My Husband Badboy

My Husband Badboy
BAB 31



Semua masih berada di rumah sakit termasuk Ratih, ibunda Gita. Tadi pak Harto di suruh oleh Terry untuk menjemputnya Ratih. Biar bagaimanapun Ratih harus tau kondisi anaknya saat ini. Kalian ingat dulu Terry pernah bilang oleh Gita, kalau Ratih boleh ikut tinggal dengan mereka? Tapi mengapa sampai sekarang belum juga terlaksana? Yah karena Gita. Gita tidak mau ibu nya tau gimana kelakuan Dimas yang belum bisa memperlakukan Gita layaknya istri. Biarkan Gita berjuang dulu untuk cinta Dimas.


"Kenapa bisa terjadi seperti nyonya?" tanya Ratih pada Terry. Loh kok manggilnya nyonya? Karena Ratih sadar diri, ia sedang berhadapan dengan siapa. Meskipun di depannya ini adalah mertua dari anaknya.


"Ih ibu kenapa masih manggil aku nyonya sih! Kan aku sudah bilang panggil saja Terry." Gerutu Terry gemas. Padahal Terry sedang menangis loh. Memang sejak tadi Terry tidak berhenti menangis.


"Maaf saya gak enak nyonya, saya rasa tidak pantas memanggil nyonya seperti itu." tunduk Ratih.


Terry mengelap cairan yang turun dari hidungnya menggunakan tisu, "bu,  aku ini mertua dari anakmu. Jadi lebih gak pantas kalau ibu panggil aku nyonya." ujar Terry.


Ratih melirik ke arah Damian, dan mendapat anggukan dari lelaki itu yang artinya setuju dengan ucapan sang istri. Mau tak mau Ratih ikut mengangguk. Saat ingin berbicara lagi, Gita keluar dari ruangan untuk di pindahkan ke ruang rawat.


Benar, anak yang ada di kandungan Gita sudah tidak ada. Gumpalan darah tersebut sudah di bawa pak Harto untuk di kubur di halaman rumahnya.


"YaAllah Gita." ujar Ratih kaget saat melihat wajah Gita yang begitu pucat.


Semuanya mengekor di belakang untuk ikut ke ruang rawat Gita, termasuk Dimas. Sampai saat ini Dimas masih terus menyalahkan dirinya atas kejadian ini. Yaiyalah salah Dimas, mau nyalahin siapa lagi? Kan disini peran penting di hidup Gita adalah Dimas. Dimas yang harus bertanggung jawab atas semuanya yang terjadi pada Gita.


"Maaf, biarkan pasien istirahat dulu. Kalau jenguk harap bergantian ya pak, bu." ujar perawat saat keluar dari ruangan Gita.


"Baik Sus, terimakasih banyak." ucap Damian pada suster.


"Kalau begitu saya permisi dulu, jika perlu bantuan bisa langsung pencet tombol yang ada di sisi ranjang nona Gita." pamit suster dan di angguki oleh semuanya.


Saat suster sudah menghilang dari pandangan mereka, Dimas melangkah ingin masuk ke dalam ruangan itu. Tetapi sayang, sebuah intruksi membuat Dimas menghentikan langkahnya dan menatap orang itu dengan tatapan memohon.


"Mau ngapain kamu? Mau masuk ke dalem? Saya tidak izinin kamu masuk!" bukan Ratih, tetapi Terry lah yang mengatakan itu. Ratih menatap Dimas, sepertinya ia sudah tau apa yang terjadi. Semua pasti karena Dimas yang menyebabkan Gita seperti ini. Apakah ia harus marah juga pada Dimas?


"Mah, aku cuma mau liat keadaan Gita." ujar Dimas lirih. Sungguh saat ini ia sangat khawatir pada istrinya.


"Kalo saya bilang gak boleh ya gak boleh. Saya gak mau, kamu nyakitin anak saya lagi." apakah Terry lupa? Kalau yang anaknya adalah Dimas, bukan Gita.


"Bu, ibu gak marahin ini anak? Karena dia lah anak kita jadi seperti ini." ujar Terry bermaksud mengompori Ratih agar ikut memarahi Dimas.


