My Husband Badboy

My Husband Badboy
Bag 10



Satu Minggu kemudian..


Hari Senin.


Hari yang paling tidak disukai oleh para siswa maupun siswi. Karena mereka harus berjemur dibawah teriknya sinar matahari pagi. Yah Upacara. Dan satu lagi menurut pada murid mengapa hari Senin ke hari Minggu membutuhkan waktu lama,tetapi jika sudah hari Minggu pasti dekat dengan hari Senin. Buat yang paham aja hehe... yang masih sekolah pasti pada paham.


Sejak kejadian itu Gita dan Dimas tidak lagi berkomunikasi. Gita tak ingin melihat muka Dimas lagi. Ia benci pada dirinya dan juga Dimas. jika Gita melihat Dimas,Gita akan merasa jijik pada dirinya.


Bel sudah berbunyi sejak 5menit lalu. Para murid sudah berada di lapangan semua termasuk Gita. Dimas dan kedua sahabatnya pun sama sudah berada di lapangan namun dibarisan kelas 12. Gita merasakan badannya tidak enak sejak lusa.


Gita memilih barisan paling belakang karena jika ia merasa tidak kuat bisa langsung izin pada guru piket. Gita memang tidak sarapan karena perutnya tidak enak.


Upacara berlangsung hikmat,hingga saat ini amanat yang sedang di sampaikan oleh wakil kepala sekolah. Gita merasakan tubuhnya semakin lemah. Belum sempat meminta izin tubuhnya ambruk begitu saja. Hampir semua murid kelas 11 langsung menoleh kesumber suara. Lalu kembali fokus pada wakil kepala sekolah karena sebuah intruksi.


Anggota PMR yang bertugas segera membantu Gita menuju UKS menggunakan tandu. Gita tidak sadarkan diri. Entah dorongan dari mana Dimas melangkah juga menuju UKS meskipun namanya dipanggil oleh guru yang menjaga.


Sesampainya di UKS,Dimas melihat Gita sedang di periksa oleh dokter yang bertugas di setiap hari Senin di sekolahnya. Dan untung saja guru itu tidak mengejarnya sampai sini. Eh tapi ada yang aneh. Mengapa Dimas bisa khawatir dengan gadis itu? apa ini rasa majikan yang khawatir akan pembantunya? atau maksud lain? Dimas tidak mengerti.


Dimas menunggu,hingga akhirnya dokter itu keluar dari UKS. Lalu tatapannya penuh tanda tanya pada Dimas. Untung saja yang menjadi dokter nya adalah Tante nya sendiri.


"ikut tante" bisik Laura.


Dimas berjalan mengikuti tantenya,hingga berhenti di ruang kepala sekolah yang kebetulan tidak ada disana.


"kenapa?" tanya Laura membuat Dimas mengerutkan dahinya.


"kenapa kamu se khawatir itu sama perempuan tadi?" tanya Laura saat melihat wajah bingung Dimas.


"engga aku gak khawatir" elak Dimas. padahal sudah jelas ia khawatir dengan Gita.


"sama kamu?" ambigu Laura.


Dimas mengangkat alisnya bertanda ia tak mengerti.


"dia hamil karena kamu?" tanya Laura santai.


apaa??


hamil?


Dimas menggeleng tak percaya. Laura melihat gerak gerik Dimas. Laura memang bukan dokter kandungan namun Laura tahu jika Gita memang sedang mengandung.


"kalo bukan karena kamu,kamu gausah segelisah ini" tembak Laura.


"usia kandungan dia?"


"belum bisa dipastikan,kita harus cek. Jadi Tante tanya sekali lagi. itu anak kamu?"


Dimas mengangkat bahunya.


"gimana bisa kamu gak tau? isu tentang kamu pacaran sama dia sudah tersebar Dim,tante tau semua tentang kamu"


"tentang Yura juga tante tau,dan bisa dipastikan sebentar lagi Yura akan keluar dari sekolah karena perutnya sudah semakin besar dan pasti orang tua Yura akan nuntut kamu untuk tanggung jawab" jelas Laura.


"trus aku gimana tante?" tanya Dimas bingung.


"yah kamu harus kasih tau orangtua kamu,minta pendapat mereka. Kalo tante gak bisa kasih masukan tanpa tau pendapat dari orang tua kamu"


"nanti pulang sekolah,aku ajak Gita buat cek kalo memang usia kandungannya pas dengan pertama kali aku berhubungan dengan dia,aku bisa percaya itu anak aku. tapi kalau untuk masalah Yura aku gak akan tanggung jawab karena tante tahu sendiri bagaimana Yura"


Laura hanya mengangguk. Ia tak bisa marah dengan Dimas karena ia tak punya hak apapun. Orangtuanya memang menitipkan Dimas dengan dirinya. Namun sayang pergaulan Dimas sudah melewati batas dan Laura tidak bisa melarangnya. Orangtua Dimas hanya tau anaknya cuma suka main ke club tanpa tau anaknya suka bermain perempuan.




