Gita bernapas lega. Tetapi ada sesuatu yang membuatnya senang, ternyata Dimas lebih memilih mengajaknya dinner dari pada mengajak Kiara. Tidak apa ya berbahagia sedikit dulu.
"Udah lo jawab belum, bilang lagi mikirin kakak gitu." goda Gita.
Kiara yang mendengar ucapan Gita hanya tertawa, salah tingkah. Gita hanya bisa ikut berpura-pura tertawa saat ini, supaya Kiara tidak curiga.
"Git, kalau lo di posisi gue sekarang apa yang bakal lo lakuin?" tanya Kiara tiba-tiba dan membuat Gita terbatuk padahal sedang tidak makan atau minum apapun.
Kiara yang melihat Gita tiba-tiba terbatuk langsung memberikan gelas berisi air untuk di minum oleh sahabatnya. Yah Kiara sudah menganggap Gita sebagai sahabatnya.
"Maksudnya?" Gita kurang paham dengan pertanyaan itu. Terlalu ambigu menurutnya.
Kiara mengambil napas panjang sebelum kembali berkata, "Gini, lo kan tau kalau kak Dimas ke gue gimana selama ini. Gue tanya lo dulu deh, menurut lo kak Dimas suka gak sih sama gue?"
Oh god.. Harus di jawab apa kalau sudah di tanya seperti ini, kalau di bilang tidak suka pasti Kiara akan sedih dan Gita pun tidak tau. Kalau di bilang suka nanti Kiara akan terus berharap pada Dimas.
Gita mengangguk, "Kayanya sih suka. Tapi balik lagi sih ke kak Dimas nya. Kan cuma dia yang tau gimana perasaannya ke lo." ucap Gita.
Gita hanya menjawab dari pandangannya. Terlihat kalau Dimas itu menyukai Kiara menurut Gita. Bodolah kalau nantinya Kiara akan mengharapkan Dimas terus, semua keputusan ada di Dimas. Sakit hati, tentu. Terlalu naif kah Gita?
"Nah, menurut lo gue harus gimana? Nungguin sampai kak Dimas nyatain perasaannya ke gue atau gue aja yang mulai duluan nyatain perasaan gue ke dia?"
Napas Gita berhenti sebentar, tenggorokannya mendadak kering. Pertanyaan macam apa itu, bisa-bisa cewek secantik Kiara mau memperjuangkannya seorang Dimas sampai seperti itu. Memangnya tidak ada yang memberi tahu Kiara bagaimana kehidupan Dimas sebelumny, kasihan sekali pikir Gita.
"Harus gimana Git menurut lo?" tanya Kiara lagi tidak sabar menunggu jawaban dari Gita.
Menarik napas pelan, "Lo bakalan ngungkapin duluan perasaan lo buat kak Dimas?" tanya Gita memastikan kalau ia tidak salah tanggap dengan kata-kata Kiara tadi.
Kiara mengangguk.
"Kenapa gak lo tungguin aja kak Dimas yang ngungkapin duluan. Lagian memang ada ya kalau cewek duluan yang memulai hubungan?"
'Banyak kok Git jaman sekarang. Tapi kalau gue nungguin kak Dimas sampai kapan? Setelah dia bilang kalau sayang sama gue dan bikin gue baper tapi sampai sekarang gak di kasih kejelasan apapun"
Saat ingin menjawaban omongan Kiara tadi ponsel Gita berdering. Ada panggilan masuk di sana dan terlihatlah nama "Mas" yaitu Dimas. Entah sejak kapan Gita memberi nama itu. Kiara melihat nama itu lalu tersenyum, karena ia pikir itu cowok yang sedang dekat dengan Gita.
"Mas lo telepon tuh, angkat buruan." goda Kiara.
Gita menerima panggilan itu sedikit menjauh dari Kiara, tidak mau sahabatnya itu mengenalin suara siapa di panggilan itu. Selesai menerima panggilan itu, Gita kembali ke Kiara untuk berpamitan pulang.
"Ra, gue harus pulang deh kayanya udah sore juga." pamit Gita.
Kiara melihat jam di ponselnya dan benar sekarang sudah hampir jam 6 sore cukup lama mereka berbincang ternyata. Kiara mengangguk sambil tersenyum menggoda.
"Cowok lo?" tanya Kiara.
Gita hanya tersenyum.
"Salam ya buat cowok lo, kapan-kapan kenalin ya ke gue."
"Gak ah, ntr dia naksir sama lo." ucap Gita sambil tertawa.
Kiara ikut tertawa, "Haha engga usah takut, hati gue udah terikat sama kak Dimas." ucapnya tenang.
Gita yang mendengar itu hanya bisa menelan ludahnya sendiri. Benar-benar bingung harus bagaimana saat ini. Posisinya serba salah.
"Lo di anter supir gue ya."
"Gak usah Ra, gue naik taksi online aja. Alamat lo dimana sih ini?" tanya Gita sambil membuka aplikasi tersebut.
Kiara menyebutkan alamatnya dan di tulis Gita dengan benar di ponselnya. Tidak menunggu lama taksi online itu datang. Sebelum Gita keluar dari rumah Kiara, Gita pamit lebih dulu pada bunda nya Kiara.
*****
Masih di cafe yang sama, tetapi saat ini berbeda yang tadinya hanya seorang diri sekarang berdua. Yap, Farhan sudah tiba di sana hanya seorang diri tanpa Gilang. Dimas terlihat bingung, karena tumben Farhan pergi tanpa Gilang kali ini. Apa sebenarnya yang akan di bicarakan Farhan kepada Dimas, sepertinya cukup penting dan hanya ingin mereka bedua yang tau.
"Ada apaan sih? Tumben amat gak ngajak besti lo!" ketus Dimas karena acara menyendirinya di ganggu.
Sebelum memulai pembicaraan yang serius, Farhan memanggil seorang pelayan untuk memesan makanan dan minuman. Mumpung ada Dimas yang akan membayarnya.
"Sengaja, gue gak mau aja dia dulu sebelum gue tau yang sebenarnya dari lo." ucapan Farhan cukup terdengar serius dan membuat Dimas semakin bingung.
Mau tahu apa si Farhan batin Dimas.
"Lo sama Kiara ada hubungan?" tanya Farhan memulai topik.