"Udah mah, ini rumah sakit. Daripada ribut, mendingan kita masuk ke dalam lihat kondisi Gita." dari tadi lah Damian yang selalu menenangkan Terry.


Terry mengangguk, "Maaf bu, apakah boleh saya duluan yang melihat Gita didalam?" ujar Ratih sebelum Terry melangkahkan kakinya.


Ratih menundukkan kepalanya lalu melangkah masuk kedalam ruangan itu. Dan terlihat lah Gita yang begitu pucat. Wajahnya sangat damai sekali, seperti tidak ada beban yang ia rasa. Padahal Ratih tau, tubuh ringkihnya tak kuat menahan beban yang terus menerus diterima oleh Gita.


Ratih menangis sambil mengusap wajah Gita pelan, "sayang, ini ibu nak. Maafin ibu karena gak pernah bikin Gita bahagia selama ini, maafin ibu yang selalu ngasih beban untuk Gita."


"Kamu beruntung nak punya mertua yang sangat sayang sama kamu. Mereka sudah menganggap kamu sebagai anaknya dan ibu yakin pasti mereka bisa bikin kamu bahagia tidak seperti ibu." ujar Ratih sambil sesegukan.


"Nak cepat bangun ya, jalanin hidup kamu dengan ikhlas apapun yang terjadi, Ibu tau kamu anak yang kuat. Ibu minta maaf karena selama ini belum bisa jadi ibu yang baik untuk kamu."


"Ibu keluar dulu ya, ibu akan nungguin kamu di depan sampai kamu sadar." ujar Ratih lalu mengecup kening Gita.


Ratih keluar ruangan dengan mata dan hidung yang merah. Semua tau pasti Ratih akan menangis jika melihat putri semata wayang nya seperti ini.


"Sudah bu, terimakasih banyak." ucap Ratih pada Terry.


Terry mengangguk lalu melangkah masuk bersama Damian, sedangkan Dimas yang melihat itu hanya bisa terdiam. Ia tidak bisa melawan Terry, apalagi saat ini Terry sudah menggunakan bahasa yang formal yang artinya sudah sangat marah pada Dimas.


"Den Dimas yang sabar ya, bibi yakin non Gita nanti akan nyariin de Dimas kok. Jadi den Dimas di sini aja jangan kemana-mana." ujar bi Asih untuk menenangkan hati Dimas. Bi Asih tau perasaan tuan muda nya itu, terlihat dari matanya kalau Dimas juga sangat khawatir pada Gita.


Dimas hanya bisa mengangguk pasrah.


"Den, boleh saya bertanya?" suara Ratih membuat Dimas menoleh ke arahnya.


"Apa yang sebenarnya terjadi pada Gita?" tanya Ratih karena tidak mendapatkan jawaban dari Dimas.


Dimas terdiam. Ia pun tidak tau apa yang sebenarnya terjadi yang ia tau Gita di tusuk oleh seseorang. Dan sampai saat ini ia pun belum tau siapa yang menusuk Gita.


"Maaf Bu, saya juga tidak tau bagaimana kronologis nya. Yang saya tau Gita di tusuk oleh seseorang di sebuah jalanan yang sepi atau jalanan yang sudah tidak terpakai." terang Dimas berusaha tenang.


"Memangnya Gita tidak bersama aden waktu itu?" tanya Ratih lagi.


Dimas menggeleng, "Maaf Bu jangan panggil saya aden, nama saya Dimas."


"Maaf den, bibi izin untuk menjelaskan kepada bu Ratih boleh?" tanya bi Asih pada Dimas dan di jawab dengan anggukkan.


"Begini bu, maaf saya yang menjelaskan karena saya dan pak Harto yang menjemput non Gita dengan keadaan yang sudah tertusuk. Non Gita menghubungi pak Harto,  tapi dengan bahasa yang seperti meminta tolong. Sepertinya non Gita sebelumnya di culik oleh seseorang dan di bawa ke tempat sepi setelah itu pelaku melakukan penusukan pada non Gita, seperti itu bu." jelas bi Asih membuat Ratih terdiam memikirkan banyak hal. Salah satunya, dimana Dimas saat itu?