
Hari ini tiba. Hari dimana seorang Dimas Fabian Arron resmi menjadi suami Gita Putri Safira. Gita tak tahu harus merasa senang atau sedih. pertama ia senang karena kelak anaknya mempunyai ayah,kedua ia sedih karena mungkin cita-cita tidak akan terwujud.
Pernikahan mereka tidak dirayakan dengan mewah,hanya orang-orang terdekat saja yang menyaksikan. Termasuk Ratih,ibu Gita. Ratih sempat kaget saat ada dua orang berbadan besar menjemputnya kerumah. Dan diminta memakai kebaya yang mereka bawa.
dan disinilah Ratih,di hotel yang dimana anaknya menggelar pernikahan. Ratih tersenyum miris,rasanya baru kemarin ia merawat anak semata wayangnya itu. Sekarang statusnya sudah berganti menjadi istri dan bisa dipastikan anaknya itu akan tinggal bersama dengan suaminya. Yaiyalah Gita tak ada pilihan lain untuk mengikuti suaminya bisa jadi istri durhaka kalau ia tidak nurut.
Setelah acara hijab qobul selesai,mereka diperkenankan untuk mencicipi hidangan yang tersedia. Gita menghampiri ibu yang sedang duduk seorang diri. Bukan karena keluarga Dimas tidak mau bergabung dengan Ratih. Hanya saja Ratih yang kurang nyaman berada diantara mereka.
"ibu..." panggil Gita lalu menarik tangan ibunya dan mencium.
Ratih masih terdiam melihat anaknya yang kemarin baru ia usir karena dianggap buat malu. Padahal ini juga bukan kemauan Gita. Gita hanyalah korban disini. Korban dari orangtuanya karena tidak memenuhi kebutuhannya. Korban dari Dimas yang melakukan itu dalam keadaan mabuk. Ah rasanya Ratih malu sendiri pada anaknya.
"maafin Gita ya bu,Gita udah buat ibu kecewa. padahal ibu selalu bela-belain buat Gita" minta maaf Gita sambil menangis.
Ratih mengelus kepala Gita sayang. Ratih pun ikut menangis melihat anaknya.
"ibu yang minta maaf sama kamu,aturan ibu gak egois kaya kemarin. kamu butuh support gak seharusnya ibu bersikap kaya kemarin. ibu nyesel Git karena gak pernah mencukupi kebutuhan kamu sampai kamu rela kerja sama suami kamu sekarang hanya untuk melunasi hutang ayah kamu"
"ibu cuma berharap setelah ini kamu selalu bahagia bersama dia. bersama cucu ibu juga yang masih disini. Ibu pasti kangen banget sama kamu. sering-sering main kerumah ya nanti" ucap Ratih lalu memeluk Gita.
Keduanya larut dalam perbincangan ringan. Hingga melupakan dimana Dimas sekarang. Tidak perduli nanti juga dirumah ketemu.
Sekarang pukul 7 malam. Acara itu sudah selesai sekitar 2 jam yang lalu. Sekarang Gita sudah berada dirumah besar milik keluarga Dimas. Mereka berdua sedang berada di satu kamar yang sama. Dengan Dimas yang sedang bermain game diponselnya sedangkan Gita sedang merapikan pakaiannya kedalam lemari baru dikamar Dimas.
Lagi asik merapikan pakaian sambil bersenandung kecil tiba-tiba perutnya merasa bergejolak tidak enak. Ah ya Gita lupa dari pagi perutnya belum terisi nasi hanya makanan kecil saja. Gita kekamar mandi sebelum sesuatu yang ingin keluar dari perutnya menyembur.
Hoek
Hoek
Dimas yang mendengar itu berusaha tidak peduli,tapi hatinya tergerak untuk melihat keadaan istrinya sekarang. Khawatir? sedikit
"kenapa?" tanya Dimas sambil memijat tengkuk Gita.
Gita membersihkan mulutnya dengan air lalu menegakkan badannya menatap Dimas dari pantulan kaca.
"gapapa" jawab Gita.
"udah makan belum?"
Gita menggeleng. Setelah itu terdengar helaan nafas dari Dimas.
"ayo kebawah makan gue temenin" hati Gita menghangat mendengar ucapan Dimas tadi. Tidak apa-apa jika Dimas bersikap ketus padanya tapi jangan pada bayinya.