Bel pulang sekolah sudah berbunyi. Gita sedang membereskan barang-barangnya dan akan segera pulang. Yah setelah bel istirahat pertama Gita rasa tubuhnya sudah agak lebih baik jadi ia sudah bisa masuk kelas.



Gita melangkah keluar kelas tetapi ada seseorang yang menghalangi jalannya. Gita mendongkak melihat siapa yang menghalanginya. Please saat ini Gita tidak ingin di bully badannya masih lemas. Padahal lemas tidak lemas Gita juga tidak akan melawan.



"ikut gue" ucap Dimas membuyarkan lamunan Gita.




Gita segera melangkah menjauh dari Dimas. Kenapa setelah satu Minggu Dimas muncul lagi. Gita tak ingin melihat wajah itu.



Dimas mengejar Gita dengan cepat. Untung saja langkah Dimas lebih lebar daripada Gita jadilah Gita tertangkap oleh Dimas. Dimas menarik tangan Gita menuju parkiran. Gita yang malas jadi perhatian warga sekolah hanya bisa pasrah dan mengikuti apa yang akan Dimas lakukan padanya.



Saat sampai disamping pintu mobil bagian penumpang Dimas membukakan pintunya lalu menyuruh Gita masuk dengan suara penuh ancaman jadi mau tidak mau Gita menuruti itu. Dimas melajukan mobilnya menuju rumah sakit ternama untuk memeriksa apa yang dikatakan tante nya memang benar.



Sepanjang perjalanan hanya keheningan yang mengisi mobil. Hingga akhirnya mereka sampai disebuah rumah sakit anak dan ibu sesuai dengan rekomendasi tantenya. Gita menoleh seakan bertanya pada Dimas.



"kita harus cek apa bener lo hamil" jawab Dimas saat tau arti dari tatapan itu.



"ha...Hamill? maksud Kaka?" tanya Gita tak percaya.



"udah biar lebih jelas kita masuk aja dulu, tenang dokternya teman dokter Laura. jadi dia gak akan buka rahasia ini kalo sampe lo beneran hamil"



"tapi kita lihat dulu itu bener anak gue atau anak orang lain. Gue gak mau dibohongin sama kaya kasusnya Yura" lanjut Dimas.



apa dia bilang? bukan anak dia? woi yang pake gue cuma lo batin Gita.



Gita rasanya ingin menangis. Mengapa Dimas mengira itu bukan anaknya? jelas-jelas dialah yang ambil masa depannya. Dengan seenak jidat dia bilang harus lihat dulu kebenarannya.



Gita tersadar dari lamunannya lalu menoleh kesamping tetapi tidak ada siapapun. Gita segera keluar dari mobil ternyata Dimas sudah menunggunya di luar mobil.



"ayo cepat! gue gak ada waktu banyak" ucap Dimas lalu menarik tangan Gita cepat menuju kedalam gedung rumah sakit.



Saat ini keduanya sedang duduk diruang tunggu,banyak tatapan aneh yang mereka saksikan. Bagaimana tidak mereka kerumah sakit ibu dan anak masih menggunakan seragam sekolah. Pasti mengundang tanda tanya bagi siapa saja yang melihat. Dimas mah hanya cuek tetapi Gita yang risih.



Setelah menunggu lumayan lama akhirnya mereka dipanggil masuk kedalam. Dengan alasan mereka hanya keponakan dokter kandungan didalam yang ingin berkunjung. Untung saja sekarang jam istirahat.



"kamu Dimas?" tanya dokter yang diketahui namanya Cintia dari name tag jas dokternya.



"iya dok,ini dia cewek yang diceritain sama tante Laura" ucap Dimas lalu menunjuk Gita yang sedang menunduk takut dan malu.



"yaudah dokter cek dulu ya,ayo sayang ikut dokter"



Gita mengikuti Cintia menuju brangkar sedangkan Dimas masuk duduk dibangku depan meja Cintia tadi. Dimas memang tidak melihat apa yang dilakukan dokter dan Gita didalam karena ditutup tirai. Setelah beberapa menit Gita dan Cintia keluar dari sana dan duduk kembali ketempat awal.



"jadi...."