Dimas berjalan lebih dulu keluar kamar diikuti oleh Gita dibelakang. Dimas menaruh bokongnya dikursi meja makan. Gita pun sama.
"makan apa? gak ada apa-apa kak" ucap Gita sambil membuka tudung makanan diatas meja.
"Lo mau makan apa? kita makan diluar aja kalo gitu" ucapnya.
Gita menggeleng tanda tak mau.
Dimas membulatkan matanya. Apa? Dimas disuruh masak. selama ini mana pernah ia memegang peralatan dapur dan sekarang ia disuruh masak untuk gadis yang baru saja berstatus istri. Oh sangat disayangkan itu tak akan mungkin terjadi.
"ini permintaan dia kak bukan aku" ucap Gita sambil menunjuk perutnya yang masih rata.
Dimas tak mengerti. ah ya Dimas lupa Gita sedang mengandung apakah sekarang Gita sedang ngidam dengan memakan masakan dirinya? bisa jadi.
Dengan berat hati dimas bangkit berjalan mendekati kulkas. Dengan mengerutu didalam hati tangan Dimas mengambil beberapa bahan untuk dimasukkan kedalam nasgor alias nasi goreng yang akan dia buat. Dimas mengambil baso sosis dan sayuran. Dimas tau karena bi Asih suka membuatkannya untuk Dimas. Ah yaaa bi Asih penyelemat Dimas saat ini.
"suruh bi asih aja ya yang masak,gue gak ngerti"
Gita menggeleng lalu cemberut.
"dedeknya maunya kak Dimas yang masak,aku ajarin deh" rengek Gita dengan suara pelan.
what? dedek jijik sekali dengernya hahaha batin Gita tertawa.
Dengan nafas gusar Dimas memulai aksi motong memotongnya. Bagian ini dimas masih paham. Trus Dimas mengambil wajan dan ditaruhnya diatas kompor. Kompor mulai dinyalakan Dimas bingung yang mana yang terlebih dulu masuk kesana.
"kasih minyak dulu kak dikit trus telornya aduk-aduk deh" intruksi Gita.
Dimas menurutinya. Saat memasukan telur minyaknya muncrat-muncrat membuat Dimas melangkah mundur.
"ih kok mundur sih,itu aduk telurnya kak! kakak gimana sih" kesal Gita.
"Lo gak liat minyaknya keluar,ntr kalo kena muka gue gimana" gerutu Dimas.
"kakak lebih mentingin muka kakak dari pada anak kakak yang nanti ngiler karena permintaannya gak dituruti?" tajam Gita.
Dimas pernah mendengar pepatah itu,yang katanya kalau istri sedang ngidam harus dipenuhi kalau tidak anaknya bisa ileran. Dimas bergidik ngeri. Dengan keberanian penuh Dimas mengaduk telurnya lalu memasukkan beberapa bahan sesuai dengan instruksi Gita tentunya.
Mendengar ribut-ribut dari arah dapur membuat orang yang berada dirumah itu kepo alias ingin tau apa yang sedang terjadi disana. Yang pertama kali bersuara adalah Terry. Terry tak menyangka anak semata wayangnya yang terkenal bandel sedang memasak.
"pah itu Dimas anak kita bukan sih?" tanya Terry dengan masih ketidakpercayaannya.
"yaiyalah mah siapa lagi,itu Dimas anak kita yang bandelnya minta ampun" timpal Demian.
"kan buah jatuh gak jauh dari pohonnya pah,hahaha" tawa Terry terdengar mengejek.
"iya persis mamah" Demian tak mau kalah.
"enak aja yah persis kamulah! eh tapi pah kok tumben dia mau masak,padahal dari lahir ampe segede itu dia gak pernah tuh nyentuh penggorengan" seru Terry.
Damian mengangguk setuju. Sedangkan bi Asih hanya tersenyum melihat anak majikannya itu.
Tak lama terdengar teriakan dari Gita yang menyatakan acara masak memasaknya sudah selesai dan tinggal ia cicipi.
"Yeay jadi juga nasi gorengnya. makasih ya kak aku cobain dulu yaa" ucap Gita riang.
Dimas tersenyum tipis. entah kenapa rasanya senang melihat senyum yang terbit dari bibir gadisnya itu. Setelah itu barulah mereka berdua sadar kalau ada yang sedang mengintip mereka dari balik tembok.